Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Memulai pengeroyokan


__ADS_3

Tanpa sadar Alva mengirimkan lokasi keberadaannya pada Kiano.


"Kamu udah ngga berguna," kata si perawat itu kasar sambil mendorongkan kursi roda yang berisi pasien itu ke arah Alva yang dengan sigap bergerak.


"Dokter, maaf," ucap ibu itu ketika Alva berhasil menahan kursi roda itu.


Aruna terenyuh melihat sepasang mata pasiennya berkaca kaca.


"Mereka menyandera keluarga saya," katanya lirih.


Aruna, Tamara dan Alva saling pandang.


Pantasan Aruna sama sekali ngga curiga sama pasiennya. Ibu itu benar benar benar pasien ternyata.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Alva sambil menatap perawat yang kini juga menyorotnya tajam.


"Kalian akan tau sebentar lagi," balasnya sinis.


Ngga lama kemudian, mereka menatap pintu pintu mobil yang mulai terbuka. Keluarlah banyak laki laki berseragam. Dam satu yang mencolok, munculnya perempuan berambut pendek yang diyakini Alva adalah wig yang menutupi rambutnya dan memgenakan kacamata berjalan tegak ke arah mereka.


Alva menajamkan pandangannya. Dia merasa pernah melihat bahkan mengenal perenpuan di depannya. Tapi dia lupa, dimana dan siapa perempuan yang berjalan dengan angkuh itu.


"Dokter Aruna. Ikutlah denganku. Atau teman temanmu akan dibunuh pengawalku," ancam perempuan itu dingin.


Tamara menggelengkan kepalanya saat Aruna menatapnya. Dia sudah menghitung jumlah para pria yang memakai seragam pengawal itu dan posisi mereka.


Hanya satu yang Tamara takutkan, jika mereka membawa pistol.


Mereka kalah junlah, Aruna tau, Alva dan Tamara bisa celaka.


"Kita ngga kenal. Kenapa kamu sampai menyandera keluarga pasien ini?" tanya Aruna berani. Netra Aruna yang lembut berubah tajam.


Perempuan dengan wig pendeknya yang adalah Claudia tertawa sinis.


"Kita pernah kenal. Dan kita saling membenci," tandasnya sinis.


Tamara dan Alva sama saling memandang pada Aruna yang nampak terkejut.


"Lo punya musuh?" tanya Alva ngga bisa meredam kekepoannya. Lagi lagi tanpa Alva sadari, dia mengulur waktu menunggu sampai bantuan datang.


"Ngga. Paling waktu SMA," ucap Aruna sambil mikir.


"Monika cs maksudnya?" balas Tamara menegaskan


"Cuma mereka yang benci sama aku," kata Aruna menjelaskan. Sama seperti Alva, Aruna pun melupakan situasi yang sedang mereka hadapi.

__ADS_1


"Kalo Monika pasti gara gara Kiano. Tapi gue yakin, dia bukan Monika. Monika di Paris," timbrung Alva memberi informasi.


"Terus yang ini siapa? Apa kamu ngga sadar sudah buat salah sama orang?" desak Tamara ngga sabar.


"Heh, Setan! Lagi rundingan siapa yang mati duluan ya!" bentak Claudya marah karena di kacangin.


"Ingat ingat, dong, Aruna," kata Alva ikut ikutan mendesaknya tanpa mempedulikan bentakan Claudia.


Alva ingin tau, siapa sebenarnya musuh musuh yang mendendam dengan Aruna.


Apa dia salah kasih obat sanpai pasien meninggal? Trus keluarga pasien menuntut balas?


Pikiran Alva sudah kemana mana mengembaramya.


"Yang terakhit Claudia. Tapu dia, kan, di penjara?" tukas Aruna sambil menatap keduanya.


"Iya-ya," balas Tamara manggut manggut.


Tapi wajah Alva langsung pias.


"Claudya sudah keluar dari penjara pagi ini," katanya mulai paham mengapa Kiano mengutusnya memastikan keselamatan Aruna.


"APA?!"


"Lo Claudya?" tanya Aruna ngga percaya. Mengapa secepat itu dia sudah bebas. Padahal kejahatannya cukup besar. Maling ayam bahkan nenek nenek yang cuma mencuri sebuah piring di rumah majikannya saja bisa berbulan bualn ditahan di dalam penjara.


Ini sungguh ngga adi, berontak Aruna dalam hati menyuarakan protesnya.


"Lo sudah tau, ya?" tuduh Tamara berbisik pada Alva yang hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap tajam pada Claudya yang kini tertawa memgejek.


"Sudah ketahuan, ya?" gelaknya senang campur sinis.


"Harusnya kamu ngga ngelakuin ini. Kamu beruntung bisa cepat keluar dari sel. Kenapa.kamu ngga bisa bersyukur?" ceramah Aruna lantang. Hatinya sewot, ingin rasanya langsung memaki maki gadis di depannya.


"Diam Lo. Udah mau mati masih banyak omong!" bentak Claudya marah


"Lo ikut gue. Gue mau kasih kematian terindah buat lo! Gue jamin, teman teman lo dan keluarga pasien itu akan selamat!" sambungnya lagi dengan bentakannya yang menggelegar.


"Dokter, jangan," pinta ibu pasien tadi dengan lemah.


Aruna ngga tega menatap wajah pucat pasiennya. Harusnya dia mengikuti saran Alva agar pasien ini dibawa ke IGD dulu.


"Heh perempuan goblok. Lo kira kita bodoh mau ngasih Aruna ke lo dengan mudah. Maju lo, jangan jadi pengecut!" sergah Tamara lantang.


Claudya tertawa panjang.

__ADS_1


"Ngapain gue susah susah buat matahin tulang tulang kalian," katanya setelah tawa panjangnya usai.


"HAJAR MEREKA!" seru Claudya memberi perintah.


"Sial," umpat Alva sambil menangkis serangan dengan tangan dan kakinya. Begitu juga Tamara. Keduanya bergerak cepat memukul, menendang, menangkis sambil melindingi Aruna dan pasiennya di belakang.


Aruna panik. Dia segera menelpon Kiano, tapi Kiano ngga juga mengangkat.


Kamu kemana, sih. Tolong aku dari mantan kamu yang mengerikan ini.


Aruna menatap ke belakang loromg untuk mencari bantuan. Sayangnya sepi. Lorong ini jarang dilewati karena menuju ke arah kamar jenazah. Para tenaga medis menghindarinya.


Aruna kembali merutuki kebegoannya yang mengikuti saja kemana perawat itu membawa pasiennya.


Sementara pangkal lorong yang sudah mereka lewati tadi cukup jauh. Saat ini dia betul betul menyesal karena ngga pernah mau belajar bela diri seperti yang disarankan Tamara.


Alva dan Tamara mulai kesusahan. Konsentrasi mereka pecah jika para pengawal itu hendak meraih tangan Aruna. Bahkan Alva dan Tamara juga sudah terkena beberapa kali pukulan dan tendangan.


Para pengawal itu pun jumlahnya sangat banyak. Ada sekitar tiga puluh orang. Selain yang turun dari mobil, juga ada yamg sidah bersiaga di situ.


"AAAHHH!"


Aruna terpekik. Tangannya berhasik ditarik salah satu pemgawal. Aruna menginjakkan sepatunya oada kaki pengawal itu, tapi pengawal.itu bisa berkelit.


Tamara menciba melepaskan cekalan pada tangan Aruna sambil menendang. Tapi pengawal lain datang dan melayangkan pukulannya pada wajah Tamara.


"TAMARA!" jerit Aruna ngga terima jika Tamara tambah terluka. Sedikit lagi pukukan itu akan sampai tapi Alva bergerak sangat cepat.


Sambil mendorong paksa pengawal yang mencekal tangan Aruna, Alva pun menarik tubuh Tamara ke pelukannya dan dengan cepat sekali menendangkan kakinya pada perut pengawal itu hingga tersungkur.


"Gimana? Harusnya gue jadi atlet, kan?" bisik Alva sombong dengan senyum sumringahnya


**DEG


DEG


DEG**


Tamara ngga bisa mengendalikan degup jantugnya yang sangat kencang. Sesaat Alva terlihat sangat gentle di mata Tanara.


"LEPAS!"


Teriakan Aruna membuat keduanya tersadar. Alva cepat melepaskan pelukannya, Tamara pun mengejar ke arah Aruna yang sedang bertahan dari seretan dua orang pemgawal.


Saat Alva ingin bantu mengejar, tapi di kiri kanan, depan dan belakangnya lebih dari setengah lusin pengawal mengurungnya. Alva menyerah, dia akan menggunakan pistol yang selalu dibawanya. Dia ngga peduli lagi dengan bunyi pistolnya yang tanpa peredam itu akan membuat kekacauan yang lebih besar. Baginya keselamatan Aruna dan Tamara adalah prioritasnya.

__ADS_1


__ADS_2