
Regan menatap Dinda yang hanya menunduk bingung. Regan merasa kalo Dinda merasa ngga nyaman. Walaupun dandanannya yang dikenakannya cukup modis, tapi gadis ini terlihat alim.
Apalagi dosen dan kedua temannya sudah memilih ruang privat masing masing di restoran yang sangat mewah dan mahal ini.
Resto ini seperti club yang menyediakan banyak kamar privat.
Dinda ngga sengaja bergabung dengan Rain dan Vani karena mereka akan mendiskusikan tugas kuliah yang akan di seminarkan minggu depan
Ketika tau tujuan dosennya memanggil namanya, Dinda awalnya ingin menolak. Tapi dia nggak enak dengan dosennya. Apalagi kedua temannya sangat senang mendapat ajakan sang dosen.
Keenpat laki laki itu memang sangat tampan dan sepertinya sudah menjadi pengusaha muda sukses
Tapi dia langsung gugup karena masing masing pasangan memasuki ruangan privat restoran itu.
"Ehem..." batuk Regan memecah keheningan. Dari tadi gadis di depannya hanya diam dan menunduk. Memainkan hp dan tali tasnya.
"Kalian satu jurusan?" tanya Regan memulai percakapan.
"Iya."
"Jurusan apa?"
"Bisnis."
"Ooh."
Regan menatap lurus pada gadis di depannya. Dengan kerudung saja dia terlihat sangat cantik. Walaupun yang dikenakannya bukan kerudung lebar, tapi dia terlihat beda dengan gadis gadis berkerudung modis lainnya.
Regan sedikit mentertawakan dirinya yang tidak mempunyai pilihan lain. Karena Glen dan Reno sudah dengan cepat menilih duluan.
Kalo dengan pilihan seperti ini, hasratnya untuk bernain main hilang sudah. Regan tertawa lagi dalam hatinya.
Dia belum dalam mode serius.
"Kamu semester berapa?" tanya Regan lagi setelah gadis itu masih saja diam dan menunduk.
"Semester akhir mas," ucapnya pelan.
Mas, batin Regan merasa tergelitik. Biasanya gadis gadis yang berkencan dengannya akan memanggil namanya saja. Memang baru kali ini Regan bermain lintas usia.
Tapi panggilan mas itu terasa cukup asing, karena adiknya pun memanggilnya bang.
Regan kembali tertawa dalam.hati.
Apa dia dan teman temannya benar benar terlihat tua sehingga sangat pantas terlihat seperti sugar daddy?
Ponselnya bergetar. Kedua sahabatnya sepertinya sudah mendapat kesenangan.
Glen
Gue pulang sama sugar baby gue hahaha....
Reno
__ADS_1
Mobil gue bawa.
Ternyata gadis di depannya pun sepertinya juga mendapatkan notifikasi pesan, karena dia langsung sibuk dengan ponselmya ketika Regan meliriknya.
Rain
Maaf Dinda. Kita discus nya besok saja.
Dinda menghela nafas. Akhirnya pun dia mengetikkan pesan buat supirnya untuk minta dijemput. Ngga lupa dia menshare lokasi keberadaannya.
Regan kembali menatap wajah cantik.di depannya. Kalo dia semester akhir, mungkin usianya dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun..Engga terlalu jauh selisihnya. Saat ini Regan sendiri berusia dua puluh lima tahun jalan dua puluh enam tahun, lima bulan lagi. Regan menganalisa dalam.hati.
Rasanya dia belum terlihat saat tua hingga harus dipanggil mas, protesnya dalam hati.
"Kamu terlihat keberatan ikut ke sini?" pancing Regan mencoba agar gadis di depannya lebih banyak mau berbicara.
"Bukan begitu," bantahnya pelan. Matanya mengerjap indah membuat Regan sesaat terpana.
"Saya ngga biasa berdua saja dengan laki laki yang bukan muhrim," jelasnya dengan pipi merona.
"Maksudnya belum halal?" pancing Regan. lagi demgan niat ingin menggoda. Gadis di depannya kelihatan gampang tersipu saat mata mereka ngga sengaja bersitatap.
"Iya," jawabnya kemudian menundukkan pandangannya sesaat setelah matanya bertemu dengan mata elang Regan.
"Mau dihalalin?" goda Regan dengan senyum sempurnanya membiat bola mata gadis itu membesar dan wajahnya semakin merona.
DEG
DEG
DEG
"Becanda," tukas Regan cepat agar gadis itu ngga menganggap serius perkataannya.
Ini baru pertemuan pertama, bukan? Slow baby, batinnya berusaha menenangkan degup jantungnya.
Dinda kembali menundukkan kepalanya dengan wajah sangat merona dan terlihat salah tingkah. Duduknya pun ngga sudah ngga tenang.
Regan tersenyum smirk.
Jika saja di depannya bukan Dinda, tapi Rain atau Vani, pasti sudah diciumnya wajah malu malu itu. Karena tingkahnya sangat menggemaskan.
"Nama panjang kamu siapa?" tanya Regan mengalihkan topik agar Dinda ngga salah tingkah terus.
"Dinda Kirana Humaira," sahutnya pelan
"Oh, yang kemerah merahan, ya," goda Regan lagi untuk.mencairkan sikap.kaku dan malu Dinda.
Dinda memgangkat wajahnya. Ada sinar kaget di matanya.
"Mas tau?"
"Gue tau sedikit kisah nabi dan istrinya," jelas Regan tambah tertarik melihat mata yang bersinar bagai bintang
__ADS_1
Dinda menyunggingkan senyum manisnya. Ngga disangkanya laki laki seperti Regan mengetahui makna yang terkandung di namanya.
"Kamu pantas dengan nama itu. Kamu cantik dan wajah kamu selalu merona merah," puji Regan setengah merayu.
Kembali.wajah Dinda merona.dan dia pun menundukkan wajahnya dengan debaran jantung yang menggila.
Regan merasa ada dorongan kuat dalam dirinya, sehingga dia pun menarik sebelah tangan Dinda dan mengecupnya perlahan.
Kedua pasang mata bertemu. Kembali Regan menemukan riak kaget di dalam nata yang seperti kejora itu. Mengerjap dengan indah.
Regan kembali mengecup punggung tangan Dinda. Bahkan sangat lembut dan lama.
Setan memang selalu menjadi yang ketiga jika ada dua manusia berlawanan jenis berdekatan, apalagi di ruangan tertutup.
Padahal awalnya Regan ngga berniat menyentuh gadis di depannya sama sekali.
"Emmmhh... maaf. Saya harus pulang," gumam Dinda seraya menariik tangannya dari bibir Regan. Dia pun langsung berdiri dengan gugup setelah tangannya bebas dari genggaman Regan.
"Gue antar," ucap Regan juga ikut berdiri.
Dapat Regan lihat kalo saat ini tubuh gadis itu agak gemetar. Wajahnya pun sangat merah. Gadis ini menggenggam erat tas laptopnya.
Baru pertama? tebak batin Regan dalam hati ngga percaya. Mengingat umurnya yang sudah menginjak dua puluhan.
"Emmhh.... engga usah. Saya dijemput supir," tolaknya kemudian lamgsung membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan tergesa gesa keluar dari ruang privat itu.
Regan ngga menjawab, tapi tetap melangkah mengikuti gadis itu yang kini terlihat takut padanya.
Regan hanya ingin memastikan kalo Dinda benar benar dijemput supirnya. Apalagi setelah perbuatannya yang sedikit menggoda tadi membuat Dinda kelihatan sangat gugup dan resah(?).
Sememtara itu Qonita menatap lurus ke manik mata Arga dengan bingung.
Kata daddy nya, Arga laki laki yang sopan. Tadi malam pun saat berkenalan, laki laki ini terlihat datar dan kaku.
Tapi sentuhan kurang ajar laki laki itu tadi dapat dirasakannya seolah menembus kulitnya secara langsung. Bahkan Qonita tadi sempat merasa sesak. Oksigen di sekitarnya seakan menghilang.
Bahkan laki laki itu terus memeluknya sambil berjalan ke parkiran. Bahkan dengan santainya meminta kunci mobilnya, membukannya pintu mobil dan memasangkan *seatbel*t.
Nafas hangat Arga membelai lehernya. Begitu seatbeltnya sudah terpasang, dengan nakal Arga mengecup pipinya sekilas membuat tubuhnya menegang kaku.
Nonsense *kalo dia laki laki baik dan ngga nakal.
Laki laki yang katanya hanya mencintai kekasihnya yang sudah lama meninggal.
Laki laki yang katanya belum bisa move on.
No*!
Qonita ngga akan pernah bisa percaya akan hal itu.
Sepertinya daddynya mendapatkan informasi yang salah.
Laki laki ini sama seperti teman temannya tadi.
__ADS_1
Mereka itu player sejati, vonis Qonita dalam.hati.
Qonita sangat yakin dengan kesimpulan akhir pikirannya. Nanti malam dia akan menemui daddynya dan akan memgatakan kalo apa yang daddymya sampaikan tentang laki laki ini, adalah salah besar.