Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Glen si kucing garong


__ADS_3

Malam ini Kiano, Glen, Arga, Reno, dan Alva berkumpul di ruang rawat inap Regan.


Dinda sudah disuruh Regan pulang agar beristirahat Malam ini mereka pun akan menginap di rumah sakit karena besok libur tanggal merah.


Tamara menginap di aparteman Aruna. Kedua sahabat itu juga sudah lama ngga curhat bareng. Karena itu Kiano dan Alva bisa bebas berkumpul dengan sahabat sahabat mereka yang belum menikah.


Arga pun menyodorkan undangan pernikahannya yang berwarna biru laut pada sahabat sahabatnya


"Jadi nikah lo. Selamat," kata Kiano sambil memeluk sahabatnya. Dia bahagia karena Arga jadi menikah. Padahal gosip di luaran sudah berhembus kalo dia akan batal nikah.


'Selamat bro," tambah Alva juga balas memeluk Arga setelah Kiano melepaskan pelukannya.


Begitu juga Reno dan Glen. Bahkan keduanya sangat erat memeluk Arga sampai dia merasa sesak.


"Heh, kampret. Lo berdua pada kurang belaian, ya," seru Arga seraya mendorong kasar Glen dan Reno yang cekakakan mengetawai Arga.


"Sama lo, iya," gelak Reno makin menjadi.


Hatinya hari ini sangat bahagja. Keluarga Rain sudah menerima lamarannya. Dia pun sudah ngga sabar untuk menikah dengan Rain, menyusul Arga.


"Dia lagi bahagia," bisik Alva pada Kiano yang sedang memperhatikan tingkah Reno.


"Iya."


"Masalah Nadia udab selesai?" tanya Alva kepo.


"Belum. Kemarin Nadia ngirim surat kaleng. Tapi udah dlisensor dulu."


"Isinya apa?"


"Rain sering tidur dengan banyak laki laki."


"Gila!"


Wajar saja Reno menerapkan status siaga pada ring satu, karena ancaman Nadia ngga main main.


Kesehatan papa dan mama Rain adalah prioritas utamanya.


Reno tau saat ini dirinya terlalu lemah menghadapi Nadia. Kalo perempuan lain sidah habis dihajarnya.


Mungkin karena Reno merasa ngga enak hati dengan mama dan papa Nadia.


"Qonita bisa nerima lo lagi? Lo memang hebat," puji Glen sambil menepuk nepuk bahu Arga.


Qonita bisa memaafkan kesalahan Arga begitu cepat.


Sahabatnya memang luar biasa dalam menaklukan hati perempuan


"Begitulah. Gue juga bersyukur ngga banyak drama antara gue sama Qoni," juiur Arga mengaku.


Dia sangat berterima aksih pada Arik yang mempermudah jalannya bersama Qonita.


"Lo udah. Sekarang nunggu Reno," sahut Glen.


"Setelah Arga, gue nyusul. Gue masih tau sopan santun. Ngga kayak si Regan," sarkas Reno membuat yang lainnya tergelak.


Regan pun ikut tergelak. Dia pun masih ngga nyangka akan secepat ini menikah dengan Dinda.


Padahal dia akan menunggu Arga dan Reno. Tapi hal yang ngga terduga sudah terjadi.


"Sorry," kekehnya.


"Nadia udah lo beresin?" tanya Glen ingin tau setelah tawa mereka reda.


Reno mendengus kasar


"Gue susah kalo ngadepin perempuan," katanya kesal.


Glen dan para sahabatnya langsung mengerti.


Kalo saja laki laki yang bermasalah dengannya, pasti sudah dikirimnya ke rumah sakit.


"Lo ngga naksir Nadia, Glen?" cetus Alva bertanya.


''Cuma senang aja lihatnya. Cantik, seksi, bohay," cengir Glen


"Belum ada yang bisa bikin hati lo jungkir balik?" tanya Alva lagi. Dia kepo banget.


"Maksud lo, lo dibuat jungkir balik sama Tamara," ejek Reno dalam gelaknya .


Alva menatap santai pada teman temannya yang terkekeh.


"Bukan jungkir balik lagi, bahkan koprol, salto sampe guling guling," kekehnya bercanda walau tetap ada keseriusan di sana.


"Mantap!" seru Reno kagun. Ngga nyangka Tamara bisa ditaklukan Alva.


"Padahal Tamara, kan, garang. Gue pikir lo bakal menderira jadi suaminya," tawa Glen penuh ejekan.


Asal jangan buat salah aja, batin Alva agak ciut


Alva tentu saja masih ingat ekspresi wajah Tamara kalo marah.


Itu baru ekspresinya, belum tangan dan kakinya yang bakal dia gerakkan.


"Cewe yang ngejar ngejar lo gimana? Masih aktif atau udah mundur?" tanya Glen sangat penasaran.


"Udah beberapa hari ini hidup gue cukup tenang."


"Gue cuma trauma. Semoga aja Nadia atau Shina ngga seperti Claudia," sambung Alva lagi.


Kiano yang mendengar sontak aura wajahnya berubah keruh, teringat kenangan menyebalkan itu.


Tapi memang harapannya, kedua perempuan itu ngga senekat Claudia.


"Semoga," ucap Reno agak ngambang.


Nadia pernah ke kantor Rain, dan mengancamnya.


Tapi kini akses untuk Nadia menemui Rain atau pun keluarganya udah dipersempit Reno. Reno meletakkan banyak pengawalnya untuk menjaga mereka.


Arga pun terdiam dan saling pandang dengan Regan. Untung mereka ngga punya fans fanatik seperti itu.


"Lo jomblo sendirian, Glen," cetus Reno setelah keduanya terdiam.


Glen hanya melebarkan cengirannya menutupi hatinya yang gundah


Dia pun ganteng dan kaya. Tapi belum ada yang klik di hatinya.

__ADS_1


"Lo mau nyari yang seperti apa?" tanya Arga dengan senyum miring.


"Ngga tau. Gampanglah. Yang perlu kalian cemaskan itu pasangan kalian," sahut Glen menyindir sinis.


Kembali tawa pun pecah.


*


*


*


Glen pergi bersama Reno ke minimarket di dekat rumah sakit.


Mereka akan membeli beberapa cemilan.


"Kalo lo udah nikah, kita bakal sulit bareng kayak gini lagi," keluh Glen sambil membuang nafasnya.


Alva sudah sibuk dengan Tamaranya. Kiano, Arga dan Regan jangan ditanya lagi. Mereka sudah jarang punya waktu untuknya.


Dulu Alva dan Reno yang lebih sering bersama dengannya. Sekarang tinggal Reno yang juga akan menikah sebentar lagi.


"Cari sana calon istri," kekeh Reno.


"Lo pikir gampang. Gue ngga mau drama dramaan kayak lo," sindir Glen sinis.


Reno tambah tergelak. Mengingat liku liku hubungannya dengan Rain. Memang banyak drama.


"Gue ke bagian buah ya. Lo bagian snack," titah Glen kesal karena tawa Reno ngga juga lenyap.


"Oke oke," kekeh Reno menurut. Masih terkekeh dia pun berlaku ke arah snack.


Sambil menggerutu Glen berjalan ke arah buah buahan yang ngga jauh lagi.


Dia yang ngga memperhatikan sekitarnya, menjadi terkejut karena tangannya ditarik, dan ada kepala yang bersandar di lengannya.


Harum, batinnya tanpa sadar menghirup harum bau rambut perempuan yang menurutnya sangat berani dan agresif.


"Ini pacarku," serunya membuat Glen menatap sosok itu sangat lekat.


Glen yakin ngga pernah mengenal perempuan ini sebelumnya.


Sangat cantik dan terlihat lebih dewasa.


"Jangan bohong, Armita. Laki laki yang kamu gandeng itu aja nampak bingung," ejek laki laki yang berada di dekatnya


Glen berpaling pada laki laki yang barusan bersuara sinis.


"Kamu mau bukti? Lihat ini?" marah perempuan itu sambil dengan nekat mencium bibir Glen.


Hanya sebentar, kemudian wajahnya yang merona itu dijauhkannya.


Tapi Glen adalah kucing garong yang ngga bisa diberi ikan segar, dia pun menarik tengkuk perempuan itu dan mencecap bibir tipisnya sangat lama sampai gadis itu terlihat tersengal.


Bahkan dengan nakal Glen mer*em*as kuat bokong yang dibaluti celana legging yang ketat itu.


Glen ngga peduli apa masalah perempuan ini dengan laki laki yang terlihat bengong melihat kemesraan mereka.


Untungnya bagian buah letaknya agak tersembunyi, dan hanya mereka bertiga saja yang ada di sana.


Glen ngga peduli dengan tatap mata perempuan itu yang terkejut akan reaksinya yang sangat berlebihan.


Tapi itu hanya sebentar, ngga lama kemudian hanya terdengar de*s*ahannya saat Glen dengan nekat menghisap kuat lehernya.


Glen melirik laki laki yang kini kelihatan sangat marah.


"Dasar murahan!" makinya sambil menghentakkan kakinya sebelum pergi.


Menyadari itu, perempuan itu mencoba melepaskan dirinya dari Glen, yang terlihat sangat menikmati perannya sebagai kekasih perempuan ini.


"Sud... suddaah..." tukasnya serak sambil mendorong tubuh Glen.


Glen tersenyum nakal saat pelukan dan ciumannya terlepas. Dia tambah senang melihat tanda merah yang bentar lagi akan berubah kebiruan di leher perempuan itu.


Perempuan aneh itu tersengal.


"Kamu!" marahnya sambil menunjuk Glen setelah nafasnya mulai normal.


"Mau lagi?" tanya Glen nakal kemudian melangkah mendekati perempuan yang seingat Glen dipanggil Armita.


Armita tersurut mundur.


"Jangan macam macam," sentaknya galak sebelum berbalik pergi dengan langkah cepat.


Wajahnya sudah sangat panas karena malu dan marah pada laki laki di depannya yang sudah memanfaatkan kesempatan.


Glen hanya tertawa melihat kepergian perenpuan cantik itu.


Lumayan, batinnya senang karena mendapatkan rejeki nomplok.


"Gue memang orang yang paling beruntung," gumamnya senang.


Perempuan yang dipanggil Armita itu sangat cantik dan menggoda. Tapi kelihatannya usinya sama dengan Kak Aisha, kakak Kiano. Pikiran Glen mulai menganalisa.


Beda juga rasanya kalo ciuman sama cewe matang, kekehnya dalam hati.


Kemudian seolah ngga ada kejadian apa pun, Glen memilih buah buahan dengan santai.


*


*


*


Satu minggu setelah kejadian itu, Glen mendadak rindu dengan bibir tipis Armita. Tapi ngga bisa ditemuinya tadi. Bahkan Glen sudah bolak balik ke minimarket itu walaupun Regan sudah lama keluar dari rumah sakit, tapi ngga juga ketemu. Perempuan matang itu seperti hilang ditelan bumi.


Rasanya dia sedikit frustasi karena belum menemukan perempuan itu.


"Ikut gue ke butik Kak Aisha. Gue mau ambil baju hamil buat Aruna," kata Kiano saat membuka ruangan Glen.


"Ngagetin lo. Sialan," maki Glen terkejut. Lamunannya buyar saat melihat kemunculan Kiano.


"Lo ngelamun apa pagi pagi gini?" tanya Kiano.dengan raut cuek.


"Bukan urusan lo. Kita berangkat pake mobil lo. Gue lagi ogah jadi supir."


Kiano melebarkan senyumnya.

__ADS_1


"Oke." Tanpa protes Kiano menyetujui permintaan Glen.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju basemen.


"Aruna ngidam apa?" tanya Glen setelah masuk ke dalam mobil.


"Hanya es krim Untung ngga aneh aneh," kekeh Kiano sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Calon anak lo baik artinya tuh. Turunan Aruna, sih," kekeh Glen.


Kiano malah tambah semangat tertawanya. Alih alih marah, malah Kiano bersyukur.


Dia memang a lucky man karena bisa mendapatkan Aruna.


Akhirnya keduanya sampai di butik mewah Aisha, kakak Kiano.


Pegawai butik mengangguk hormat pada keduanya yang hanya dibalas dengan senyum


Kiano pun langsung membuka pintu ruangan kakaknya tanpa mengetuk pintu.


Mata Glen membesar saat beradu tatap dengan perempuan matang itu.


Sayangnya Armita menggunakn kaos tutle neck yang sangat manis sehingga karya seninya ngga terlihat.


"Kiano, ketuk dulu, kek," omel Aisha yang kerap kesal dengan sikap sesuka hati adiknya.


"Sorry, Mit."


"Ngga apa apa," balas Armita salah tingkah.


Kiano hanya nyengir


"Ini buat Aruna. Glen, kamu boleh pilih pakaian yang kamu mau," ucap Kak Aisha dengan suara lembutnya tanpa menyadari kalo tautan Glen dan Armita langsung terputus karena suaranya.


"Emm... aku ke pantry bentar, ya, Sha," pamit Armita yang merasa canggung bertemu laki laki yang sudah berani menciumnya. Bahkan membuat tanda di lehernya.


"Oke, buatin gue secangkir kopi juga," balas Aisha dengan senyum bossnya.


"Ya," decih Armita sambil berlalu pergi.


Jantungnya berdebar keras saat melewati Glen yang kini menyorotnya nakal.


"Kiano, gue ke toilet bentar," kata Glen yang ngga ingin membuang kesempatan karena sudah bertemu Armita.


"Oke," sahut Kiano sambil melihat baju baju desain kakaknya untuk Aruna.


Begitu sampai di luar ruangan Aisha, Glen yang melihat Armita yang ngga menyadari kehadirannya, langsung menarik tangan gadis itu dan mengajaknya masuk ke ruangan di sebelah ruangan Kak Aisha tanpa terlihat seorang pegawai pun.


Glen sudah sangat hapal ruangan ruangan yang ada di butik Kak Aisha langsung menutup pintu dan menguncinya. Ini adalah ruangan istirahat untuk tamu.


Armita yang terkejut ngga sempat berteriak. Karena Glen melakukannya dengan sangat cepat.


Bahkan kini Glen sudah menghisap kuat bibir merah tipis yang akhir akhir ini membuat dia gila karena rindu.


Armita yang gelagapan berusaha memberontak, taoi Glen mendekapnya sangat erat.


"Menurutlah, atau gue akan melakukan yang lebih dari ini," katanya mengancam.


Armita yang takut kalo laki laki ini akan berbuat yang lebih jauh terpaksa patuh dan menerima segala perlakuannya.


Dia kini agak menyesal. Apalagi kini Armita mulai yakin kalo laki laki yang menciumnya berusia lebih muda darinya.


"Aahhh," des*ahnya ketika tangan laki laki itu meremas nakal bokongnya yang hanya tertutup rok mini di atas paha.


"Gue beneran ngga tahan. Maaf, sebentar saja," ucap Glen dengan suara serak dan kini mulai mer*e*mas kasar dada Armita. Armita pun langsung meliuk liukkan tubuhnya karena gairahnya yang sudah lama terpendam kini muncul lagi Bahkan dia pun kini sudah ngga malu lagi mend*es*ah.


Agak lama Glen melakukankannya sampai Glen merasa tubuh seksi itu melenting sesaat dengan kedua mata terpejam erat.


Glen tersenyun melihat Armita sudah mencapai puncaknya.


Kini tubuh itu langsung lemas dalam pelukan Glen.


Glen mengambil ponsel yang masih berada di tangan Armita


"Apa kuncinya?" tanya Glen ketika ngga bisa membuka ponselnya.


"Huruf W," katanya sambil menatap Glen dengan mata sayu.


Dengan nakal Glen pun memasukkan tangannya dan mengusap underwear Armita.


"Kamu sudah basah. Sayangnya aku ngga bisa melakukannya di sini," kata Glen dengan smirknya.


Armita kembali mendesis pelan saat merasakan sentuhan tangan Glen


Bocah ini sangat pengalaman.


Setelah mengetikkan nomer ponselnya, Glen pun menelpon ke nomornya.


Bibirnya tersenyum saat sudah berhasil menyimpan nomer ponsel perempuan matang ini.


Glen mengecup dan me*lum*at lembut bibir yang sedikit terbuka itu.


"Mau ke hotel?" tanyanya sambil membelai dada Armita.


Armita yang ngga bisa mengendalikan dirinya lagi hanya bisa mengangguk dengan mata penuh kabut gairah.


Glen pun menuliskan cepat pesan untuk Kiano, kalo dia pulang duluan karena ada urusan penting.


Kemudian, menarik tangan Armita secepatnya keluar dari ruangan itu dan berjalan dengan langkah lebar ke arah parkiran.


"Mana mobil kamu?" tanya Glen sambil memperhatikan tiga mobil mobil yang terpakir.


Satu punya Kiano, dua lagi pasti punya Kak Aisha dan pastinya juga Armita.


Armita pun menunjukkan mobilnya dengan dagunya.


Glen yang ngga mau Armita tersadar dari hasratnya, langsung menggendongnya ala brydal.


Baru kini dia sangat berhasrat pada perempuan. Apalagi perempuan ini lebih tua darinya. Dia belum pernah bermain main dengan yang lebih tua


Dan Glen pun ngga menyia nyiakan kesempatan saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Saat mobil melaju kencang, jari jari Glen pun beraksi ganas di dalam underwear Armita.


Perempuan yang sepertinya sebaya dengan Kak Aisha pun menggeliat seperti cacing kepanasan. Suara des*a*hannya terdengar sangat jelas dan ngga kenal henti.


__ADS_1


__ADS_2