Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Ada apa dengan Glen?


__ADS_3

"Heh, baru datang," kaget Reno melihat Glen yang akan membuka pintu ruangannya.


Jam 10 pagi. Meeting baru saja berakhir.


"Lo ngapain sampai kesiangan gini. Ngalah ngalahin Alva yang jadi pengantin baru aja," ejek Reno lagi melihat wajah Glen yang terlihat masih mengantuk.


"Lagian ngelembur dimana? Ini kemerja kusut banget," komentar Arga heran.


"Ini baju kemaren malam, kan?" Regan kut ikutan menuding. Dia memperhatikan kemeja yang sedikit lecek itu dengan teliti.


"Yang benar, Reg? Lo ngga sempat ganti baju?" kaget Reno bukan alang kepalang.


"Dari jam tujuh ditelpon ngga di angkat. Dikirimin pesan ngga dibaca baca. Lo kemana sebenarnya?" tanya Arga penasaran.


"Disembunyiin jin kali," kekeh Reno.


"Jin perempuan yang seksi abis ya, sampai lo lupa waktu," timpal Arga ikut terkekeh.


"Kalian berisik," kesal Glen sambil memijat kepalanya yang semakin pusing dan berjalan ke arah ruangannya.


Regan tertawa kecil. Bahkan Nova pun menahan tawanya sampai ketiga bosnya memasuki ruangan Glen dan menutup pintu.


Padahal tadi pagi Alva datang sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya ke bandara. Dia akan berbulan madu dengan Tamara ke Dubai. Satu minggu minta ijin ke Kiano.


"Ada apa? Kamu kelihatannya senang?" tanya Kiano yang keluarnya terakhiran menyapa Nova yang sedang terkikik.


"Eh ah eh pak," ucap Nova malah tersedak karena ke gep bos utama mereka sedang ngikik dengan sangat lepas


"Kamu kenapa, sih. Yang laen pada kemana?" tanya Kiano heran melihat keterkejutan Nova yang berlebihan menurutnya.


Nova pun mengatur nafasnya agar tidak terlihat lebih memalukan seperti tadi.


"Maaf, pak, saya habis menonton video yang lucu," ucapnya merasa bersalah dan malu.


"Ya ngga apa. Kita juga habis meeting berat. Biar ngga stres. Kamu lihat yang lainnya?" ucap Kiano santai saat mengulang kembali pertanyaannya yang belum di jawab Nova.


"Di ruangan Pak Glen."


"Glen datang?" kaget Kiano dan tanpa menunggu jawaban Nova, dia mempercepat langkah kakinya ke arah ruangan Glen.


Nova menarik nafas lega setelah kepergian Kiano.


"Udah baik, tampan, kaya lagi. Bu Aruna sangat beruntung," gumam Nova sambil terus menatap punggung Kiano sampai menghilang di balik pintu ruangan Glen.


CEKLEK

__ADS_1


Arga, Regan dan Reno yang sedang membully Glen serentak menoleh ke arah pintu yang baru aja dibuka.


"Kalian ngapain kumpul di sini?" tanya Kiano heran sambil menutup pintu ruangan Glen.


"Lo ngga pengen marahin Glen?" tanya Reno membuat Arga dan Regan tergelak lagi. Glen malah menguap lagi. Sedari tadi dia sudah menguap berkali kali. Kepalanya juga masih terasa berat dan sangat pusing.


"Lo masih ngantuk? Jam sepuluh wooiii. Lo ngapain aja semalam?" sergah Reno sambll menggeleng gelengkan kepalanya.


"Pake di off in lagi hapenya," tambah Regan dengan sisa tawa di bibirnya.


"Lo lagi nyaingin Alva, kerja keras tadi malam?" ledek Arga.


"Padahal kayaknya Alva dikacangin Tamara," kekeh Reno semakin membuat yang lainnya melebarkan garis senyumnya.


Nasib lo, Al, hina Reno dalam hati.


Kiano tersenyum miring. Dia masih mengingat wajah kesal Alva.


Harusnya dia bahagia, kan, sudah resmi jadi suami Tamara?


Seingat Kiano, dia ngga melepaskan Aruna semenit pun untuk melewatkan malam pertama mereka.


"Syukurlah lo ngga apa apa. Kita bingung ngga bisa hubungi lo," ucap Kiano sambil duduk di atas meja Glen. Dia menatap Glen dengan seksama


Sahabatnya terlihat habis mabok berat.


"Secantik apa sampai buat lo lupa sama meeting maha penting ini?" ganggu Reno lagi.


Sebenarnya dia kesal, harusnya Glen hadir, karena dia lah yang menangani proyek ini secara langsung.


Tapi untunglah Reno sudah sempat berdiskusi dengan Glen beberapa hari yang lalu membahas proyek ini. Jadi sebagian besar sudah dia ketahui dan cukup bisa membuat para klien mereka tambah yakin untuk melanjutkannya.


"Seperti bukan lo aja. Mami lo aja ngga lo pamitin," timpal Arga agak heran karena maminya malah bertanya padanya saat Arga menelpon kenapa Glen ngga pulang setelah acara nikahnya Alva. Padahal Arga yang ingin bertanya, malah ditanya balik.


Glen ngga pernah ngga ijin sama maminya jika dia mau kemana mana, bahkan juga kalo ngga pulang.


"Mami lo pusing tuh, hape lo ngga aktif," sambung Arga lagi.


Ya, ya, Glen tau. Makanya setelah sadar Glen langsung menghubungi maminya yang sangat panik saat mendengar suaranya.


Bahkan papinya pun marah karena membuat maminya ngga bisa tidur dan menyebabkan tensi maminya naek.


"Lo nyangkut di mana sebenarnya tadi malam?" tanya Regan penuh selidik. Dari tadi ditanya nguap terus jawabannya. Sekarang pun sama.


Walaupun sudah tercium bau mint dari permen karet, tapi samar samar Reno masih bisa.mencium bau alkohol dari nafas Glen.

__ADS_1


Dia mabok karena apa?


Gila, apa dia juga maen perempuan sampai beronde ronde? cela Regan dalam hati.


Bisa bisanya dia melupakan meeting yang sangat penting ini.


"Sebenarnya lo kemana? Tadi malam kata lo sudah oke semua." Kiano turut buka suara.


Memang sudah oke, tapi...


Glen pun.masih bingung apa yang telah terjadi padanya. Bukan bingung. Tepatnya shock. Shock bertubi tubi


Bikin mami sakit, papi marah, meeting jadi berantakan. Dan....


Tanpa.sadar Glen menghembuskan nafas perlahan.


"Gue minta maaf. Tapi gue mau tidur bentar. Kepala gue pusing karena kurang tidur," sahut Glen ngga peduli dengan pandangan aneh sahabat sahabatnya.


Dia langsung bangkit dan membaringkan tubuhnya di sofa panjang sambil memejamkan mata.


"Dia kenapa, sih?' tanya Reno kesal campur heran.


Kiano menatap Glen sebentar sebelum menatap para sahabatnya.


"Kita keluar dulu. Biarian dia tidur. Nanti pasti dia cerita," putus Kiano akhirnya.


"Oke," sahut Regan setuju. Dia merasa harus memberikan ruang untuk Glen. Karena saat ini Regan merasa Glen sedang bingung dan kalut.


"Dia seperti abis nidurin istri orang," gumam Arga pelan.


"Tapi istri siapa?" Reno yang mendengar jadi kepancing untuk menjawab.


"Nanti aja ditanya," lerai Regan lagi sambil.menarik Reno agar ikut bersamanya keluar dari ruangan Glen.


Dengan mata terpejam, Glen berusaha mengingat. Ingatan itu begitu kabur. Kadang muncul kadang tenggelam.


Malam itu dia menemani Meti ke club. Gadis itu mabok berat sampai berbotol botol alkohol tanpa bisa di cegah. Demikian juga Glen yang niatnya hanya menemani malah ikutan minum.


Seingat Glen, dia membawa Meti ke kamar yang dia booking di lantai dua club.


Untung Glen ingat sudah mengunci kamarnya. Tapi jadi bumerang buat dirinya sendiri.


Pagi jam sembilan dia terbangun, dalam keadaan tanpa busana dengan Meti yang masih tidur dalam keadaan yang sama di sampingnya.


Kepalanya masih sangat pusing. Ingatan meeting jam tujuh pagi membuatnya memaksakan tubuhnya langsung bangun, mandi secepatnya dan menggunakan kemeja tadi malam tanpa tau jasnya ada di mana.

__ADS_1


Dan Meti sudah ngga ada lagi ketika dia sudah berganti baju.


Kemana dia pergi?


__ADS_2