
"Alva, nanti siang kamu jemput Tamara, ya. Kalian harus fitting baju pengantin. Mami dan mama Tamara akan menunggu di sana," tukas mami saat Alva akan mengenakan helmnya.
"Kenapa dia ngga berangkat sendiri saja, mam," tolak Alva malas. Dia masih ingat kejadian saat Tamara ngobrol intim dengan laki laki menyebalkan itu. Ditambah lagi foto foto kemesraan mereka yang didapatnya dari Meti.
Udah beberapa hari ini Alva ngga menjemput Tamara. Dia beralasan pada maminya lagi sibuk ngurusin banyak tender.
"Kok, kamu gitu, sih, Al. Masa Tamara pergi sendiri?" protes maminya jadi kesal melihat respon anak semata wayangnya.
Padahal bentar lagi mau nikah, masih kayak bocil kelakuannya, gerutu mami membatin kesal.
"Dia itu atlet karate, mam. Ngga ada yang berani ganggu dia," jawab Alva enteng, tapi tangannya masih menggenggam helmnya.
Jemput-engak, jemput-enggak, batinnya sambil melihat kancing jaketnya. Seakan sedang menghitung jalan nasibnya.
"Addduuuuhh," ringis Alva sambil kepalanya terangkat mengikuti arah tangan maminya yang menjewernya.
"Kamu kenapa, sih, suka bikin mami kesal," marah mami sambil memperdalam jewerannya.
"Yaak, jempuuut. Lepasin maam. Sakiiit ..... aduh," balas Alva terpaksa masih dengan wajah meringis.
Mami pun melepaskan jewerannya sambil tersenyun lebar, saking senangnya karena keinginannya dituruti. Walaupun harus dengan cara kekerasan.
"Lega, kan, mami sekarang. Puas udah jahatin anak sendiri," omel Alva sambil mengusap usap telinganya yang pasti berwarna merah.
BUG
"Kamu jangan jadi anak durhaka," tawa mami sambil memukul keras bahu putra manjanya sampai hampir jatuh bersama motornya. Untung saja Alva masih bisa menahan motornya. Kalo engga dirinya dan maminya akan barengan ketimpa motor sportnya.
Alva hanya bisa memanyunkan wajahnya. Nasibnya punya mami yang suka kdrt, sekarang pun bakal punya istri yang se tipe dengan maminya.
"Alva pergi dulu, mam," pamitnya kemudian menyalim tangan maminya dan menciumnya. Kemudian mengenakan helm fullfacenya.
"Hati hati anak mami sayang," ucap mami masih dengan tawa di bibirnya.
Alva hanya mengangguk dan menjalankan motornya meninggalkan maminya yang masih saja tertawa melihat kepergiannya.
Kenapa mami suka banget sama Tamara? batin Alva heran.
Ngga pake lama Alva sampai di perusahaan miliknya dan teman temannya. Sudah beberapa hari dia ngga menampakkan batang hidungnya. Sibuk mengurusi perusahaan papinya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Alva yang baru turun dari motornya melihat Arga juga baru sampai dengan mobilnya. Alva hapal banget mobil favorit sahabat bengeknya itu.
__ADS_1
Dengan terburu buru Alva melepas helmnya dan menghampiri Arga yang baru membuka pintu mobil
"Dasar ban*gke!" maki Alva saat sudah sampai di depan laki laki yang kini sedang menutup pintu mobil.
Senyum Arga langsung melebar ketika melihat wajah seram Alva. Bahkan kini Arga terkekeh.
"Sorry, sorry," katanya masih tetap tertawa.
Alva membuang nafasnya kesal.
"Kalo ngga ingat lo sahabat gue, udah gue lempar kepala lo pake helm," dengusnya masih marah.
Arga ngga menyahut tapi dia masih tergelak, mengingat apa yang sudah dirinya perbuat tadi malam pada sahabatnya.
BUG
Alva pun menendang keras ban mobil Arga saking kesalnya karena tawa Arga ngga berhenti juga.
Beberapa Menit Kemudian
"Jadi siapa yang moto in Tamara? Beneran bukan lo?" tanya Arga saat tawanya benar benar sudah berhenti.
Keduanya bersandar di badan nobil Arga.
"Bukanlah," ketus Alva dongkol.
"Jadi siapa?" desak Arga kepo.
"Meti," dengusnya kesal.
Teringat Meti yang menangis tanpa malu berjam jam di kafe. Alva akhirnya menelpon mami Meti dan untunglah berhasil dibujuk hingga mau diajak pulang.
"Meti?" Arga kembali tergelak.
Segitunya dia bucin sama lo, batinnya geli.
Alva tambah kesal menatap Arga. Menurutnya Arga jadi aneh, jadi super menyebalkan.
"Itu foto biasa saja. Jangan lo ambil hati," jelas Arga setelah tawanya mereda. Lebih cepat dari yang pertama.
Alva yang sudah akan meninggalkan Arga jadi menghentikan langkahnya. Di berbalik dan menatap Arga lekat. Ada binar harapan dalam sorot matanya.
__ADS_1
"Serius?" tanyanya pingin percaya.
"Sangat serius," jawab Arga yang sudah kembali dengan mode bijaknya.
Alva menarik sedikit sudut bibirnya ke atas sebelum berbalik pergi meninggalkan Arga yang kini menyusuli langkahnya.
"Lo harusnya akui perasaan lo dengan Tamara. Lo udah suka, kan?" tebak Arga santai. Dia sudah bisa membaca gerak gerik Alva. Hanya gengsi yang membuatnya bertahan dalam ke nggak peduliannya.
"Mana ada," bantah Alva tanpa menoleh dan terus melangkah mendekati lift.
"Ya terserah lo. Mending lo tanya siapa laki laki itu. Dari pada lo marah marah ngga jelas," pancing Arga sambil mengikuti Alva yang masuk ke dalam lift.
"Gue marah, kan, karena lo," ketus Alva dengan mata melotot pada Arga.
"Sorry, sorry. Sesekali taktik konyol lo pengen gue coba," kata Arga mengaku dengan wajah penuh senyum.
Alva terdiam, mencoba mencerna dengan baik ucapan Arga. Lift yang mereka naeki pun sudah bergerak ke atas.
"Maksudnya lo mau buat Qonita cemburu?" ganti Alva yang tergelak, mengetawai Arga setelah dapat memahami situasi yang dihadapi Arga malam tadi.
Kok, bisa dia cemburu? Apa sudah ada rasa? batinnya senang.
"Nggaklah," sangkal Arga mengelak.
"Cuma iseng pengen lihat reaksinya," lanjut Arga santai, walau dalam hatinya ngga menafikan kebenaran tebakan Alva.
"Tapi lo suka, kan, buat Qonita cemburu?" ejek Alva masih dengan tawa yang berderai derai. Lupa sudah Alva dengan kekesalannya tadi. Sekarang hatinya malah puas bisa balas mengetawai Arga.
Tapi Alva benar benar senang karena Arga sudah mulai nampak hilal move onnya. Lima tahun dia benar benar ngga mau kenal wanita. Iseng pun nggak. Saking setianya kepada Ayana yang sudah almarhummah.
Arga hanya tersenyum miring.
Memang dia suka melihat wajah marah Qonita. Tapi dia penasaran dengan laki laki yang dipeluk Qonita. Mereka terlihat sangat dekat.
"Jangan jangan lo juga udah suka sama Qonita. Tapi gengsi," tuduh Alva dengan nada mengejek. Tawanya sudah berhenti dan hanya meninggalkan sisa di wajahnya.
"Lo kali," balas Arga enteng.
"Gue?" seru Alva meremehkan sambil menunjukkan jempol sebelah tangannya di dadanya sendiri.
"Nggak lah," bantahnya sangat yakin sambil melangkah keluar karena pintu lift sudah terbuka.
__ADS_1
"Ya ya ya," sahut Arga mengalah.
Apa.kita sama ya, Al? batinnya ngga yakin tapi kemudian bibirnya mengukir senyum tipis