Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Harapan


__ADS_3

"Dalam bulan ini saja udah tiga pernikahan dalam waktu berdekatan," komentar Alva geli sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Lo ke salib, Ga," kekeh Regan mengejek.


Kiano, Reno.dan Alva tergelak. Aruna, Tamara dan Rain juga tertawa kecil bersama pasangannya.


Arga yang disindir hanya tersenyum senyum sambil merangkul Qonita yang juga tersenyun simpul.


"Gue tetap menghormati lo, Arga. Tenang aja. Gue sama Rain setelah lo," tukas Reno masih terkekeh


"Karena lo masih mandang gue, gue bayarin bulan madu lo Asal jangan minta ke bulan aja," canda Arga.


"Wah, asyik nih. Lo tanggung semua pengeluaran gue?" tanya Reno ngelunjak dengan cengiran khasnya.


"Bisa miskin gue sama permintaan lo yang unlimited. Yang gue tanggung hanya hotel seminggu sama tiket pulang pergi aja. Terserah lo mau kemana," balas Arga tergelak.


Reno pun tergelak bersama yang lain mendengar kalimat panjang Arga.


"Lo dikasih hati minta ginjal," sarkas Alva ngakak.


"Siapa tau boleh," kilah Reno tambah ngakak.


"Kita manggil istri Glen, kakak atau nama saja?" tanya Alva setelah tawa mereka mereda.


"Emang lo pikir dia kak Aisha," respon Kiano cepat.


"Kan, sebaya, bro," celutuk Reno cepat.


"Lo mau dihajar Glen," kekeh Arga.


Dalam hati masih ngga abis pikir, Glen sedang duduk di pelaminan dengan wanita yang seusia dengan Kak Aisha. Cepat banget prosesnya. Tau tau nikah aja. Ngga tau kapan kenalnya.


Ngga ada seorang pun yng diberitau Glen tentang peristiwa penggebrekan dirinya dan Armita di hotel.


Bisa dibully dia ntar sama sahabat sahabatnya. Terutama Arga yang pasti akan sangat senang mengejeknya tanpa henti setelah tau proses pernikahannya yang suoer cepat.


Belum lagi Alva dan Reno yang akan selalu menyinggung topik ini dalam setiap kesempatan.


Lagi pula ngga sulit buat menutup mulut mantan tunangan Armita. Karena Armita punya video penggebrekan mantannya itu dengan sekertarisnya di kantor.


Jadi ketiga keluarga saling menjaga rahasia demi kepentingan mereka sendiri. Terutama nama baik dan harga diri.


"Tapi tetap sungkan gue manggil nama saja," sanggah Reno.


"Iya, sih," balas Kiano. Dalam hati dia juga masih heran, kenapa bisa bisanya Kak Armita menikah dengan Glen. Setaunya dari cerita Kak Aisha, Kak Armita sudah punya tunangan.


Ada suatu masalah besar yang sedang ditutupi Glen.


Tapi Kiano malas kepo. Dia tau pasti nantinya Glen akan cerita juga dengannya. Anak itu ngga bisa menympan rahasia dalam waktu lama. Kiano paham sekali watak Glen.


"Tapi aku bersyukur Glen bersama Kak Armita. Glen itu, kan, manja. Kak Armita pasti bisa menghandle kemanjaan Glen," kekeh Alva.


Kayak lo ngga manja aja, batin Tamara menyindir sambil melirik lagak Alva yang sok dewasa.


"Kayak lo," sindir Reno.


"Emang gue kenapa?" tanya Alva ngga merasa kalo dia laki laki manja seperti yang dituduhkan Reno.


"Yang, kita dansa, yuk," ajak Kiano sambil menggamdeng Aruna.


Dari pada mendengar perdebatan yang ngga jelas, Kiano mengajak Aruna yang hanya mengangguk ke tengah ruangan. Sudah banyak pasangan yang yang berada di situ, berdansa dengan musik lembut.


"Iya, gue juga," tukas Arga sambil memggandeng Qonita.


Regan tanpa kata juga mengikuti Arga bersama Dinda.


"Mas, aku ngga bisa dansa. Lagian...." Dinda menunduk saat Regan menatapnya tepat di manik matanya.


"Masih sakit? Maaf, aku kasar ya, tadi malam," kata Regan merasa bersalah


Maklum saja, setelah seminggu lebih mereka menikah, dia baru bisa merasakan malam perrama dengan Dinda. Gimana Regan ngga lupa diri.


Selama tiga hari ini Regan mengexplore Dinda sampai sedalam dalamnya. Apalagi papanya memberinya ijin ngga usah ngantor dulu setelah dia keluar dari rumah sakit.


Karenanya Regan sangat menikmati hari harinya bersama Dinda. Untung ngga ada yang memperhatikan wajah pucat Dinda. Gadis ini agak tebal memoles blush onnya.


"Bukan tadi malam. Tapi tiap malam," ralat Dinda manyun.


Regan tersenyum lebar.


Saat ini keduanya sudah saling menggoyangkan tubuh mereka dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu suka, kan?" ledek Regan membuat wajah Dinda bersemu merah.


Regan sangat beruntung. Dinda sangat cantik. Kulitnya putih bersih, rambutnya legam bergelombang.


Mungkin ini bidadari surganya.


Dinda menyandarkan wajahnya di dada Regan yang memeluknya erat.


Alva dan Rebo baru sadar kalo mereka sudah ditinggal berdua. Tamara dan Rain pun sudah pergi meninggalkan keduanya yang masih saja berdebat.


"Kita ditinggal," sungut Alva kemudian mencari keberadaan Tamara-istrinya.


"Gara gara lo, kan," balas Reno ngga kalah kesalnya.


Dia pun mencari keberadaan Rain.


"Shina gimana?"


"Nadia gimana?"


Keduanya saling pandang karena saling serentak bertanya. Kemudian terkekeh.


'Nadia kemarin sudah berangkat ke Makasar. Papinya memintanya untuk menemani neneknya," jelas Reno.


Papinya tadi malam memberitahukan hal itu padanya.


"Oh, syuukurlah kalo begitu," ucap Alva lega.


"Iya," lanjut Reno juga lega.


"Shina lolos sebagai salah satu finalis modelling di Paris. Dia juga sudah berangkat," info Alva melanjutkan.


"Baguslah. Dia bakalan sibuk ntar," balas Reno senang.


"Harapan gue juga begitu, sih," senyum Alva melebar.


Masalah mereka kini sudah berakhir. Semoga besok besok ngga ada lagi masalah yang menyangkut perempuan, harapan keduanya dalam hati


"Gue nyari Rain dulu," pamit Reno sebelum pergi meninggalkan Alva


"Oke, gue juga mau nyari Tamara."


Keduanya pun berpisah dan mencari pasangan mereka di tengah lautan para tamu.


Riko yang sedang menghabiskan kopi gelasnya di teras sebuah minimarket terkejut mendengar teriakan melengking seorang perempuan.


Kebetulan minimarket di daerah tempatnya ngopi cukup sepi. Dan ini memang tempat favoritnya menghabiskan waktu.


"COPET!"


Riko melihat seorang laki laki yang berlari kencang diikuti seorang perempuan yang berlari di belakangnya


Riko tanpa pikir panjang melemparkan iphone terbaru miliknya ke arah pencopet tu.


TUK


"Aaaahh," teriak pencopet itu ketika iphone yang sangat mahal itu memukul kepalanya.


TRAK


Ponsel gue, batin Riko ngenas sambil berlari ke arah ponselnya yang untungnya masih utuh. Hanya terlihat sedikit retak di anti goresnya saja.


Dia pun memungutnya dan mengusap usapnya.


"Syukurlah masih bisa dipake," gumamnya lega.


Tapi perhatiannya teralihkan pada suara bag bug di belakangnya.


"Ampun nona. Ampun!" seru pencopet itu mengiba. Kepala, wajah dna tubuhnya menjadi sasaran pukulan hand bag si gadis yang dicopet tadi.


Gadis itu ngga peduli, terus saja memukul kepala dna bagian tubuh sang pencopet berkali kali dengan sepenuh hati.


"Makanya, jangan nyopet!."


"Ampun, nona. Ampun...."


"Meti?" panggil Riko membuat gadis yang bernama Meti menghentikan pukulannya.


Mendapat kesempatan langka, si pencopet langsung ambil langkah seribu.


"Heeeiii!! Jangan kabur," teriak Meti marah. Tapi saat dia akan berlari mengejar, Riko menahan tangannya sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ngga perlu dikejar. Tas kamu udah kembali, kan," cegah Riko.


"Oh iya." Meti baru tersadar kalo tasnya yang dicopet sudah ada di tangannya.Dia pun menghembuskan nafas lega


Tapi kenudian dia mengeplak kepala Riko karena kesal dengan tasnya.


"Kok, gue dipukul, sih. Lo gila, ya," ketus Riko sambil menarik tas Meti hingga lepas dari tangannya.


Padahal udah ngorbanin hp mahalnya buat menghentikan sang penculik, sungut Riko dalam hati.


"Kenapa lo sampai ngelempar iphone, bego. Itu keluaran terbaru, kan?" sergah Mati emosi.


"Gue reflek aja lihat cewe ngejar copet kayak siput," ejek Riko sambi memberikan tas Meti.


"Enak aja siput," omel Meti sambil melirik ponsel Riko yang penuh goresan.


Meti tersentuh ada laki laki yang mau mengorbankan miliknya yang berharga untuk menolongnya tanpa berpikir panjang. Bahkan Riko juga ngga tau siapa yang ditolongnya saat melempar ponsel ini.


"Makasih, ya," ucap Meti terharu.


Setelah beberapa kali bertemu dengan laki laki yang ngga menginginkannya, kini melihat Riko seakan hatinya yang gersang terasa sejuk seakan habis disiram air hujan.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Meti kepo.


"Ngga ngapa ngapain. Kamu sendiri nyasar?" sindir Riko sambil duduk kembali di teras mini market.


"Iya," jawab Meti jujur.


Riko sampai menoleh heran.


"Mau kopi? Gue traktir," ujar Riko jadi kasian melihat wajah galak Meti kini berubah murung.


"Boleh."


"Duduk di sini," kata Riko sebelum pergi ke dalam mini market.


Meti hanya diam menurut. Tapi tangannya mengetikkan pesan untuk pengawalnya.


Ngga lama kemudian Riko pun datang dengan membawa dua cangkir kopi. Dia kembali memesan untuk dirinya.


Ngga tega juga melihat Meti minum kopi sendirian.


Hampir sejam keduanya menghabiskan kopi dalam diam. Hingga sebuah mobil mewah datang dan berhenti.di depan minimarket tempat mereka berada.


Seorang wanita cantik dengan blazer hitam menghanpiri Meti dengan membawa sebuah paper bag.


"Nona," sapanya.


Meti tersenyum. Setelah menerimanya, dia pun menyerahkan paper bag itu pada Riko yang manatap Meti dengan heran.


"Apa ini?"


"Gue ganti ponsel lo dengan merek dan tipe yang sama. Jangan dibuang atau lo kasih ke orang lain. Gue bakalan marah," kata Meti serius kemudian bangkit berdiri.


Riko ngga menjawab. Hanya melihat Meti berlalu bersama pengawalnya.


Bahkan Riko masih melihat sampai mobil mewah Meti menghilang


Riko menghela nafas sambil meraih isi paper bag itu.


Ternyata Meti sengaja berlama lama menghabiskan kopinya karena menunggu pengawalnya datang setelah dimintanya mencari ponsel yang sama seperti miliknya.


Riko tersenyum miring.


"Terimakasih," gumamnya pelan.


Dan Riko kembali melebarkan senyumnya melihat selembar kertas kecil yang jatuh.


Sepertinya dari buku catatan Meti yang sempat Riko lihat waktu dia membawa kopi panas untuk mereka.


Catet no ponsel gue. 08225505xxxx. Hubungi gue kalo lo butuh teman kencan!


"Boleh juga," gumam Riko sambil menyimpan kertas note itu.


Dia juga ngga terlalu jelek untuk Meti. Walau mantan napi. Tapi dia napi terhornat. Semuanya sudah tau kenyataannya saat dia dikeluarkan dari penjara. Karena tempat itu memang bukan tenpatnya.


T A M A T


Terima kasih buat para Author yang selalu mendukung. Juga ngga lupa buat para readers. Selalu senang membaca kementar komentarnya.


Sehat selalu... Happy New Year

__ADS_1


__ADS_2