
"Kakak rasa lebih baik kamu ikut kakak atau teman Kiano. Glen atau Regan, ya?" sambar Melvin cepat. Dia sudah merasa sangat kesal melihat kelakuan adiknya yang sudah terlalu merendahkan harga dirinya.sendiri.
"Maksud kamu, Glen Putrajaya, kan?" lanjut Melvin menebak. Dia cukup mengenal laki laki pemain wanita itu, sama seperti dirinya.
"Betul," jawab Kiano membenarkan. Dia ngga heran, pasti Grup Putrajaya juga sangat dikenal di lingkungan bisnis kelas atas. Juga sepak terjang putra bungsunya yang banyak berkonotasi negatif.
"Tapi kakak lebih suka kamu pergi bersama Regan Hadi Dharma," tambah Melvin lagi.
Dia bukan cassanova, batinnya melanjutkan.
Claudya akan membantah tapi sorot tajam Melvin membuat dia terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku terserah kakak."
Bukan hanya Melvin, ternyata Aisha dan Dika Artha Mahendra menghembuskan nafas lega
Sedangkan Kiano tetap bersikap cuek dan malah fokus dengan pesan yang baru masuk ke ponselnya.
Athar sudah mengirim pesan tentang pasien pura pura yang berada di dalam ambulance yang akan menabrak Aruna beberapa hari yang lalu.
Athar
Mayat yang ditemui di jalan tol ternyata si pasien pura pura itu. Kita terlambat satu langkah. Kita sedang selidiki rekam jejaknya.
Kiano menghela nafas kesal. Padahal mereka sudah hampir dengan mudah membuka tabir siapa yang akan menabrak Aruna.
Tapi harapan masih tetap ada. Kak Athar pasti akan berusaha keras menggunakan berbagai cara untuk membongkar dalangnya.
Karena kejadian kecelakaan itu cukup viral, banyak rekaman kejadian itu yang beredar. Sangat kebetulan sekali wajah pasien pura pura itu terlihat jelas karena ngga menggunakan masker.
Anak buah Kiano, Athar dan papinya sendiri langsung bergerak. Sayangnya, komplotan penjahat itu jugs menyadarinya dan langsung membunuh temannya si pasien pura pura itu.
Dunia kejahatan memang kejam, ngga memandang teman. Yang terpenting adalah keselamatan diri masing masing.
Sedangkan supir dan perawat laki laki gadungan di ambulance itu mengenakan masker dan topi. Sehingga mereka hanya bisa mengira ngira bentuk wajahnya saja.
"Ada apa, Kiano?" tanya papinya heran.
__ADS_1
"Mayat yang dibuang di jalan tol itu salah satu dari orang yang mau menabrak Aruna, pi," kata Kiano dengan sorot tajamnya mengarah pada Claudya.
Dia gugup? batin Kiano yang merasa heran melihat riak resah di mata Claudya. Gadis itu merasa terintimidasi oleh netra elang Kiano. Tanpa sadar Claudya berkali kali menghela nafas. Duduknya juga mulai gelisah.
"Siapa Aruna?" tanya Herman Permana berusaha tenang, sementara dia melirik putrinya yang mulai salah tingkah karena tatapan curiga Kiano.
"Istri Kiano. Ada yang mencoba untuk membunuhnya," kata Dika Artha Mahendra yang juga menatap relasi bisnisnya penuh selidik.
Papi Kiano cukup tau dengan rekam jejak relasi bisnisnya.
"Ohya? Kapan kejadiannya?" tanya Herman Permana kaget. Terlihat ngga berpura pura.
"Beberapa hari yang lalu."
"Menantumu bagaimana keadaannya?" tanya Herman Permana khawatir. Padahal dalan hati tertawa.
"Selamat tidak kurang suatu apa pun," jawab Dika Artha Mahendra tenang.
"Syukurlah. Jadi mayat di tol itu salah satu pelakunya?"
"Begitulah."
"Ya, kami harus mulai pencarian dari awal lagi," kekeh Dika Artha Mahendra cukup puas sudah memancing reaksi relasi bisnisnya.
"Semoga berhasil," pungkas Herman Permana.
Dika Artha Mahendra ngga menjawab. Hanya meneruskan kekehannya.
"Maksud Om, ada yang mau mencelakai istrinya Kiano?" tanya Melvin setelah cukup lama mencerna pembicaraan kedua orang tua ini. Hatinya merasa agak aneh dengan cara bicara Kiano dan Dika Artha Mahendra. Seperti sedang menyelidiki.
"Benar," sahut Dika Artha Mahendra dengan mengalihkan tatapan penuh selidiknya pada Melvin.
Apa dia beneran ngga tau? batin papi Kiano menduga.
Reaksi Melvin seperti baru tersadar ada kejadian serius yang dialami keluarga Kiano. Dia baru saja kembali dari Luar Negeri, dan Melvin adalah orang paling malas membuka sosial.medianya.
Melvin melirik dadynya yang tetap tenang dan adiknya yang sedikit resah.
__ADS_1
"Ngga perlu menyelidiki dari awal, Om. Asalkan bisa membuka rekam jejaknya, akan ketahuan siapa yang terlibat," kata Melvin seolah sengaja memberikan solusi. Dia bersitatap dengan netra elang dadynya yang menyorot kesal.
Melihat reaksi adiknya, Melvin semakin curiga. Di tambah dengan sikap tenang dadynya.
"Mungkin datanya sudah dihapus," jawab Aisha ngga yakin membuat Melvin tersenyum.
"Kalo ada hacker, pasti akan mudah melakukannya," jawab Melvin kemudian terkekeh.
Herman berusaha tetap tenang. Matanya menyorot datar pada putranya.
Tapi beliau sadar, kata kata Melvin adalah isyarat keras untuknya dan putrinya, agar lebih cepat menangani masalah ini.
Dalam hati Herman Permana mengutuk kebodohannya karena ngga memikirkan sampai jauh ke sana. Beliau melirik Claudya yang terlihat resah.
DEG
DEG
DEG
Jantung Claudya memompa dengan cepat.
Apa akan ketahuan? batinnya resah.
"Hacker kita sedang melakukan tugasnya," sahut Kiano tenang.
Kiano tersenyum miring begitu melihat wajah pucat Claudya.
Hatinya yakin, Claudya terlibat. Atau mungkin dalangnya adalah dia. Om Herman mungkin sudah tau dan hanya mengawasi sampai keadaan bahaya muncul.
Kiano berusaha menahan kemarahannya. Dia hampir saja kehilangan Aruna. Dan pelakunya ada di depannya.
Kiano tau, dia ngga bisa menuduh orang tanpa bukti kejahatannya. Apakagi sekelas Herman Permana dan putrinya.
Semoga hacker mereka berhasil, mendapatkan bukti, harapnya dalam hati.
Melvin pun sudah yakin kalo adiknya adalah pelakunya. Dia dapat melihat kegugupan Claudya.
__ADS_1
Yang membuatnya kesal karena dadynya mendukung perbuatan buruknya adiknya. Entah bagaimana perasaankecewa maminya kalo sampai tau.
Yang harus dia pikirkan, bagaimana nantinya membebaskan adiknya dari tuduhan berat ini.