Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Berita Bahagia


__ADS_3

"Hamil? Benarkah?" tanya Kiano senang campur ngga percaya.


"Selamat ya, Aruna," ucap Tamara ikut berbahagia.


Aruna tersenyum tipis. Dia awalnya sudah curiga dengan kehamilannya, tapi belum sempat memeriksanya lebih detil. Bahkan Aruna jjuga belum sempat menggunakan testpack.yang sudah dia beli.


"Benar, pak. Dokter Aruna sudah hamil dua minggu," kata dokter Maya yang menggantikan dokter Farel di bidang kandungan.


"Syukurlah kalo begitu," seru Kiano penuh syukur. Kemudian tanpa ragu Kiano memgecup pipi kanan Aruna dengan sangat lembut.


"Terima kasih sayang. Aku sangat mencintai kalian," bisiknya membuat hati Aruna terasa hangat.


Tangan Kiano pun mengusap lembut perut Aruna yang masih rata. Tapi kemudian wajahnya terlihat khawatir.


"Tapi kandungannya ngga apa apa, kan, dokter?" tanya Kiano cemas karena tadi Aruna merasa perutnya kram.


"Engga, pak. Kandungan dokter Aruna cukup kuat," jelas dokter itu dengan senyum menenangkannya.


"Syukurlah," ucap Kiano sambil membantu Aruna bangkit dari tidurnya.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, sayang," ucap Kiano ketika Aruna sudah duduk menyandar di dadanya.


"Iya, Runa. Kamu baru ngalami kejadian yang cukup berbahaya," kata Tamara menambahkan.


"Aku engga apa apa. Sekarang kita harus periksa kamu dan Kiano. Luka luka kalian harus segera diobati," bantah Aruna cepat.


Kedua orang terdekatnya lebih mementingkan keadaan kesehatannya lebih dahulu. Padahal Kiano dan Tamara juga mengalami luka luka cukup lumayan parah. Apalagi Tamara. Dia lebih lama terlibat perkelahian demi melindungi dirinya.


"Oke," tukas Kiano sambil memberi kode pada Tamara yang akan membantah. Kiano sudah paham watak Aruna yang pasti akan terus memaksa agar mereka segera memeriksa keadaan mereka setelah perkelahian tadi.


Tamara pun menurut dan mendekatkan kursi roda ke tempat tidur ruang periksa.


Kiano dengan sigap menggendong istrinya dan mendudukkannya di kursi roda. Kemudian mengambil alih tugas Tamara dengan mendorong pelan kursi roda Aruna.


"Hai, kalian dari mana? Ayo, diperiksa luka lukanya," kata Athar begitu melihat kehadiran Kiano, Aruna dan Tamara. Dia baru saja keluar dari ruang periksa.


"Tamara, kamu masuk dulu," ucap Kiano yang dituruti Tamara.


"Kamu periksa dulu, ya," ucap Aruna dengan senyum manis di bibirnya.


"Oke," balas Tamara sambil membuka pintu ruang periksa.


Begitu Tamara masuk dan pintu tertutup, Kiano menatap sekeliling karena ngga menemukan Aries dan teman Athar yang tadi membantumya.


"Aries sama.teman abang lagi dimana?"


"Aries lagi laporan sama papi kamu, Arik lagi ke toilet. Kebelet katanya," ucap Athar kemudian menatap Aruna dengan penuh senyum.


"Aruna, kanu ngga apa apa, kan?" tanya Athar dengan perasaan lega karena melihat keadaan Aruna cukup baik.baik saja.


Aruna tersenyum.


"Bang Athar, makasih, ya," ucap Aruna tulus membuat Athar tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aruna hamil, bang," kata Kiano ngga bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya lebih lama.


"What? Syukurlah kalo gitu," pungkas Athar senang.


"Selamat, ya," lanjut Athar girang sambil menyalami Kiano yang dengan senang hati menyambut uluran tangannya.


"Nanti usia anak kita ngga jauh beda," kekeh Athar diikuti Kiano.


"Mereka bisa jadi teman dekat," lanjut Aruna senang sambil membayangkan kedekatan anaknya dan ponakannya nanti


"Kelihatan senang, ada apa?" tanya Arik yang baru saja dari toilet.


"Ini ipar gue juga hamil," jawab Athar bangga.


"Selamat kalo gitu, ya. Ada kabar baik setelah tadi mengalami kejadian buruk," kekeh Arik ikut bahagia mendengarnya.


Athar tersadar mendengar ucapan Arik.


"Kehamilan kamu ngga apa apa, Runa?" tanya Athar sedkit khawatir.


"Tadi sempat kram, bang. Tapi kata dokter ngga apa apa," jawab Aruna menenangkan Athar.


"Syukurlah. Jadi kalian sudah periksa, ya," ujar Athar lega.


"Barusan, bang. Bang Athar gimana hasil pemeriksaannya?" tanya Kiano ingin tau.


"Tadi di cek ngga ada yang retak ata patah. Syukurlah. Nanti habis Tamara, kamu juga masuk sana periksa," titah Athar pada Kiano.


"Iya, bang."


"Iya, bamg, Alhamdulillah. Setelah ini kita mau lihat Alva," lanjut Kiano.


"Cewe tadi kuat juga, ya," cetus Arik kagum pada Tamara.


"Iya, tadi awalnya Tamara sama Athar yang ngelindungi Aruna, bang," jelas Aruna.


"Iya, terus aku dan Kiano. Keadaan benar benar kacau. Abang khawatir sama kamu. Ini aja kakak kamu belum tau," tutur Athar sambil nyengir.


Kiano dan Arik tertawa mendengarnya. Sedangkan Aruna memgembangkan senyumnya.


Pasti kakaknya akan khawatir sekali, batin Aruna dalam hati.


"Melvin mana, bang?" tanya Kiano yang tersadar karena Melvin ngga kelihatan.


Athar menghela nafas panjang.


"Dia pulang nemuin maminya. Kasian juga lihatnya," cetus Athar pelan.


"Iya, gimana cara ngomongnya ke maminya," kata Arik juga pelan.


"Kira kira berapa tahun hukuman Claudya, ya. Harus kita pantau," kata Kiano geram.


"Jangan sampai berulang kejadian ini," sambung Athar juga gusar.

__ADS_1


"Ngga nyangka cewe tadi adiknya Melvin," lanjut Arik sambil menggeleng gekengkan kepalanya.


Aruna ngga menyahuti. Dalam hati dia juga merasa ngga tenang. Ada perasaan takut jika Claudya bebas dalam waktu singkat dan melakukan hal jahat padanya lagi.


"Mungkin kalian kebih baik pindah. Balik.lagi ke Jakarta," usul Athar.


"Itu juga yang aku pikirkan, bang. Kamu setuju, kan, Aruna?" tanya Kiano sambil menatap lekat kedua mata indah istrinya.


"Iya, aku ikut apa kata kamu," sahut Aruna cepat tanpa mikir seperti biasa. Ketakutan melihat Kiano dan Tamara dalam bahaya membuat dia melupakan segala pertimbangan yang biasa dia lakukan.


"Makasih ya, sayang," sahut Kiano terharu karena Aruna langsung menurut tanpa membantahnya.


"Mama dan papa, juga Almira pasti senang karena ngga perlu jauh jauh jenguk kamu," lanjut Athar ikutan senang.


"Ya, bang."


Aruna juga merindukan keluarganya. Apalagi sekarang dia sedang hamil. Dia ngga sabar ingin mengatakan pada mereka. Orang tuanya nantinya akan langsung mendapatkan dua cucu. Satu dari kakaknya, satunya lagi dari dirinya. Pasti mereka akan sangat bahagia.


Belum lagi keluarga besar Kiano. Rasanya senang bisa membuat orang orang yang dia sayangi bahagia.


Kiano mengusap lembut puncak kepala istrinya. Rasanya ngga sabar berbagi kebahagiaan ini.


*


*


*


"Alva harus nginap ya?" ucap Regan sambil melihat Athar yang terbaring dengan jarum infus di pergelangan tangan kirinya.


"Hebat juga lo, Al, bertahan selama itu," puji Glen sambil tersenyum tulus.


"Gue sama.Glen nge khawatirin lo," tambah Reno terus terang.


Alva memamerkan cengiran usilnya.


"Terus terang gue merasa diri gue sangat apes. Belum sehari gue nginap.di rumah sakit karena dikeroyok, eh, sekarang nginap lagi juga karena alasan yang sama," kekehnya dikuti sahabat sahabatnya.


"Hari yang melelahkan, ya," balas Arga di sela kekehannya.


"Iya, juga menegangkan," lanjut Reno imasih dengan tawa yang berderai derai.


"Gue ngga nyangka Claudya bakal sengamuk itu buat ngelukain Aruna."


JRENG!


Tawa mereka pudar karena Alva mengungkapkan topik yang sensitif.


Hening, sunyi, senyap.


"Regan, gue minta maaf sama Lo. Gue buta sampai bisa naksir cewe psycho gitu," ucap Glen sambil menatap Regan dengan perasaan bersalah menyemut di matanya. Gara gara Claudya, Glen sempat kesal dan marah dengan Regan, sahabatnya sejak lama.


"Gue ngga apa apa, kok. Gue ngerti apa yang lo rasakan," balas Regan santai membuat Glen lega.

__ADS_1


"Lo bucin, sih, sampai jadi buta gitu," sindir Reno.dengan senyum miringnya.


"Ya, gue bucin akut," kata Glen mengaku salah. Sahabat sahabatnya kompak tertawa mendengarnya. Termasuk.Glen. Dadanya sekarang plong karena Regan sudah memaafkannya.


__ADS_2