Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Trauma


__ADS_3

Kiano menghentikan mobilnya di depan penginapan yang mereka tinggali di resort. Dia menatap sayu pada wajah Aruna yang sedang terlelap. Tapi wajah itu tampak ngga tenang dalan tidurnya. Kejadian tadi pasti menimbulkan trauma untuk Arunanya.


"Aku janji ngga akan telat lagi jemput kamu," kata Kiano kemudian mengecup lembut kening Aruna.


Kemudian dia menghela nafas. Dia meraih ponselnya. Banyak sekali panggilan ngga terjawab dan pesan yang masuk. Sepertinya kejadian di rumah sakit tempat Aruna bekerja hari ini cukup viral.


Ddrrrt


Papi


Kiano pun mengangkat telponnya.


"Ya, pi," sahutnya sambil membuka pintu mobilnya.


"Apa yang terjadi di rumah sakit Aruna? Aruna baik baik saja?" tanya papi langsung dengan nada khawatir.


"Kiano hampir kehilangan Aruna, pi," kata Kiano dengan perasaan kacau balau.


"Apa maksud kamu?" kali ini terdengar suara mami yang terdengar panik.


Kiano membuka pintu mobil Aruna dan melepas seatbealtnya.


"Ada yang mau mencelakakan Aruna, mi," katanya sambil menjepitkan headset bluetooth ke telinga kanannya dan menyimpan ponselnya disaku celananya.


Kemudian Kiano menggendong Aruna ala bridal. Istrinya masih belum sadar dan masih larut dalam tidurnya.


"Siapa yang berani mengganggu mantu mami!" terdengar suara maminya menggeram marah.


"Sedang diselidiki, mi. Untung saja asisten Aruna dan temannya menolong Aruna di saat yang tepat."


Kiano pun menceritakan kronologis kejadiannya secara terperinci pada kedua orang tuanya.


Terdengar helaan nafas berat papinya.


"Ini bukan main main. Papi akan ikut menyelidikinya."


"Harus, pi. Kasian mantu mami. Pasti dia saat ini sangat terguncang," kata mami sedih.


Rasanya beliau ingin terbang saat ini juga menemani mantunya untuk mencari orang orang yang berani main main dengan keluarganya. Tapi papi dan maminya ngga bisa dia tinggalkan begitu saja. Mereka akan curiga.


"Akan mami bejek bejek jadi rujak kalo mami sudah tau siapa pelakunya," sambungnya lagi dengan nada geram.


Betul, Kiano setuju dengan maminya


"Ada yang kamu curigai*?" tebak papi, beliau yakin putranya sedang memilih milih calon tersangka utama.


"Kiano belun bisa bilang. Kiano akan cari bukti, pi."


"Ngga mungkin, kan, Nabilah atau Sasya," mami mencoba menebak tapi tetap ngga mau percaya dengan tebakannya. Terlalu menyakitkan jika tepat.


"Belum tentu tersangkanya perempuan yang Kiano buat patah hati, mi. Mungkin rekan bisnis yang mau balas dendam," kata Kiano agar maminya ngga berprasangka buruk pada keduanya.


"Betul, mami jangan asal menuduh," tukas papi menasehati


"Iya, pi. Maaf."

__ADS_1


"Kiano, mami minta, jaga Aruna baik baik ya. Sekarang kalian harus lebih waspada dan hati hati," pesan mami melanjutkan.


"Iya, mi."


CKLEK


"Kamu dimana?" tanya mami ketika mendengar suara pintu yang terbuka.


"Baru sampai di resort, mi. Aruna masih tidur, Kiano lagi gendong dia," jelas Kiano kemudian menyalakan lampu.


"Oh iya. Ya udah. Kamu istirahat, ya," kata mami sambil menutup sambungan telponnya.


Kiano pun membaringkan Arunanya di tempat tidur. Dia pun melepaskan sepatu Aruna. Kemudian mengambil salinan ganti di lemari. Dengan lembut dan hati hati Kiano mengganti baju Aruna.


Aruna hanya menggeliat tanpa membuka matanya. Kiano tersenyum. Setelah menyelimuti Arunanya, Kiano pun menelpon Regan yang masih berada di ruangan kerja mereka.


"Gimana hasil meeting tadi?" tanya Kiano sambil menuangkan air dingin ke gelas.


"PIihak Sarana Baja akhirnya setuju dengan konsep kita," ujar Regan terlihat kesal. Dia merasa Claudya hanya ingin berdekatan saja dengan Kiano. Setengah jam setelah Kiano pergi, mereka langsung menyetujui konsep yang sudah diajukan perusahaan Kiano.


Kiano terdiam, dia merasa agak aneh. Awalnya Claudya dengan timnya agak ngotot ingin merubah apa yabg sudah mereka sepakati. Sampai membuat jadwal menjemput istrinya mundur.


Ah, ngga mungkin, katanya menepis prasangka buruknya.


"Gue dengar ada kejadian di rumah sakit Aruna," tanya Regan ingin tau.


"Ada yang mau nabrak Aruna di basemen tempat biasa gue jemput dia."


Haaah? Nekat sekali, batin Regan kaget.


Regan mendapat video itu dari Glen. Video para dokter dan perawat yang berlari mengejar mobil ambulance yang ngga berhenti dan melaju ke dalam basemen. Saat di basemen ambulance yang hilang kendali itu seperti akan menabrak seorang perempuan, tapi wajahnya ngga gitu jelas. Tapi mobil ambulance itu malah menabrak tembok parkir.


Ternyata perempuan itu Aruna, batinnya ngga percaya


"Untung ada asisten perawat Aruna dan teman laki lakinya yang menyelamatkan Aruna."


Terdengar helaan nafas lega Regan.


"Syukurlah. Kita harus selidiki ini sampai tuntas," kata Regan ngga terima. Mereka harus menghajar pelaku itu. Kalo perlu di lempar di penangkaran buaya. Beraninya cuma sama perempuan. Regan mendecih kesal.


"Tentu saja. Gue ngga akan melepaskan orang itu," tegas Kiano.


"Oke, kita selidiki semua jangan terlewat," kata Regan sebelum memutuskan sambungan telpon.


Kiano kemudian menelpon Aries, orang kepercayaan keluarganya yang sangat menyebalkan.


"Gue butuh bantuan Lo," kata Kiano begitu mendengar helaan nafas kesal Aries.


"Tapi papi lo baru aja telpon. Bisa ngga, sih, nanti aja telponnya. Gue lagi sibuk," kesalnya. Kepalanya saat ini merasa sangat pusing karena pelepasannya lagi lagi tertunda.


Kiano tertawa mendengar dampratannya.


"Kenapa? Lagi naek lo? Belum turun?" ejek Kiano dan semakin yakin saat mendengar suara des*ahan perempuan.


"Tau lo! Jangan ganggu gue lagi. Gue tau apa yang harus gue lakuin," dampratnya lagi sambil menutup telponnya dan meneruskan permainan dewasanya.

__ADS_1


Kiano tertawa terkekeh. Setelah ketegangan yang dia lalui, akhirnya sahabatnya bisa membuatnya tertawa, melepaskan sebagian beban pikirannya.


Kiano lalu membalas pesan pesan dari mertua dan iparnya yang mengkhawatirkan keadaan Aruna karena melihat berita yang sudah viral padahal kejadiannya belum sampai satu jam yang lalu. Sudah tembus lima ratus ribu lebih viewers.


Kiano menceritakan kejadian yang sebenarnya dan terakhir berjanji akan mencari siapa dalang yang hampir membuat istrinya celaka.


Kiano pun masuk lagi ke kamarnya, ternyata Arunanya sudah terjaga dan sedang duduk di sandaran tempat tidur.


"Hai, sayang," kata Kiano sambil duduk di sampingnya..


Aruna pun langsung merebahkan kepalanya di dada Kiano.


"Kirain aku sendiri," gumamnya pelan


"Aku lagi nerima telpon," jawab Kiano lembut sambil mengusap lembut rambut Aruna.


"Temenin aku dulu," bisik Aruna sambil memejamkan mata.


"Ya."


Kiano terus mengusap lembut rambut Aruna.


"Besok ijin dulu aja, ngga usah kerja dulu?" tawar Kiano.


"Nanti aku sendirian di kamar? Kamu, kan, kerja," protes Aruna membuat Kiano tersenyum.


Peristiwa ini membawa berkah baginya. Aruna yang tegas, mandiri berubah jadi manja dan kolokan. Kiano sangat suka Arunanya yang saat ini. Dia merasa jadi super hero yang sangat dibutuhkan.


"Kamu ikut aku ke hotel. Nemenin aku kerja," kata Kiano lembut.


"Ya, aku mau," jawab Aruna cepat, dia pun tambah menempelkan wajahnya ke dada Kiano.


Kiano mengecup lembut kening Aruna. Dia dapat merasakan kalo Aruna masih belum bisa melupakan kejadian yang hampir membuatnya terluka atau bahkan kehilangan nyawa.


Kiano pun saat ini takut jika itu sampai terjadi. Dia yakin, hidupnya akan sangat hampa. Mungkin dia bisa depresi ditinggal Aruna saat lagi sayang sayangnya.


"Kiano," panggil Aruna lirih, menyadarkannya dari lamunan.


"Ya?"


"Aku mau minta maaf dulu sering nyakitin kamu."


"Kamu ngomong apa, sih?" Kiano tiba tiba kesal, Aruna seperti akan mengucapkan selamat tinggal.


"Kejadian tadi membuat aku sadar, nyawa manusia bisa kapan saja pergi."


"Aruna! Aku ngga suka kanu ngomong gitu," sentak Kiano sambil meraih pipi Aruna agar menghadapnya.


Kiano malah terhenyak, karena sepasang mata itu sudah penuh dengan air mata.


"Aku janji, hal itu nggak akan terjadi lagi," kata Kiano geram dengan hati ngga tenang. Dia kalut dan gelisah.


Kemudian dia pun mengecup bibir Aruna, menghisapnya kuat dan tangannya pun bergerilya di seluruh tubuh Aruna.


Aruna, jangan ngomong gitu lagi. Aku ngga akan pernah siap kehilangan kamu.

__ADS_1


__ADS_2