
"Bayangin Regan, sebagian besar meeting gue yang handle," sungut Glen mengadu pada Regan. Dia khusus datang ke perusahaan Regan setelah meeting tadi.
Kalimatnya bukan bernada sombong seperti biasa, tapi lebih ke arah rasa frustasi yang besar.
"Bukannya ada Arga?" tanya Regan heran dengan mata terus menatap kertas kertas segunung yang harus dia pahami dan tanda tangani.
"Arga ngga bisa dihandalkan sama sekali. Bengong aja seperti sapi yang mau disembelih pas hari raya kurban," cela Glen berapi api sambil bangkit duduk dari posisinya yang sejak tadi tiduran di sofa panjang.
Tangannya menggusar rambutnya sambil menghembuskan nafas panjang panjang, seakan bisa membuang rasa jengkel yang sedari tadi memenuhi rongga dadanya.
Alis Regan berkerut. Sangat aneh mendengar keluhan yang tiada henti dari Glen tentang Arga. Glen bukan sekedar mengeluh, tapi juga sangat marah pada sahabatnya.
Biasanya kalo Kiano dan dirinya meninggalkan meeting sangat penting, mereka ngga pernah khawatir akan hasil akhirnya. Karena Arga pasti bisa menhandle dengan maksimal dan sangat baik.
Bukan Regan mengecilkan arti keberadaan Glen, Reno, bahkan Alva. Hanya saja ketiganya biasanya sangat santai dan hanya bersikap sebagai asisten Arga, dirinya maupun Kiano.
Walau sesekali ide ide mereka cukup menarik. Tapi tetap saja di perusahaan itu yang berperan penting adalah mereka bertiga, dirinya, Kiano dan Arga.
__ADS_1
Tapi memdengar Arga yang bisa bersikap sedemikian berdasarkan laporan Glen, benar benar sangat aneh dan ajaib.
"Reno tapi bantuin kamu, kan?" ucap Regan kembali fokus dengan kertas kertas di depannya.
Paling engga masih ada Reno, batin Regan sedikit lega.
Glen mendengus kesal mengingat kekhilafan Reno yang cukup memalukan.
Reno bertingkah aneh juga? batin Regan sambil mengalihkan tatapannya ke Glen.
"Dia seperti butuh kaca mata minus. Salah terus baca file," sembur Glen jengkel, kemudian membaringkan lagi tubuhnya ke sofa sambil meletakkan sebelah tangannya ke atas keningnya. Matanya pun terpejam.
Mengapa mereka separah itu? Ada apa sebenarnya? batinnya penuh tanya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya.
Kalo Arga, mungkin Regan cukup mengerti, dia terbeban dengan perjodohannya. Tapi Reno?
Sejak kapan dia punya masalah?
__ADS_1
Reno terlalu santai menyikapi hidupnya. Ngga ada beban apa pun dipundaknya. Bagi orang tua dan kakak kakaknya, dia mau bekerja di perusahaan tanpa dipaksa sudah merupakan nilai plus. Apalagi mereka punya perusahaan bersama. Orang tua Reno dan kakak kakaknya terlalu memanjakannya. Dia bebas berbuat semaunya.
Selama ini ngga pernah ada masalah yang menimpa Reno, bsik yang kecil bahkan masalah besar. Tapi sampai membuatnya ngga konsen begini hari ini, merupakan satu tanda tanya besar.
Regan mulai menganalisis sikap aneh kedua sahabatnya.
"Ternyata lo kalo serius, hebat juga, ya, Glen," tawa Regan akhirnya.
Dia tulus memuji Glen yang bisa mengambil alih peran kedua sahanatnya. Regan tertawa karena bisa membayangkan betapa gedeknya hati Glen saat itu.
Ngga bisa dibayangkan semumet apa kepala Glen mendapati kedua sahabatnya ngga bisa dihandalkan.
"Lo, kan, tau, gue paling malas berpikir keras. Sekarang aja rasanya kepala gua masih sakit sama mau pecah," gerutu Glen semakin kesal karena tawa Regan semakin keras.
"Regan, sekretaris lo bisa mijetin kepala gue, ngga?" pintanya setelah Regan mulai fokus lagi dengan kerjaannya. Tangannua sibuk menekan nekan keningnya.
"Ngga bisa," tolak Regan datar membuat Glen langsung manyun.
__ADS_1
"Lo mau buat skanda di perusahaan gue?" sambung Regan lagi.
Glen hanya mendengus. Hanya di perusahaannya saja sekretaris kakak dan dady nya yang bisa nyambi pijat.