
"Hai, sayang," sapa Kiano saat membuka pintu ruangan Aruna dan melihat istrinya sudah menunggunya.
Aruna pun bangkit dan menyongsong Kiano yang mendekatinya.
Kiano memeluk lembut Aruna yang sudah melepas jas dokternya.
"Gimana hari ini? Ada pasien yang menggoda kamu?"
Aruna tertawa mendengarnya.
Lama lama dia suka juga dengan keposesifan Kiano
"Ada?" tanya Kiano sambil menaikkan satu alis matanya.
"Ngga ada. Ih, gitu terus tanyanya," tawa Aruna lagi.
Kiano tersenyum kemudian membelai perut istrinya.
"Anak papi udah makan, belum?"
"Udah, dong," sahut Aruna masih dengan tawanya.
"Syukurlah. Kamu kelihatan senang sekali hari ini," tanya Kiano heran. Tangannya masih merangkul Aruna.
"Pasien yang kamu tolomg dulu, sudah mulai membaik."
"Syukurlah."
Dalam hati Kiano merasa kasihan. Dari papinya Kiano tau nama pasien itu Pak Ruslan, beliau tertipu rekan bisnisnya sampai milyaran.
Papinya pun mungkin nanti akan menjenguknya. Karena sekarang masih berada di luar negeri. Kafe tempat putri Pak Ruslan bekerja adalah milik sahabat Papi Kiano.
"Kamu mau kita menjenguknya sebelum pulang?" tanya Kiano sambil mengurai pelukannya.
"Iya."
"Oke."
Kiano menggandeng tangan Aruna dan mereka berjalan menuju tempat rawat inap Papa Rain.
Mama Rain menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.
"Pa, ini dokter Aruna dan suaminya," ucap mama Rain mengenalkan Kiano dan Aruna pada suaminya.
Suaminya menatap kedua pasangan ini dengan perasaan penuh terima kasih.Setelah sadar dari operasinya, Mama Rain menceritakan siapa yang sudah menolong mereka.
Hanya saja mereka ngga tau siapa sebenarnya Kiano. Aruna dan Kiano sengaja merahasiakannya.
__ADS_1
"Te te ri ma ka sih," ucap Paj Ruslan-papa Rain terbata bata. Matanya lamgsung berkaca kaca.
Aruna dan Kiano hanya mengangguk.
"Bagaimana keadaan bapak?" tanya Kiano sopan.
"Sudah lebih baik, nak," jawab istrinya.
"Rain mana bu?" tanya Aruna heran karena ngga melihat keberadaan Rain.
"Beli bubur ayam di kantin. Tapi tumben agak lama," kata mamanya sambil melihat jamnya.
"Mungkin kantin rumah sakit lagi ramai," lanjutnya lagi membuang perasaan khawatir yang muncul tiba tiba.
Aruna dan Kiano hanya saling pandang.
Ngga lama kemudian muncul seorang perawat yang membawa bubur ayam dari Rain.
"Rain pergi dengan temannya, bu. Katanya ada tugas kuliah," ucap perawat itu sebelum pergi.
"Ooh."
"Ya sudah bu. Kita pulang dulu," pamit Aruna agar suami istri tersebut ngga merasa sungkan.
"Oh iya, nak dokter. Terimakasih sudah mau menengok," balas mama Rain lembut.
"Mobil Reno, kok, ngga ada, ya?" Kiano menatap parkiran sebelah mobilnya yang sudah kosong.
"Sudah pulang mungkin," gumamnya lagi.
"Kamu ke sini sama Reno?"
"Iya, katanya mau menggoda perawat yang muda muda," tawa Kiano sangat lepas.
Dasar tipe tipe buaya, umpat Aruna dalam hati.
"Iya mungkin udah dapat, langsung pulang," tebak Aruna.
"Mungkin. Gercep juga tu anak," tawa Kiano lagi.
"Jangan jangan kamu juga gitu ya?" kesal Aruna yang melihat Kiano sangat senang dengan watak sahabatnya.
Tawa Kiano langsung berhenti.
"Enggaklah. Kamu suka nuduh sembarangan," bantah Kiano sambil mencubit gemas pipi Aruna. Istrinya pun memamerkan wajah kesal.
"Ya, kalian, kan, sahabatan," sahut Aruna asal sambil masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan Kiano.
__ADS_1
"Beda sayang," rayu Kiano sambil menutup pintu mobil istrinya dan setengah berlari memutari bagian depan mobilnya.
"Junior ku hanya mau di kamu, sayang," bisik Kiano setelah duduk di belakang stir.
Wajah Aruna langsung memerah.
Kalo ngomong dipikir dulu, kek, omel Aruna dalam hati.
Kiano malah tertawa melihat Aruna yang terlihat malu dan salah tingkah.
*
*
*
"Masuk," perintah Reno dan dengan kasar mendorong Rain ke dalam kamar.
Rain tergugu dan menatap Reno sangat takut. Jantungnya semakin keras berdebar.
Dengan tenang Reno menutup pintu dan mendekati Rain yang berjalan mumdur hingga jatuh terduduk di tempat tidur.
Reno pun mengendorkan dasinya dan menatap Rain tajam seakan ingin melahapnya sampai habis.
"Berapa tarifmu?"
Rain reflek menggelengkan kepalanya.
"BERAPA!" bentak Reno menggelegar.
Rain masih menggeleng dan air matanya makin deras mengalir. Nyalinya benar benar ciut.
Reno yang sudah panas sejak awal langsung menindih tubuh Rain yang kini meronta ronta hendak melepaskan diri.
"Ampun, kak. Ampun," tangis Rain sambil mengelakkan wajahny dari ciuman panas Reno.
"Siapa yang sudah membayar duluan, hah!" bentak Reno sambil menjauhkan wajahnya dari Rain. Wajah gadis itu sudah basah oleh air matanya.
"Ngga ada, kak," kata Rain jujur, berharap dengan ini dia bisa lepas dari Reno.
"Bagus kalo gitu. Aku akan membayarmu sesuai kesepakatan kita."
"Tidak!. Jangan, kak!"
Dan ruangan itu dipenuhi jerit tangis Rain. Sementara Reno terus melakukannya tanpa perasaan. Kasar dan sangat menyakitkan.
Tidak cukup hanya sekali, bahkan Rain sudah pingsan pun, Reno masih menikmati gadis itu berkali kali.
__ADS_1
Rasa sakit hati, marah, merasa dipermainkan, ditumpahkan Reno sampai dia kehilangan rasa kasiannya pada gadis ini yang sudah ngga sadarkan diri akibat perbuatannya.