
"Apa? Gagal?" seru Claudia marah setelah mendapat telpon dari para pengawalnya.
Padahal dia sedang menunggu kabar Kiano menjadi duda atau paling engga perempuan sombong itu koma di rumah sakit tempatnya bekerja
"Pergilah yang jauh. Untuk sementara kalian harus sembunyi,"ucapnya setelah menghela nafas gusar.
Claudia tau, kegagalan para pengawalnya adalah rambu bahaya buatnya. Apa lagi para pengawalnya sudah melakukan tindakan yang frontal.
"Baik nona. Maafkan kami," ucap pengawalnya setelah menutup telponnya.
Huuufff, Claudia menghembuskan nafas kasar.
Padahal dia sudah sengaja datang ke ruangan Kiano dan mengadakan meeting mendadak demi melancarkan kerjaan para pengawalnya. Tapi tetap saja gagal.
Rekaman yang diterimanya dari pengawalnya membuat Aruna mengerti, ternyata perempuan sombong itu punya banyak malaikat yang bersedia menyelamatkannya.
Menyebalkan, serunya dalam hati.
"Kenapa? Gagal?" tanya dadynya yang melihatnya uring uringan di halaman belakang. Sengaja menghampiri.
"Begitulah, Dad," jawab Claudia ngga bersemangat.
Herman Permana tertawa kecil.
"Padahal aku pikir taktik ku sudah sempurna," kata Claudia sambil memberikan rekaman video pada dadynya.
Dadynya menonton dengan serius. Keningnya berkerut.
"Gadis ini istimewa. Banyak orang yang mau berkorban untuknya," puji Herman Permana manggut manggut.
"Makanya sangat menyebalkan, dady," keluh Claudia kesal.
"Coba lagi. Masa gitu aja nyerah," kata Herman Permana santai.
"Tapi ngga bisa dalam waktu cepat, dad. Polisi sedang menyelidikinya," kesal Claudia.
"Iya, memang. Kamu break dulu, ya," ujar dadynya sangat santai.
"Iya, dad," kata Claudia terpaksa menurut.
Aku harus bersabar, batin Claudia kesal
*
*
*
Januar membawa Suster Uci yang berada dalam gendongannya masuk ke ruangan para perawat laki laki beristirahat. Dia pun mendudukkan Suster Uci yang sudah mulai berhenti menangis di ranjangnya.
__ADS_1
Di belakamg Januar, suster Ria, suster Eliana segera duduk di samping suster Uci.
"Kamu hebat, Uci. Kamu ngga apa apa, kan," ucap suster Ria sambil memeluknya. Begitu juga dengan suster Eliana. Mereka ngga menyangka sang suster yang centik rela berjibaku demi menyelamatkan dokter Aruna.
Keduanya pun menghapus air mata mereka yang sejak tadi ikut mengalir.
"Kami mengkhawatirkanmu," sambung suster Eliana dengan nada cemas. Dia pun masih shock mengingat kejadian tadi. Bisa bisanya ambulance yang mereka tunggu malah masuk ke basemen dan hanpir mencelakakan dokter dan asistennya.
"Tangan dan tubuhmu masih gemetaran. Sebentar aku ambilkan minum," kata suster Ria sambil melepaskan pelukannya.
"Ini," kata Januar sambil menyodorkan teh hangat yang rupanya sudah di bawa koki rumah sakit. Lengkap dengan nasi dan sop daging yang masih panas.
"Terimakasih," ucapnya sambil menerimanya dan membantu suster Uci minum untuk menghilamgkan kegugupannya.
"Sudah," tolak suster Uci setelah meminum sedikit. Tapi rasa tubuhnya mulai membaik.
"Januar, kalo kamu ngga dorong brankar, ngga tau gimana nasib suster Uci dan dokter Aruna," kata perawat Yanto sambil menghembuskan nafas berkali kali. Mereka yang ada di sini termasuk saksi yang melihat secara langsung kejadian yang sangat menakutkan itu.
Sebagai laki laki pun Yanto masih shock. Tapi dia salut dengan ketenangan Januar dalam situasi mencekam tadi
Suster Uci terkejut dan menatap Januar.
"Terimakasih," ucapnya dengan dada menghangat. Ternyata benar dugaannya, laki laki pujaan hatinya yang sudah menyelamatkannya. Rasanya bahagia sekali.
"Sama sama. Tapi tadi itu bahaya," kata Januar dengan nada sedikit ditekan.
Suster Uci ngga menjawab. Tubuhnya reflek bergerak mendorong dokter Aruna yang berdiri terpaku seolah sengaja menunggu diterjang mobil ambulance ngamuk. Tadi sungguh mencekam. Tubuhnya masih gemetar sampai sekarang. Hampir saja dia dan dokter Aruna tiada.
Sustet Uci menggeleng. Rasanya dia hanya pingin tidur. Kalo bisa dengan Januar di sampingnya. Seperti tadi, saat dipeluk dan digendong laki laki middle quality nya, suster Uci merasa nyaman dan ketakutannya berkurang.
Tapi dia takut mau meminta lagi pada Januar, terbayang wajah galak bidan Rumi yang sedang Januar dekati.
Huuff, tanpa sadar suster Uci menghela nafas panjang.
"Apa Januar aja yang nyuapin," goda suster Ria disambut senyum lebar suster Eliana. Yanto pun terkekeh.
Wajah suster Uci langsung merona menahan malu.
"Sini, biar aku aja yang nyuapin," kata Januar sambil mengambil alih piring yang sudah berisi nasi dam sop.
Dengan sangat rela suster Ria menyerahkannya pada Januar disambut deheman menggoda dari yang lainnya.
"Cepat sembuh ya, dek," ledek Yanto mengundang tawa mereka, tambah membuat suster Uci semakin malu malu.
"Ngga usah peduliin mereka. Ayo, makan dulu," kata Januar sambil menyodorkan sendok berisi nasi, wortel dan daging di depan wajah suster Uci yang langsung menerimanya.
Kembali ruangan itu dipenuhi tawa ceria setelah awalnya berisi ketegangan dan kecemasan. Suasana santai ini membuat syaraf syaraf suster Uci yang menegang jadi kendor.
Suster Uci menerima terus suapan dari Januar. Kapan lagi pikirnya dapat perhatian dari Januar. Dan hatinya pun mengembang bahagia. Bodoh amat dengan bidan Rumi. Yang penting saat ini Januar memperhatikannya.
__ADS_1
Masih terasa hangatnya dada Januar saat memeluk dan menggendongnya. Ingin rasanya saat ini ngga akan pernah berakhir, harap suster Uci dalam hati
Teman temannya masih tertawa melihat tingkah manja suster Uci. Tapi mereka bersyukur, raut pucatnya sudah mulai menghilang. Januar adalah obat mujarabnya suster Uci.
"Rame banget," sapa dokter Zaldi yang baru masuk ke ruangan Januar.
"Nih, sudah bisa diperiksa, dokter," kata suster Ria menyahuti.
"Oke," balasnya sambil tersenyum pada asisten dokter Aruna.
"Uci, kamu hebat. Ngga sangka saya kamu gadis pemberani," sambung dokter Zaldi memuji.
Dokter Zaldi pun merasa shock melihat kejadian tadi secara langsung. Apalagi tadi mereka berlari lari mengejar ambulance yang masuk ke dalam basemen sampai mereka ngos ngosan.
"Kejadian tadi sangat cepat," timpal Yanto yang diangguki temam temannya.
"Siapa yang nyangka mereka membajak ambulance," tambah Suster Eliana.
"Betul," timbrung suster Ria.
"Eh, udah abis makanannya. Lo lapar," kekeh Suster Ria membuatnya malu.
"Ngga apalah, bang Januar, kan, jadi senang makanannya diabisin," kata Suster Eliana ikut meledek.
Kembali gelak tawa terdengar ceria.
Januar ngga peduli, dia menyodorkan teh hangat kepada suster Uci yang langsung diterima dengan penuh suka cita.
"Kelihatannya udah sehat. Ngga perlu lah saya periksa," canda dokter Zaldy membuat ruangan itu kembali bergetar dengan suara tawa.
"Gembira sekali di sini," sapa dokter Burhan membuat mereka menghentikan tawa dan memgangguk hormat pada sesepuh runah sakit yang memesuki ruangģ
"Suster Uci, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya dokter Burhan.
"Sudah mendingan, dokter," balas suater Uci sopan.
"Kamu boleh libur selama dua hari."
Mata Suster Uci membesar.
Beneran, dokter?
Hatinya ngga percaya. Tapi selama di rumah dia ngga bisa melihat Januar. Tanpa sadar suster Uci menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" heran dokter Burhan.
"Sa saya cuma masih shock aja, pak dokter. Besok pasti sudah sembuh,." ucapnya pelan.
"Baiklah, kalo sudah merasa baikan, boleh masuk kerja," kata Om Burhan lembut, seperti kepada anaknya sendiri.
__ADS_1
Suster Uci tersenyum senang, apalagi merasa tangan Januar mengusap kepalanya.
EHEM. EHEM....