
"Kalian akan tinggal di runah atau di apartemen Kiano? Atau kalo kamu mau beli apartenen baru, biar kakek belikan," tanya Kakek Suryo setelah sekian lamanya mereka tertawa meledek Kiano dan Aruna.
"Kami belum membahasnya, kek," kata Kiano jujur. Menikah saja terburu buru, pake insiden kecelakaannya pula. Dia hanya terima beres saat jadi suami Aruna.
"Wuiiiih, gimana kalo apartemen baru aja. Aku setuju kek," sahut Lilo antusias.
Saat ini hanya Lilo yang bertahan di rumah kakeknya. Keluarga yang lain memilih menginap di hotel dan ada juga yang sudah pulang, kembali ke kesibukan masing masing.
"Nenek juga setuju. Apartemen baru, suasana baru," sambung nenek.
"Kamu mau?" tanya Kiano sambil menatap Aruna.
"Proyek kamu sudah selesai?" Aruna balik bertanya.
"Belum. Malah ada tambahan lagi," jelas Kiano ngga enak.
"Ya udah, aku ngga jadi pindah. Tetap stay di sana," kata Aruna mengerti.
"Nggak," tegas Kiano sambil menggelengkan kepalanya. Dia ngga akan memberikan si Farel kesempatan untuk mendekati Arunanya.
"Kenapa?" tanya Aruna heran.
"Kamu lupa ada si Farel?" desis Kiano kesal
"Dia juga mau nikah," jelas Aruna mulai kesal dengan kecemburuan Kiano.
"Cemburu dia, Runa," seru Lilo yang dilanjutkan tawa lagi. Tanpa mereka sadari, perdebatan mereka tadi terdengar sangat jelas.
"Ngapain kamu cemburu, Kiano. Aruna sudah jadi istri kamu, kan," seloroh papi Kiano membuat keadaan tambah geger dengan gelak tawa.
"Kakek belikan apartemen yang dekat dengan rumah sakit Aruna aja. Aruna setuju?" timbrung kakek.
"Ngga usah kek. Biar tinggal di hotel resort aja,. Sebelumnya Kiano minta maaf ya pa, ma, belum bisa bawa Aruna bukan madu," kata Kiano menyesal. Dia telanjur menandatangai banyak perjanjian kerja sama untuk pembangunan resortnya sebelum terikat dengan Aruna.
"Tidak apa. Bukannya kalian juga tinggal di resort. Kalian bisa bulan madu terus," kata papa Aruna bercanda.
"Papa," ambeg Aruna membuat papanya tergelak.
Putri manjanya kini sudah menjadi menikah, batinnya haru.
"Kapan kalian kembali ke kota X?" tanya papi Arjuna ikit menimbrung.
"Kalo Kiano besok ada meeting penting, pi," kata Kiano kembali merasa ngga enak.
Meeting besok ngga bisa ditinggalkannya atau didelegasikan ke sahabat sahabatnya.
"Maaf ya, Kiano. Terpaksa ganggu acara ehem ehem kalian," seru Glen kembali dibarengi gelak tawa.
"Nyari berlian Runa," tambah Alva dengan gelaknya.
__ADS_1
"Sekalian ngawal Kiano, Runa..Di hotel banyak yang suka goda goda Kiano," tabnah Reno mengompori membuat Kiano meliriknya kesal. Tapi para sahabatnya sama.sekali ngga peduli. Mereka tetap dengan kurang ajarnya terus tergelak gelak. Begitu juga para sepuh. Mereka terlihat bahagia melihat pasangan baru yang selalu salah tingkah.
Aruna memejamkan mata.
Apa dia sanggup berada di lingkungan Kiano.
Tamara pun menatap kesal pada sahabat sahabat Kiano.
Semoga kamu bisa bertahan, Runa, harap Tamara dalam.hati. Dia akan selalu mendo'akan agar Aruna memiliki hati yang kuat menghadapi keusilan tingkat dewa dari sahabat sahabat Kiano.
"Kapan kalian akan ke resort?" tanya mami Aruna sambil menatap Aruna yang terus menunduk dengan penuh senyum. Beliau sama sekali ngga nyangka kalo gadis seperti Arunalah pilihan hati putranya. Padahal banyak sekali model model dan artis yang mendekat, tapi jodoh Kiano malahan seorang dokter.
Tapi Mami Kiano akui kecantikan yang dimiliki Aruna memang spesial membuat putranya kesengsem. Tambah ngga disangka, mereka teman satu SMA. Mungkin mereka pernah punya cerita yang ngga beliau ketahui.
*
*
*
"Aku bentar lagi pulang, Runa," kata Tamara ketika mereka duduk berdua di halaman samping.
Aruna menyanderkan kepalanya di bahu sahabatnya.
"Sering sering tengokin aku ya."
Tamara tertawa lepas mendengarnya.
Dia menyiksaku, batin Aruna kesal. Sekarang aja dia bisa menghindar dengan alasan mau bersama Tamara sebelum sahabatnya pulang. Kiano sangat mengerikan buatnya.
Betapa.kagetnya Aruna saat bercermin di kamar mandi melihat kulit putih mulusnya dihiasi banyak bercak bercak kebiruan nyaris ungu. Dan terasa cukup perih saat mandi. Aruna harus bisa mencari cari alasan agar terbebas dari angkara Kiano kalo dia ngga mau berubah jadi dokter purple..
"Kamu diapain sama Kiano, sampai sering bengong," tawa Tamara meledek.
"Hemm...." Aruna mendengus pelan.
"Apa.... em.... sakit?" tanya Tamara sedikit malu.
"Banget," jawab Aruna jujur.
Tamara terdiam mendengar jawaban Aruna. Dia sedikit bingung. Karena rasa penasaran yang membukit, Tamara sudah googling tentang olah raga malam pertama. Rata rata mengatakan sangat nikmat dan menyenangkan. Anjaaayyy.
Tamara jadi malu sendiri.
Ngga mungkin kan Aruna bohong, batin Tamara sangsi.
"Apa... kamu ngga merasa enak walau sedikit?" tanya Tamara berbisik. Walau malu tapi rasa ingin taunya sangat besar.
Aruna bingung, haruskah dia mengaku dengan jujur?
__ADS_1
"Memang nanti akhirnya enak, Tamara. Tapi prosesnya itu sangat menyakitkan "
Semoga kamu ngerti, Tamara, batin Aruna sangat berharap.
Tamara tertegun sesaat, kemudian tersenyum.
"Aku ngerti," katanya lega.
Aruna balas tersenyum.
"Tapi kamu jangan melakukannya selain dengan suamimu," nasihat Aruna yang dibalas anggukan oleh Tamara.
Lagian mana sempat, batin Tamara menyela.
Selain masih ikut turnamen, Tamara juga sibuk jadi pelatih dan kerja di kantor dinas. Malam setelah pulang kerja selalu dihabiskannya dengan tidur.
"Kamu jaga diri baik baik ya Runa," pesan Tamara.
"Ya."
"Pacar pacar Kiano banyak loh. Kamu udah siap?"
"Malas aku mikir yang itu," sangkal Aruna. Padahal di dalam hatinya tetap aja terselip rasa ngga percaya akan kesetiaan Kiano.
Tapi dia bisa apa sekarang, Kiano sudah jadi suaminya. Aruna ngga mau menjadi cepat tua dan dipenuhi keriput karena memikirkan Kiano bersama perempuan lain setiap detik.
"Tapi Kiano cemburu bànget dengan dokter Farel, yah," cibir Tamara.
'Iya. Sampai pusing aku ngejelasin ke dia. Padahal cara gaul dia lebih parah," omel Aruna panjang lebar.
"Betul," sinis Tamara.
"Aku masih ngga percaya sampai sekarang, kamu sudah jadi istrinyá," sambung Tamara jujur.
"Apa kamu secinta itu sama Kiano?" lanjut Tamara jadi kepo.
Aruna bingung mau menjawabnya. Sejujurnya dia pun bingung dengan perasaannya. Tapi selama ini ngga ada yang mendekatinya seserius Kiano. Sedangkan dokter Farel hanya selalu menggodanya, gimana dia bisa anggap dokter itu serius.
Aruna membetulkan posisi duduknya.
"Aku juga ngga tau. Aku ngerasa seperti sudah dihanyutkan dan bermuara di Kiano."
Tamara manggut manggut. Dia juga tau selama ini Aruna terlalu serius sekolah, kuliah dan bekerja sebagai dokter.
"Kanu sendiri sudah punya pacar?" Aruna balik bertanya.
Tamara tersenyum lebar.
"Malas aku pacaran. Kata mama sama papa mau cariin aku jodoh. Ya udah, aku nurut aja," ucapnya santai membuat Aruna ikut melebarkan senyumnya.
__ADS_1
Hidup memang lebih enak dibuat simpel, ngapain diribet ribetin, batin Aruna setuju.