Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Masalah Regan


__ADS_3

Regan yang baru pulang dari kantor polisi kaget saat berada di teras rumah karena mendengar suara pertengkaran mama dan papanya.


Papa pulang? batinnya kemudian mrlangkahkan kaki memasuki runahnya dan melihat kedua orang tuanya saling berkacak pinggang demgan raut wajah saling membenci.


"Ada apa, ma?" tanya Regan sambil menghampiri mamanya dan memeluknya, berusaha meredakan kemarahannya.


"Syukurlah kamu pulang. Papa mau bicara," ucap Papanya mengalihkan tatapannya pada putra pertamanya. Kemarahannya sedikt menyurut.


"Ada apa pa? Lebih baik kita duduk dulu," kata Regan sambil membimbing mamanya duduk di sofa.


Nafas mamanya yang tadinya tersengal sengal kini sudah mulai teratur.


"Mulai besok, kamu ngantor di perusahaan papa," kata papanya tanpa basa basi. Dia pun duduk sambil melonggarkan dasinya.


"Bukannya ada Riko," ucap Regan menyindir.


Riko adalah saudara tirinya yang lebih muda tiga tahun darinya. Anak dari istri kedua papanya. Sedangkan dari istri ketiga papanya, ada seorang balita yang juga laki laki.


"Papa sudah laporkan dia ke polisi," tegas papanya membuat Regan melengak kaget.


"Memang dia salah apa?" tanya Regan sinis. Bukannya Riko yang selalu dibangga bangga kan karena selalu meraih juara umum saat di sekolah dan berhasil lulus kuliah dengan nilai prestisius saat kuliah di luar negeri.


"Dia korupsi," jelas papa singkat.


Terdengar tawa mengejek dari bibir mamanya. Tawa itu terdengar sangat puas akan nasib yang menimpa suaninya.


Papanya ngga menggubris. Dia menyorot Regan tajam.


"Gimana?"


Regan menarik nafas panjang..Setelah sekian lama ngga mempedulikan mereka, akhirnya papanya membutuhkannya juga.


"Sulit, pa, bagi waktunya," tolaknya ringan.


"Maksud kamu?"


"Papa tau sendiri, Regan yang ngurus perusahaan mama. Regan juga punya perusahaan dengan sahabat sahabat Regan. Itu aja sudah menyita waktu Regan," jelasnya lagi tentang penolakannya. Semua dikatakannya tanpa beban.

__ADS_1


Papanya menghembuskan nafas kasar.


"Papa minta maaf," katanya sedikit frustasi. Semua memamg salahnya yang sudah menelantarkan Regan dan adiknya serta lebih membangga banggakan anak dari istri keduanya.


"Baru nyadar sekarang? Lebih baik kamu pulang. Tempatnu ngga di sini," usir mama kasar sambil kedua tangannya terlipat di dadanya.


"Kesalahanku pada kalian memang sangat besar. Tapi salahmu yang minta cerai saat aku akan menikahi Wita. Kau tau dia kekasihku sejak lama," ungkit papa lagi dengan raut kesal.


Tetap tanpa merasa bersalah sudah menyakiti istri dan anak anaknya. Baginya wajar, karena istri keduanya adalah kekasihnya sebelqum mengenal mama Regan.


Mama Regan dan dirinya adalah korban perjodohan bisnis keluarga besar mereka.


Mantan istrinya hanya mendengus kesal mendengarnya.


"Setelah anak kesayanganmu melakukan kesalahan fatal, kamu baru mencari anakmu yang sudah kau buang?!" sarkas mama Regan ngga bisa lagi menahan marahnya.


"Aku ngga pernah membuang Regan. Kamu yang membuat dia menjauhiku," sentak papanya mulai kesal.


Sejak mengetahui pernukahan diam diam suaminya, mama Regan langaung meminta cerai. Regan dan Aira yang masih kecil dipaksa oleh jarangnya keberadaan papa mereka di rumah. Hingga saat masuk SD, keduanya baru mengerti kalo papa dan maamanya sudah berpisah. Dan papamya sudah memiliki istri baru dan anak juga.


Kalo Aira adiknya malah lebih jadi pendiam dan pemurung. Keduanya pun menghindari papanya jika beliau sesekali memgunjungi nereka di rumah bahkan di sekolah. Hati mereka telanjur sangat sakit.


Paling dalam sebulan, hanya dua kali papanya menjenguk mereka. Itu pun hanya sebentar. Ditambah dengan kelahiran Riko yang sepertinya sangat ditunggu tunggu papanya. Regan merasa ngga berarti, ngga diinginkan.


Ingin rasanya ikut marah seperti yang mamanya lakukan, tapi Regan waktu itu masih kecil. Ketakutannya menjadi anak durhaka membuatnya menahan kemarahannya pada papanya.


Regan memijat kepalanya. Mama dan papanya saling mengeraskan suara.


"Baiklah. Regan akan ke perusahaan papa besok," katanya mengalah agar keributan ini cepat berakhir.


"Regan!" bentak mamanya ngga terima, sedangkan papanya tersenyun puas.


"Oke, besok papa tunggu. Kamu CEO Paramadya Grup," ungkapnya sambil berdiri kenudian menghampiri Regan dan menepuk bahu putra yang pernah dia sia siakan.


Kemudian tanpa pamit pada mantan istrinya, dia pun melangkah pergi dengan punggung tegak.


Regan ngga menyahut. Bergetar pun engga hatinya. Paramadya grup sangat disegani karena sejajar dengan perusahaan papa Kiano, papa Reno dan papa Alva. Ketiga temannya itu memiliki kekayaan keluaga yang sangat luar biasa.

__ADS_1


Regan ngga meremehkan perusahaan keluarga mamanya. Bahkan dia, mama dan adiknya lebih dari tercukupi soal materi.


Dulu perusahaan papa dan mamanya seimbang. Tapi karena kepintaran papanya dalam bisnis, perusahaan keluarga papanya jauh lebih berkembamg.


Dulu saat dia lulus kuliah, papanya ngga menawarkan posisi apa pun di perusahaan keluarganya. Bahkan memilih Riko yang punya otak super karena berhasil sekolah dan kuliah dalam waktu singkat.


Walaupun jabatannya kini lebih tinggi dari yang pernah Riko dapatkan yang hanya sebagai direktur, Regan sama sekali ngga terkesan dengan kebaikan papanya yang memgangkatnya jadi CEO.


*


*


*


"Tumben lo minum?" tanya Arga heran. Dia menyusul Regan ke club setelah bertanya dimana dirinya berada.


"Ngga pa pa minum sesekali," jawabnya tenang. Dia pun baru menghabiskan sebotol alkohol dan belum merasa mabok.


Arga menghela nafas. Ngga biasanya Regan begini.


Pasti ada masalah, tebaknya dalam hati.


"Ada apa?" tanya Arga tanpa menyentuh botol botol yang sudah dipesan Regan..Sepertinya sahabatnya lebih memilih menginap di club.


"Papa menintaku menjadi CEO di perusahaannya."


Arga terdiam memdengarmya. Wajar saja Regan sampai minum, ternyata ada hubungannya dengan papanya


"Hebat lo langsung jadi CEO. Si Riko kemana?"


"Masuk penjara," jawab Regan kemudian meneguk abis minuman alkoholnya, bahkan langsung dari botolnya hingga habis.


Lagi lagi Arga terpaku mendengarnya.


"Lo bingung, kan? Apalagi gue! Lo jangan banyak tanya dulu, gue juga belum tau detilnya," pungkas Regan, membuag nafas kesal.


Tanpa kata, Arga pun mengambil sebotol minuman alkohol Regan dan juga langsung meneguk isinya sampai habis.

__ADS_1


__ADS_2