
"Kenapa?" tanya Arga ngga acuh sambil memotong steaknya. Dia tau dari tadi dosen di depannya terus menatapnya lekat. Tapi bukan tatapan kagum akan ketampanannya.
""Kenapa lo beda? Tadi malam sikap lo kaku," protes Qonita menyampaikan unek uneknya.
Arga ngga menjawab. Tapi dia malah menyodorkan potomgan steak nya ke mulut Qonita yang manyun.
"Ayo makan," kata Arga dengan wajah tersenyumnya.
"Nggak," tolak Qonita judes sambil menunduk, pura pura sibuk memotong steaknya sendiri.
Arga tersenyum miring kemudian mengalihkan potongan steak itu ke mulutnya sendiri.
Dengan kesal Qonita memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya.
Dia kembali memyebalkan, sungut Qonita kesal.
Malam itu juga begitu. Setelah mereka diperkenalkan oleh orang tua mereka, keduanya ditinggal berdua agar bisa lebih saling mengenal.
Yang membuat Qonita masih kesal sampai sekarang, laki laki itu tidak menganggap kehadirannya ada sama sekali di dekatnya. Malah dia terlalu sibuk dengan ponselnya. Sama seperti sekarang. Bedanya, sekarang laki laki datar itu kini menyibukkan diri dengan steaknya, bukan ponselnya lagi.
Uhuk uhuk
Qonita langsung tersedak.
"Makanya, makan dulu, nanti aja ngobrolnya," ucap Arga sambil memberikan minuman dingin milik Qonita dan kali ini dosen itu pun menerimanya dan langsung meneguknya.
Rasa pedas lada hitam cukup membakar kerongkongannnya. Matanya sampai berair karenanya.
Arga pun tersenyum miring menilihatnya.
__ADS_1
Qonita pura pura ngga mempedulikan wajah yang sedang mengetawakan tingkah konyolnya. Yang penting panas di kerongkongannya sudah hilang karena siraman air dingin. Dia meneruskan kembali memotong dan memasukkan steak steak itu ke dalam mulutnya.
Begitu makanan mereka berdua sudah ngga bersisa di piring, Arga mulai menatap Qonita serius.
"Kalo kuramg, tambah aja lagi," ucap Arga tenang.
Qonita tersadar kalo dia sudah menghabiskan sepiring steak yang porsinya sama dengan porsi Arga. Dalam marah. Dia melupakan keanggunannya. Harusnya dia menyisakannya sedikit. Qonita mengomel dalam hati, antara malu dan kesal.
"Enggak. Kamu pikir gue kuli," decihnya judes untuk menutupi perasaan salah tingkahnya.
Arga tersenyum tipis.
"Kita semuanya kuli. Karena kita mendapat gaji," sahutnya ringan.
Qonita ngga menanggapi.
Omongan macam apa itu. Kalo kuli yang di pasar. Yang angkut sayur, beras atau semen di toko bangunan, koreksi Qonita membatin.
"Mungkin ke depannya gue akan lebih sering menjemput lo makan siang," ucapnya tenang.
"Untuk apa?"
"Biar kita lebih dekat. Jadi ngga kaget kalo nanti kita menikah, karena sudah cukup mengenal watak masing masing."
Uhuk uhuk uhuk.
Lagi lagi Qonita terbatuk mendengarnya. Dia heran dengan kerongkongannya yang sering terasa gatal saat bersama Arga. Seakan ada biji kedondong kesangkut di sana.
Arga meuangkan minuman dingin ke dalam.gelas Qonita yang sudah kosong dan langsung memberikannya.
__ADS_1
"Minumlah. Kenapa kamu sensitif banget?" heran Arga.
Uhuk uhuk uhuk
Qonita segera meraihnya tanpa protes karena batuknya semakin menjadi. Gadis itu meminumnya dengan perlahan untuk menghilangkan perasaan sesak di dadanya.
"Kamu serius menerima perjodohan ini?" tanya Qonita setelah beberapa lamanya.
"Ya," tegas Arga.
Terpaksa, sangkalnya dalam hati.
Arga ngga sampai hati melihat maminya sampai memohon padanya.
"Qonita gadis yang baik. Dia dosen yang pintar. Mami ingin melihat anak bungsu mami memiliki kekasih dan nantinya akan menikah."
"Mami ngga paksa kamu melupakan Ayana. But life must go on. Ayana sudah lama tiada."
"Cobalah kamu mengenal Qonita lebih dulu. Mami jamin, kamu ngga akam menyesal."
Begirulah untaian untaian kata permintaan sang mami. Arga ngga bisa menolak permintaan wanita yang sudah susah payah melahirkannya ke dunia.
Qonita mencibir.
"Gue menolak. Gue ngga mau ntar menikah dengan suami yang masih mengingat mantannya," kata Qonita pedas.
Arga tersenyum miring.
"Lo harus tetap menerimanya. Apalagi umur lo sudah sangat matang," balas Arga tanpa.maksud menyindir dan ngga sakit hati atas kata kata pedas Qoniita.
__ADS_1
Tapi bagi Qonita, perkataan Arga sangatlah pedas dan melukai harga dirinya.