
"Ya, abi " sahut Regan membuat mereka menatap Regan dengan bibir tersenyum.
"Cie cie... abi," ledek Arga menyadarkan Regan.
"Eh, om maksudnya,' ralat Regan agak gelagapan. Saking senangnya lamarannya diterima, dia sampai lupa pamggilannya untuk abi Dinda.
Abi dan umi Dinda pun tertawa. Dinda juga ikut tersenyum melihat kegugupan Regan. Biasanya Regan selalu tenang dalam situasi apa pun.
"Ngga apa apa manggilnya abi," seloroh abi Dinda membuat Regan jadi salah tingkah.
"Abi," panggil seorang laki laki tampan dengan wajah teduh yang sudah mendekat.
"Eh, Fatih. Ayo ke sini, kenalan dengan pilihan adikmu ini," sahut abi Dinda sambil berdiri.
Regan pun ikut berdiri ketika abi Dinda menyebutkan namanya.
Fatih menatap bersahabat pada Regan.
Regan pun yang mengira Fatih adalah kakak laki laki Dinda tersenyum ramah.
"Ini laki laki yang mau abi jodohkan dengan Dinda. Tapi ditolak Dinda berkali kali," tawa abi Dinda, begitu juga Fatih.
Regan walau agak kaget, kini mulai memperhatikan laki laki itu dengan seksama. Laki laki yang hampir menjegal jodohnya
Memang dari segi penampilan terlihat sopan dan tenang. Juga menunjukkan tipe laki laki baik baik.
Memang Regan beruntung, penampilannya terlihat seperti laki laki yang baik baik jika dibandingkan dengan Reno, Alva dan Glen.
Menurut pengamatan Regan, Fatih ngga terlihat marah. Malah terlihat legowo dan senang.
Kenapa? batin Regan penuh tanda tanya.
"Fatih," katanya sambil mengulurkan tangannya.
"Regan."
Keduanya saling mengukir senyum. Tinggi keduanya pun sama.
Kemudian keduanya pun duduk kembali. Fatih mengambil tempat duduk di samping abi.
"Kapan nak Regan akan ke rumah dengan orang tua nak Regan?" tanya abi Dinda.
Regan agak bingung untuk menjawab. Mamanya pasti bisa kapan saja. Tapi papanya? Dis sudah lama ngga bertemu papanya.
"Secepatnya saya akan memberi kabar, om."
Arga paham apa yang dipikirkan Regan.
Tiba tiba ponsel Regan bergetar. Dia pun meraihnya dan membaca notifikasi pesan yang masuk.
Oh iya, meeting.
Hampir aja Regan melupakannya.
"Om, tante, Fatih, Dinda, kita mohon pamit dulu, ya. Maaf terkesan agak terburu buru. Saya lupa ada rapat yang harus saya hadiri," ucap Regan merasa ngga enak hati. Takut dikira sok sibuk.
__ADS_1
Abi dan umi Dinda tersenyum. Begitu juga Fatih. Sedangkan Dinda mencuri tatap pada wajah tampan Regan.
Rasanya hatinya dipenuhi kebahagiaan yang ngga dapat dia ucapkan.
Ngga disangka, kak Regan serius dengannya.
"Oh, ngga apa apa nak Regan. Abi baru mau mengajak nak Regan dan nak Arga mencicipi hidangan yang udah disiapkan di sana," kata abi Dinda sambil menunjuk ke meja di taman yang sedang di tata.
Regan tambah ngga enak hati.
"Om, saya benar benar minta maaf," tolaknya sangat sangat ngga enak hati. Dia merasa ngga sopan. Baru saja dapat anaknya, sudah berani menolak hidangan calon mertua.
"Ngga apa apa. Nak Regan pasti sibuk banget. Malah menyempatkan diri ke sini," balas umi Dinda ngga merasa tersinggung.
Beliau paham, apalagi mama Regan pernah bercerita tentang kesibukan Regan yang mengurus sendiri perusahaan papanya.
Regan menatap Arga bingung.
Arga juga sama.
"Lain kali aja ya nak Regan mencicipi masakan Dinda," kekeh abi Dinda.
Wadidaw.... Regan pun menatap Dimda dengan tatapan minta maaf.
"Ya udah, Dinda. Bekalkan daja kue kue buatan kamu," saran Fatih ringan.
"Oiya. Ayo, Dinda," ajak umi Dinda sambil menarik tangan putrinya agar mengikutinya.
"Abi, biarkan saya yang mengantar Regan dan temannya ke depan," kata Fatih menawarkan.
"Baiklah. Hati hati di jalan ya, nak Regan, nak Arga," sahut abi Regan mengerti.
Regan dan Arga kembali menyalim tangan abi Dinda sebelum berjalan keluar di iringi Fatih.
Begitu sampai di depan mobil Regan, Fatih melihat ke dalam, ke arah abi Dinda yang masih menatap mereka.
"Apa kamu laki laki dari Mesir yang akan dijodohkan dengan Dinda?" tanya Regan tanpa basa basi. Arga hanya diam mendengarkan di samping Regan.
Fatih tersenyum.
"Iya. Saya ucapkan terimakasih karena kamu akhirnya datang."
Regan menatapnya bingung.
"Maksudnya?"
"Kami sudah dekat sejak kecil. Tapi perasaan saya dan Dinda murni adik kakak," jelas Fatih membuat Regan mulai paham.
"Saya pun sebenarnya sudah punya perempuan yang saya sukai. Ternyata Dinda juga sama."
Regan diam saja menunggu kelanjutan omongan Fatih.
"Jika saja kamu ngga datang siang ini, malamnya kami akan tetap ditunangkan," sambungnya lagi. Ringan dan tenang.
"Karena itu kamu terlihat lega," senyum Regan.
__ADS_1
"Iya. Saya ngga bisa menolak keinginan orang tua, begitu juga Dinda. Syukurlah semuanya baik baik saja."
Ketiganya pun menatap ke arah langkah langkah yang mendekat. Dinda sendiri.
"Oke, saya titip Dinda. Perlakukan dia dengan baik," katanya sambil pergi dan melembaikan tangan. Senyum ramahnya terulas di wajah tampannya.
"Ya, saya janji," sahut Regan sambil balas melambaikan tangannya.
"Gue masuk mobil dulu, bro," kata Arga tau diri.
"Jangan lo apa apain dulu. Bokapnya lagi ngawasin tuh," kekeh Arga sambil berjalan ke mobilnya.
Regan balas tertawa.
Dinda kini sudah berada di depannya. Tangannya mengulurkan paper bag kecil.
"Terima kasih," ucap Regan saat menerina paper bag yang diulurkan Dinda. Bahkan tangannya meremas lembut tangan halus itu membuat mereka saling bertatapan. Wajah Dinda pun merona. Dia pun malu dan gugup secara bersamaan.
"Kamu semakin cantik," puji Regan jujur. Gadis itu mengenakan gamis terusan dan jilbab lebar. Baru kali ini Regan melihatnya, biasanya Dinda selalu tampil dengan hijab yang modis.
Tapi gadis itu tetap terlihat modis dan tambah semakin anggun mempesona saja.
Gilaa... dirinya juga sudah terjerat pesonanya sangat dalam, batin Regan berteriak.
"Mau ikut aku meeting?" tanya Regan tanpa.dipikir. Sayang aja rasanya melewatkan kesempatan berdua dengan Dinda.
Saat bersama Dinda. Regan sangat menahan keinginan besarnya untuk mendekap dan mencium gadis itu.
Padahal Regan bukan tipe nakal yang suka mencemari perempuan. Tapi terhadap Dinda, rasanya beda.
"Hemm?" kaget Dinda ngga percaya dengan ucapan Regan.
Regan tersenyum melihat mata indah yang kini mengerjap bingung.
Tangan Dinda masih berada dalan remasan Regan. Regan meremasnya sekali lagi sebelum melepaskannya.
Dia gila. Rasanya ingin cepat menikahi Dinda dan menunboxing dirinya.
"Aku akan secepatnya bawa mamaku menemui keluarga kamu," janji Regan kemudian membuka pintu mobilnya.
Dinda hanya mengangguk dengan degup jantung ngga menentu.
"Boleh cium kening atau bibir?" erang Regan frustasi.
Kenapa dia sangat berhasrat pada Dinda?
"Jangan," tolak.Dinda pelan tapi ngga menjauh.
Uuggh... Jika saja bukan di.rumah Dinda, pasti Regan sudah melakukannya.
"Aku pulang dulu," putusnya sebelum pertahanannya jebol.
Dinda hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat laki laki nakalnya itu masuk ke dalam mobil. Kemudian dua mobil itu melaju pelan meninggalkan rumahnya.
Dinda terus menatap dengan debaran jantung yang semakin keras memukul dadanya.
__ADS_1
Tanpa sadar dia menaruh tangannya yang tadi diremas Regan ke dadanya.