
"Dokter,!" seru suster Uci kegirangan melihat kedatangan Aruna yang sedang berjalan bersama suaminya. Bersama dengan Suster Ria dan Siuster Eliana merek berlari menyongsong Aruna.
"Oke, aku antar kamu sampai di sini aja ya, sayang," ucap Kiano yang merasa Aruna sudah aman ketika melihat ketiga suster di depannnya berlari lari kecil ke arah istrinya.
',Kamu juga hati hati ya, pulangnya," kata Aruna sambil meraih punggung tangan Kiano untuk diciumnya.
Kiano tersenyum lembut. Setelah meremas puncak rambut Aruna, dia pun berbalik pergi. Aruna terus menatapnya sampai menghilang di belokan lorong rumah sakit.
Aruna merasa dejavu. Pagi ini sama seperti pagi waktu mereka menyambut kehadirannya setelah menikah.
"Dokter, so sweat banget dengan suaminya," goda suster Ria iri campur pengen dengan wajah tersenyum.
Sayang aku belum punya kekasih.
"Jadi pengen punya suami seperti suami dokter," lanjut Suster Eliana kemudian terkikik penuh harap.
Tuhan, sisakan satu aja seperti itu untuk saya, batinnya khusuk berdo'a.
Keempatnya tertawa bersama.
Dalam hati Aruna pun bersyukur bisa memiliki Kiano yang sangat perhatian dengannya.
"Dokter sudah sehat?" tanya suster Uci setelah tawa mereka reda.
"Udah. Kamu sendiri?" tanya Aruna sangat senang melihat asistennya sudah kembali ceria lagi
"Saya baik baik saja, dokter," serunya riang.
Aruna tersenyum walau sedikit heran, reaksi asistennya agak berlebihan menurutnya
"Syukurlah. Tapi kamu terlihat bahagia sekali," pancing Aruna membuat ketiganya saling pandang dan tertawa bersama.
"Ada berita heboh, dokter," goda Suster Ria dalam kekehannya.
"Apa?" Walau sudah bisa menebak, tapi Aruna ingin mendengarnya langsung. Aruna ingat, betapa Januar sangat mengkhawatirkan asisten centilnya itu. Perawat laki laki idaman yang membuat suster Uci sempat murung
"Kayaknya bentar lagi ada yang nyusul dokter," seru suster Eliana heboh.
"Amin," respon Suster Uci tergelak. Hatinya sangat bahagia pagi ini. Dewa Cinta sudah menembakkan panah cupidnya pada Januar dengan telak di hati laki laki idamannya itu.
Tadi pagi Januar beneran menjemputnya. Memberikan helm pink milik adiknya. Bahkan membantu dia mengenakan helmnya. Juga mengkliknya seperti hatinya yang sudah dikunci agar ngga lepas dan berkeliaran lagi.
Januar sungguh romantis. Suster Uci dibuat seperti bulu angsa yang terbang ke sana ke mari dihembuskan angin cinta Januar. Bahkan saar suster Uci memeluk erat pinggang Januar, laki laki itu menggenggam tanganya dengan sebelah tangannya. Itu dilakukannya sepanjang perjalanan sampai mereka tiba di parkiran rumah sakit.
Hati suster Uci sudah melambung tinggi dibuatnya. Tadi kedua temannya yang melihatnya di parkiran bersama Januar langsung heboh dan mengucapkannya selamat berkali kali.
Tapi apa dia sudah pantas mendapatkan ucapan selamat, padahal Januar belum menembaknya dengan tiga kata sakti itu. I Love You, atau aku cinta kamu. Terserahlah Januar mau menggunakan yang mana. Yang penting intinya satu, Januar resmi jadi pacarnya. Entah kapan Januar akan melakukannya. Sekaramg ini, suster Uci menunggu dengan harap harap cemas.
"Amin," balas Aruna dan kedua teman perawatnya.
__ADS_1
"Kapan, dong, makan makannya?" todong suster Eliana dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Yeeeii....., nanti ya. Belum diresmikan," sahut suster Uci centil membuat kedua teman perawatnya mencubit gemas lengannya.
"Sudah ngga sabar," ledek suster Eliana menggoda suster Uci.
"Bilang Janu agar cepat diresmikan," tambah suster Ria.
"Iya iya. Tenang aja," sahut suster Uci sangat pe de membuat ketiganya pun tertawa
"Memang harus cepat, Uci. Jangan sampai kamu di php," seloroh suster Uci.
"Kok, php?" bantah Suster Uci ngga terima kalo Januarnya seperti itu.
"Dia, kan, juga lagi dekat dengan bidan Rumi. Lupa?" tambah suster Eliana mengingatkan suster Uci akan gosip Januar dan bidan Rumi yang sudah beredar.
DEG
Oh, iya, batin suster Uci mulai ragu. Tapi mengingat perhatian Januar bahkan sampai berani menolongnya, membuat kepercayaan dirinya bangkit lagi.
"Paling Januar dan bidan Rumi hanya gosip aja," kilahnya tenang.
"Iyaaa....., tapi gosip itu sempat bikin kamu drop juga, kan?" kekeh Suster Ria mengejek.
Iya, sih, batin Suster Uci. Tapi dia tetap yakin Januar memilihnya.
"Paling cuma gosip. Biasa kan, kalo gosp, makin digosok makin sip," kekeh suster Uci sangat pe de.
"Iya iya. Apa kata Uci aja," respon Suster Eliana menimpali kemudian terkekeh bersama suster Ria dan dokter Aruna.
Pagi ini tawa mereka membuat suasana mencekam kemarin menguap.
Dokter Burhan dan Doktef Fadli-papinya dokter Farel yang melihat dari kejauhan ikut tersenyum.
"Syukurlah Aruna sudah bisa menghilangkan traumanya," ucap dokter Burhan dengan perasaan lega.
"Iya. Syukurkah dia juga baik baik saja," sambung dokter Fadly juga dengan perasaan yang sana.
Calon mantunya yang ngga jadi.
Dokter Fadly dan istrinya sangat kaget mendengar apa yang menimpa dokter Aruna. Kedua orang tua dokter Farel sangat menyayangi Arjuna, dan berharap akan memilikinya sebagai menantu. Sayang dokter Farel merusak harapan itu dengan melakukan hal bodoh.
Putranya pun sudah menikah dengan gadia yang sudah dihamilinya. Mereka menetap di Singapura kini. Harapan keduanya semoga cucu mereka yang akan lahir nanti bisa menurunkan ego papanya dan berbalik mencintai istri dan anaknya.
*
*
*
__ADS_1
"Aruna, kamu bener ngga apa apa?" suara Almira terdengar sangat cemas.
Begitu dia mendudukkan dirinya di ruangannya, kakaknya menelponnya.
"Aku sudah ngga apa apa, kak. Tenang aja," kata Aruna lembut berusaha menenangkannya. Tadi malam pun mama dan papanya sudah menelpon dengan kekhawatiran yang sama dengan kakaknya.
"Syukurlah. Maaf, kakak baru sempat menelpon. Mama baru memberitaukan ke kakak pagi ini." kata Almura dengan nada menyesal.
"Iya, kak, ngga apa apa. Yang penting jaga ponakan aku ya," canda Aruna untuk mengalihkan rasa khawatir kakaknya.
"Tentu saja," kekeh kakaknya. Aruna pun ikut tertawa.
"Ada yang kamu curigai?" tanya Almira begitu tawanya reda.
Aruna terdiam. Ragu menyelimuti dirinya.
Haruskah dia katakan?
"Kakak tau, pasti ada yang kamu curigai," tebak Almira yakin. Dia sangat mengenal karakter adiknya.
"Emm....ngga nuduh, sih, kak. Cuma aku merasa aneh aja."
"Coba ceritakan."
Aruna pun menceritakan kedatangan klien Kiano yang sangat menyukai suaminya itu.
"Dia datang pagi, tapi sorenya kejadian buruk menimpa aku."
Almira terdiam. Nggak ada yang nggak mungkin.
"Memang mencurigakan.. Apalagi dia menyelidiki keluarga kita cukup detil," tukas Almira setelah terdiam.sejenak.
Wajar Aruna langsung curiga, dia pun juga memiliki kecurigaan yang sama. Bahkan tau tentang hubungannya dengan Athar.
"Itulah, Kak. Tapi aku belum punya bukti."
"Nanti kakak minta Kak Athar menyelidiki Claudia."
"Makasih, Kak."
"Kenapa.ngga minta bantuan sama Kiano?" ledek Almira menggoda.
"Susah kasih tau dia, Kak. Orangnya baperan," cela Aruna. Teringat lagi ucapan Kiano yang mengatainya cemburu membuat Aruna hilang mood untuk menceritakan lebih panjang lagi.
Almira malah terkekeh mendengarnya.
"Oke, sekarang kamu harus lebih hati hati, ya," ucap Almira serius.
"Iya, kak."
__ADS_1