Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Sulit Jujur


__ADS_3

Aruna memakan satenya dengan perlahan. Ada yang mau dia tanyakan, tapi hatinya masih ragu. Dia takut Kiano mentertawakannya karena mengira dirinya bersikap sangat posesif. Apalagi menyangkut rekan bisnisnya. Tapi dia ngga menyukai rekan bisnis Kiano yang bernama Claudia.


Kata kata Claudia di ruangannya seolah mengintimidasinya. Merendahkannya dan keluarganya. Seperti mengancam. Dan Aruna mengalami kejadian menegangkan di sore harinya.


Karena kejadian itu membuat pikiran alam bawah sadar Aruna seolah menuduh Claudia adalah dalangnya. Tapi Aruna bingung bagaiman cara mengatakannya pada Kiano. Karena secara ngga langsung, Aruna menuduh Claudia tanpa bukti yang kuat. Hanya berupa prasangkanya saja.


"Tunggulah aku di ruanganmu saja, ya, besok besok. Aku ngga ingin kejadian seperti tadi terjadi lagi," kata Kiano menyadarkannya dari keterdiamannya.


"Ya, terserah kamu aja."


Kiano tersenyum, kemudian menggigit lagi daging tusuk satenya.


Nggak lama kemudian ponselnya berbunyi.


Regan.


"Ada apa?" tanya Kiano langsung bangkit dari duduknya. Wajahnya berubah serius.


"Claudia dan timnya datang ke kantor kita. Dia ingin bertemu lo." Suara Regan terdengar kesal.


"Gue ngga bisa," tolak Kiano langsung.


"Anda dengar, kan, nona Claudia." Terdengar suara Regan seolah sedang berbicara dengan seseorang. Nadanya terdengar menahan kesal.


"Apa yang anda lakukan," seru suara Regan terdengar kaget.


"Pimjam sebentar ponselnya," seru suara seorang perempuan yang Kiano yakin suara Claudia. Sepertinya dia merebut paksa ponsel Regan.


Hatinya jadi kesal.


Apa apan dengam perempuan ini, batin Kiano marah merasa terganggu.


Aruna pun mendengar dengan jelas suara perempuan yang ngeselin itu. Dia hanya bisa mengomel dalam hatinya.


Agresif banget nenek sihir ini.


"Kiano, kita harus bicara. Penting," seru Claudia mencari perhatian.


Kiano ngga menggubris. Dia menekan tombol merah, tanda mengakhiri sambungan telpon.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Aruna yang merasa yakin mendengar suara Claudia berteriak tadi.


Kenapa perempuan itu caper sekali ke suaminya, sungutnya kesal dalam hati.


"Ada klien aneh," kata Kiano kembali duduk di kursinya dan dengan santai menikmati lagi satenya seolah ngga ada apa pun yang terjadi. Dia yakin Regan dan Glen pasti bisa menanganinya.


Aruna terdiam, tapi hatinya ngga tenang. Berkecamuk antara menceritakan tentang kekhawatirannya akan Claudia atau engga.


"Ngga usah dipikirkan. Ada Regan dan Glen yang akan menangani. Mereka sangat ahli soal perempuan," kata Kiano kemudian menghapus jejak saos kacang di ujung bibir Aruna dengan lembut.


Bukan itu, bantah Aruna dalam hati dengan dada berdesir hangat. Sentuhan Kiano sering membuatnya lupa akan apa yang ingin dia katakan.


"Kalo kamu ada urusan penting, aku ngga apa ditinggal sendirian," kata Aruna salah tingkah lagi, sangat berlawanan dengan isi hatinya. Hatinya ingin Kiano tetap tinggal bersamanya. Malah kalo bisa memutuskan hubungan dengan nenek sihir itu. Aruna merasa ngga nyaman dengan keberadaan Claudia.


"Kamu lebih penting," goda Kiano penuh arti.


BLUSH


Rona merah langsung mewarnai pipi putihnya. Membuat Kiano terkekeh senang.


"Di perusahaan kami, kedudukan Regan dan yang lain sama. Jadi aku ngga perlu nurut permintaan klien," jelas Kiano ringan beberapa saat kemudian.


Bahkan kalo kerjasama ini putus dan harus bayar pinalti, dia dan teman temannya ngga akan keberatan, tambahnya dalam hati.


"Itu yang membuat aku malas bekerja sama dengan klien perempuan. Aku hanya ngga enak dengan papanya yang mengenal papiku," jelas Kiano melanjutkan agar Aruna ngga salah paham. Sebisa mungkin membuang celah yang bisa membuat Arunanya marah dan mengacuhkannya.


Aruna kembali manggut manggut sambil menggigit daging satenya. Begitu juga Kiano. Dia kembali menikmati satenya.


"Nama kliennya Claudia?" Aruna memberanikan diri bertanya.


"Kok, kamu tau?" heran Kiano.


"Tadi aku mendengar Reno menyebutnya begitu," jawab Aruna asal sambil menunduk. Dia malu karena kini Kiano menatap dalam kedua matanya.


"Oh iya. Kenapa kamu tanya. Tumben. Jangan bilang kalo kamu cemburu?" seloroh Kiano tambah senang menggodanya.


BLUSH


Wajah Aruna lagi lagi memanas.

__ADS_1


"Enggaklah. Ngapain," kilahnya kesal. Ini yang membuat Aruna berat untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Kiano selalu seenaknya saja dengan kesimpulannya sendiri.


Kiano tersenyum semakin lebar melihat Aruna yang salah tingkah di depannya. Aruna yang sulit ditakar kadar emosinya kini mulai menampakkannya dengan cukup jelas.


Apalagi melihat warna pipi yang kemerahan itu. Siap untuk dia gigit.


"Kemarin.... di rumah sakit ada perempuan yang bernama Claudia menemuiku," kata Aruna susah payah. Dia setengah malu mengatakannya, apalagi tadi Kiano sudah menuduhnya cemburu.


Kiano menghentikan tangannya yang akan mengambil satu tusuk sate lagi di piringnya.


"Kemarin?"


"Iya."


"Apa dia Claudia yang sama?"


"Entahlah."


Kiano terdiam seolah berpikir. Sayangnya dia nggak menyimpan foto kliennya itu di ponselnya untuk ditunjukkan pada Aruna. Apakah mereka membicarakan Claudia yang sama atau bukan.


"Apa yang dia mau?" Kiano menatap lekat wajah Aruna yang baru saja menyesap minumannya. Terlihat seksi di mata Kiano. Dia ngga sabar untuk menghisap leher itu lagi sampai memerah untuk menandai kepemilikannya.


"Dia mengatakan kalo dia bekeja sama dengan kamu. Mungkin maksudnya agar aku ngga cemburu, 'kali ya, kalo melihat kamu bersamanya," kata Aruna berusaha menutupi isi hatinya dengan tersenyum. Padahal buakn itu yang ingin dia katakan. Kenapa sulit sekali untuk jujur dengan Kiano.


"Mungkin," sahut Kiano seakan ngga peduli. Dia meraih satenya lagi. Lagi pula saat ini topik apa pun ngga penting, apa lagi tentang perempuan selain istrinya.


Melihat reaksi malas malasan dari Kiano membuat Aruna jadi enggan melanjutkannya. Padahal Aruna ingin bilang agar Kiano hati hati dengan Claudia. Tapi Aruna takutnya nanti Kiano salah paham lagi padanya.


"Ayo, cepat dihabiskan, Aruna sayang. Aku udah ngga sabar ingin makan kamu," seloroh Kiano lagi. Dia gemas melihat isi piring Aruna yang masih ada beberapa lagi tusuk sate. Sedangkan piringnya seudah bersih.


Aruna menatapnya kesal. Mengapa Kiano yang dulu kalem berubah jadi sangat mesum.


"Buat ku saja, ya. Sayang kalo ngga dihabiskan, mubazir," kata Kiano sambil m re raih dua tusuk. sate dan menggigit dagingnya sekaligus.


Kiano sudah ngga sabar menghabiskan malam ini dengan des*ahan panjang mereka berdua. Kiano ingin mendengar lagi saat Arua memanggil manggil namanya dengan wajahnya yang sangat seksi. Memikirkan itu membuat tubuh bagian bawah Kiano menegang.


Aruna menatapnya kesal. Tinggal satu tusuk sate terakhir yang tertinggal. Dia pun meraihnya dan memmaknnya dengan pelan. Sekedar mengulur waktu.


"Cepatlah diabisin Aruna sayang," kata Kiano ngga sabar melihat betapa lambatnya Aruna mengunyah daging satenya.

__ADS_1


"Aku tusuk ni," ancam Aruna sambil menodongkan ujung tusuk sate yang masih menyisakan dagingnya ke arah leher Kiano saking kesalnya.


Kiano malah tergelak melihatnya. Dia suka melihat wajah marah tapi grogi Arunanya. Sangat sangat membuatnya gemas.


__ADS_2