Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Kembali Beraktivitas


__ADS_3

Kiano menatap Aruna kesal saat sudah mengantarkannya di parkiran rumah sakit lamanya.


Dia mengikuti saran Regan dan Arga agar ngga meminta Aruna pindah rumah sakit. Dia bukan suami egois yang memaksakan kehendaknya. Walaupun Kiano ngga suka Aruna kembali bekerja di rumah sakit lamanya.


"Jangan dekat dekat dengan dokter sialan itu," katanya setelah mengecup lembut keningnya.


"Iya," kata Aruna dengan hati bergetar mendapat perlakukan manis Kiano.


"Tunggu aku jemput, ya," kata Kiano sambil menatap lekat Aruna.


Perasaannya masih ngga rela membiarkan Aruna berinteraksi dengan dokter Farel yang pasti akan mendekati istrinya dengan alasan pasien.


"Iya."


Aruna ngga membantah. Tadi malam dia sudah berusaha menolak dengan mengajukan ops i menyetir sendiri. Aruna ngga tega melihat Kiano yang harus bolak balik mengantarnya yang jaraknya cukup jauh. Padahal mereka stay di resort Kiano yang hanya beberapa meter saja jaraknya dari hotelnya dimana lantai teratas adalah kantornya.


Tapi Kiano tetap ngotot ingin mengantar jemput dirinya. Alasannya sudah pasti agar dokter Farel ngga punya kesempatan untuk mengantarkan istrinya pulang.


"Apa masih sakiit?" tanya Kiano merasa bersalah.


Setelah mendaparkan Aruna yang sedang membereskan koper mereka, Kiano menyerangnya tanpa ampun. Aruna bagai obat terlarang baginya yang selalu membuatnya ketagihan. Dan Kiano sangat suka melihat wajah Aruna waktu berada dalam pelukannya. Wajah yang selalu tersipu dengan rona merah di kedua pipinya.


Tentu saja, batin Aruna kesal.


Kiano ngga membiarkannya beristirahat dalam waktu lama. Hanya tadi pagi dia terpaksa menolak Kiano. Semoga malaikat ngga mencatat dosanya sebagai istri yang ngga patuh. Kalo bisa Aruna ingin dispensasi.


"Maaf," kata Kiano merasa bersalah melihat raut kesal Aruna. Tadi pun dia memaksa memakaikan salep di bagian intim istrinya


"Nanti aku akan bantuin kamu ngasih salep lagi," goda Kiano sambil nyengir.


Aruna yang tadinya kesal jadi merona karena malu mengingat apa yang telah dilakukan Kiano.


Kiano membuka seat belt Aruna membuat istrinya menahan nafas karena jarak mereka sangat dekat.


"Aku ngga bisa membiarkanmu pergi mendekati orang berbahaya itu," keluhnya membuat Aruna tersenyum tipis.


Aruna ngga menjawab, tapi dengan tak terduga mengecup bibir Kiano sekilas membuat Kiano yang resah terpaku. Saat Aruna akan melepaskan tautan bibirnya, Kiano menekan tengkuk Aruna dan memperdalam ciuman mereka.


"Aku mencintaimu, Aruna," bisiknya lembut saat menjauhkan bibirnya karena mereka sangat membutuhkan pasokan oksigen.


Aruna yang tadinya terpejam membuka matanya yang berubah sayu. Ada rasa bahagia menari nari dalam dadanya mendengar penyataan Kiano.


"Gombal," sangkal Aruna menutupi rasa berbunga bunganya dan malu.


Kiano mendesah kasar.


"Kenapa.kamu ngga pernah mau percaya," katanya seolah mengeluh. Ngga tau lagi bagaimana caranya membuat gadis itu mempercayai isi hatinya.


Padahal yang Aruna lakukan hanyalah untuk memproteksi hatinya, jika nanti Kiano membohonginya lagi, dia ngga akan terlalu larut dalam patah hati yang parah.


"Jadi dokter yang pintar. Jangan mau dimanfaatin terus," tukas Kiano sambil membukakan pintu mobil Aruna.


Pesan dari laki laki pencemburu, cela Aruna dalam hati.


Aruna menatapnya kesal sebelum keluar dari mobil.

__ADS_1


"Bye mantan pacar," goda Kiano setelah Aruna menutu pintu mobilnya.


Aruan tersenyum dengan wajah merona.


"Kamu hati hati," ucqpnya lembut sambil melangkah pergi.


Ya, honey, jawab Kiano dalam hati.


Kiano terus menatap punggung Aruna sampai mengjhilang.


Setelah menghela nafas panjang, Kiano pun menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit. Balik lagi ke hotel tempat resortnya berada dengan perasaan ngga tenang.


Memikirkan Aruna akan mengobrol dengan dokter sialan itu membuat dadanya kembali terasa panas.


Begitu sampai di ruangannya, sahabat sahabatnya sudah menunggunya dengan ekspresi menggoda.


"Suami sayang istri," ledek Alva terkekeh.


"Bela belain dianterin. Trus balik lagi ke sini," kekeh Reno dibalas tawa yang lain.


"Lo udah jadi bucin," ejek Glen dalam tawanya.


"Seratus persen," timpal Reno menyahuti. Mereka bertiga pun tambah terkekeh.


"Syukurlah tepat waktu. Bos PT Sarana Baja akan ke sini setengah jam lagi," kata Regan yang hanya tersenyum saja melihat wajah Kiano yang menahan dongkol akibat godaan Alva, Glen dan Reno.


TOK TOK TOK


Nggak lama kemudian wajah sekretarisnya, Nova muncul dari pintu yang terbuka.


"Oke," sahut Kiano.


"Kok nona? Bukannya Pak Herman bosnya PT Sarana Baja?" celutuk Alva heran begitu Nova keluar.


Mereka pun saling pandang.


Ngga lama kemudian pintu pun terbuka lagi.


Glen, Alva dan Reno menahan nafas melihat seorang perempuan cantik masuk ke ruangan Kiano bersama Nova.


Perempuan itu tubuhnya seperti model, tinggi dan ramping. Kulitnya putih bening dengan rambut panjang bergelombang tergerai indah. Dia memakai blazer abu abu tua dengan panjang rok di atas pahanya yang putih cemerlang.


"Silakan, nona," ucap Nova sebelum pergi.


"Terima kasih," balasnya sopan.


Nova hanya tersenyum.


Percuma nona, kalo anda mau merayu Pak Kiano. Dia sudah menikah, batin Nova.


Sebenarnya Nova bersama pegawai perempuan lainnya yang ada di kantor masih merasa patah hati atas penikahan dadakan bosmya.


"Kenalkan, saya Claudia, putri Pak Herman," katanya merdu sambil mengulurkan tangannya pada Kiano.


"Oh. Saya Kiano. Silakan duduk," jawabnya tak acuh.

__ADS_1


Claudia melemparkan senyum manisnya pada lima laki laki yang ada dalam ruangan.


"Mereka direktur pelaksana proyek ini," kata Kiano mengenalkan sahabat sahabatnya.


"Glen," kata Glen lebih dulu.


"Alva."


"Reno."


"Regan."


"Arga."


Berlima mereka bergantian saling mengulurkan tangan pada Claudia.


"Syukurlah, saya bisa bertemu format lengkap PT Andromeda," ucapnya lembut dengan wajah penuh senyum.


Glen, Alva dan Reno terpesona melihatnya..Sedangkan Regan dan Arga melihat ketiganya.dengan tatapan meremehkan.


Kalian terlihat murahan, batin Regan menghina.


Jaga image dikit, dong, cela Arga membatin.


"Silakan duduk, Nona Claudia," kata Glen sambil memundurkan kursi di depan Kiano agar mudah diduduki Claudia


"Terimakasih."


Kiano menatap.aneh pada Glen.


Dasar kucing garong.


Apalagi melihat tatapan lapar ketiganya pada Claudia yang sudah duduk dengan menyilangkan kakinya, membuat roknya semakin terangkat ke atas.


*


*


*


"Selamat datang dokter" seru Suster Uci girang saat melihat Aruna muncul dari balik korido menuju ruang praktekmya. Juga ada suster Ria dan Suster Eliana ikut serta menyambutnya. Mereka bertiga sampai berlari mendekatinya.


Aruna tersenyum melihat kehebohan perawatnya. Kangen juga Aruna dengan rumah sakitnya. Dengan perawat perawatnya, khususnya asisten bawelnya yang selalu membuat Aruna bisa tertawa dengan tingkah absurdnya.


Banyak kenangan yang digoreskannya di sini. Titik awalnya dalam meniti karir setelah lulus kuliah adalah rumah sakit ini. Rumah sakit yang membuatnya cukup terkenal dan selalu penuh dengan daftar tunggu pasien pasiennya.yang selalu penuh.


"Syukurlah kepindahan dokter ditunda," seru Suster Uci sambil memeluknya membuat senyum Aruna melebar.


"Iya dokter, lega rasanya waktu Dokter Burhan bilang kalo dokter Aruna hari ini akan ke sini," tambah Suster Ria ngga kalah senangnya.


"Kalo bisa jangan pindah dokter," sambung suster Eliana memohon.


Aruna terharu. Dia juga keberatan untuk pindah. Tapi dia harua menurut pada Kiano. Aruna ngga mau catatan dosanya bertambah gara gara selalu membangkang Kiano sebagai suaminya.


"Saya juga senang ketemu kalian lagi," balas Aruna sambil balas memeluk ketiganya.

__ADS_1


"Pasien pasien dokter udah nunggu," kata Suster Uci kemudian menggandeng lengan dokter Aruna. Mereka berjalan sambil mengobrol dan tertawa tawa ceria.


__ADS_2