
"Gadis ini malah tidur. Apa dia ngga takut tidur di dekat gue," gumam Alva sambil menatap lekat wajah Tamara yang sedang pulas tertidur.
Setelah berhasil keluar dari gedung, Alva mengajak Tamara ke basemen tempat mobil mewahnya terparkir.
"Gue antar lo pulang," katanya sambil membuka pintu mobil untuk Tamara.
"Oohhmmm."
Tamara menutup mulutnya ketika dia sudah tanpa sadar berkali kali menguap saking ngantuknya. Dia pun menurut dan duduk dengan menyandar sambil memasang seatbeltnya.
Alva tersenyum miring, awalnya dia berpikir akan memasangkan seatbelt seperti yang biasa dia lakukan pada wanita wanitanya.
Memang cewe mandiri, gelaknya dalam hati.
Dia pun melajukan mobil dalam hening, karema mereka sama sekali ngga berkomunikasi. Apalagi Alva melihat Tamara ngga henti hentinya menguap.
Kamu ngeronda? batin Alva heran. Tamara terlihat ngantuk berat seperti ngga tidur tadi malam. Kalo dia wajar ngga tidur, karena begadang di club bersama sahabat sahabat gesreknya sampai dini hari tadi.
Sesekali sambil nyetir Alva melirik Tamara yang seperti menahan matanya agar ngga tertutup.
Ternyata pertahanan Tamara rontok juga. Saat Alva sudah memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah Tamara, gadis itu sudah tertidur sangat nyenyak.
Tangan Alva terulur begitu saja saat membelai rambut Tamara. Bibirnya oun tanpa sadar tersenyum.tipis.
"Lebih cantik kalo tidur," pujinya kemudian melepas seat beat Tamara. Dia pun segera membuka pintu nobilnya keluar dari mobil ketika Alva merasakan aliran darahnya terasa aneh.
Alva pun menghembuskan nafas berulang ulang untuk meredakan kegaduhan di dadanya.
Alva menatap gedung besar yang mewah di depannya. Ngga di sangkanya Tamara anak salah satu relasi papinya. Penampilan gadis itu terlalu sederhana. Jauh dari barang barang branded.
Tadi Alva sudah meninta Tamara menghubungi mamanya yang berada di rumah kalo dia akan pulang bersama Alva.
Alva.mendekatkan wajahnya ke arah kamera pengawas, dan ngga lama kemudian pintu gerbang terbuka.
__ADS_1
Setelah merasa cukup tenang, Alva membuka pintu mobilnya. Alva kembali masuk ke.dalam mobil dan menyetir kembali sampai ke depan rumah Tamara.
Begitu sampai, dia sudah melihat mama Tamara dan beberapa pelayan berdiri di belakangnya.
Alva pun keluar dari mobil dan mengambil tangan calon mertuanya itu untuk.diciumnya.
"Tante," sapanya ramah.
Mama Tamara tersenyum hangat.
"Terima kasih sudah mengantar Tamara. Tapi Tamara di mana?" tanya mama Tamara heran karena ngga melihat tanda tanda Tamara turun dari mobil.
"Sebentar, tante. Tamara tidur," ucap Alva sambil berjalan cepat memutari bagian depan mobil untuk sampai di dekat pintu mobil Tamara..
Setelah membuka pintu mobil, Alva pun menyusupkan tangannya di bawah lutut Tamara dan menggendongnya ala brydal.
Mama Tamara kembali tersenyum melihat perlakuan Alva pada Tamara. Beliau pun mempersilakan Alva masuk dan berjalan di depan untuk menunjukkan kamar Tamara
Untungnya kamar Tamara terletak di lantai bawah.
Alva sedikit terperangah melihat keadaan kamar itu. Untuk seorang anak yang tomboy dan hobi berkelahi, kamar Tamara malah didominasi warna pink.
Alva berpikir harusnya kamar Tamara bernuansa hitam putih atau biru.
Bibir Alva lagi lagi tersenyum setelah membaringkan gadis kekar itu di tempat tidur gedenya.
Gadis itu nampak pulas, ngga membuka mata sekejap pun.
Hanya ada satu boneka gede yang ada yang mungkin di jadikan gulingnya. Boneka buaya lembut berwarna hijau.
Ternyata lo suka buaya, kekeh Alva.
Hampur saja Alva mengecup pipi Tamara, untung saja ingat ada mama Tamara di dekatnya.
__ADS_1
"Anak ini kalo tidur suka pingsan," tawa mama Tamara membuat Alva melebarkan garis lengkung bibirnya ke atas.
"Ayo, tante minta pelayan membuatkan kamu minuman," ucap mama Tamara sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Alva pun mengikuti setelah menatap Tamara sebentar.
Lo cantiknya kalo tidur, batinnya memuji lagi sebelum mengikuti langkah kaki mama Tamara.
"Tante, Alva pulang saja, ya. Sudah malam," pamitnya sopan kala melihat mama Tamara akan berbicara pada pelayannya.
"Ngga minum dulu. Kita bisa ngobrol bentar," tahan mama Tamara agak keberatan.
Alva tersemum tipis.
"Kapan kapan, ya, tante. Teman teman saya sudah menunggu," bohongnya sopan.
Ciiiihh, mereka memang menunggu untuk membullynya abis abisan, batinnya mendadak kesal memgingat kejadian di pesta Regan.
"Oke kalo begitu. Tapi benar, ya, kapan kapan mampir lagi," ucap mama Tamara menyerah, ngga memaksa lagi.
Alva ngga menjawab, juga ngga mengangguk. Alva kembali tersenyum. Dia ngga mau berjanji.
"Saya pulang dulu," pamitnya sopan.
Mama Tamar melepasnya dengan penuh senyum.
Begitu memasuki mobil, Alva membuka ponselnya.
Ada satu pesan Reno yang menanyakan keberadaan Tamara membuatnya jadi sewot.
Reno
Lo udah antar Tamara pulang? Aruna mencarinya. Jangan lama lama unboxingnya hahahaha........
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Alva mengetikkan kata udah. Kemudian mengirimkannya pada Reno. Dia ngga peduli apakah Reno akan salah tanggap saat membaca pesannya yang ambigu.