Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Dubai


__ADS_3

Alva dan Tamara sedang berjalan tanpa alas kaki di pantai jumeirah. Pantai ini sangat ramai dikunjungi wisatawan karena sangat indah. Banyak sekali pasangan seperti mereka berada di sana.


Tentu saja lebih mesra dari dirinya dan Tamara. Bahkan Alva dan Tamara ngga saling bergandengan tangan. Mereka seperti orang asing yang baru saja berkenalan.


Tamara sebenarnya ngga mau ikut Alva ke pantai, karena pastinya akan melihat banyaknya pasangan yang sangat bebas berciuman. Tapi Tamara juga takut jika mereka berlama lama di kamar maka Alva akan meminta miliknya yang paling berharga dan susah payah dia jaga


Alva sendiri bingung harus bersikap seperti apa menghadapi Tamara.


Malam setelah pesta pernikahan mereka usai, Alva pura pura tidur duluan saat Tamara berada di kamar mandi.


Mungkin saking capeknya, dia pun tertidur nyenyak. Semoga saja dia ngga mendengkur, harap Alva dalam hati.


Dia harus terus terlihat cool di depan Tamara, baik dalam keadaan terjaga atau pun sedang tidur. Kalo perlu saat tidur, wajah tampannya harus terlihat lebih mempesona.


Mereka pun berjalan dalam diam. Alva bingung, topik pembicaraan apa yang disukai Tamara.


Apa dia hanya menyukai topik tentang olah raga?


Alva melirik Tamara yang sepertinya sedang menikmati pemandangan pantai. Banyak sekali wisatawan yang berjemur dan berciuman mesra.


Seandainya saja dia mau tengkurap dan minta aku oleskan krim tabir surya, gelak Alva dalam hati.


Itu adalah hal yang paling ngga mungkin.


"Alva?" panggil seorang perempuan cantik dengan bikini two piece nya yang sangat seksi.


Sedangkan Tamara hanya mengenakan kaos oblong dan kain pantai yang dulu dibelinya waktu liburan di pulau Bali bersama Aruna.


Alva bengong sesaat mencoba mengingat perempuan seksi yang merusak khayalannya.


"Ngga nyangka ketemu di sini," seru perempuan seksi itu riang setelah yakin dengan pengamatannya. Dia langsung memeluk erat Alva.


Alva langsung gelagapan, matanya melirik pada Tamara yang kini melengos. Jantung Alva berdebar karenanya.


Dia marah atau cemburu?


"Shina? Lo di sini?" tanya Alva sambil melepaskan pelukannya setelah berhasil mengingatnya.


"Iya, kita liburan. Ada Lani sama Sarah juga," ucap Shina sambil memamerkan senyum manisnya dan melambaikan tangannya ke arah dua orang temannya yang tentu saja dikenal Alva.


"Lo kenapa, sih?" heran Shina yang kembali memajukan wajahnya hendak mengecup pipi Alva saat pelukannya dilepas.


"No, Shina," cegah Alva sambil menahan bahu Shina dan menjauhkan wajahnya.


Matanya melirik ke sampingnya. Tamara udah ngga ada, dia malahan sudah berjalan lebih dari lima langkah dari keberadaannya tadi.


"Gue udah nikah," ungkap Alva sambil memundurkan wajahnya. Semakin menjauh.


"Ngga salah nih, seorang Alva akhirnya menikah?" kaget Shina ngga percaya mendengar pengakuan Alva.

__ADS_1


"Gue patah hati," canda Sarah kemudian tertawa bersama Lani.


Memang ada sedikit rasa kecewa di hati mereka.


"Tapi kita masih bisa having fun, kan?" tanya Shina ngga mau melepaskan Alva.


"Not now. Oke, gue nyusul istri gue dulu," tukasnya sambil melangkah pergi menyusul Tamara yang sudah mulai jauh.


"Berarti nanti nanti bisa, ya?" seru Shina pantang menyerah. Kemudian dia bersama Lani dan Sarah tertawa melihat Alva yang setengah berlari menyusul istrinya.


"Maaf," ucap Alva setelah berada di samping Tamara lagi.


Tamara melirik Alva kesal. Bayangkan saja, perempuan itu hanya dengan berpakaian dalam dan menempel erat di tubuh suaminya yang untungnya memakai koas dan celana selutut.


"Dia teman waktu gue kuliah. Reno sama Glen juga kenal," jelas Alva lagi melihat tatapan ngga bersahabat dari Tamara.


Ngga tau kenapa, Tamara tambah gedeg dengarnya.


"Ngga mau maen pasir?" tanya Alva lagi mengganti topik pembicaraan yang bakalan ngga akan berujung.


"Emamg anak kecil," balas Tamara nge gas.


"Siapa tau suka." Alva tersenyum miring.


Tamara hanya mendengus.


Tanpa ragu Alva merengkuh bahu Tamara. Gadis itu hanya diam saja.


Kemudian dengan nekat Alva memeluk dan mengangkat sedikit tubuh Tamara yang membelakanginya, kemudian dengan cepat berputar membuat gadis itu terpekik antara kaget dan suka.


"ALVA!" teriaknya marah, tapi kemudian tertawa karena Alva terus melakukannya berulang kali.


Alva pun tertawa berderai derai.


Ternyata lo ngga berat ya, batinnya merasa sangat senang karena anggapannya selama ini salah.


"Capek," kata Alva sambil menurunkan Tamara hingga menjejak pasir.


Upppsss


Kain pantai Tamara melorot membuatnya kelabakan.


Alva dengan santai membetulkannya dengan jantung berdebar.


Paha putih langsing Tamara terlihat di matanya. Gadis itu hanya menggunakan celana ketat yang sangat pendek.


Dengan jantung berdebar ngga menentu Alva mengikatkan kain itu cukup kuat.


Juniornya kali ini bereksi.

__ADS_1


Tamara yang melihatnya jadi melengos dengan wajah merah menahan malu.


"Malam ini boleh, ya. Satu ronde aja," pinta Alva begitu saja. Tanpa dia pikirkan, kata kata itu meluncur saja dari mulutnya.


Jantung Tamara pun berdetak ngga menentu. Saat Alva mengangkat tubuhnya tadi, dia sudah merasa panas dingin karena bersentuhan dengan milik Alva yang mengeras. Dan semakin berdebar keras saat tubuh mereka berputar putar tadi.


Tamara ngga tau apa Alva menyadari perbuatannya atau hanya gerak refleknya saja. Tapi Tamara merasa ada yang berbeda dengan reaksi tubuhnya.


"Ya," jawabnya pelan.


Alva yang deg degan parah menunggu jawaban Tamara jadi tersenyum lebar dengan hati senanng.


Dia mengira akan ditolak mentah mentah.


YEESSS!! batinnya penuh semangat


"Kita balik ke hotel ya," ajak Alva langsung menggandeng tangan Tamara. Hal yang sedari tadi ngga dilakukannya. Mengajaknya berlari lari kecil le arah hotel mereka yang berada di dekat pantai.


*


*


*


Alva ngga nyangka, betapa bahagianya menyentuh yang halal. Sensasinya sangat berbeda seperti yang dulu sering dia lakukan. Apalagi Tamara masih perawan. Dia menang jackpot


Alva mengingkari janjinya. Dia bahkan sudah melakukan dua kali. Ini yang ketiga.


"Kita mandi, ya?" tanpa menunggu jawaban Tamara yang kedua matanya sedang terpejam, Alva mengangkat tubuh polos Tamara ala bridal.


"Al, aku lelah," lirih Tamara memohon.


Katanya cuma satu kali. Tapi ini sudah tiga kali, sungut Tamara dalan hati lelah


Kapan dia akan berhenti?


Tapi kalo boleh jujur, Tamara merasa melayang. Merasa menjadi ratu yang diperlakukan dengan sangat lembut.


Alva seakan tau bagaimana membuat tubuhnya yang kaku menjadi lentur dan mengikuti segala maunya Alva.


Dia sudah sangat berpengalaman, decih Tamara mendadak jadi kesal.


Tamara mengalungkan kedua tangannya ke leher Alva. Kali ini pemuda itu mengecup lagi bibirnya. Sangat lembut. Tamara lemah dipelakukan seperti ini.


Kemudian mereka berdua masuk ke dalam jacuzi yang berisikan air hangat.


Dan Alva ngga menyia nyiakan kesempatan yang sudah dia dapatkan. Bibirnya terus mengecup dan tangannya pun menari nari dengan liar di sekujur tubuh Tamara.


Akhirnya kesempatannya untuk unboxing Tamara terwujud juga. Entah seheboh apa komentar Glen dan Alva jika tau dia sudah unboxing sampai beronde ronde dan Tamara tidak menghajarnya dengan tendangan sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2