
Lagi lagi Alva harus menahan kekesalannya, saat melihat Tamara sedang ngobtol berdua dengan laki laki bertampang baik itu.
Setelah menghela nafas panjang, Alva pun membuka helmnya, dan menyugar kasar rambutnya beberapa kali untuk merapikannya.
Walaupun kesal, Alva sangat memperhatikan penampilannya. Dia harus tampil *perfec*t. Apa lagi yang akan dihadapinya adalah laki laki yang sepertinya juga menyukai calon istrinya. Laki laki yang sepertinya memiliki banyak aura positif dibanding dengannya, yang penuh kontroversi.
Setelahnya dia berjalan tenang sambil menahan perasaan dongkolnya menuju ke arah Tamara.
Kenapa selalu dengan laki laki ini, batinnya kesal ngga terima.
Apa dia ngga tau kalo gue ngga suka, kesal Alva lagi membatin.
Tanpa Alva sadari pegawai pegawai perempuan melihatnya penuh minat.
Laki laki itu bertubuh tinggi dengan paras badboy yang rupawan. Paras yang banyak digilai para perempuan.
Tatapan ngga percaya para pegawai perempuan itu mengarah pada sosok perempuan tomboy yang sedang asyik mengobrol dengan laki laki teman kerja mereka, yang juga merupakan laki laki favorit di kantor. Tanpa menyadari kehadiran laki laki badboy tapi keren dengan jasnya yang tampak elegan, sudah berada di belakang posisi Tamara.
"Ehem," batuk Alva setelah sampai tepat di belakang Tamara. Gadis itu pun menoleh.
Ternyata dia beneran datang, batin Tamara dengan perasaan senang yang aneh dan ngga percaya.
Mamanya mengatakan tadi pagi sebelum dia berangkat kerja, kalo Alva akan menjemputnya di kantornya. Karena mereka akan melakukan fitting baju pengantin.
Tapi Tamara ngga serta merta percaya. Karen pertemuan terakhir mereka yang buruk, terkesan Alva marah marah tanpa berkata apa pun padanya dan Tamara sama sekali ngga tau kenapa. Laki laki songong itu juga ngga menjemputnya beberapa hari ini. Juga ngga pernah mengirimnya pesan.
Tamara sempat berpikir Alva sudah berulah dan orang tuanya sedang mencari waktu untuk membicarakan pembatalan pernikahan mereka.
Tapi nyatanya proses menuju hari H tetap berlangsung terus. Bahkan kini mereka akan mencoba baju pengantin. Dan laki laki ngga jelas ini sekarang sedang berada di dekatnya untuk misi itu.
Wahyu menatap laki laki yang dikiranya mencari teman mereka yang lain dengan seksama. Sama sekali ngga nyangka. Makanya saat laki laki itu berjalan mendekatinya dan Tamara, Wahyu cuek aja. Sangat ngga mengira kalo yang akan ditemuinya adalah Tamara.
__ADS_1
"Kenalkan, calon suami Tamara," kata Alva sambil mengulurkan tangan kanannya pada Wahyu yang masih bengong saking kegetnya.
Begitu juga Tamara yang ngga menyangka Alva akan berlaku sekonyol itu.
Calon suami? Dia apa apa an, sih, sungutnya membatin dengan tatapan kesalnya.
Pede banget, gerutu Tamara lagi dalam hati melihat wajah tengil Alva.
Walaupun dalam hatinya sudah mulai tertarik dengan ketengilan laki laki sahabat suami Aruna itu, Tamara mencoba berpikir logis.
Mana mungkin pernikahan mereka bisa bertahan lama. Apalagi dia juga ngga tau isi hati Alva.
Alva menerima perjodohan ini terasa sangat aneh, kalo hanya harus bertanggung jawab terhadap sedikit kekurang ajarannya pada waktu itu.
Tamara akan memaafkannya asalkan berhenti sampai di sini tanpa ada kelanjutan lagi. Tapi ternyata Alva malah membiarkannya hingga mereka berlanjut menuju ke jenjang pernikahan.
Apa laki laki itu sudah kekurangan stok perempuan yang mengilainya? Bukannya sudah ada perempuan yang suka menatap judes pada dirinya waktu itu?
Tamara tentu saja masih mengingat Meti dengan sangat jelas.
Alva menggerakkan tangannya yang dianggurin dengan sombong membuat Wahyu tersadar dan menyambut tangan itu dengan perasaan hancur.
"Wahyu," ucapnya sambil menelan paksa salivanya. Sungguh situasi yang sangat ngga dia inginkan. Bertemu dengan cakon suami Tamara yang sudah dijodohkan keluarganya.
Sungguh kah? Tamara akan menikah dengan dia? batinnya pahit.
"Ayo, Mama kamu sudah nunggu kita," kata Alva setelah jabat tangan itu terlepas.
Alva segera merengkuh bahu Tamara dengan senyum puas di wajahnya. Wahyu benar benar ngga bisa berkutik lagi.
Awas aja lo ganggu calon istri gue lagi, gue hajar, batin Alva dengan sorot tajamnya pada Wahyu.
__ADS_1
Wajah laki laki itu tampak pias walau berusaha tetap tersenyum ramah.
"Kita duluan, ya," pamit Alva
berbasa basi sambil membawa Tamara pergi.
"Hati hati," ucap Wahyu yang hanya dibalas anggukan kepala Tamara.
Alva terus membawa Tamara melangkah menjauhi kuman itu dan ngga membiarkan lagi terjadi komunikasi di antara mereka.
Sementara Wahyu masih menatap nanar punggung keduanya yang melangkah pergi.
Tangan itu terlihat aman di bahu Tamara, padahal biasanya Tamara menolak keras sentuhan lawan jenismya. Bahkan Tamara ngga segan memukul atau menendangnya.
Laki laki itu terlihat kaya dan sombong. Wajahnya itu mengeluarkan aura intimidasi padanya yang sangat kuat.
Tapi Wahyu masih tetap ngga mau percaya kalo Tamara akan menikahi laki laki model begitu. Karena tanpang laki laki seperti itu sering sekali dihajar Tamara, karena berani kurang ajar padanya.
"Siapa?" tanya Mita kepo. Dia bersama yang lain segera keluar dan memperhatikan kepergian Tamara bersama laki laki yang memeluk bahunya. Bahkan Tamara terlihat nyaman nyaman saja.
Ini pemandangan langka.
Bahkan pegawai laki laki atau perempuan yang masih ada di situ juga sama memperhatikan dengan tatapan horor. Belum pernah mereka melihat Tamara bersentuhan fisik selain menghajar lawan jenis yang berani menggodanya abis abisan.
Hebatnya Tamara bisa merahasiakan hubungannya dengan laki laki itu sampai sejauh ini membuat Mita yang cukup dekat dengannya pun terperangah.
Padahal selama ini dirinya maupun Disa selalu curhat.di depan Tamara tentang kekasih kekasih mereka. Tapi sepatah kata pun Tamara ngga pernah menyebutkan kalo dia sedang tertarik atau didekati oleh laki laki.
Laki laki yang beberapa hari lalu menjemput Tamara tanpa melepas helmnya, ternyata sangat tampan. Bahkan Mita juga sangat menyukai tipe laki laki badboy yang terlihat susah di atur itu.
Mita berpikir kalo laki laki idaman Tamara adalah seperti Wahyu. Tampan, sopan dan selalu beprestasi. Wahyu juga kaya, walau mungkin ngga sekaya keluarga Tamara.
__ADS_1
"Di mana Tamara bisa kenal laki laki seperti itu?" tanya Disa lirih. Dia pun sama dengan Mita. Sama ngga percayanya jika ada laki laki sekeran itu dengan versi badboy berhasil ditaklukan Tamara.
Mita ngga bisa menjawab pertanyaan Disa. Karena itu juga pertanyaannya. Bahkan kedua teman laki laki mereka yang usil pun ngga bisa berkata apa apa.