
Arga kini sedang duduk berhadap hadapan dengan Arik. Mereka sedang berada.di parkiran mobil menunggu kepulangan Zizi.
Keduanya pun merokok untuk melepaskan ketegangan.
Saat Arik sedang menunggu putri cantiknya pulang, Arga menelpon ingin bertemu.
Karena sebentar lagi Zizi akan pulang, maka Arga diminta Arik menemuinya diparkiran sekolah Zizi.
"Sekarang lo maunya gimana?" tanya Arik sambil menatap Arga lurus lurus.
Kali ini walau tetap.dengan pembawaannya yang santai tapi nada suaranya terdengar serius.
Arga Satria Adinata. Laki laki ini bukan player. Track recordnya dalam bisnis sangat baik. Hanya satu masalahnya. Dia terlalu setia pada satu perempuan. Tapi sayangnya perempuan itu sudah lama meninggalkan dunia ini karena penyakitnya.
Sepertinya hampir lima tahun dia sudah kehilangan. Tapi masih saja tetap setia.
Karena itu om.dan tantenya ngga mempermasalahkan hal itu. Malah bagi tante dan omnya itu adalah poin penting. Arga Satria Adinata adalah laki laki setia yang ngga akan selingkuhi Qonita titik ngga pake koma.
Jaman gini sangat susah menemukan laki laki setia, tampan, kaya raya, sukses dan pekerja keras.
Tapi Qonita-sepupunya ngga bisa terima. Hanya satu poin, karena kesetiaannya diberiikan bukan buat Qonita.
Padahal andai saja sepupu manjanya itu lebih teliti lagi mengamati sikap Arga. Dia akan tau kalo Arga sudah mulai tertarik dengannya. Arik pun sebagai laki laki dapat merasakan ketertarikan Arga pada sepupunya itu.
Qonita hanya pintar di bidang akademik, tapi kepekaannya nol. Belum lagi sifat manja dan ambekannya yang amit amit. Seorang Arga Satria Adinata tertarik padanya adalah berkah untuknya.
"Aku tetap akan menikahi Qonita," kata Arga serius.
Arik tersenyum. Dia sudah menduganya. Hanya saja sepupunya itu sangat bersikeras menolak Arga.
"Tante sama om tetap mendukung lo. Gue juga. Mungkin lo dan Qonita perlu bicara dari hati ke hati," usul Arik.
"Gue rasa, sih, begitu, bang," jawab Arga setuju dengan pikiran Arik.
Sejak tanpa sengaja Qonita menemukan fotonya bersama dengan Ayana di dalam dompetnya, gadis itu langsung membatalkan pernikahan mereka.
Arga pun belum menemui Qonita. Selain dia ingin memberikan Qonita waktu untuk berpikir, dia juga bingung harus bersikap seperti apa menghadapi Qonita
Menjelang hari pernikahannya yang semakin dekat, bayangan Ayana juga semakin sering muncul di pikirannya. Dia mulai bimbang, apa perasaannya untuk Ayana belum hilang?
Arga menemui Arik karena mamanya sudah memohon padanya berkali kali untuk tetap melangsungkan pernikahannya dengan Qonita yang tinggal beberapa minggu lagi. Baik orang tuanya maupun orang tua Qonita tetap akan meneruskan pernikahan ini.
Sementara papanya sendiri ngga memaksanya sama sekali. Terserah pada Arga. Apa pun yang dia putuskan, adalah haknya. Hanya saja papanya meminta dia berdamai dengan hatinya.
"Sekarang Qonita lagi di kampusnya," kata Arik seakan memberitahunya dengan gayanya yang ngga acuh.
Dia tau keduanya sudah seminggu ngga ketemu. Kadang Arik kasian juga dengan sepupunya yang keras kepala itu. Hari demi hari dihabiskannya hanya melamun dan selalu terlihat sedih. Hanya Zizi yang bisa membuatnya tertawa. Karenanya udah beberapa hari ini Arik kerap mengantar Zizi ke rumah Qonita setelah menjemputnya pulang sekolah. Tantenya juga butuh hiburan dengan tingkah lucu Zizi.
__ADS_1
"Makasih, bang. Gue akan secepatnya menemui Qonita."
Arik menganggukkan kepalanya sambil membuang rokok dan menginjaknya. Matanya sudah melihat guru giru yang sedang membimbing para bocil itu berjalan mengikutinya.Termasuk Zizi.
Ngga lama kemudian anak perempuan kecil itu berlari ke arah ayahnya.
"Eh, ada om ganteng," sapanya ceria saat berada dalam pelukan papanya.
"Hai, Zizi. Ini buat kamu," kata Arga sambil mengulurkan paper bag yang sedari tadi dia pegang.
"Buat Zizi, om ganteng? Makasih," seru Zizi bahagia saat menerima paper bag yang diukurkan Arga.
Arik tertawa karena saat. Elihat kebahagiaan di wajah putrinya saar mendapat banyak makanan dan maenan yang berada dalam paper bag yang diberikan Arga.
"Kita pulang dulu, ya. Om Arga mau nemui tante manja kamu," katanya sambil menggandeng anak cantiknya.
Bibirnya tertawa melihat Zizi yang tertawa mendengar kata katanya.
"Oke, papi."
"Kami duluan," kata Arik sambil melangkah pergi bersama Zizi yang melambaikan tangannya dengan ceria ke arah Arga.
"Ya," balas Arga sambil melambaikan tangannya juga.
*
*
*
Dia meletakkan bunga itu di makam kekasihnya.
"Ayana.... maaf, mungkin nanti aku akan jarang menjenguk kamu," katanya sambil mencabut rumput rumput yang baru tumbuh di atas makam kekasihnya itu.
"Ay, aku hanya ingin melanjutkan hidup."
"Semua orang memaksaku untuk melupakanmu."
Arga menghela nafas berat.
"Bertahun tahun aku ngga mempedulikannya. Tapi maaf, akhir akhir ini hatiku terusik."
Arga terdiam sebentar. Dia nenatap batu pualam yang bertuliskan nama kekasihnya. Waktu itu Arga sendiri yang memesan secara khusus.
"Aku minta izin... aku akan menikahinya. Itu pun kalo dia ngga menolak," kata Arga getir.
"Tapi aku sudah sangat menyakitinya."
__ADS_1
Masih diingatnya raut kecewa dan hancur Qonita saat melihat fotonya bersama Ayananya di dalam dompetnya.
Padahal mereka baru saja selesai berciuman mesra.
Bodohnya lagi, dia pun ikut marah saat Qonita marah.
Baginya Qonita terlalu lancang memeriksa dompetnya. Privasinya. Dia pun selalu sensitif jika ada yang menyinggung hubungannya dengan Ayana.
FLASHBACK
"Aku ngga akan minta maaaf untuk ini," ucap Qonita dengan bibir bergetar. Tangannya yang memegang dompet Arga, merentangkan dompet itu dan memperlihatkan pada Arga akan foto kenangannya.
Arga yang terkejut segera merampas dompetnya yang dipegang Qonita.
"Kamu ngga berhak melihat isi dompetku," sentaknya marah.
Tanpa memeriksa lagi, Arga menyimpan dompet itu di saku belakang celananya.
"Setelah apa yang kita lakukan?" tanya Qonita dengan hati yang patah. Padahal dia sudah siap memberikan hatinya untuk Arga. Tapi balasan yang diterimanya sangat menyakitkan.
"Apa yang kita lakukan? Hanya ciuman biasa, kan?" balas Arga datar.
Dadanya masih tersulut enosi. Arga sangat jarang marah. Dia paling penyabar dalam **circle**nya. Tapi kalo privasinya tersentil, dia bisa ngamuk karena ngga terima. Apa pun itu.
Qonita terdiam dengan wajah pias. Kata kata Arga sangat memukul hatinya menjadi retakan retakan kecil.
Hanya ciuman katanya?
Padahal Qonita sudah mau diajak Arga ke apartemennya. Dia sudah menurunkan sedikit egonya.
Matanya memanas dan rasanya sudah sangat penuh.
"Kita putus," tukasnya sambil membalikkan tubuhnya. Berlari keluar dari apartemen Arga sambil ngga lupa membawa tasnya. Air matanya pun sudah mengalir.
Arga bergeming. Dia masih terpaku melihat wajah yang menahan tangis sambil pergi itu.
Sesaat kemudian Arga mengejar. Tapi langkah kakinya tertahan saat melihat pintu lift yang membawa Qonita tertutup sebelum langkahnya sampai.
Keduanya saling bertatapan. Dada Arga mendadak berdenyut sakit saat melihat air mata Qonita yang berjatuhan.
Dia baru sadar sudah membuat Qonita terluka dengan sikap dan perkataannya egois.
Padahal manisnya bibir dosen itu masih bisa dia rasakan.
end
□
__ADS_1
□
Novel ini menuju akhir yaa.....