
"Kiano," kaget Athar melihat adik iparnya yang langsung masuk saja ke ruangan Melvin.
Dan Melvin sepertinya sudah menduga kalo ini akan terjadi.
Dia menunggu dengan tenang apa yang akan dilakukan Kiano.
BUGH!
"Kiano!" seru Athar lagi, tetap saja kaget walau sudah menduga apa yang akan dilakukannya pada Melvin. Dia pun segera menutup pintu ruangan Melvin.
Pagi ini dia ke sini ingin meminta kejelasan atas peristiwa tadi malam. Tentang malam ulang tahun Mama Melvin.
Sepertinya Kiano juga punya maksud yang sama, hanya caranya yang berbeda.
Pasti Aris yang mengatakannya pada Kiano atau pada Om Dika juga?
Kepala.Athar langsung nyut nyut.
Athar menatap Melvin yang hanya terdorong ke belakang dan menyandar di dinding ruangannya ketika pukulan itu mampir di wajahnya. Dia sepertinya pasrah dan menerima begitu saja hajaran Kiano.
"Jangan ganggu kakak Gue!" bentak Kiano penuh benci.
Melvin mengusap ujung bibirnya yang terluka dengan jari jempolnya. Menatap lekat pada Kiano.
"Gue serius dengan kakak lo," katanya tenang, tapi Athar jadi mengelus dada.
Kamu malah semakin bikin dia marah, Vin.
Dia cuma bisa jadi penonton. Posisinya saat ini serba salah. Kiano adik iparnya, Melvin sahabatnya yang sedang terluka.
Tapi Athar setuju dengan kata kata Kiano. Asha jangan diganggu. Dia ngga salah apa apa.
"Sialan! Mana mungkn gue percaya," decih Kiano makin marah.
"Gue tau ngga ada yang bakal percaya. Tapi gue sungguh sungguh," kata Melvin bersikeras.
Kiano mendengus.
"Sebaiknya kita ngga usah berhubungan. Lebih baik menjauh. Gue dan lo sama sama menyimpan marah atas kejadian masa lalu," pungkas Kiano kemudian berbalik pergi.
Memaksakan senyum dan menganggukkan kepalanya pads Athar yang juga hanya balas mengangguk kaku.
"Kamu mencari masalah. Carilah perempuan lain," kata Athar setelah Kiano pergi
Athar meneguk air mineral yang tersedia di dalam kulkas. Dia butuh banyak minum karena otaknya terasa kaku. Saat ini otaknya ngga bisa dibuat berpikir.
"Lo tau gimana gue. Lo ngga percaya juga kalo gue serius?" tanya Melvin sambil mendudukkan dirinya di kursinya. Ngga dihiraukannya rasa perih di pipi dan sudut bibirnya
"Karena gue kenal lo makanya gue ingin lo nyari perempuan lain," kata Athar mulai kesal.
Melvin terkekeh tapi kemudian meringis.
Kemudian dia melakukan vcall.
Athar terkejut karena yang dihubungi Melvin adalah Aisha.
"Muka kamu kenapa?" terdengar suara Aisha menjawab. Agak datar.
"Abis ditonjok Kiano," jawab Melvin santai.
Athar rasanya ingin melempar kursi yang dia duduki pada Melvin saking geramnya.
"Kamu ngga usah khawatir. Udah ada Athar yang akan mengobati," kekehnya diselingi ringisan sambil melihat wajah masam Athar.
"Syukurlah."
Dan telpon pun diputuskan begitu saja oleh Aisha.
"Gayamu. Lo ingin dirawat Aisha, kan," sarkas Athar sambil mengambil salep luka, alkohol dan perban.
"Tadinya," senyum Melvin
Athar mendengus.
"Obati sendiri. Gue mau pulang," kesal Athar kemudian langsung berjalan pergi meninggalkan Melvin.
Senyum Melvin hilang. Rasanya sunyi lagi. Hatinya begitu gelap sekarang.
*
*
*
"Kiano kenapa?" tanya Reno pada Glen ketika melihat sahabatnya tiba tiba masuk ke ruangannya kemudian menidurkan dirinya di sofa
Glen mengedikkan bahunya. Hari ini dia sudah cukup pusing dengan permintaan permintaan aneh Armita.
"Ren, kalo tanda tanda hamil gimana, ya?" tanya Glen membuat perhatian Reno pada Kiano kini berbalik padanya.
"Ya di cek lah. Beli testpack sono," jawab Reno heran. Ngga mungkin sahabatnya jadi bodo setelah menikah, kan?
Padahal sebelum nikah getol banget beli testpack setelah seminggu ML
"Mita ngga mau aku suruh cek. Katanya kalo ngga hamil, dia bakalan sedih," keluh Glen sambil menghembuskan nafas panjang.
"Eh, dodol, mana tau hamil apa engga sebelum dicek," gemas Reno melihat kebegoan Glen.
"Iya, sih, ya," kata Glen manggut manggut.
__ADS_1
Reno menatap jengkel.
"Lo memang lebih muda dari Armita. Tapi pengalaman lo bergudang gudang dari dia. Tunjukkan itu. Apa lo sekarang mulai minder?" ejek Reno sarkastis.
Glen mengacak rambutnya kesal
"Mungkin....," jawab Glen jujur
"Nanti lo beli testpack yang banyak, paksa istri lo buat tes. Lo harus tegas. Jangan lemah. Biar brondong, lo tetap kepala keluarga, harus dia patuhi," nasihat Reno panjang lebar dalam satu nafas.
Glen terdiam. Mengakui kebenaran kata kata Reno. Setelah menikah, dia mulai sungkan membantah Armita Seingatnya dulu, dialah yang selalu menekan Armita. Tapi sekarang dia seakan berlaku sebagai suami yang amat sabar menghadapi Armita yang mulai sering protes.
Apalagi ancaman Armita yang ngga akan memberikannya jatah jika dia ngga menuruti keinginan Armita. Mungkin karena Glen sudah merasa sangat nyaman bersama Armita jadi dia selalu menurur saja.
"Kalian lagi ngumpul?" suara Alva terdengar senang saat masuk ke ruangan Glen.
Dia pun berdiri santai di samping meja Glen sambil memainkan ponselnya.
"Ngapain lo tiba tiba ke sini?" tanya Glen heran. Reno juga sedang menatapnya.
"Gue pusing sama Tamara," cicit Alva kemudian menghela nafasnya.
"Kenapa? Lo udah dismack down?" kekeh Reno.diikuti Glen. Bahkan wajah kaku Kiano sedikit berkedut
"Sembarangan," maki Alva sebal.
Tiap dia ngeluh soal Tamara, hal itu selalu yang mereka katakan. Bikin dia ilfeel aja
"Tamara lagi aneh." Alva memulai ceritanya.
"Aneh gimana?" kali ini Glen mulai tertarik karena wajah Alva sangat kusut waktu dia serius memperhatikan.
"Seminggu ini Tamara ngintilin gue terus. Dia bahkan ijin kerja demi ngintilin gue di perusahaan." Terdengar helaan nafas berat Alva.
"Lo ngga suka?" tanya Reno juga mulai tertarik.dengan masalah rumah tangga Alva.
"Awalnya suka. Tapi lama lama gimana, ya. Gue baru aja masuk toilet udh dipanggil panggil. Gue ajak ikutan, ngga mau. Kadang jadinya gue ngga tuntas," keluh Alva membuat keduanya tergelak.
Kiano bahkan sampai mendudukkan dirinya dan bibirnya kini mulai bisa tersenyum. Kemarahannya sudah meleleh gara gara Alva.
"Gue numpang ke toilet," kata Alva sambil berdiri dari duduknya
"Sekarang, kok, Tamara ngga ngintilin lo?" Kening Reno berkerut.
"Tadi mendadak minta di antar ke rumah sakit nemuin Aruna. Lega gue," katanya sambil membuka pimtu toilet dan langsung menutupnya.
Ketiganya saling tatap dan gelak tawa pun berhamburan.
Ngga lama kemudian Alva berhasil menuntaskannya. Dia pun keluar dari toilet dan ponselnya mendadak bergetar. Wajahnya terlihat ngga bersemangat saat menerima nama penelponnya.
"Siapa?" tanya Reno.
"Suruh jemput, kali, lo," senyum Glen sangat lebar.
"Ya, sayang," sapa Alva lembut setelah menekan tombol accept.
Reno dan Glen membuat ekspresi mual tapi ngga dipedulikan Alva.
Tadi marah, sekarang udah lupa. Dasar bucin tolol.
Kiano tersenyum.
"Apa? Serius?... Oke oke. Aku segera ke.sana. I love you so much," kata Alva kemudian memutuskan telponnya dengan ekspresi wajah yang sangat berseri seri
"Tamara hamil. Tuhan, terima kasih. Yess! Yess!" seru Alva kegirangan membuat ketiganya bersorak bahagia. Kiano pun menghampiri Alva.
"Selamat."
"Iya, selamat," sambung Glen.
"Selamat jadi daddy," lanjut Reno.
Ini kabar kehamilan kedua yang mereka tunggu tunggu setelah Arunanya Kiano.
Dalam hati Glen akan memaksa Armita untuk menggunakan testpack. Dia akan melakukan segala cara agar Armita menurut padanya.
Biarpun lebih muda begini, dia, kan, kepala keluarga, tekatnya dalam hati. Dia akan menuruti saran Reno.
*
*
*
Walau ragu Aisha memencet bel di pintu apartemen Melvin.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia menyempatkan diri ke perusahaan Melvin. Tapi kata sekuriti, Bos Melvin sudah pulang karena kurang enak badan.
Sekuritinya pun memberitau nama apartemen yang ditinggali Melvin.
Walau ragu Aisha bertanya pada resepsionis di mana kamar Melvin.
Karena itu dia berdiri di depan unit Melvin. Menunggu Melvin membuka pintu.
Cukup lama Aisha menunggu, akhirnya pintu terbuka juga.
Melvin nampak kaget melihatnya. Tampangnya yang baru bangun tidur, kemeja tanpa dasi yang kusut, bahkan dia pun masih menggunakan celana panjang dan sepatunya. Mungkin juga kaos kakinya yang ngga terlihat.
"Aisha?" panggilnya sambil membukakan pintu lebih lebar. Seakan mempersilakannya masuk. Dia pun berjalan duluan sambil memijat keningnya
__ADS_1
Walau ragu, Aisha masuk juga.
"Kamu sudah masuk ke kandang paling bahaya," kata Melvin sambil menghentikan langkahnya.
Aisha pun reflek berhenti. Jantungnya berdebar ngga menentu. Ada rasa takut dan ingin berbalik. Tapi ditahannya.
"Kata sekuriti kamu sakit?" tanya Aisha mencoba mencairkan suasana di antara mereka.
Melvon ngga menjawab.
"Kamu sudah makan obat?" tanya Aisha lagi.
"Sudah," dia pun berjalan memasuki kamarnya dan membantingkan tubuhnya di tempat tidur. Kepalanya terasa sangat berat. Dia pun sedang menjaga kewarasannya agar ngga melakukan hal yang membuat Aisha takut.
Dengan ragu Aisha mendekat dan memegang keningnya.
"Kok, masih panas. Beneran kamu sudah makan obat?" tanya Aisha ngga percaya.
Melvin ngga menjawab.
Aisha pun melepas sepatu dan kaos kaki Melvin.
Tangannya dapat merasakan suhu tubuh Melvin yang tinggi.
Sementara Melvin masih tengkurap
"Kamu makan dulu. Tadi aku beli bubur."
Mendengar kata sekuriti kalo Melvin kurang enak badan, sebelum sampai ke.apartemen, Aisha sudah membelikan Melvin bubur
Dia pun mulai mengaduknya.
"Melvin," panggil Aisha lagi lebih lembut.
Melvin pun bangun perlahan. Kepalanya sangat pusimg. Dia pun menahannya dan duduk tegak di samping Aisha.
Melvin membuka mulutnya sambil menatap Aisha yang sedang menyuapinya.
Bubur ini ngga perlu kunyahan Melvin bahkan bisa langsung menelanya.
Kembali Aisha menyuapinya lagi.
Melvin terus menatapnya. Bahkan dia ngga merasa perih di sudut bibirnya yang terluka.
Entah karena lapar atau senang diperhatikan Aisha, buburnya pun hampir habis.
"Thank's," ucapnya pelan.
Kening Melvin mulai berkeringat.
"Obat kamu mana?" tanya Aisha lagi. Dari tadi dia menahan kegugupannya karena tatapan Melvin.
"Obatku kamu," kata Melvin pelan. Kemudian mendekatkan bibirnya.
Aisha hanya bisa memejamkan mata.
Dia menunggu tapi Melvin ngga melakukan apa apa
Saat dia membuka matanya, Melvin tersenyum lembut padanya. Wajah Aisha merona. Dia malu karena tanpa sadar sudah mengharapkan ciuman Melvin.
"Pulanglah. Aku ngga apa apa," ucap Melvin pelan. Dia pun sudah merasa lebih baik.
"Baiklah," jawab Aisha masih dengan rasa malu yang amat sangat. Dia pun berdiri. Ingin cepat cepat pergi.
"Aisha," panggil Melvin pelan.
Aisha menoleh dengan perasaan gugup.
Melvin masih dalam posisi yang sama. Duduk dengan mata yang terus menatapnya.
"Aku serius."
Jantung Aisha berdebar ngga menentu.
"Jadilah istriku."
Mereka saling tatap.
Melvin berdiri dan mendekat membuat Aisha semakin gugup.
"Aku antar kamu pulang. Sekalian ingin ngomong dengan Om Dika," kata Melvin sambil merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
"Tapi...." ucap Aisha ragu. Ngga yakin papi, mami dan Kiano akan merestui.
"Kalo mau sama anaknya, harus minta sama papinya, kan?" tukas Melvin dengan senyum tampannya. Dia merasa sakitnya sudah mulai sembuh
Aisha masih terpana melihatnya.
Tapi dia membiarkan Melvin menggenggam tangannya.
"Ayo kita pergi sebelum aku berubah pikiran ingin memakanmu," canda Melvin membuat Aisha tersenyum.
Melvin pun membalas senyum Aisha dan menariknya untuk segera meninggalkan apartemennya.
■
■
♡♡terimakasih ya readers♡♡
__ADS_1