Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Melamar Dinda. Part 2


__ADS_3

"Nak Regan sudah lama mengenal, Dinda?" tanya abi Dinda ramah, masih dengan wajah teduhnya.


Dalam hati laki laki ini sudah mulai mengira ngira maksud kedatangan Regan yang membawa temannya.


Kedua laki laki ini sama sama tampan, dan sepertinya mereka pebisnis muda. Karena itu beliau heran, kenapa keduanya bisa mengenal putrinya yang masih kuliah.


"Belum lama juga, Om," jawab Regan jujur dengan hati agak ketar ketir


Baru kali ini dia gugup berbicara dengan lali laki yang usianya setara dengan papanya. Menghadapi kawan dan lawan bisnisnya dia biasa biasa saja.


Apa karena laki laki ini papanya Dinda, perempuan alim yang ingin dia miliki?


"Kenal dimana?" tanya beliau lembut. Rasa ingin tau mengusik hatinya.


Setau dirinya putrinya selalu di antar jemput. Beliau sangat mem protect putrnya Karena itu beliau merasa sangat ingin tau di mana.mereka berkenalan. Dan sejauh apa hubungan keduanya.


Arga melirik Regan yang mulai ngga tenang, grogi dan salah tingkah. Disinilah dia merasa beruntung karena dijodohkan orang tuanya. Orang tua Qonita sudab tau asal usulnya dengan jelas jadi ngga akan menginterogasinya secara detil.


Berada di posisi Regan pun membuat dirinya pasti juga merasa ngga nyaman.


Apalagi mereka beda background.


Tapi bukannya menikah adalah sarana untuk menyatukan perbedaan? Arga sibuk dengan analisa analisanya.


"Melalui dosennya, Qonita, Om. Qonita tunangan sahabat saya ini," jelas Regan sambil menepuk lengan Arga. Sengaja Regan ngga jujur mengatakan kalo Arga dan Qonita hasil dari perjodohan.


"Oooh, begitu," senyum Abi Dinda mengerti. Arga pun mengembangkan senyumnya.


Regan juga tersenyum, tapi Kemudian dia bingung, apa lagi yang akan ditanya abinya Dinda.


Dirinya dan Arga sama.sekali ngga berpengalaman dalam hal ini. Juga Kiano, Alva dan Reno saat bersama Nadia.


Apa Reno juga bakal mengalami masa masa interogasi seperti ini setelah bersama Rain?


Regan merasa tambah gugup saat melihat Dinda datang bersama uminya. Mereka pun duduk di dekat abinya.


"Umi ngga bohong, kan, kalo nak Regan datang," ucap Uminya membuat wajah Dinda jadi merona. Gadis itu terlihat salah gugup. Ngga nyangka Regan yang sudah lama mgga ditemuinya datang ke rumahnya.


Apa dia sudah tau dari bu Qonita?


Malam itu Dinda merasa sangat bingung hingga tanpa sadar menelpon dosennya.


Dari dulu Dinda hanya menganggap Kak Fatih sebagai kakak karena dirinya adalah anak tunggal


Dinda yakin Kak Fatih juga pasti begitu. Kak Fatih pasti juga berat menolak permintaan orang tuanya.


Apalagi Dinda pernah mendengar selintingan kabar tentanh Kak Fatih, kalo dia sudah memiliki seseorang yang ingin dia jadikan istri.


Kalo memang dia harus menikah, dia akan memilih laki laki nakal ini, Kak Regan. Satu satunya laki laki yang pernah menyentuhnya selain abinya.


Tapi sudah beberapa hari ini Dinda ngga bertemu dengannya. Ada terselip rasa rindu.


Untuk menghubunginya, dia ngga berani. Padahal Rain pernah memberikan nomor kontak Regan padanya saat dulu dia meminta. Dan Dinda selalu menatap nomer itu dengan resah.


Apa Bu Qonita sudah mengatakannya pada Kak Regan tentang perjodohan ini hingga laki laki ini datang ke rumahnya?

__ADS_1


Dinda suka tapi takut terhadap Regan. Laki laki ini terlalu agresif. Tapi jika boleh berharap, dia ingin menghabiskan hidupnya bersamanya.


Tapi Dinda takut kalo abinya ngga setuju. Regan bukan laki laki alim seperti Kak Fatih. Dinda yakin laki laki ini pasti mengkomsumsi alkohol. Sedangkan abinya ngga menyukai hal tersebut. Karena dosa.


"Katanya nak Regan mau ketemu dengan kita. Ada apa ya?"


Regan langsung menghirup nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.


Dia melirik Arga yang menganggikkan kepalanya.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih karena Abi dan keluarga mau menemui saya."


Regan kembali menghembuskan nafasnya perlahan untuk mengurangi kegugupannya


Sementara itu Dinda menatapnya dengan jantung berdebar kencang.


"Kalo abi berkenan, saya ingin melamar Dinda jadi istri saya."


Regan langsung merasa dadanya plong setelah berucao demikian.


Diterima atau di tolak, urusannya sudah beda. Yang penting, dia sudah bisa mengutarakan maksud kedatangannya. Arga menatapnya bangga.


Hebat bro.


Walau sudah menduganya tapi tetap saja Dinda terkejut akan keberanian Ka Regan. Dia melirik abinya takut takut.


"Nak Regan ini anaknya teman pengajian umi, abi," celutuk Umi Salamah. Seakan memberikan dukungan moral pada Regan.


"Ohya?"


"Kok, bisa umi?" tanya suaminya tambah tertarik.


"Nak Regan mengunjungi mamanya saat umi dan Dinda ada di sana."


"Oooh, ya ya. Benar benar ngga disangka ya," kata beliau sambil manggut mamggut.


Keheningan tiba tiba menyelusup di antara mereka.


Nggak lama kemudian, terdengar deheman abi Dinda.l membuat tataoan mereka terfokus pada abi Dinda.


"Nak Regan shalat?" tanya abi Dinda serius.


"Shalat, Om," sahut Regan cepat.


Tapi masih bolong bolong, lanjutnya dalam hati.


"Nak.Regan minum alkohol?"


DEG


Jantung Dinda semakin kencang berdebar mendengar pertanyaan yang sudah disangkanya.


"Pernah, Om Tapi sudah lama engga," akumya jujur. Dia ngga akan merahasiakan apa pun tentang dirinya.


Matanya pun melirik Arga yang juga sedang menatapnya cemas.

__ADS_1


Gagal kayaknya lo, batin Arga deg degan.


Pastilah abinya Dinda akan mencarikan calon suami buat putrinya yang bebas alkohol dan rajin shalat.


Terdengar helaan nafas berat abi Dinda.


"Abi senang mendengar kata kata nak Regan. Abi mencari suami buat Dinda, ngga melihat pada hartanya. Tapi yang bisa membimbing Dinda."


Regan merasa tertohok. Inilah yang selalu dia takutkan.


Keadaan tiba tiba sunyi mencekam. Dinda sampai meraih lengan uminya untuk mencari kekuatan agar ngga menangis.


Sepertinya abinya menolak kak Regan.


"Tapi abi akan memberikan kesempatan jika Dinda setuju," tambahnya lagi sambil melihat putrinya yang tampak tegang.


Regan dan Arga juga menatap.Dinda.


"Dinda setuju dengan lamaran, nak Regan?" tanya abinya lembut.


Dinda menundukkan semakin dalam kepalanya dengan gelisah.


Melihat reaksinya, abi Dinda tau kalo putrinya menyukai laki laki yang melamarmya.


Beda sekali dengan Fatih. Bibir Dinda sangat lancar mengucapkan berbagai alasan penolakannya.


Abi Dinda pun tersenyum hangat.


"Datanglah lagi bersama.orang tua nak Regan. Agar bisa dibicarakan tanggal pernikahan yang akan dipilih."


Dinda mengangkat wajahnya, menatap abi dan uminya bergantian dengan tatapan terkejut. Ngga menduga kalo abinya dengan sangat mudahnya menerima kak Regan.


Regan pun hampir bersorak saking bahagianya.


Begitu juga Arga. Hampir dia melakukan tos tosan dengan Regan sebagai wujud tanda kegirangannya pada sahabat sahabatnya.


Benar benar ngga terduga.


Trus gimana.dengan tunangannya? batin Arga bingung.


"Tapi nak Regan harus menjauhi untuk meminum alkohol, ya. Bisa?"


"Bisa, Om," tanpa ragu Regan menjawab. Arga terkesima menatapnya dengan mengirimkan telepati yang hanya mereka berdua yang mengerti.


Lo yakin ngga bakal minum walau hanya sedikit? cibir Arga dalam hatinya.


Yakin, batin Regan


Dia harus bisa memantaskan dirinya jika ingin bersama putrinya si abi.


"Karena alkohol lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya," sambung abi Dinda menasehati


"Ya, abi," sahut Regan dengan sedikit rasa penyesalan di hatinya.


Beliau berjanji untuk hidupnya di kemudian hari akan menjauhi alkohol.

__ADS_1


__ADS_2