Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Fatal


__ADS_3

"Mengapa terkesan buru buru membebaskanku dari penjara?" tanya Riko ketika mereka sudah sampai di depan rumah kakek dan nenek.


Instingnya mengatakan ada yang disembunyikan saudara tirinya.


"Setelah satu bulan lo masih bilang terburu buru?" tanya Regan mendecih.


Riko melebarkan senyumnya.


"Aku masih betah di sana."


Regan mendengus. Kemudian tatapan matanya beralih ke teras rumah. Papa, nenek bahkan kakeknya kini sudah berdiri di sana.


"Keuarlah, mereka sudah menyambutmu," perintah Regan sambil membuka pintu di ikuti Riko.


Tapi baru saja dia menutup telpon, hpnya bergetar


"Ya, ada apa Pak Andi?" Ngga biasanya pak Andi sang sekuriti menelpon.


"Ada nyonya Wita, tuan muda. Nyonya ingin menemui anda," lapor Pak Andi panik.


"Usir aja," ucapnya pelan sambil melirik Riko yang juga memandangnya.


"Nyonya mengancam dengan mengiris nadinya, tuan muda. Ini sudah luka dan mengeluarkan darah," suara Pak Andi makin panik.


Regan mendengus kesal. Senjata terakhirnya yang selalu membuat Regan dan papanya geram.


"Katakan aku akan ke sana," tegas Regan sambil menutup ponselnya.


Tanpa kata dia berjalan diikuti Riko di belakangnya. Nenek pun memeluk Riko dengan sedih. Yang lebih memgharukan kakek juga ikut memeluknya. Orang tua itu meneteskan air mata.


Regan menghampiri papanya dan berbisik.


Papanya pun menganggukkan kepalanya.


"Ehem...," batuk papa Regan membuat acara haru itu terhenti. Kakek, nenek dan Riko menatap papanya heran.


"Ada apa?" tanya kakek agak ketus karena melihat senyum menggoda Regan yang seperti meledeknya. Gengsinya terusik.


"Aku dan Regan ada meeting dadakan," bohongnya.


"Ya sudahlah. Pergi sana," usir kakek sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Nenek dan Regan ngga bisa menahan senyum lebar mereka melihat kelakuan kakek yang sangat tinggi gengsinya itu.


"Ya sudah, hati hati," kata Nenek lembut.


Sementara Riko menatap papa dan Regan curiga.


"Ambil hati kakek," canda Regan setelah menyalim tangan neneknya.


Dia menepuk pelan bahu Riko. Mungkin sudah saatnya berdamai dengan rasa benci dan sakit hati. Riko juga selama ini sangat baik padanya dan Aira. Hanya saja mereka berdua belum bisa bersikap lepas dengan Riko, selalu dingin terhadapnya.


"Sudah, ayo masuk. Besok baru kamu ke perusahaan," gandeng nenek saat melihat Riko yang masih terpaku melihat kepegian keduanya.


"Oh iya, nek," balas Riko sambil mengikuti langkah neneknya. Yang selalu menerimanya dengan tulus dari dulu adalah neneknya.


Riko ingat ketika berumur tujuh tahun diajak papanya ke rumah ini.


Hanya neneknya yang menyambutnya sambil menangis. Seperti hari ini. Kakeknya sama sekali ngga pernah mau menemuinya. Baru tadi dia mendapat peluk hangat itu. Selama.ini beliau selalu mengacuhkannya.


Dulu Riko belum mengerti, tapi setelah berjalannya waktu, dia mulai sadar akan posisinya. Dia adalah kesalahan yang sudah diperbuat orang tuanya.


*


*

__ADS_1


*


Begitu sampai di ruang sekuriti, Regan sengaja masuk duluan karena papanya tertahan di luar akibat mendapat telpon.


Wita yang melihat kemunculan Regan langsung berdiri dengan pisau yang teracung ke arahnya.


Tiga orang sekuriti dan Miya menjerit sambil menatap panik. Ngga menyangka akan kenekatan tante Wita.


"Nyonya!"


"Sabar, Nyonya!"


"Tahan, Nyonya!'


"Pak Regan, hati hati," seru Miya juga memberi ingat menimpali ucapan ketiga sekuriti perusahaan.


Mereka bertiga menatap ngeri pada pergelangan tangan nyonyanya yang masih meneteskan darah, akibat telah mengiris nadinya sendiri tadi saat mengancam akan bunuh diri di tempat itu jika Regan ngga datang.


Karena itulah Pak Andi menelpon tuan mudanya. Setelah dipastikan anak tirinya akan datang, barulah Wita tenang. Tapi dirinya tetap menolak untuk diobati lukanya.


Sakit pada lengan ngga dirasakannya karena beliau sudah berkali kali melakukannya di depan Riko dulu.


"Aaahhh!"


"Pak Andiii!"


"Pak Andi!"


Kedua sekuriti langsung mendekati Pak Andi yang terjatuh dengan memegang lengan bajunya yang terkena sabetan pisau Wita. Ada warna merah segar merembes di sana.


Miya pun ikut membantu melilitkan sapu tangannya ke lengan Pak Andi agar darahnya ngga mengalir lagi.


Tadi Pak Andi bergerak maju untuk mengambil pisau yang dipegang tante Wita. Tapi tante Wita menyabetkan pisaunya ke arah Pak Andi, sehinga sekuriti yang berusia empat puluh tahun itu terkena di lengannya.


"Aku bilang jangan mendekat!" bentak tante Wita garang.


Regan menggelengkan kepalanya melihat kenekatan tante Wita.


Dia menggali kuburannya sendiri, batin Regan sinis.


"Kamu! Aku ngga akan melepaskan kamu!" seru Wita marah. Beliau sudah gelap mata. Krisis finansial, anak yang ngga tau diri, dan teman teman sosialitanya yang sudah ngga memperdulikannya, membuat dia mengambil tindakan nekat.


Masalahnya dari dulu selalu Regan. Regan yang selalu menghalangi jalan putranya hingga kini berlaku sangat bodoh memilih tinggal di penjara. Bahkan melihatnya pun, anak itu sudah ngga mau lagi.


Tante Wita pun semakin mendekati Regan yang tampak berdiri tenang. Tapi pandangannya terfokus pada pisau di tangan Regan.


"Ada apa ini?" bentak papa Regan. Dia langsung masuk ke dalam ruangan sekuriti. Mata nya terbelalak kaget melihat Wita yang mendekati Regan dengan pisau bernoda darah di tangannya.


Dia pun terkejut melihat Pak Andi yang terluka di tangannya.


Tante Wita yang mau marah marah dan melukai Regan jadi terdiam, wajahnya langsung pias. Ngga nyangka suami yang sekarang sangat jarang menemaninya ternyata ikut datang bersama anak kesayangan yang sangat dibencinya.


Dia tertangkap basah.


Dasar pengecut, marahnya dalam hati sambil melirik Regan.


"Wita! Kamu sudah gila!" bentak Papa Regan marah.


"Ya, aku memang sudah gila," balasnya ngga kenal takut. Menyerah sekarang juga sudah sia sia. Tetap aja dia akan dipenjara karena sudah melukai sekuriti dan mengancam semua orang yang berada di sini.


"Lepaskan pisaunya!" bentak papa Regan menggelegar


"Nggak akan! Kamu dan anak kesayanganmu harus mati," teriaknya histeris.


Dan tanpa terduga wanita itu menghambur ke arah suaminya dengan pisau di tangannya. Biang penyebab lukanya. Selalu memilih Regan dari pada Riko. Bahkan kini mengabaikannya. Membiarkannya hidup susah lagi melebihi dulu. Entah hilang kemana janji manisnya yang dulu untuk membuat dia keluar dari kemiskinan dan membahagiakannya. Memanjakannya dengan harta bendanya seakan dialah ratunya.

__ADS_1


"TUAN BESAR!"


'TUAN MUDA!"


"Pak Regan!"


"Regan! Ya, Tuhan!"


Suara suara teriakan ketakutan dan kengerian terdengar sahut menyahut di ruang sekuriti.


Regan yang terkejut melihat gerakan tantenya yang sangat cepat ke arah papanya ngga sempat menendang pisau yang bergerak lurus ke arah dada papanya. Dia hanya punya pilihan untuk menyelamatkan papanya dulu, baru nanti memikirkan apa yang akan terjadi padanya.


Regan yang berdiri di dekat papanya pun mendoromg papanya dengan keras hingga terjatuh.


"MATI! MATI!" seru tante Wita yang menancapkan pisau itu sangat dalam ke arah bagian atas dada Regan.


Tante Wita mencabut pisaunya dan bermaksud akan menancapkannya lagi ke tubuh Regan yang lain. Bahkan kini mengarahkan pisaunya tinggi tinggi ke arah leher Regan.


Dengan menahan rasa sakitnya Regan menendang kaki wanita itu.


Tante Wita terjatuh dengan menumpu lutut tapi masih tetap memegang pisau.


Regan pun sempoyangan dan ikut jatuh terduduk. Dan malangnya pisau itu pun meluncur deras ke arah leher Regan


"REGAAANNN!" seru papanya histeris.


"Pak Regaaan," Miya pun ikut menjerit, sangat ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada Regan.


*


*


*


PRANG!


Mama Regan terkejut karena gelas yang dipegangnya tiba tiba saja terlepas. Jatuh ke lantai dan pecah berkeping keping.


Jantungnya berdegup keras. Perasaannya ngga enak. Dadanya terasa sesak.


CEKLEK


"Nyonya? Ada apa?"


"Anda ngga apa apa?"


Kedua pegawainya langsung membuka pintu ruangannya dan mendapati nyonyanya yang sedang terduduk lemas dengan pecahan gelas di sekitarnya.


Ada apa ini? batinnya penuh tanya. Beliau langsung terduduk lemas. Matanya tiba tiba memandang kearah pigura yang berisikan foto dirinya bersama Regan dan Aira saat putri bungsunya wisuda.


Regan, batinnya tanpa sadar. Air matanya tiba tiba mengalir tanpa dia tau apa sebabnya.


*


*


*


Dinda yang sedang memotong tangkai tangkai mawar yang akan dirangkainya untuk di taruh di dalam vas bunga menjerit lirih saat ujung gunting itu mengenai jarinya.


"Aduh," lirihnya sambil memasukkan ujung jari yang terluka itu ke dalam mulutnya. Menghisapnya agar darahnya ngga menetes lagi.


Jantungnya berdebar aneh dan suasana hatinya mulai ngga enak.


Kenapa perasaanku tiba tiba teringat kak Regan, ya? batinnya ngga tenang.

__ADS_1


__ADS_2