
"Kamu sudah ngga kerja di kafe lagi?" tanya Reno sambil memberikan map yang berisi berkas yang sudah dia koreksi pada Rain
Walaupun kesal, Rain merasa terbantu. Ini adalah map keempat. Ngga disangkanya otak Reno cukup cerdas.
Selain memaparkan kerugian yang akan didapat, Reno juga memberikan alternatif alternatif solusi tiap map untuk mendapat keuntungan.
Bahkan Reno membantunya memangkas anggaran yang dapat berujung pada korupsi stafnya.
"Engga."
Reno menatap Rain yang masih sibuk memeriksa berkasnya.
"Siapa yang suka antar kamu malam malam dari kafe?" Reno ngga bisa menahan rasa penasarannya.
"Kak Adi?" tanya Rain sambil mengangkat wajahnya?
Kok dia tau?
"Hem...," dengus Reno kesal mendengar Rain memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Kak Kiano sama Kak Aruna yang nyuruh," tambah Rain lagi saat melihat wajah yang tadi ceria berubah masam.
Reno terdiam. Dia seperti tercubit.
Pasti ini untuk keselamatan Rain.
Sebegitu besarnya perhatian Kiano dan Aruna pada keluarga Pak Ruslan Dintara. Seharusnya itu tugasnya.
"Hari ini kamu ngga ada kuliah?"
"Sekarang lagi skripsi."
Reno menatap Rain kagum.
"Udah bab berapa?"
"bab tiga."
"Itu bab yang harus bolak balik nemuin dosen," kekeh Reno. Mengingat masa lalu saat kuliah dulu. Jika ngga ada abamgnya Alvin, dia mungkin ngga lulus tepat waktu . Di antara mereka bertiga, Alvin sangat pintar dalan akademik. Jadilah Alvin yang mengerjakan tugas skrispsi dirinya.
"Betul," kata Rain mengaku. Sudah empat kali dia menemui dosen pembimbingnya untuk bab tiga, masih juga coretan yang dia dapatkan.
"Harus rajin. Biar cepat di acc," nasihat Reno.
"Iya."
Rain menatap Reno aneh, Kenapa laki laki ini sekarang baik ramah terhadapnya?
"Kenapa?" tanya Reno yang menyadari tatapan aneh Rain.
"Kamu kenapa jadi baik? Biasanya....." Rain ngga melanjutkan. Dia kemudian menunduk.
Kenapa aku jadi baper?
Reno menghela nafas.
"Bisa kita mulai semuanya dari awal lagi?" tanya Reno pelan.
"Mak maksudnya?" tanya Rain dengan jantung berdebar kencang.
Reno menatap Rain lekat.
"Aku ingin memperbaiki yang sudah aku rusak."
__ADS_1
Ren tergugu. Hatinya tersentak. Ingatan tentang perbuatan Reno padanya membuatnya tersadar. Juga laki laki ini yang akan menikah sebentar lagi. Rain merasakan nyeri yang amat sangat.
Dia ngga boleh baper. Pasti laki laki ini hanya ingin minta maaf.
"Sudah telanjur rusak," gumamnya sedih.
"Karena itu .... biarkan aku bertanggung jawab," kata Reno sempat terjeda sebentar. Sulitnya lidahnya mengatakan kalo.dia serius. Reno selama ini selalu bergurau dalam hidupnya. Keseriusan adalah nomer kesekian baginya.
Dengan para perempuannya dulu, sangat gampang dia dapat dan kemudian dia lepaskan. Ngga ada beban seperti saat ini.
"Ngga perlu, kak," jawab Rain agak sewot.
Lak laki ini sudah punya calon istri, tapi dengan entengnya mau bertanggung jawab padanya. Tanggung jawab model apa yang ada dalam otak playernya, batin Rain tersinggung.
"Perlu, Rain," tegas Reno. Harga dirinya terusik karena penolakan Rain.
Rain menghela nafas perlahan, berusaha sabar menahan kekesalannya.
"Nadia gimana?" Mata Rain menatap Reno tajam.
Reno tersenyum baru mengerti penolakan Rain.
"Lihat jari jari tanganku," ucap Reno lagi memamerkan jari jati tangannya di depan wajah Rain.
"Apa, sih," kesal Rain ngga ngerti. Udah dua kali Reno memamerkan jari jari tangannya.
Reno menyerimgai.
"Kamu benar benar ngga ngerti?" goda Reno.
"Nggak!" ketus Rain galak karena merasa dipermainkan.
Reno tersenyum lebar.
"Ada jarinya nggak?" usik Reno lagi.
"Cincinya, sayang. Ada nggak?"
DEG DEG DEG
Cincinnya ngga ada, batinnya menjawab.
Kok, bisa ngga ada?
Ah, pasti disembunyikan, jawab batinnya anti baper.
"Cincinnya jatoh?"
Reno kali ini ngga dapat menahan tawanya.
Susah memang kalo mau serius sama bocil.
Tanpa kata Reno berdiri dan melangkah mendekati Rain yang tambah kebingungan.
"Kita makan siang. Kak Reno lapar," katanya dengan tawa yang tersisa di wajahnya.
Bagi Rain yqng sering melihat wajah dingin Reno mengakui kali ini laki laki itu sangat tampan dan hangat.
Rain masih terdiam sampai dia merasa tubuhnya tertarik berdiri di depan Reno.
"Aku sama Nadia sudah putus. Sekarang yang ada kita."
Tanpa menunggu jawaban Rain, Reno pun mengecup bibir Rain dengan sangat lembut. Tangannya mengeratkan pelukannya pada pinggang Rain.
__ADS_1
Aku janji ngga akan kasar kasar lagi sama kamu. Maaf, sesal Reno dalam hati sambil memperdalam kecupan bibirnya. Rain yang terkesima tanpa sadar balas memeluk dan juga membalas kecupan Reno.
*
*
*
Nadia menatap marah pada mamtan tunangannya dan mantan kasir kafe yang sedang menikmati makanannya dengan akrabnya.
Bahkan wajah yang selalu dingin dan kaku itu kini nampak lembut dan penuh senyum. Bahkan sesekali tertawa lepas.
Dia tau Reno ngga menyukainya. Hanya menuruti tiap maunya. Tapi Nadia meyakininya mungkin nanti Reno akan berbalik menyukaimya.
Tapi nyatanya Reno lebih menyukai mantan pegawai kasir kafe itu.
Kenapa mereka selama ini berpura pura ngga ada hubungan apa pun?
Ngga ada yang salah dengan pembatalan pertunangan mereka. Jauh jauh hari sebelumnya, papa Reno sudah mengatakan kalo Reno belum tertarik untuk serius dengan gadis mana pun.
Tapi waktu itu Nadia berjanji akan rela melepaskan Reno jika laki laki itu menolaknya sebelum hari pernikahan tiba.
Karena itu Nadia yang sudah jatuh cinta dengan Reno memaksa papinya untuk secepatmya tukar cincin dan menikah dengan Reno.
Tapi mantan pegawai kasir kafe ini menusuknya dengan sangat pelan dan hati hati. Bukannya waktu itu dia dekat dengan yang laki laki yang namanya Lilo?
Hati Nadia sungguh panas. Pagi tadi papa Reno mengatakan pembatalan perjodohan dan menunjukkan foto Rain.
Tentu saja Nadia ingat gadia itu. Pegawai kasir kafe yang pernah mereka temui.
Tapi saat dia datang, katanya pegawai kasir kafe itu sudah berhenti bekerja.
Tapi baru saja dia akan meninggalkan parkiran, dia melihat kedatangan mobil Reno. Dan hatinya sakit karena melihat Reno merangkul bahu mantan kasir itu dengan mesra memasuki kafe.
Reno ngga pernah memperlakukannya seperti itu. Apa istimewa mantan pegawai kasir kafe yang sudah dipecat itu dibandingkan dirinya. Jauh sekali di bawahnya.
Sudah setengah jam dia mengamati mereka berdua dengan dada yang seperti disiram bensin.
Dengan langkah panjang Nadia memutuskan menghampiri keduanya.
Rain yang menyadari kehadiran Nadia cukup terkejut.
"Kak Nadia?" ucapnya pelan dan merasa ngga enak.
Dia merasa menjadi pelakor, padahal harusnya engga.
Nadia menatapnya marah. Sementara Reno menatapnya santai.
"Jangan sebut namaku dengan mulut kotor kamu," sentak Nadia dengan bibir bergetar. Matanya terasa memanas menahan tangis.
Saat ini beberapa pengunjung kafe di dekat Rain terfokus pada mereka.
Wajah Rain langsung pucat dikatai seperti itu.
Reno yang ngga ingin Rain malu dan Nadia berbuat lebih dari ini menarik tangan Rain agar bangkit dan pergi meninggalkan kemarahan Nadia yang baginya ngga penting.
Tapi begitu selangkah keduanya pergi, amarah Nadia semakin menggelegak.
B**YURR**!
"Aaah."
Nadia mengambil gelas jus stroberi milik Rain dan menyiramnya ke tubuh Rain. Teriakan beberapa pengunjung membuat perhatian kini tertuju pada Reno yang dengan sigap melindungi Rain dengan tubuhnya.
__ADS_1
Bahkan beberapa pegawai kafe mendekat. Mereka yang mengenal Rain menatap Rain penuh tanya. Termasuk Adi.
"Jangan pernalukan dirinu lebih dari ini," kata Reno datar dan cukup terdengar jelas karena suasana kafe yang berubah hening.