Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Menggoda Aruna


__ADS_3

"Dokter Farel ngga kerja lagi di rumah sakit ini," kata Aruna memberitau ketika mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.


"Syukurlah " jawab Kiano datar. Moodnya langsung buruk.mendengar nama dokter menyebalkan itu disebut.


Aruna yang mengerti karena melihat wajah Kiano yang berubah masam langsung tersenyum dan mengecup sekilas pipi Kiano.


"Kamu sekarang agresif," katanya pura pura menyindir padahal dalam hatinya merasa senang.


"Aku ngga ingin kamu marah," ucap.Aruna dengan wajah tersipunya.


Karena gemas, Kiano meraih wajah Aruna dengan kedua tangannya, lalu mengecup mesra bibir Aruna.


"Aruna, bisakah kamu cuti aja," katanya terengah setelah melepaskan ciuman mesra mereka.


"Ngga lah. Kerjaan kamu juga masih banyak, kan. Tadi malam aja kamu tidurnya jam dua dini hari," tolak Aruna membuat Kiano tersenyum.


"Itu ngga baik buat kesehatan," sambung Aruna lagi.


Kiano mengusap rambut Aruna lembut. Tadi malam mereka nginap di kamar privat ruangan kerja Kiano. Aruna yang kelelahan baru tersadar jam satu pagi dan menemaninya selama satu jam. Setelah itu mereka baru tidur. Beneran tidur tanpa aktivitas lainnya. Pagi pagi sekali mereka kembali ke resort untuk mandi dan berganti pakaian.


"Iya sayang."


"Apa kamu selalu tidur larut malam?"


"Kalo banyak kerjaan aja. Jangan khawatir. Aku udah terbiasa."


Jawaban Kiano malah membuat Aruna tambah khawatir akan kesehatan suaminya. Mendadak Aruna teringat akan penyakit asam.lambung yang diderita Kiano.


"Asam lambung kamu pernah kumat lagi ngga?"


Kiano tersenyum mendapat perhatian Aruna. Teringat dulu Aruna yang sinis saat dia berobat padanya.


"Dulu nanyanya galak banget. Beda sama sekarang," kekeh Kiano membuat Aruna malu.


"Dulu aku, kan, sebel sama kamu."


"Kalo sekarang?" goda Kiano membuat dirinya mendapat pukulan gemas Aruna di bahunya.


"Iyaa ampun, yang," kekeh Kiano makin menjadi.


"Masih galak ternyata," goda Kiano lagi dengan tawa yang berderai derai.


"Sebel sama kamu," marah Aruna campur malu sambil membuka seat belt.


"Maaf ya," bujuk Kiano sambil menahan tangan Aruna yang akan membuka seatbelt.


Aruna masih diam dan memasang wajah cemberutnya.


"Berkat saran dari kamu, aku udah baikan," katanya lembut dengan wajah masih menyisakan tawa.


"Syukurlah," ucap Aruna lega.


"Tapi nanti kalo aku konsultasi lagi, ngga digalakin, kan?" goda Kiano lagi dan kali ini sambil tertawa dia mengaduh karena Aruna memberinya cubitan cubitan kecil.


"Rasain," omel Aruna sebelum akhirnya menjerit kecil karena kedua tangannya yang mencubit Kiano kini berada dalam genggaman suaminya.

__ADS_1


"Sakit Aruna," ucap Kiano dengan wajah memelas, kemudian mengecup lembut kedua punggung tangan itu.


Jantung Aruna serasa berlompatan dengan seru. Pipinya semakin memerah. Tapi rasa damai memenuhi hatinya.


"Janji, ya, kamu harus jaga kesehatan. Jangan tidur larut malam dan minum alkohol. Haram juga, kan, alkohol," nasihat Aruna pelan.


"Ya, sayang, aku janji. Asal kamu selalu di sampingku, jangan pernah pergi lagi," balas Kiano penuh makna.


Aruna ngga menjawab. Tapi hatinya tersentuh dengan kata kata Kiano.


"Love you," bisik Kiano lembut sambil.mengecup pipi Aruna. Kemudian Kiano melepaskan seat belt Aruna.


"Tunggu aku jemput, ya," ucap Kiano sambil membukakan pintu dari dalam.


"Iya," balas Aruna masih dengan pipi meronanya. Dia pun keluar dari mobil kemudian melangkah meninggalkan parkiran sambil melambaikan tangannya pada Kiano.


Kiano tersenyum lebar sambil membalas lambaiannya. Begitu Aruna ngga terlihat lagi, Kiano pun menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit dengan hati sangat bahagia.


Hari harinya kini bersama Aruna selalu dia nanti nantikan. Sepertinya Aruna sudah yakin dan percaya akan cintanya, itu melegakan hati Kiano.


*


*


*


"Pagi dokter," sapa suster Uci ketika melihat Aruna di depan pintu masuk ruangannya.


"Bamyak pasien kita hari ini?" tanya Aruna sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja.


"Kamu ini, kangen, kok, sakit," kekeh Aruna sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


Pagi ini Aruna merasa hatinya berbunga bunga.


Apa karena sikap Kiano tadi ya?


Pipinya terasa panas. Suster Uci tersenyum melihatnya. Timbul niatnya untuk menggoda.


"Berapa ronde tadi malam, dokter?" ledeknya membuat Aruna hanya tertawa menanggapinya.


"Kamu belum nikah, saya ngga boleh cerita. Ntar kepengen," pungkasnya dengan tawa yang berderai derai.


Suster Uci pun tertawa jadinya. Dia merasa dokter Aruna lebih periang sejak menikah.


Mungkin gitu ya rasanya kalo niikah sama orang yang kita cintai, batinnya sedih tapi ditepisnya agar dokter Aruna ngga menyadari kepahitan hatinya.


"Oiya, dokter, tadi ada pasien aneh," lapor Suster Uci kala teringat hal yang janggal di ruang resepsionis pagi ini.


"Apa?" tanya Aruna tertarik.


"Pasiennya nanya kalo dokter mengobati penyakit apa."


"Saya maksudnya?" tanya Aruna sambil menunjuk dirinya.


"Iya. Terus suster Hana bilang kalo dokter Aruna spesialis penyakit dalam. Setelah itu malah pergi ngga jadi daftar berobat."

__ADS_1


Aruna terdiam sebentar.


"Mungkin nanti daftarnya. Tadi nyari info dulu," kata Aruna mencoba berpikir positif.


"Iya, kali dokter. Cuma bagi saya, sih, aneh aja," kata Suster Uci ringan.


Aruna tersenyum, kemudian melihat daftar pasien yang mendaftar tanpa mau memikirkan keanehan pasien tadi.


Ngga lama kemudian Aruna disibukkan dengan memeriksa para pasiennya.


"Dok, kalo pindah ke Jakarta info ke saya ya. Nanti mau berobat ke Jakarta juga, ikut dokter," ucap Bu Lety, pasien lamanya.


"Iya bu."


"Tapi kalo bisa di sini aja, dokter. Jangan pindah," bujuknya merayu.


Aruna tersenyum manis.


"Terpaksa bu. Ikut suami ke Jakarta," jelas Aruna


"Dokter sudah menikah?.Selamat ya, dokter. Semoga Samawa," do'a bu Lety tulus.


"Amin. Makasih, bu," balas Aruna dengan mata berkaca kaca.


"Sama sama dokter."


Beberapa pasiennya sebelum Bu Lety juga sudah mengatakan hal hal yang sama dengan yang disampaikan Bu Lety.


Memang sangat berat bagi Aruna untuk meninggakan rumah sakit yang sudah menorehkan rekam jejaknya selama ini. Tapi dia ngga mungkin hidup terpisah dari Kiano.


Sekarang sudah hampir jam makan siang. Aruna dan susternya sedang bersiap siap ke kantin ketika pintu ruangannya diketok.


"Masuk," sahut Aruna dan suster Uci pun membukakan pintu yang tadi tertutup rapat.


Seorang perempuan sangat cantik berdiri di depan suster Uci.


"Silakan," sambut suster Uci memberikan jalan.


Perempuan itu menatap ruangan Aruna sebelum beralih menatap Aruna tajam. Firasat Aruna mengatakan dia harus hati hati menghadapi perempuan ini.


Perempuan itu nampak sehat di mata Aruna.


"Kenalkan, namaku Claudia," katanya sambil mengulurkan tangamya.


Dengan ragu Aruna menyambutnya.


"Aruna. Kamu bukan pasien?" tanya Aruna sambil menatap lekat perempuan di depannya.


Suster Uci masih terbengong bengong menunggu apa yang akan dilakukan si cantik ini.


"Kamu istri Kiano Artha Mahendra?" tanyanya sambil duduk dengan anggun di kursi pasien Aruna.


"Ya."


Sememtara suster Uci mulai merapat. Jiwa keponya meronta ronta minta dituntaskan rasa ingin taunya.

__ADS_1


__ADS_2