
"Jadi Aruna hampir ditabrak ambulance?" kaget Alva yang baru tau. Kemaren dia ngga ke kantor karena dipaksa mami dan papinya menemui calon istri yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.
"Iya, untung ada susternya itu," jelas Regan yang sudah melihat video yang viral sejak kemarin.
"Suster Uci?" tanya Reno memastikan karena ngga percaya. Sama seperti Alva, diapun kemarin ngga ke kantor karena sibuk dengan meeting di perusahaan papanya.
"Iya," tegas Glen.
Sedangkan Kiano hanya diam saja. Pikirannya masih mengkhawatirkan Aruna walauoun dokter Burhan sudah memberikab jaminan akan melindunginya.
"Mana videonya, gue mau lihat," kata Reno langsung menyambar ponsel Regan yang sedang menonton ulang tayangan live itu.
Reno ngga nyangka suster yang suka dia ajak jalan dan cukup centi itu ternyata gesit dan berani sekali menyelamatkan Aruna yang sudah ngga bisa bergerak sedikit pun saking kagetnya.
"Itu sepertinya ada yang dorong kereta pasien," cetus Alva yang ikut menonton.
"Ada perawat laki laki juga di sana. Katanya abis bawa pasien ke basemen," kata Kiano menjelaskan.
"Perawat laki laki itu sigap ya. Refleknya bagus. Kalo ngga ada dia, Aruna dan susternya pasti terluka," komen Alva penuh syukur. Ngga bisa terbayatng bagaimana ngerinya jika Aruna dan asisten centiknya itu sampai terlindas ambulance.
"Udah ketemu pelakunya?" tanya Arga sambil menatap Kiano.
"Lagi diselidiki."
"Lo ngga curiga sama siapa gitu?" tanya Reno sambil menatap Kiano serius.
Masa ngga ada suspect?
"Karena targetnya Aruna, gue yakin pelakunya perempuan," tebak Alva yakin.
"Perempuan?" Alis Regan berkerut.
Mungkin juga, perempuan kalo udah cemburu sangat mengerikam, batinnya mulai terpengaruh.
"Maksud lo saingan Aruna yang patah hati?" Reno rasanya ngga percaya.
Nabilah, Sasya atau Monika? Ngga mungkin, Reno menggelengkan kepalanya ngga percaya. Dia cukup mengenal.ketiganya. Nabila dan Sasya adalag dua gadia cantik.yang super manja. Sedangkan Monika ngga mungkin akan merusak karir modelnya.
"Monika?"
"Sasya?"
"Atau Nabila?" tebak Reno langsung mengeluarkan semua isi kepalanya.
"Claudia," sambung Regan membuat mereka semua berpaling padanya.
"Gadis itu terlihat jelas menyukai Kiano," tambahnya lagi, ngga peduli dengan sorotan ngga juga Glen.
"Masalahnya apa lo punya bukti?" tanya Glen ngga terima. Dia sudah telanjur menaruh hati pada Claudia. Reno dan Alva juga begitu.
"Belumlah. Makanya mau diselidiki," tukas Arga yang bantu menjawab. Suasana mulai terasa tegang dan cukup panas.
Kiano malah memikirkan kata kata Aruna yang menyebut jika paginya Claudia ke ruang prakteknya di rumah sakit.
Dia jadi menyesal karena terlalu meremehkan perasaan Aruna hingga ngga membiarkan Aruna menceritakannya dengan lengkap.
"Saat kejadian itu terjadi, Claudia dengan timnya datang ke sini membahas proyek yang akan kita kerjakan," ucap Glen membela Claudia.
"Dia bisa menyuruh orang untuk melakukan kejahatan pada Aruna," tandas Regan walau ngga begitu yakin dengan asumsinya. Hanya dia merasa kalo kedatangan Claudia kemaren seperti disengaja untuk menahan Kiano pergi menjemput Aruna.
__ADS_1
"Lo ngga bisa jadiin Claudia kambing hitam. Bukti aja lo ngga punya," kesal Glen dengan ketus.
Mereka terdiam. Glen terlihat aneh.
"Lo.beneran suka sama Claudia?" tanya Arga seperti sebuah desakan.
"Kalo iya kenapa?" tanya Glen menantang.
"Gue mundur," kata Reno yang malas saingan dengan sahabat sahabatnya kalo soal perempuan. Bukan merasa kalah saing, tapi baginya sahabat susah dicari. Apalagi Glen yang sudah dia kenal sejak SMA sampai sekarang. Perempuan baginya gampang Kuotanya saja sudah melebih laki laki berdasarkan penelitian yang bisa dipercaya.
Masih banyak di luaran perempuan cantik, seksi dan kaya, batinnya enteng.
"Gue juga. Buat lo aja si Claudia," sambung Alva. Dia bisa melihat keseriusan Glen.
Tumben, batinnya. Tapi akan jadi masalah besar kalo Claudia dalang dari peristiwa hampir celakanya Aruna. Pikiran Alva jadi kacau. Masalah pertunangannya belum selesai ditambah lagi dengan masalah baru. Semuanya bertemakan perempuan.
Perempuan memang buat pusing.
"Tapi suster Uci ngga apa apa, kan?' tanya Reno mengalihkan topik pembicaraan. Dia ngga suka melihat ketegangan antara Glen dan Regan. Reno menyukai kedamaian dan suasana santai.
"Dia baik baik saja," jawab Kiano sambil memandang wallpaper diponselnya. Foto wajah Aruna yang sedang terlelap setelah mendapat kepuasan darinya. Hanya wajahnya saja. Bahkan leher jenjangnya ngga terekspose.
"Jangan bilang lo jadinya beneran suka sama susternya Aruna," kekeh Alva mengejek membuat suasan tegang mulai mencair.Glen yang tadi agak mengeraa rahangnya mulai tersenyum. Begitu juga Regan dan Arga.
Reno ikut tertawa.
"Dia itu seperti adikku," kekehnya selenih hati.
"Syukurlah, sepertinya dai punya hubungan dengan perawat laki laki yang medorong brankar itu ke ambulance," kata Kiano memberi tau.
Gerak gerik keduanya membuat Kiano menatik kesimpulan begitu
"Oya? Syukurlah kalo begitu," respon Reno tetap dengan tawanya.
Aruna dan suster Uci yang sedang menunggu Kiano di lobi rumah sakit, di kejutkan dengan kedatangan Reno yang membawa satu buah paper bag.
"Mas Reno," panggil suster Uci excited membuat Aruna menggelengkan kepalanya melihat reaksi manja asistennya.
"Hai," sapa Reno.sambil mengulurkan paper bag pada suster Uci.
"Buat kamu," katanya lagi begitu sang suster menerimanya.
"Hai Runa. Kiano bentar lagi nyampe, kok," sapa Reno pada Aruna.
"Oh iya."
"Ini apa mas?" tanya suster Uci sambil melirik ke dalam paper bag.
"Lihat aja," sahut Reno dengan senyum menggodanya. Rasanya persis seperti dia menggoda adiknya. Saat ini adiknya beada di Turki bersama mamanya. Keluarganya sudah berpisah belasan tahin yang lalu. Reno memilih bersama papanya yang gila kerja. Sudah hampir setahun dia ngga bertemu adiknya karena kesibukannya. Tapi bersama asisten Aruna, rasa rindu pada adiknya sedikit berkurang
"Woi, tas gucci! Ini asli ya mas?" seru Suster Uci ngga percaya.
"Mana mungkin mas Reno ngasih barang ka we," gelak Reno.
Aruna mencibir.
Dasar laki laki buaya, ejeknya dalam hati.
Aruna melihat sekitar, dia takut Januar sang perawat idaman asistennya melihat dan jadi salah paham. Apalagi suster Uci terlihat sangat melayani sikap buaya Reno.
__ADS_1
Kamu ngga ada kapoknya, keluh Aruna sambil melihat sebal pada susternya yang sedang tertawa tawa kegirangan.
Bagi Reno, tas itu adalah ucapan terimakasihnya karena suster Uci telah menyelamatkan Aruna.
Reno ngga bisa membayangkan betapa stres dan frustasinya Kiano jika Aruna terluka atau bahkan sampai kehilangan nyawanya.
Secara waktu Aruna menolaknya aja Kiano sudah uring uringan ngga jelas. Minum alkohol lagi dan mereka semua kena semprotannya.
"Mau pulang bareng aku?" ajak Reno mulai memancing di air keruh.
"Ma...eh, aduh, saki,t dokter," ringis suster Uci yang mendapat cubitan kejam.Aruna di lengannya.
Reno kembali tertawa melihat Aruna mendelikkan matanya. Tangannya memberi isyarat pada Reno, mengusirnya segera pergi karena melihat bayangan Januar ngga jauh dari situ.
Reno.kembali tergelak mengerti. Sudut matanya pun menangkap sosok bayangan itu.
"Mau pulang sama pacar, ya?" tanya Reno menggoda lagi.
Wajah Suster Uci merona..Dia lalu melihat sekitar dan matanya bersirobok dengan Januar yang berdiri ngga jauh dari tempatbya berada.
Astaga, batinnya tersadar. Dia mulai takut kalo Januar kembali marah dan mencuekin dirinya.
"Em.. Iya, mas," jawab Suster Uci malu malu.
Demi Januar, dia membuang laki laki high quality di depannya.
"Oke," sahut Reno tenang, apalagi melihat bayangan itu mendekat.
"Dokter, apa Janu akan marah?" bisik suster Uci jadi kalut.
"Kali," jawab dokter Aruna sinis. Dia kesal karena suster Uci ngga ada kapoknya membuang Januar yang nantinya akan ditangisinya.
"Kita pulang?" tanya Januar saat sudah sampai di depan mereka. Wajah ya terlihat ngga suka melihat Reno yang masih belum beranjak.
"Terimakasih," kata Reno mengagetkan mereka. Bahkan tangan Reno terulur di depan Januar.
Dengan perasaan canggung dan heran, Januar menyambut uluran tangan Reno, membuat suster Uci menghembuskan nafas lega.
"Kalo ngga ada kamu, mereka berdua mungkin bisa celaka," ucap Reno tulus membuat Aruna merasa malu dengan prasangka buruknya pada Reno.
"Saya kebetulan ada di situ," kata januar merasa sungkan. Ngga nyangka akan sikap sopan rivalnya. Awalnya tadi Januar bepikir akan adu otot dengan laki laki yang dia pikir adalah saingan beratnya.
"Pulanglah duluan suster. Biar saya yang menemani dokter Aruna," kata Reno sambil menatap suster Uci yang jadi tersipu.
"Iya, sana duluan. Hati hati ya, Janu," kata Aruna dengam senyum tulusnya.
"Kita duluan dokter, mas Reno," pamit suster Aruna tetap manja.
"Kami duluan," kata Januar dan tanpa ragu menggandeng suater Uci. Keduanya pun melangkah pergi sambil sesekali suster Uci melambaikan tangannya.
"Tuh, mobil Kiano," kata Reno ketika melihat mobil Kiano yang mendekat.
Aruna tersenyum kemudian menatap Reno.
"Maaf, sudab sempat berprasangka buruk sama kamu," aku Aruna jujur membuat Reno tersenyum lebar.
"Wajarlah kamu berpikir begitu," jawabnya ringan.
"Suster itu sudah seperti adikku," sambung Reno lagi sambil menatap Kiano yang sudah memarkirkan mobil di samping mereka.
__ADS_1