Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Antisipasi


__ADS_3

Glen yang sedang berada di ruangan kerjanya, menatap malas pada ponselnya yang bergetar.


Alva? Ngapain dia telpon. Kerjaan lagi banyak banyaknya, malah ngilang, omel Glen dalam hati.


Akhirnya diangkat juga tanpa melihat ponselnya. Glen menghidupkan loud speakernya.


"Ada apa, Al. Gue lagi ngga bisa nemenin lo minum," tolak Glen langsung.


Ngga ada balasan membuat Glen heran.


Kepencet apa? Benar benar mengganggu, omelnya dalam hati kesal. Saat ini dia memang sangat sibuk karena pekerjaan yang menumpuk.


Tapi dia terbangnn dari duduknya saking kagetnya mendengar suara perkelahian.


"Al, lo lagi berantem sama siapa?" serunya kaget.


Tapi dia ngga mendengar jawaban Alva. Malah dia mendengar ringisian Alva beserta suara pukulan benda tumpul dan bentakan kasar dari banyak orang.


Dia dikeroyok? batin Glen sambil mengambil stik golfnya. Dia pun membuka pintu dengam tergesa gesa. Apalagi suara ringisan Alva makin sering terdengar.


"Lo mau kemana bawa stik golf malam malam begini?" tanya Regan kaget. Dia dan Arga baru saja keluar dari ruangannya.


"Alva lagi dikeroyok. Ambil apa aja yang bisa buat balas mukul," jawab Glen seperti ujan.


Kecemasannya akan nasib Alva membuatnya lupa akan kemangkelannya pada Regan.


"Haah" kaget keduanya kemudian balik masuk ke ruangan Regan.


Keduanya sama seperti Glen, membawa keluara stik golf.


"Lho pak? Malam malam maen golf di mana?" tegur Nova heran melihat ketiga bos gantengnya masing masing membawa stik golf.


"Kamu bawel banget. Kiano ada di ruangannya?" semprot Glen kesal membuat Nova merasa ngga enak sudah sok akrab.


Tapi ada yang aneh, padahal biasanya Glen ngga pernah marah. Glen bos tersantai. Tapi sekarang mimik wajahnya menyiratkan ketegangan dan kecemasan.


Ada apa, ya?


"Pak Kiano ngga masuk kerja lagi, pak. Setelah menjemput Ibu Aruna, katanya mau kumpul di rumah kakeknya," jelas Nova takut takut, ngga se pede tadi.


Tanpa menjawab, Glen berjalan cepat ke arah lift. Regan dan Arga mengikutinya di belakang tanpa.suara.


"Lo tau dari mana Alva dikeroyok?" tanya Arga penasaran. Hatinya bertambah kesal karena Glen ngga menjawab, malah terus saja berjalan cepat ke arah lift.


Begitu mereka berdua masuk ke dalam lift, barulah Glen menghidupkan loudspeakernya lagi.


Regan dan Arga saling pandang mendengar suara pukulan dan tendangan tiada henti. Suara Alva kadang kadang terdengar tapi samgat lemah.


"Ini Alva?"cicit Arga ngga percaya.


Harusnya Alva mengajak dirinya kalo mau berantem, kesal Arga dalam hati campur cemas. Dia yakin saat ini Alva sudah babak belur.


"Sepertinya dia lagi dihajar abis abisan," komen Regan sambil mengeratkan pegangan pada stik golfnya.


Bertahanlah, batinnya berharap.


Siapa yang berani mengeroyok Alva, batnnya lagi ngga abis pikir.


Mereka belum lama di kota ini.


"Tepatnya oleh banyak orang. Entah apa yang sudah dia lakukan. Nasibnya sangat buruk sekali," tandas Glen yang satu pikiran dengan Regan.


"Dia bisa aja mati," lrih Regan bergumam. Ketiganya ngga menjawab. Saat ini di kepala mereka hanya ingin menyusul ke tempat perkelahian Alva.

__ADS_1


Untung mereka masing masing punya GPS yang sangat berguna untuk mengetahui keberadaan masing masing.


*


*


*


"Kak Aisha beneran mau di jodohkan?" tanya Nita ngga percaya. Apalagi melihat calonnya.


Sangat tampan, pujinya dalam hati.


Dia akui kehebatan papinya dalam mencarikan jodoh buat kakaknya. Laki laki ini sangat berkelas dan kualitasnya ngga main main.


Saat ini mereka sedang berkumpul bersama kakek neneknya, mami papi, Aruna dan Kak Kiano, di ruang keluarga.


"Kalo kamu suka, ambil aja buat kamu," tukas Aisha cuek membuat papi dan maminya mengelus dada. Kakek dan neneknya hanya tersenyum tipis. Reaksi Aisha sama seperti Kiano waktu mau dijodohkan. Ngga terlalu berminat


Sedangkan Kiano teegelak melihat reaksi kakaknya. Dia sangat senang karena kakaknya ngga tertarik walaupun Melvin sangat tampan dan bermasa depan cerah.


Pergaulan bebas laki laki itu ditambah lagi merupakan kakak Claudya membuat Kiano samakin enggan menjadikannya sebagai kakak ipar.


"Ganteng banget loh, kak. Kakak ngga nyesal kasih ke aku?" goda Nita genit genit manja.


"Enggak lah. Kakak ikhlas," sahutnya makin membuat maminya mengurut dada. Sementara papinya hanya tersenyum miring.


'Nita, itu punya kakak kamu. Kalo kamu ngebet mau nikah, nanti sama papi mu akan dicari yang berkualitas sama seperti ini," ucap maminya pedas membuat Nita memanyunkan bibirnya.


"Kalo kakak ngga mau, kan, ngga apa buat aku, Mi. Mubazir," kilah Nita membuat yang ada di situ menggelengkan kepalanya melihat kelakuannya.


"Kamu...." sungut mami yang langsung direngkuh suaminya.


Aisha tertawa kecil. Dia melirik Kiano yang tampak senang karena dirinya menolak Melvin.


Kiano merasa ponselnya bergetar, nama Reno ada di dering panggilnya


"Ada apa?"


"Lo lihat foto yang gue kirim ke lo," balas Reno membuat Kiano melihat pesan yang sudah masuk sebelum Reno menelponnya.


Wajah Kiano langsung berubah. Dari santai jadi menegang.


"Ada apa?" tanya Aruna heran dan langsung memiringkan wajahnya menatap ponsel Kiano.


Aruna jadi kesal melihatnya. Foto Kiano yang sedang disuapin Claudya.


"Ini ngga benar."


Aruna menatap heran Aisha yang malah membela Kiano. Bukan Kiano yang mengklarifikasi.


"Kakak dan papa ada di situ," tambah Aisha lagi. Rupanya dia juga mendapat kiriman foto itu di grup chatnya.


"Ada apa?" tanya mami heran melihat air muka ketiganya keruh.


"Kakek penasaran," tambah sang kakek karen melihat ketegangan di antara ketiganya, cucu cucu dan menantunya.


"Kak Kiano? Apa ini benar?" seru Nita kaget. Dia menatap Kiano ngga percaya.


"Ada apa, sih?" nenek Ikutan penasaran.


"Iya, ada apa?" Papi juga ikut bertanya.


Kiano dengan tenang memberikan ponselnya pada papinya, sementara sebelah tangannya tetep merangkul bahu Aruna yang kini menunduk menahan kesal.

__ADS_1


"Ini ngga mungkin," seru mami sambil menatap marah Kiano.


Kapan ini? Siapa perempuan ini? Mami berusaha mengabsen putri putri sahabatnya.


Papi yang melihat foto itu langsung tertawa membuat mami, Nita, nenek, kakek dan Aruna menatapnya heran. Suaminya masih saja tergelak gelak bahkan sampai menghapus air mata yang keluar.


"Papi," sentak mami kesal.


"Iya, mi, papi jelasin," kata papi sambil berusaha menghentikan tawanya.


Kakek Suryo yang awalnya tegang dan ingin memukul cucu nakalnya dengan tongkat jadi mengendur kemarahannya.


Melihat tanggapan menantunya yang sangat santai, dia sadar, pasti foto itu cuma rekayasa.


Papi mengeluarkan ponselnya. Untung beliau sudah mengantisipasi. Aries yang dimintanya untuk mengambil beberapa foto pertemuan mereka siang tadi bahkan sudah mengirimkannya ke ponselnya.


Beliau sudah menduga pertemuan mereka tadi akan disalah gunakan oleh pihak pihak yang ngga bertanggung jawab.


"Ini foto yang asli," kata papi sambil menunjukkan ponselnya ke istrinya.


Istrinya pun dengan cepat menyambar ponselnya dengan ngga sabar.


Matanya membesar ngga percaya.


"Benar benar kurang ajar," desisnya marah. Kemudian menunjukkan pada Aruna yang di dekati Nita dan neneknya.


Keduanya menggeram marah. Sedangkan Aruna mulai merasa lega.


"Ini aslinya?" kesal Nita. Untung papinya punya bukti otentik


Aruna menatap Kiano malu karena sudah menduganya macam macam.


Kiano tersenyum lembut.


"Aku sudah merasa aneh dengan pertemuan tadi siang. Makanya aku meminta Aries ikut. Dia yang mengambil foto itu. Karena dirasanya cukup penting. Bahkan ada videonya," jelas papi panjang lebar.


"Ini putrinya Herman?" tanya kakek Suryo memastikan.


"Ya pi. Yang mau dijodohkan itu anak laki lakinya ke Aisha," jelas papi lagi.


"Oooh," kata kakek Suryo manggut manggut.


Padahal anak laki lakinya sangat tampan, batinnya sedikit menyesal.


"Aries juga sudah memposting foto beserta videonya," lanjut papi dengan senyum lebar.


"Makasih, ya, pi," ucap Kiano salut sama pikiran papinya yang sudah melibatkan Aries. Walau sering menjengkelkan, tapi yang Aries lakukan sangat berguna saat ini.


"Herman itu licik, papi sudah tau itu sejak lama. Biar dia tau, sedang melawan siapa," tandas papi tegas.


"Mami sayang banget sama papi," ucap mami manja sambil menempel di dada suaminya membuat papi tergelak lagi


"Papi memang TOP," puji Nita sambil mengangkat jempolnya.


Aisha pun tersenyum karena salah paham ini sudah menemukan penyelesaiannya. Terlalu cepat tanpa drama ngambek Aruna yang berkepanjangan.


Syukurlah, batinnya. Dia pun ngga yakin kalo perjodohannya benar benar tulus dilakukan.


"Maaf," bisik Aruna sambil tambah membenamkan kepalanya di dada Kiano. Dia merasa bersalah terlalu mudah ngga percaya sama Kiano.


Tangan Kiano mengusap lembut puncak kepala Aruna.


"Aku suka kamu cemburu," kata Kiano sambil mengetatkan pelukannya.

__ADS_1


Jika aja mereka berdua berada di kamar, pasti Aruna ngga akan diberinya kesempatan untuk bebas karena sudah meragukan hatinya.


__ADS_2