
"Akhirnya Arga nikah juga," gelak Alva dengan wajah sumringah.
"Hampir kesalip lagi sama Reno," sambung Glen ngakak. Ngga tahan mengingat nasib Arga.
"Ngga tega gue nyalib dia," timbrung Reno juga tergelak.
"Iya, lo udah dapat tiket pesawat sama bokingan hotel, kan?" sindir Alva ngakak.
"Arga bayarin lo bulan madu biar ngga nyalib?" kaget Glen sama sekali ngga tau. Karena waktu perjanjian lisan itu dicetuskan saat Glen berada di pelaminan bersama istrinya.
"Yesss!"
"Pantasan dia kelihatan mulai tenang nyiapin pernikahannya," ngakak Glen sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Kiano dan Regan hanya melebarkan cengiran mereka. Begitu juga pasangan mereka. Hanya istri Glen yang ngga bergabung. Dia lebih memilih bersama Aisha - kakak Kiano, yang masih sendiri tanpa pasangan.
Glen membiarkannya, lagian kasian juga melihat Kak Aisha berdiri sendirian. Glen juga tau istrinya masih sungkan berkumpul dengan teman temannya yang tentunya lebih muda usianya dari dirinya
"Lihat Arga akhirnya menikah, rasanya lega, ya," kata Regan beberapa menit kemudian.
"Ya," sahut Kiano sambil menganggukkan kepalanya.
Tau bagaimana besarnya cinta Arga untuk Ayana, walau pun sudah lama tiada.
"Qonita memang cocok dengan Arga. Bisa buat Arga kelimpungan," komentar Reno ringan, tanpa beban.
Kayak lo enggak aja, ejek Glen dengan cibiran ke arah Reno.
Reno melebarkan senyumnya sambil memgangkat dua jari nya ke dekat wajahnya.
"Peace," tukasnya karena tau sindiran Glen untuknya. Karena Glen yang tau cerita susahnya mendapatkan Rain kembali.
"Itu anak siapa? Lucu banget?" tanya.Reno sambil menatap anak perempuan gendut yang lucu sedang berdiri di antara Arga dan Qonita.
"Anak Kak Arik," jelas Regan.
"Lucu ya, anaknya. Gemesin," kekeh Rebo saat melihat anak perempuan itu yang terus bergaya saat kamera kamera menyorot sang pengantin.
"Iya," balas Regan juga terkekeh.
"Lucu juga punya anak segendut itu," kata Alva sambil melirik Tamara yang sedang hamil muda.
"Ehem," ledek Glen membuat Tamara jengah. Alva hanya terkekeh.
"Glen, lo manggil istri lo apa?" tanya Reno tiba tiba teringat topik yang sempat mereka bahas saat pernikahan Glen dan Kak Armita.
"Sayang, dong," kata Glen cuek.
"Sumpah bukan kakak?" canda Alva membuatnya mendapatkan pelototan dari Glen.
"Kakak moyang lo," dengusnya jadi kesal.
"Kakek moyang," koreksi Regan dengan senyum miringnya.
"Tau gue," bantah Glen ngga merasa salah.
Kembali mereka terkekeh dengan ulah Glen yang mulai uring uringan.
"Kok, lo bisa merid dengan kak Armita? Gue penasaran," tanya Alva setelah tawa mereka reda
"Betul, gue juga penasaran," tambah Reno kepo.
"Kita dijodohkan," jawab Glen singkat. Ngga bakal dia buka aibnya di hadapan sahabat sahabat yang suka sekali membully.
"Bukannya Kak Armita sudah ditunangkan dengan orang lain?" cetus Kiano.
"Gue juga taunya gitu," tambah Alva masih dengan kernyit herannya.
"Namanya ngga jodoh. Tapi gue beruntung karena gue yang jadi suaminya," kilah Glen asal.
Kiano menatapnya tajam. Dia semakin yakin ada yang disembunyikan Glen.
Tapi Glen memang beruntung. Armita sangat mengurus dirinya. Dalam hal sekecil apa pun Glen sangat bergantung sekarang pada Almira.
Dari nyiapin baju kerja, memakaikannya dasi, selalu masak yang enak enak untuknya, dan masih banyak lagi.
Armita memperlakukannya bagai raja. Dan yang membuat Glen sangat senang Armita ngga pernah menolak sentuhannya, keinginan panasnya. Bahkan dibalik sikap judes Armita, dia sangat garang saat mereka sedang berci*nta.
Glen benar benar suami yang sangat beruntung mendapatkan istri multi talenta seperti Armita. Mantan tunangannya saja yang sangat bodoh karena sudah mengkhianatinya.
"Ooo," balas Alva dan Reno kompak. Bagi mereka sudah cukup jawaban dari Glen. Ngga perlu dibantah lagi.
"Eh, itu kan Meti dengan Riko," seru Reno ketika mengalihkan tatapannya ke arah pintu masuk.
Mata elang Alva langsung menyambar ke arah yang dituju Glen.
"Gila, kapan mereka jadi dekat?" heran Alva.
"Kok, bisa?" gumam Regan juga ngga percaya.
"Kalian ngga tau?" ejek Reno
Dua orang yang baru masuk adalah memang Meti dan Riko. Bahkan Riko menggandeng lengan Meti cukup mesra.
"Dari pada Meti bunuh diri. Mending dia dengan Riko," tambah Reno lagi.dengan melirik Glen penuh arti.
Glen pun menatap Meti dengan tatapan ngga terbaca. Sejak peristiwa malam itu, Meti menghindarinya setelah Glen berniat bertanggung jawab
Gadis itu berkeras kalo mereka hanya tidur saja.
Alva saling tatap dengan Regan. Keduanya sudah siap mendekati Meti tapi bisikan Kiano menahan lamgkah keduanya.
"Kalian mau ngapain? Mau buat istri kalian cemburu?"
Alva pun menoleh pada Tamara yang menatapnya sinis. Sedangkan Dinda hanya menatap.Regan heran, ngga ngerti. Dia memang ngga tau apa apa, beda dengan Tamara
Alva merasa jantungnya hampir copot.
Waduh, aku buat dia marah, batinnya mulai ngga tenang.
Riko dan Meti sengaja menjauhi kerumuman Alva dan Regan.
"Kamu terlihat ngga nyaman," canda Riko menyindir. Dia tau kisah Alva dan Meti. Tapi dari nada suaranya ngga ada percikan marah. Riko terlihat cuek dan bodoh amat.
"Apa an, sih," ketus Meti sambil menatap Riko marah.
Bukan hanya ada Kak Alva dan Tamara yang membuatnya dongkol, tapi juga ada Kak Glen yang membuatnya sungkan.
__ADS_1
Harusnya dia dan Riko datangnya lebih malam jadi ngga perlu ketemu rombongan itu.
"Kita ngga apa ke sana, sekalian ngasih tau hubungan kita," seloroh Riko ringan. Dia tau tadi Regan menatapnya heran.
Meti melototi Riko ngga suka.
"Ngga perlu."
"Aku masih curiga kalo kamu masih suka sama Alva," kekeh Riko anteng.
Dia pun heran kenapa mau mau saja menerima pernyataan Meti yang ingin jadi pacarnya. Apalagi Meti mengajaknya ke pesta Arga. Riko yakin, pasti ada Regan di sana, juga Alva.
"Sembarangan," sangkal Meti gemas dengan kesantaian Riko.
"Cium aku," tantang Riko sambil keduanya tangannya dimasukkan ke saku celananya.
"Apa?" kaget Meti ngga nyangka akan kata kata Riko. Wajahnya jadi merona.
"Kenapa? Ngga bisa?" tantang Riko dengan wajah menyebalkannya.
"Oke," sahut Meti kemudian dengan cepat menyentuhkan bibirnya sekilas pada bibir Riko.
"Udah! Puas!," ketus Meti dengan wajah cemberutnya.
Alva dan Regan terperangah melihat keberanian Meti. Begitu juga dengan Kiano dan yang lainnya.
"Bukan begitu ciuman yang benar."
Dengan cepat Riko memeluk Meti.dan mel*um*at bibir perempuan manja ini sampai memgeluarkan suara decakan.
"Riko sudah gila," marah Alva melihat kelakuan Riko yang ngga melihat di mana mereka berada. Perhatian beberapa tamu pun tertuju pada keduanya.
"Biarkan saja," ucap Glen menenangkan. Kembali dia mendapatkan lirikan penuh ejekan dari Reno.
Tapi dia salut dengan keberanian Riko. Padahal ada Regan.
"Ya sudah, biarkan saja. Gue percaya sama Riko," kata Regan setelah mulai memahami situasi.
Tenang, Alva. Tenang, batinnya berkali kali. Dia ngga cemburu, hanya jiwanya sebagai kakak yang takut Meti dipermainkan laki laki.
Arga kini sudah berada di pelaminan bersama Qonita. Wajah keduanya terlihat bahagia. Bahkan Zizi juga betah berada di antara keduanya.
"Anak lo tuh, ntar malam jangan gangguin mereka,' canda Athar yang berdiri di samping Almira, istrinya yang kehamilannya sudah cukup besar.
"Pengennya, sih, gue biarin Zizi tidur bareng mereka. Gue pengen bikin Qoni kesal di malam pertamamya," kekeh Arik yang ngga lama kemudian meringis karena dicubit istrinya - Zesa.
"Aku ambil Zizi dulu. Dia belum makan lagi, " kata istrinya sambil mengelus bekas cubitannya pada lemgan suaminya.
"Kamu itu, selalu kejam sama suami," sungut Arik pura pura marah, tapi cubitan Zesa - istrinya, sejatinya cukup membuat kulitnya memerah.
"Manja. Gitu aja sakit," cibir Zesa lalu tertawa mengejek.
"Sakit, sayang," rengek Arik manja.
Istrinya hanya mencibir.
"Susah punya laki lemah."
"Aku ngga lemah, sayang. Tapi cubitan kamu sangat kejam. Lihat, nih, beneran akit," adu Arik dengan gaya lebaynya.
Athar dan Almira terkekeh melihat kelakuan pasangan ngga tau umur di depan mereka.
"Aku ikut," masih terkekeh Almira menjejeri langkah Zesa.
"Hati hati, *ho*ney," kata Athar mengingatkan.
"Iyaa, Athar," sahut Almira dengan senyum.manis di bibirnya.
"Aku akan jaga dia baik baik," kekeh Zesa membuat Almira terkekeh.
Athar hanya menganggukkan kepalanya dengan balas tersenyum.
"Zizi kalo makan berapa kali?" tanya Athar sambil melayamgkan pandangannya pada tubuh gendut Zizi. Terlihat sangat menggemaskan.
"Ngga tau juga gue. Zesa sama mami Qoni yang sering banget ngasih Zizi makan maupun cemilan. Padahal mama gue sudah wanti wanti karena Zizi sudah cukup gendut," balas Arik jujur.
"Susah juga kalo gitu. Yang penting lo sering periksakan kesehatannya," nasihat Athar
"Tentulah," sahut Arik cepat. Dua minggu sekali mereka membawa anak semata wayangnya untuk periksa ke dokter langganan Zizi.
Sementara itu Aisha dan Armita mulai mengambil puding. Aisha yang penasaran mulai mengulik perasaan Armita yang sebenarnya terhadap suaminya, Glen, salah satu sahabat tengil adiknya.
"Gimana rasanya nikah sama brondong?" ledek Aisha sambil memilih puding yang akan dia nikmati.
"Hemm.... Lo coba aja," jawab Armita cuek. Sementara itu matanya terus nelirik Glen dan teman temannya yang tertawa tawa heboh.
Tanpa sadar dia menarik nafas panjang. Nasibnya menikahi bocah.
Aisha mengikuti tatapan Armita kemudian tambah tersenyum lebar.
"Kenapa ngga gabung dengan Glen dan yang lainnya?" ledek Aisha lagi.
"Aisha...... Ish...." kesalnya sedikit memohon.
Aisha pun tertawa kecil.
"Tapi kamasutranya oke, kan?" tebak Aisha lagi semakin senang menggoda.
Wajah Armita sampai merona. Umur memang boleh muda, tapi suaminya sepertinya sudah sangat pengalaman menyenangkan perempuan di atas ranjang.
Armita yang selalu menolak bila mantan tunangannya yang ingin selalu tidur dengannya, tapi kini dengan Glen, malahan dia mempersilakan suami brondongnya melakukannya berkali kali. Dan dia pun dengan ngga malunya sangat atraktif.
Dari wajahnya, Aisha tau kalo tebakannya benar. Dia kembali tertawa.
"Kamu dengan Melvin gimana?" pancing Armita mengganti topik. Armita sempat melihat keduanya berada di restoran beberapa hari yang lalu.
"Biasa aja," sahutnya berahasia.
"Kamu ngga takut Melvin balas dendam?" tanya Armita hati hati.
Papa dan adiknya meninggal karenq bermasalah dengan adik Aisha, Kiano.
Aisha hanya tersenyum tipis walau galau.
Itu juga yang membuatnya ragu menerima cinta aneh Melvin. Walaupun sebagai perempuan dia cukup tertarik karena laki laki itu selain sangat tampan, juga sangat menyayangi mamanya.
Aisha belum membicarakannya dengan papa, mama atau pun Kiano tentang hubungan ngga jelas mereka.
__ADS_1
Aisha tau dia salah membiarkan perasaannya yang mengelana bebas.
Tanpa ikatan, tapi mereka sudah berciuman mesra. Walau hanya waktu itu saja.
"Eh, itu Melvin datang," bisik Armita ketika melihat laki laki yang menjadi topik mereka muncul sendirian dan menghampiri Athar dan Arik.
Aisha meliriknya dengan jantung yang mendadak berdebar kencang.
Jantungnya mulai bermasalah saat Melvin menciumnya tiba tiba di ruangannya.
Saat itu......
Aisha sedang menerima kedatangan Melvin yang mendadak muncul di perusahaan desainnya. Dia meminta Aisha membuatkan desain khusus kebaya buat mamanya. Karena mamanya akan berulang tahun sebentar lagi.
Walau agak rikuh, mengingat hubungan keluarga yang kurang baik di antara mereka, tapi Aisha tetap berlaku profesional.
"Saya rasa desain ini cocok," ucapnya setelah mencoret coret kertas, menggambar desain sesuai permintaan Melvin.
"Oh, eh, iya," gugup Melvin. Karena saat ini dia sedang fokus menatap Aisha yang terlihat sangat menarik ketika sedang menggambar.
Kedua mata mereka bersitatap.
Mata Melvin yang tajam seakan menembus hati Aisha yang mendadak jadi grogi.
Kertas yang diulurkannya jadi jatuh ke lantai. Reflek keduamya bamgkit dari kursi dan saling berjongkok untuk mengambil kertas itu.
Tangan keduanya tanpa sadar saling bersentuhan. Aisha yang selama ini biasa saja jika hanya sekedar bersentuhan tangan dengan rekan bisnisnya, kini merasa ada aliran listrik merayapi ke seluruh tubuhnya yang membuatnya jadi kaku.
Bahkan dia menahan nafas ketika bibir Melvin mendekat dan menyatu lama di bibirnya.
Bahkan Aisha menurut saat Melvin membimbingnya untuk berdiri. Melvin bahkan merengkuh tubuhnya dan ciuman mereka kian dalam.
Aisha berbeda dari adiknya. Dia belum.pernah berpacaran atau pun bermain main dengan laki laki manapun karena dia memiliki cita cita menjadi wanita karir mandiri yang sukses.
Aisha hanya meminta sedikit modal awal dan menbuat butik yang kini sudah berkembang menjadi sepuluh butik untuk kelas menengah ke atas.
Sampai sekarang dia baru sadar kalo usianya kini sudah mendekati tiga puluh tahun. Keluarga besarnya pun sudah resah dan selalu menawarkan perjodohan dengan laki laki yang berkualitas tapi selalu di tolaknya.
Termasuk Melvin. Tapi kejadian yang menimpa keluarga Melvin sedikit mempengaruhi perasaannya.
Ketika laku laki itu pergi ke Dubai dengan membawa sakit di hatinya, Aisha sedikit memikirkannya.
Kini pertemuan mendadak mereka dan kedekatan mereka benar benar mempengaruhi dirinya.
Cukup.lama mereka berciuman sampai kemudian Aisha mendorong tubuh Melvin agak kasar.
Mata laki laki itu menggelap. Aisha sedikit takut melihatnya.
Laki laki itu ngga meminta maaf, tapi malah menariknya lagi kali ini dengan ciumannya yang kasar. Bahkan dia sampai menhecup leher Aisha membuat gadis ini mengerang halus.
Kemudian Melvin melepaskan pelukannya.
Keduanya masih berdiri dalam jarak yang cukup dekat.
PLAK!
Aisha menampar keras pipi Melvin. Tapi Aisha merasa malu karena melihat senyum miring di wajah Melvin. Dia pun tadi menikmatinya.
****! maki Aisha berkali kali dalam hati. Terlambat untu marah.
"Keluar," usir Aisha sambil berbalik memunggungi laki laki itu yang terlihat senang dengan reaksinya.
"Aku akan mengirimkan berapa pun harga kebaya itu," kata Melvin setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Aku ngga akan meminta maaf sudah melakukannya. Tapi kamu harus tau, aku sudah tertarik padamu di awal pertemuan kita."
Melvin membuang nafasnya dengan kasar.
"Tapi aku ngga tau seberapa murni perasaanku sekarang sama kamu. Aku pergi," lanjutnya lagi kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangan Aisha.
Aisha masih bergeming. Mendengar kata kata laki laki itu ada bahagia yang bercampur sakit.
Pasti akan sulit membuat mereka bersama.
Beberapa hari kemudian, setelah lama ngga mendengar kabarnya, mereka mgga sengaja bertemu di restoran mewah di hotel bintang lima.
Tapi Melvin menariknya ke ruang privat dan nyaris melakukannya lagi. Tapi Aisha menahan dada laki laki itu.
Dia bukan perempuan yang sembarang disentuh dan sembarangan pula ditinggalkan.
Melvin kembali tersenyum miring. Auranya sedikit berbeda. Dulu aura positif yang menaunginya. Kini sesekali Ausha menangkap aura laki laki brengsek di sana.
"Oke," sahutnya tenang kemudian duduk. Aisha pun mengikuti, tapi duduk bersebrangannya dengannya.
"Kebaya mamaku sudah selesai?" tanyanya dengan netra menyorot tajam.
"Dua hari lagi akan dikirim ke alamat pengajuan anda," balas Aisha tenang.
Melvin tersenyum tipis melihat keangkuhan perempuan yang sudah berhasil dikecupnya.
"Gimana kalo kamu menjadi kekasihku?" Suara Melvin terlihat serius.
"Jangan ngaco," tolak Aisha tegas.
Melvin tertawa renyah
"Bisa kamu pikirkan jawabannya," katanya kemudian menatap pintu ruangan yang terbuka karena pegawai resto sedang membawakan pesanan mereka.
"Ngga akan," tolak Aisha lagi, juga tegas.
Dia bukan objek balas dendam laki laki itu.
Melvin ngga membalasnya, hanya tawanya masih terdengar renyah di telinga Aisha.
Suasana kembali berubah kaku dan hening, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu
Aisha pun ngga menghabiskan makanannya. Dia langsung begitu saja. Selera makannya hilang sudah. Melvin pun ngga menahannya.
Aisha menepati janji, dua hari kemudian dia mengirimkan kebaya pesanan laki laki itu. Bahkan Aisha sengaja mengerjakannya sendiri. Melvin langsung mentransfer tanpa ucapan apa pun. Kembali ngga ada komunikasi antara mereka.
Menatap sejenak Melvin yang tampak tetap tenang dan santai, bahkan ngga menyadari kehadirannya membuat hati Aisha berdenyut sakit.
Kenapa dia harus merasakan patah hati saat baru mulai tertarik pada seseorang.
***
Mungkin nanti akan ada extra part lagi... Sabar yaa...hehehe....
__ADS_1