Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Tiada Henti


__ADS_3

Dengan ragu ragu Tamara mengikuti Almira ke kamar Aruna dan Kiano.


"Kak, apa kita ngga mengganggu mereka?" tanyanya berbisik. Dia tau pasti Aruna saat ini merasa malu sekali, maka dia bertahan di kamarnya.


Apa Kiamo sudah melakukannya? Jadi Aruna udah ngga virgin lagi. Gimana ya rasanya? batin Tamara kemudian merasa dirinya sudah gila dengan pikiran pikiran anehnya.


"Mungkin," kikik Almira yang kini sedang berdiri tenamg di depan kamar yang ditempati Kiano dan Aruna.


"Dulu kakak dan Attar pun ngga berani ikut sarapan setelah malam pertama kami," cerita Almira membuat perasaan Tamara menjadi tegang.


"Jelas, kakak merasa malu. Tapi Kak Attar masih bisa bersikap cuek aja. Karena kami ngga turun turun untuk sarapan, mama mengantarkan kami banyak makanan. Rasanya senang sekali, karena saat itu kakak udah lapar banget," lanjutnya lagi dengan semyum lebar.


Tamara merasa heran, dia sanggup ngga makan berhari hari. Masa nahan ngga makan semalam aja ngga kuat, batinnya mencibir.


Melihat reaksi polos Tamara, Almra malah ngikik.


"Aduh, kakak lupa kalo kamu juga masih polos, seperti Aruna."


Wajah Tanara memerah saat mendengarnya sementara Almira berusaha menghentikan tawamya.


"Kamu pernah berlatih tanpa henti jika mau tanding, kan?"


"Iya," sahutnya cepat. Memang kalo sudah dekat hari pertandingan, Tamara akan intensif untuk latihan


"Setelah itu, kamu merasa lapar nggak?" pancing Almira membuat Tamara memganggukkan kepala


Tentu saja dia sangat lapar. Dia butuh asumsi makanan sehat yang banyak. Karena sangat menguras energi dan rasanya lelah sekali, batinnya kesal


"Seperti itulah kalo malam pertama. Kita akan menguras banyak tenaga. Seperti olah raga nalam," kata Almira sambil mengedupkan sebelah matanya.


"Ooo." Walaupun ngga ngerti Tanara mencoba menampilkan wajah yang biasa biasa aja agar ngga dianggap terlalu polos.


Tapi Almira malah tersenyum karena menyadari Tamara berbohong. Tapi dia membiarkannnya. Lagian Tamara ngga akan pernah mengerti penjelasannya jika dirinya belum pernah mempraktekkannya sendiri. Almira tersenyum tanpa sadar memikirkan hal itu.


Lalu tangannya pun mengetuk pintu kamar Kiano.


TOK TOK TOK


Almira menghentikan ketukan ketiganya. Ditunggu sampai beberapa menit, masih juga belum terbuka pimtunya


"Mereka lagi ngapain, sih. Masa' ngga dengar," ucap Tamara senewen. Dia merisaukan keadaan Aruna.


Kamu baik baik aja, Runa, batinnya khawatir.


"Mungkin mereka lagi siap siap," balas Almira santai. Teringat dulu waktu mama mengetuk pintu. Mereka juga cukup lama membuka pintu karena Attar kelupaan naroh celana boxer dan kaosnya. Bibir Almira kembali mengulas senyum.


Karena ngga sabar, Tamara bermaksud akan mengetok lagi, tapi belum sempat tangannya bersentuhan dengan pintu, terdengar bunyi knop pintu diputar.


CEKLEK


Almira tersenyum saat melihat Kiano yang membuka pintu dengan hanya memakai kaos dalam dan boxet. Persis Attar dulu.


Sedangkan Tamara memalingkan wajahnya, malu melihat keadaan Kiano.

__ADS_1


"Aruna mana?: tanya Tamara sambil melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Dia masih cemas karena ngga melihat Aruna.


"Masih tidur," jawab Kiano sambil mengambil alih kereta dorong yang penuh berisi makanan.


"Makasih ya, kak," ucap Kiano lagi.


"Sama sama. Ayo Tamara, kita pergi," kata Almira sambil menggamdeng tangan sahabat adiknya.


"Aku pengen ketemu Runa, kak," protes Tamara membuat alis sebelah Kiano berkerut.


"Nanti aja, Aruna pastu keluar," larang Almira gemas dengan tingkah laku Tamara yang polos.


"Awas ya," ancam Tamara sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke matanya terus disorongkan


ke mata Kiano tanpa setahu Almira. Kiano hanya tertawa kecil.


Aku mengawasimu, maksud kodenya.


Kiano pun menutup pintu, kemudian mendorong trolly makanan itu mendekati istrinya


"Siapa?" tanya Aruna yang .masih berbaring dengan berbalutkan selimut.


"Kakak kamu sama Tanara," ucap Kiano sambil memijat kaki Aruna di balik selimutnya.


"Ooo,."


Apa ya, yang akan Tamara pikirkan, batin Aruna malu.


"Kiano!"


Aruna langsung bangkit dari duduknya dan cepat cepat menutupi kakinya dengan selimut.


"Iya, sayang," tawa Kiano


"Aah," jerit Aruna lagi saat merasa perih di bagian bawah tubuhnya begitu bangkit dari tidurnya.


"Maaf? Masih sakit?" tanya Kiano merasa bersalah melihat ringisan di wajah Aruna


Udah tau sakit, masih ditanya, omel Aruna dalan hati.


"Aku panggilkan dokter ya, biar dikasih obat," masih dengan nada khawatir Kiano berucap.


Aruna mendelikkan matanya kesal.


Apa dia lupa kalo aku dokter.


"Oiya, kamu, kan, dokter. Pasti tau, kan obatnya," kekeh Kiano seakan mengerti isi pikiran Aruna, membuatnya bengong sesaat.


"Jangan marah marah terus sama suami. Tadi ngga mau berhenti, sih, aku, kan khilaf."


Kiano mengusap rambut panjang Aruna yang berantakan dengan wajah usilnya. Tapi jantungnya jangan ditanya, deg degan semakin kencang.


"Kamu cantik," bisik Kiano lembut di telinga Aruna, membuatnya merinding dan hatinya bergetar. Wajah Aruna pun merona mengingat kemunafikannya tadi. Kiano sangat ahli membuatnya membuang harga dirinya.

__ADS_1


"Makan nasi sop daging?" tanya Kiano sambil mengulurkan sepiring nasi berisi sop daging.


"Makasih," ucap Aruna setelah meneriimanya. Dia melirik apa yang akan Kiano makan. Ternyata bebek goreng


Keduanya menikmati makanan dalam.diam. Aruna ngga berani menatap Kiano lagi. Perasaan malu sangat mendominasi dirinya. Aruna mengomeli dirinya yang lepas kendali saat dicumbu Kiano.


"Nih, coba in. Enak loh," kata Kiano dengan suapan yang sudah berada di depan bibir Aruna.


Aruna pun membuka mulutnya dibawah tatapan lembut suaminya. Jantung Aruna makin ngga seirama ketika mereka bertatapan membuatnya kembali menyibukkan diri dengan makanannya.


Kiano tersenyum simpul.


Dia samgat ****i, batin Kiano memuji


Aruna makan dengan sebelah tangan menahan selimut di dadanya. Pundak putihnya memanggil manggil bibir Kiano minta dicium.


"Aruna, nanti lagi, ya," pinta Kiano dengan suara serak.


"Hemmm..... Tapi masih sakit," tolak Aruna pelan. Memang masih terasa panas dan perih


"Aku pelan pelan," ucap Kiana yang sudah kembali diselimuti gairah. Dia pun mengambil piring yang isinya tinggal sedikit di tangan Aruna dan meletakkannya di meja kecil di sampingnya.


Tanpa penolakan dari Aruna, Kiano kembali mengulang sesi sesi panas mereka. Aruna hanya bisa mengeluarkan des*ahan yang tambah membangkitkan hasrat Kiano.


*


"


*


"Akhirnya pengantin barunya keluar juga," sambut mama Aruna dengan senyum lebarnya membuat anggota keluarga yang lain juga melebarkan senyum melihat Aruna yang berjalan pelan di samping Kiano.


"Digandeng, dong, Kiano," goda nenek dengan raut bahagia.


Kiano melebarkan senyumnya. Kemudian meramgkul bahu Aruna yang wajahnya semakin memerah.


"Cucu nakal kakek akhirnya punya istri juga," kekeh kakek Suryo senang. Hatinya sangat bahagia. Apalagi melihat wajah cucunya yang berseri seri membuat sang kakek yakin kalo malam pertama cucunya berjalan sangat sukses.


"Ayo, duduk di sini, sayang," panggil mamanya sambil menunjukkan sofa di dekat sang kakek.


"Apa masih sakit?" tanya Mami Kiano dengan senyum menggoda membuat wajah Aruna tambah memerah. Dia menundukkan wajahnya karena malu. Karena sejujurnya memang masih terasa sakit. Apalagi waktu istirahat yang diberikan Kiano sangat sedikit.


Aruna mengira anggota keluarganya sudah ngga berkumpul lagi karena setelah jam sebelas dia baru mau diajak Kiano keluar kamar.


Ternyata mereka masih lengkap berkumpul semua. Termasuk Tamara dan sahabat sahabat Kiano. Bahkan Kiano ikut tersenyun menggodanya.


"Jagoan papi maennya ngga kasar, kan,ya," ledek papi membuat tawa kembali membahana.


Aruna tambah menundukkan wajahnya sedangkan Kiano walau malu tapi dia bertahan dengan sikap cueknya.


"Papa lega akhirnya Aruna ada yang jagain," kata papa Aruna dengan senyum lembutnya.


Papa, batin Aruna terharu. Ingin rasanya memeluk papaya dan mengadukan kelakuan Kiano tadi malam sampai hari ini. Aruna ingin papa mengatakan pada Kiano jangan melakukannya terlalu sering. Tapi Aruna bingung gimana cara mengatakannya.

__ADS_1


__ADS_2