Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Kekesalan Reno yang belum hilang


__ADS_3

CEKLEK


Glen dengan santai membuka pintu ruangan Reno. Matanya terbelalak melihat lamtai ruangan itu penuh dengan kertas kertas yang berserakan.


'Abis gempa di ruangan lo?" kekeh Glen sambil meletakkan paper bag yang berisi makanan.


Tadi Glen iseng menelpon Nova menanyakan keberadaan Reno.


"Pak Reno masih di ruangannya, pak. Kayaknya belum makan. Apa saya pesankan, Pak Glen?" sahut Nova bertanya. Dia kali ini makan siang hanya pesan online saja di ruangannya, Jadi bisa dirinya pastikan kalo bosnya masih bersemedi di ruangannya.


"Nggak usah. Thank's."


" Oke, Pak."


Karena itu Glen membelikan makan siang buat Reno.


Glen menatap Reno yang berdiri membelakanginya, menghadap ke luar jendela. Kedua tangannya berada di saku celananya.


Masih terkekeh walaupun ngga mendapatkan jawaban, Glen berjongkok dan mengambil kertas kertas yang berserakan.


Glen hapal sekali dengan kelakuan Reno. Pasti dia lagi galau berat.


"Glen," panggil Reno tanpa menoleh.


"Ya?" sahut Glen ngga acuh sambil menata kertas kertas hasil meeting ruwet tadi pagi.


"Lo bilang si Rain masih virgin?" tanya Reno lagi tanpa merubah posisi berdirinya.


"Iya." Glen menatap punggung Reno heran karena pertanyaannya.


"Kenapa ngga lo sikat?"

__ADS_1


"Gue, 'kan, udah bilamg ngga suka yang virgin," jawab Glen santai.


"Dia ngga minta duit buat nawarin virginnya?"


"Nggak, malah gue yang nawarin," kata Glen sambil meletakkan kertas kertas sangat penting itu di atas meja.


Lama ngga ada balasan dari Reno.


"Lo kenapa nanya nanya soal dia? Curiga gue," cetus Glen kepo.


"Lo nawar berapa?" tanya Reno masih tetap menatap ke arah luar dan ngga mengacuhkan kecurigaan Glen.


"Gue tanya, dia mau jual berapa? Tapi dianya diam.aja, kemudian kelihatan sedih bikin mood gue hilang," kata Glen kini melangkah ke samping Reno.


Di melirik sahabat ya yang terlihat aneh. Kini Reno malah diam dan terfokus pada pandangannya di depan.


"Lo kenapa aneh? Tuh, makan dulu. Biar pikiran kusut lo hilang. Abis ini kita meeting lagi," kata Glen dengan suara frustasi.


"Gue lebih suka langsung ke lokasi dari pada dengerin orang orang bicara ngga jelas," rutuknya sambil memijat kepalanya.


Kasian otak gue, seharian ini harus kerja keras, batinnya mengeluh.


Setelah terdiam beberapa lamanya, Reno membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan ke arah paper bag yang ada di atas mejanya.


"Apa itu?" tanyanya ngga acuh


"Sate racun sama kopi sianida," jawab Glen asal.


Reno menaikkan sedikit sudut bibitnya kemudian mengambil isi paper bag.


Burger sama cola, ternyata. Ciih, mana kopi sianidanya, gue lagi butuh," batin Reno sambil melirik Glen dengan senyum miring.

__ADS_1


"Lo beneran mau kopi sianida sama sate racun? Gue request sama Nova," ketus Glen ketika melihat lirikan sinis sahabatnya.


"Gue sesekali pengen seperti Alva, nginap sehari di rumah sakit," kekeh Reno pelan.


Isi kepalanya masih buntu gara gara prank sialan itu.


"Sama, pusing gue hari ini. Pengen break di rumah sakit sehari atau dua hari," tanggap Glen kemudian mengikuti langkah Reno yang mendudukkan dirinya ke sofa.


Sambil menunggu Reno makan, Glen mengamati ponselnya. Dia lebih suka berselancar menatap model model cantik yang seksi untuk memberikan vitamin pada otaknya.


"Ren, lo kenapa tadi tanya tanya soal Rain?" Glen membuka mulutnya juga setelah setengah jam membiarkan Reno menikmati makannya.


"Penasaran aja," sahut Gken setelah meneguk colanya.


Juga kesal, lanjutnya membatin.


*Tukang tipu.


Tukang prang.


Tukang php*.


Batin Reno terus mengumpat.


"Apa langsung gue beli virginnya setengah miiar saja, ya?" cetus Glen membuat Reno menatapnya lekat.


Untung besar tukang tipu itu, decih Reno sinis.


"Mahal banget. Lima puluh juta aja. Dia juga bukan model arau artis terkenal," cela Reno sinis.


"Artis atau model jarang yang virgin, bro," kekeh Glen santai.

__ADS_1


Reno ngga menjawab lagi, dia pun melanjutkan menghabiskan satu lagi burgernya. Karena Glen membelikannya dua burger.


__ADS_2