
"Kiano, lo dulu prewed dulu di mana?" tanya Arga. Dia betul betul niat buat nanya soal tempat prewed Kiano.dan Aruna. Bahkan Regan diajak ikut menemaninya.
Alva, Glen dan Reno sebentar lagi akan menyusul. Sudah lama mereka ngga berkumpul seperti saat Kiano belum menikah.
Regan yang keceplosan saat Glen menelpon kalo malam ini akan ketemu Kiano, membuat Glen menghubungi Alva dan Reno untuk ikut bersamanya.
Kiano pun bisa memenuhi permintaan Arga karena Aruna ingin diantar ke rumah orang tuanya malam ini. Katanya dia sangat merindukan mamanya. Aruna pun ngga keberatan kala Kiano meminta ijin untuk bertemu dengan teman temannya.
Mereka pun berkumpul di kafe dalam ruangan privat seperti dulu. Karena Kiano ngga mau lagi ke club, takut ada perempuan yang nekad menempelkan lipstik atau parfum ke bajunya.
Arga dan Regan mencibirnya sebagai suami takut istri.
Tapi Kiano hanya tertawa saja mendengarnya. Dia ngga marah, hanya mencari zona aman. Apalagi Aruna sedang mengandung anaknya. Dia ngga ingin mengundang kemarahan Aruna hingga mengganggu kesehatan dirinya dan calon anak mereka.
"Lo berdua, kan, tau, gue nikahnya sama Aruna mendadak. Jadi prewednya dadakan di taman rumah kakek," tawa Kiano. Regan dan Arga juga ngakak.
CEKLEK
Ketiganya menoleh saat mendengar pintu terbuka tanpa menghentikan suara tawa.mereka.
Alva, Glen dan Reno muncul berbarengan.
"Seru banget ketawanya," cetus Glen sambil duduk di samping Regan. Begitu juga Alva dan Reno.
"Alva, lo mau buat prewed di mana?" tanya Arga dengan sisa tawa di wajahnya. Ingin tau, karena yang kelihatan lebih serius untuk menikah adalah Alva saat ini.
"Mami gue dan mama Tamara yang ngurusin. Gue tinggal terima beres," jawab Alva santai.
Arga tersenyum mendengarnya. Begitu juga yang lain
"Lo kelihatannya sudah bisa menerima kenyataan?" sarkas Glen menyindir.
"Mau gimana lagi," balas Alva enteng kembali membuat teman temannya ngakak.
"Al, kasih tau gue di mana tempat lo buat prewed, ya. Buat pertimbangan gue," tukas Arga lagi setelah tawa mereka mereda.
__ADS_1
Dirinya cukup pusing memikirkan tempat prewed yang tadi siang diungkapkan Arik.
"Yah, nanti gue nanya sama mami," janji Alva.
"Lo beneran serius mau nikahin Tamara?" tanya Regan memastikan.
"Begitulah," jawabnya rada malas.
Dia masih kesal dengan hati dan pikirannya yang bisa bisanya menyimpan rasa cemburu pada teman laki laki Tamara yang bukan levelnya.
Gue jauh di atasnya bro, batinnya sombong.
"Ga, lo nanya prewed, apa lo serius mau nikahi Qonita?" tanya Reno yang baru membuka suaranya. Dia masih ngga percaya, Arga mau menikah.
Arga sangat mencintai Ayana.
"Arga udah move on," kekeh Regan
"Syukurlah kalo begitu," malah Alva yang memberikan jawaban.
"Ya, ya. Gue juga senang dengarnya Cuma kaget aja. Hebat juga Qonita, bisa.buat lo move on," balas Reno tulus.
Dia juga tau, selama lima tahun Arga setia dan ngga pernah berpaling ke cewe lain. Hanya rutin mengunjungi kuburan Ayana untuk membuang rasa rindunya. Beruntunglah Qonita.
Arga hanya tersenyum. Dia pun masih bingung dengan jalan takdirnya.
Qonita ngga bisa dibandingkan dengan Ayana.Sangat berbeda jauh karakter keduanya.
Qonita judes, Ayana lembut.
Qonita suka marah, Ayana super sabar.
Qonita katanya Arik manja, Ayana mandiri.
Memang aneh bisa move on pada perempuan yang sangat berbeda dari kekasih sebelumnya.
__ADS_1
"Rupanya Bang Arik masih sepupuan sama Qonita," cetus Regan dengan pandangan mengejek Arga.
Arga hanya nyegir, mengingat kebodohannya yang sudah cemburu buta dengan Bang Arik.
"Bang Arik temannya Bang Athar?" sambar Kiano
"Iya."
"Yanh bantu kiya dulu, kan, ya," kata Reno masih mengingat jelas sosok Arik.
"Kalian masih ingat? Soalnya ada yang lupa" kekeh Regan kembali mengejek Arga.
"Ingatlah. Masa lupa," sahut Alva antusias.
"Keterlaluan kalo lupa. Emang siapa yang lupa?" Glen balik bertanya, tapi Regan hanya menjawabnya dengan tawa saja.
Arga pun makin melebarkan cengirannya.
Kiano hanya melirik Regan dan Arga. Dia tau, Regan ngga sembarangan melemparkan guyonan. Sedangkan Glen disibukkan dengan ponselnya, lupa kalo pertanyaannya belum di jawab sama Regan.
"Reno, gue ketemu Rain," bisik Glen setelah menyimpan ponselnya.
"Hnm?" dengus Reno ngga acuh. Benaknya sudah curiga kalo Glen abis menggarap gadis yang sudah dia renggut kevirginannya.
"Kelihatannya abis nangis. Gue tau, dia nutupin mata bengkaknya dengan kaca mata. Sayang kurang gelap kaca matanya," tambah Glen lagi.
"Oooh," respon Reno masih ngga acuh.
Melihat respon Reno yang ogah ogahan, Glen mengganti topik.
"Si Vani memang yahut ya," tawa Glen pelan.
"Iya, dia oke banget."
Lo maen sama Rain atau Vani, sih? Auto bingung gue, batin Reno sambil menatap lurus pada Glen yang masih tertawa.
__ADS_1