Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Tingkah Menyebalkan Arga


__ADS_3

Arga melangkah tenang memasuki kampus tempat calon istrinya, Qonita mengajar. Dia tetap cuek walaupun pandangan kagum dan terpesona di arahkan banyak lawan jenis ke arahnya. Tujuannya cuma satu menemui Qonita.


Tapi sosok gadis berkerudung melintas cepat di depannya. Ingatan tajamnya langsung bekerja.


"Dinda," panggilnya pelan karena jarak mereka yang ngga terlalu jauh. Hanya saja gadis itu terlalu fokus dengan ponselnya hingga ngga menyadari kehadirannya.


"Eh, pacarnya bu Qonita?" ceplosnya saat menoleh dan melihat lelaki tampan yang tinggi menjulang di depannya.


Sendirian? batinnya lega karena ngga melihat teman temannya. Apalagi laki laki kurang ajar itu.


Arga tersenyum mendengarnya. Dia mengingat kata kata Regan yang berhasil menggoda gadis ini.


"Lihat bu Qonita?" tanyanya pelan, sementara mereka sudah menjadi pusat perhatian.


"Di ruangannya, mas. Lurus aja, nanti belok kiri," kata Dinda memberitau.


"Oke, makasih," ucap Arga kemudian berjalan melewatinya. Tapi baru selangkah di depannya, Arga membalikkan tubuhnya menatap Dinda sebentar.


"Temanku kirim salam. Katanya salam rindu."


Setelah itu berbalik meninggalkan Dinda yang malah terpaku dengan wajah merona.


Regan, yang ini boleh juga lo coba, batin Arga tersenyum sambil terus melangkah pergi sesuai arah yang ditunjukkan Dinda.


Arga pun sampai di depan ruangan bertepatan dengan Qonita yang akan keluar bersama dua orang teman perempuannya.


"Hai," sapa Arga manis membuat kedua teman Qonita terpana melihat wajah tampan di depan mereka. Sementara Qonita menampilkan wajah judesnya.


"Ngapain ke sini?" tanyanya sinis.


Kedua teman perempuannya menatap Qonita kesal, ngga rela melihat laki laki setampan ini disambut dengan kata kata yang kasar.


"Qonita, kamu lagi pms?" semprot temannya yang berambut sebahu sinis, wajahnya cantik oriental. Namanya Serly.


Qonita melirik bertambah kesal ke arah temannya, sedangkan Arga menahan senyumnya.


"Maafkan, dia memang suka gitu kalo lagi pms," jelas Serly ngga kalah manisnya pada Arga. Ngga mempedulikan tatapan menghunus Qonita.


"Aku Serly," katanya lagi sambil mengulurkan tangannya yang tentu saja disambut dengan ramah oleh Arga.


Arga terpaksa mempraktekkan kebiasan Glen, Alva dan Reno, menjadi laki laki player.


Tujuannya jelas, agar Qonita membatalkan perjodohan ini.


"Arga," balasnya dengan senyum memikatnya.


"Aku Jeni, dosen di sini," ucap teman perempuannya yang seorang lagi sambil mengulurkan tangannya.


"Arga," balas Arga lembut sambil menerima uluran tangan Jeni setelah melepaskan tangan Serly.


Qonita yang melihatnya merasa panas dan geram.


Dady...... harusnya dady lihat kelakuan genitnya, batinnya gusar.


"Sorry, dia ada perlu sama gue," tukas Qonita cepat sambil menarik tangan laki laki nyebelin itu menjauh dari para mangsanya. Mangsa yang ingin masuk sendiri dalam perangkap.


"Loh, Qonitaaa! Lo apaan, sih," seru Serly kesal, tapi ngga mengejar. Karena Qonita terlalu cepat menyeret laki lak tampan itu pergi.


"Itu pacar Qonita, ya?" tanya Jeni berusaha mengingat rumor yang beredar dari kemarin hingga hari ini.

__ADS_1


"Haah? Yang benar? Kamu serius?" sentak Serly bersaut sautan tanpa henti.


"Mungkin. Lo ngga dengar kalo kemaren sama hari ini katanya Qonita diantar laki laki ganteng?" Jena menatap Serly heran. Temannya itu biasa up to date sekali kalo ada berita sumir.


Kenapa sekarang dia kelihatan oon?


"Masaa? Tapi si Arga terlalu tampan," ucap Serly ngga rela. Dia memang belim dengar gosip apa pun, karena sejak kemarin dan hari ini sedang sibuk sibuknya mengikuti seminar yang diwajibkan oleh pihak kampus.


Kok, bisa, sih, Qonita kenal dengan laki laki tampan begitu. Pacarnya lagi, batinnya iri. Wajahnya pun langsung cemberut.


"Iya, aku juga bingung. Bisa kenal di mana, ya?" tukas Jeni juga ngga kalah irinya.


Sementara Arga yang diseret Qonita mengulum bibirnya menahan senyum.


Bisa cemburu juga ternyata, batin Arga senang.


Arga membiarkan dirinya dibawa pergi kemana saja oleh Qonita. Ternyata kaki gadis ini sudah sembuh hingga bisa bergerak lincah lagi. Arga menatap heels yang sudah dikenakan Qonita.


"Mobil gue di sana," ucap Arga sambil menunjukkan mobil sport mewahnya di tempat deretan parkir mobil.


"Oh," ucap Qonita tersadar, karena dia tanpa bertanya langsung saja mengajak Arga ke arah parkiran motor. Karena pagi tadi Arga mengantarnya dengan motor sportnya.


Pantasan motornya ngga terlihat, omel Qonita dalam hati.


"Kamu maunya apa datang ke sini lagi?" marah Qonita yang baru teringat tujuannya mengajak Arga pergi. Dia pun melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Arga.


"Malah merayu teman gue lagi," omelnya sewot.


Arga tersenyum kemudian ganti menggemggam tangan gadis ini dan mengajaknya mendekati mobilnya.


"Loh, kamu mau bawa aku kemana?" kaget Qonita. Kini gantian dia yang mengikuti langkah langkah panjang Arga.


"Temani gue makan siang," katanya sambil mendorong tubuh ramping itu ke dalam mobilnya.


Qonita melihatnya sambil memanyunkan bibirnya.


"Ini pemaksaam," gerutunya kesal yang hanya dibalas Arga dengan kekehan kecil.


Setelah menutup pintu mobilnya, Arga berjalan tenang memutari bagian depan mobilnya dan langsung duduk di samping Qonita.


Tanpa bamyak kata Arga melajukan mobil sportnya meninggalkan parkiran kampus.


"Kita mau makan di mana? Jangan jauh jauh, gue bentar lagi ngajar," cicit Qonita ketika mobil Arga melaju jauh meninggalkan kampusnya.


"Bentar lagi nyampe," ucap Arga kemudian membelokkan mobilnya.


Qonita ngga menjawab hanya mengamati tempat yang terasa asing baginya.


Ngga lama kemudian mobil pun berhenti di sebuah rumah makan yang berdindingkan anyaman bambu. Di kiri kanannya berjejer pohon rindang yang membuat suasana terasa teduh dan nyaman.


Qonita pun membuka sendiri pintu mobilnya dan mengamati sekitarnya.


Walaupun nampak sederhana, parkiran rumah makan itu berisikan mobil mobil mewah.


Qonita terkejut ketika Arga meraih jemarinya untuk di genggam.


"Ayo," katanya sambil berjalan pelan memasuki rumah makan itu.


"Halo bos," sapa salah satu pelayan yang melihatnya.

__ADS_1


"Sehat?" sapa Arga ramah.


"Sehat. Siapa itu bos?" tanya pelayan itu kepo.


"Aduh," ringisnya sambil nyengir ketika keningnya ditoyor Arga dengan tangan bebasnya.


"Sediain menu biasa, ya," ucap Arga sambil terus masuk ke dalam dan duduk menghadap kolam ikan koi yang beraneka warna.


Qonita menatap sekelilingnya dengan perasaan senang.


Tempat ini begitu tenang, jauh dari hiruk pikuk segala kemacetan dan keruwetan hidup, puji Qonita membatin.


Ngga nyangka seleranya boleh juga, batin Qonita lagi memuji.


Ngga lama kemudian hidangan mereka datang. Ikan mas bakar, lengkap dengan sambal dan lalapan, juga tumis kamgkung.


"Kamu suka?" tanya Arga sambil.mencubit daging ikan itu dan menaruhnya di piring Qonita.


Gadis itu ngga berkata apa apa, dia ngga menolak. Bahkan kini menyuapi cubitan ikan itu bersama nasi dan sambal ke dalam mulutnya.


Arga terus aja mncubit daging ikan itu sambil sesekali menyuapi dirinya sendiri.


"Kamu suka?" tanya Arga setelah melihat Qonita menelan makanannya.


"Ya."


Arga tersenyum miring.


"Ini tempat favoritku dengan Aya," ucap Arga sambil menatap lekat Qonita.


"Siapa Aya?" tanya Qonita ngga acuh.


"Pacarku yang sudah lama meninggal lima tahun yang lalu."


DEG


Walau sudah menduga, tapi kenapa Qonita merasa hatinya sakit dan di rendahkan


Apa ngga ada tempat lain selain harus ke sini? cibir Qonita membatin.


"Dulu, aku juga suka begini. Mengambilkan daging ikan untuknya."


Selera makan Qonita mendadak hilang.


"Laen kali jangan ajak gue ke sini lagi," ketus Qonita. Dia sangat tersinggung.


"Apa salah? Lo perlu tau tempat yang sering gue datangi dengannya. Juga lo perlu tau makanan favoritnya," kata Arga tenang kemudian menikmati makanannya lagi seolah kata katanya ngga mengandung belati yang tajam.


Qonita terhenyak. Hatinya mencelos.


"Lo sakit," celanya sarkas. Ara hanya tertawa.


Qonita pun langsung bangkit dari duduknya. Ngga ada gunanya dia di sini lagi bersama laki laki gagal move on.


Arga membiarkan Qonita yang beranjak keluar meninggalkannya.


Dia terus menikmati makanannya. Yang dikatakannya semuanya benar. Dia ngga bermaksud menyakiti hati Qonita. Tapi dia hanya ingin Qonita membatalkan perjodohannya.


Dia ngga bisa terus berpura pura sudah melupakan kekasihnya. Ayana sudah sangat dalam menancap di hatinya. Susah untuk dibuang. Apalagi sampai harus dipaksa.

__ADS_1


Arga terus menikmati makanannya tanpa mempedulikan Qonita yang sudah berada di luar menunggu pesanan taksi onlinenya. DIa ingin Qonita men cap nya sebagai laki laki brengsek karena membiarkannya pulang sendirian.


__ADS_2