
Regan kini duduk berhadap hadapan yang dibatasi meja dengan Riko.
Setelah sekian lamanya baru kini Regan menjenguk Riko di penjara.
"Sampai kapan lo mau ngedekam di balik jeruji?" tanyanya datar.
Riko hanya tersenyum tipis..Wajahnya sama sekali ngga tertekan. Malah terlihat ceria, tubuhnya pun agak gemukan. Mungkin dia hanya makan tidur saja di penjara.
Tapi setau Regan, di lapas pasti banyak kegiatan kemasyarakatan. Apa mungkin Riko di istimewakan? Kalo iya, pasti ada campur tangan papanya.
"Belum juga sebulan aku di sini, bang," jawabnya tanpa beban.
Alis Regan berkerut. Matanya menatap Riko tajam.
"Lo betah?"
"Betah banget."
Regan menggelengkan kepalanya. Baru kali ini dia mendengar ada orang yang betah di penjara.
"Gue akan bebasin lo," putus Regan akhirnya. Ngga tahan juga dia diteror mamanya Riko yang hampir tiap hari menelpon bahkan mengirim pesan. Bahkan ngga jarang wanita gila itu ngamuk ngamuk di perusahaan.
Bukan dia atau papa yang ngga mau ngeluarin Riko. Tapi adik tirinya menolak dan katanya lebih tenang hidup dalam penjara. Bahkan kakek yang selalu dingin pada Riko juga ikut menyuruh dia dan papanya membujuk Riko agar mau cepat keluar dari penjara.
Semua tuduhannya sudah dibatalkan papanya. Riko adalah tahanan tanpa ada tuntutan sama sekali. Adik tirinya itu benar benar sudah sinting.
"Ngga bang, ngga perlu. Biarkan aku dua bulan lagi, ya," pinta memohon.
"Lo punya teman di sini?" tanya Regan dan setelahnya dia merasa jadi ikutan gila.
"Ada, banyak. Mereka baik baik," senyum Riko melebar.
"Lo ngga takut sama pencopet, pembunuh atau pemerkosa?"
Regan lagi lagi merasa bodoh, karena papanya pasti sudah menyusupkan para pengawalnya untuk menjaga Riko di dalam sel. Bahkan papanya yang Regan yakini sudah kong kali kong dengan beberapa petugas sipir penjara untuk mengawasi keamanan dan keselamatan Riko.
"Mereka baik baik. Setiap pagi kami maen basket. Sore maen sepak bola. Aku merasa bebas di sini."
Sinting memang. Tapi mungkin itu juga yang Regan rasakan. Kesibukan begitu menyita waktu hingga dia kurang bisa menikmati hidup.
__ADS_1
"Maksudnya penjara tempat lo refreshing?" Geleng geleng kepala Regan melihat kelakuan Riko.
Riko tergelak. Rasanya penjara ngga seseram dugaan banyak orang. Cuma satu yang membuatnya kesal, kasurnya sangat tipis. Awal awal di penjara tubuhnya pegal pegal setelah bangun tidur. Tapi sekarang sepertinya tubuhnya sudah mulai bisa adaptasi.
"Lo, kan, bisa liburan kalo mau refreshing, bego!" kecam Regan kesal.
Riko masih saja tertawa sampai kemudian tawanya dipaksanya berhenti saat melihat wajah kesal Regan.
"Bang Regan tau, kan, kenapa aku masuk ke sini."
Regan ngga menyahut. Tentu saja tau.
"Setiap meminta uang ratusan juta mama selalu mengancam aku dengan pil tidur atau akan mengiris nadinya," kata Riko dengan getir.
Regan ngga terkejut mendengarnya.
Saat Riko keukeh mau masuk penjara, dia dan papanya langsung mengecek rekaman cctv ruangan Riko. Dan mereka sangat terkejut melihat cara mamanya Riko memeras perasaan putranya.
Papa hampir saja akan melabrak mantan kekasih yang sudah dinikahinya, yang katanya dulu sangat mencintainya.
Teganya dia melakukannya pada Riko. Pantasan Riko lebiih aman berada di dalam penjara. Bahkan menurut pegawai lapas, Riko selalu menolak kunjungan mamanya.
Papanya pun sudah memboikot rekening dan kartu kredit Riko karena lebih sering digunakan tante Wita untuk belanja bersama geng sosialitanya.
Bahkan kata papanya, ini jauh lebih banyak dari yamg mamanya Riko peroleh dl waktu kerja serabutan jadi pelayan kafe waktu dirinya sekolah dulu.
Regan ngga tau apa sekarang papanya sudah menerima karma akibat dari perbuatannya. Tapi setahunya papanya masih tetap bermain main dengan perempuan di luar sana. Mungkin saja sekarang lebih berhati hati karena belum ada yang melapor ke dirinya atau ke kakeknya kalo sudah dihamili papanya.
"Kamu bisa kembali bekerja di perusahaan dengan jabatan lama. Soal tante Wita, satpam akan melarangnya masuk ke perusahaan," kata Regan memberikan solusi.
"Tinggallah di rumah kakek dan nenek. Tempat itu lebih baik dari pada penjara," lanjutnya lagi.
Hal ini pun sudah dibicarakan dengan kakek neneknya. Neneknya sudah lama bisa menerima kehadiran Riko. Hanya kakekmya saja yang masih tampak keras walau sekarang sudah sedikit melumer.
Wajah ceria Riko berubah murung.
"Aku ngga mau bang," tolaknya setelah berpikir sejenak. Dia ngga akan mau menyusahkan keluarga kakek neneknya dan juga Regan. Riko sangat paham sekali kenekatan mamanya.
"Gue ngga terima penolakan," tegas Regan.
__ADS_1
Lagi lagi Riko menatap Regan dengan wajah murungnya.
Dia tau percuma saja menolak, pasti Regan sudah tinggal mengangkutnya saja ke luar dari penjara ini.
"Pamitan sana sama teman teman lo," sarkas Regan menyembunyikan senyumnya.
Dengan malas Riko pun beranjak ke dalam selnya. Padahal masih banyak yang akan dia lakukan bersama mereka di hari hari berikutnya.
Riko berjanji akan serimg mengunjungi mereka dna memgirimkan bamyak makanan. Juga untuk pegawai lapas yang baik baik.
Baru kali ini Riko bergaul dengan orang orang yang keadaan ekonominya sangat jauh di bawah standar hidupnya. Mereka kebanyakan berbuat kejahatan karena miskin. Tapi ada juga karena yang cintanya dikhianati pasangannya.
Riko sangat bersyukur mama bang Regan ngga gelap mata untuk mencekik mamanya dan tante Meli. Mama bang Regan lebih memilih bercerai dari pada mengurusi papa mereka yang super player.
Ngga lama kemudian pengawal papamya yang berjumlah tiga orang menemui Regan si tempat parkir. Siap menikmati kehidupan bebas lagi, setelah sebulan terkurung di penjara demi menjaga adik tiri tuan muda mereka.
"Ini tiket dan uang saku. Pergilah liburan," ucap Regan sambil mengulurkan masing masing selembar amplop putih pada mereka.
"Terimakasih tuan muda," sahut mereka berbarengan sambil nyengir.
Ketiganya sepantaran dengan Riko agar mereka bisa berteman lebih mudah. Papanya sudah mengaturnya.
Regan pun ikut menyeringai. Pengabdian mereka memang luar biasa.
"Gue dan papa yang harusnya berterima kasih karena kalian sudah bekerja dengan sangat baik."
"Kita malah enjoy di dalam sana tuan muda," kekeh Dito. Dua temannya Bembi dan Hendar tertawa kecil seakan setuju.
"Kalian memang sudah sinting," tawa Regan melihat ketiganya sedikitpun ngga merasa tertekan.
"Mobil kalian udah nunggu. Bersenang senanglah," ujar Regan setelah tawa mereka mereda sambil menunjuk ke arah SUV silver yang sudah menunggu.
"Oke, tuan muda. Kita duluan sebelum tuan Riko melihat kita," pamit Bembi yang diangguki dua temannya dan Regan
"Oke," balas Regan tetap dengan bibir tersenyum.
Ketiganya pun bergegas pergi ke arah SUV silver yang mesinnya pun sudah dihidupkan.
Mobil itu pergi bersamaan dengan kedatangan Riko.
__ADS_1
"Mereka siapa?" tanya Riko ketika melihat SUV silver bergerak menjauh.
"Entahlah," jawab Regan sambil membuka pintu mobilnya. Riko pun juga membuka pintu mobil di belakang karena melihat Regan yang juga membuka pintu bagian belakang mobil. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil dan melaju ke arah rumah kakeknya untuk mengantar Riko