
"Jadi Reno beneran sudah melamar Rain?" tanya Glen dengan tatapan sukar ditebak.
"Iya, gue.diceritain Tamara. Aruna dan Kiano ikut sebagai saksi," jelas Alva ketika Glen sengaja mampir ke rumahnya minta oleh oleh dari Dubai.
Alva dan Tamara diminta mama Alva untuk menginap di rumahnya dulu. Minggu depan baru ke rumah mereka yang baru. Renovasinya belum selesai.
Orang tua Tamara sedang oergi ke luar kota mengurus bisnis.
"Teganya dia ngga ngajak gue," kesal Glen campur kecewa.
"Wajar, sih. Reno butuh ada yang mengklaim.dirinya sebagai laki laki baik baik. Kita mana cocok," tukas Alva santai.
"Iya juga, sih."
Kali ini rasa kesal dan kecewanya hilang berganti dengan cengirannya.
"Parah juga Nadia. Bisa bisanya dia cinta mati sama Reno. Tuh anak kurang referensi laki laki ganteng dan tajir," kata Alva sambil menggeleng gelengkan kepalanya merasa sangat heran.
"Lo sama Reno memang jos lah. Lo ada Meti yang cinta mati, Reno ada Nadia. Gue ini, ngga ada satupun," kesal Glen yang tiba tiba sudah kembali lagi.
Padahal.dia juga keren dan kaya raya. Perempuan perempuan di luar lagi sakit mata, 'kali, geramnya dalam hati.
"Lo kira enak apa di sukai perempuan segitunya. Kita ini seperti diteror," sentak Alva kesal. Mengingat betapa susahnya perjuangannya untuk bebas dari Meti.
Glen terkekeh, lupa lagi dia sama rasa kesalnya.
"Nadia ngancam Rain buat jelekin Reno sama orang tua Rain. Makanya sama Reno, Rain langsung dilamar. Bokap Reno juga ikut," jelas Alva.
Glen kini mulai mengerti. Makanya dia butuh Kiano dan Aruna yang selama ini sudah menolong keluarga Rain. Agar urusan lamarannya diterima dengan sukses dan tanpa penolakan.
Seandainya dia atau Alva yang menemani, belum tentu akan selancar ini.
"Nadis udah tau belum kalo Rain udah dilamar?" tanya Glen sambil manggut manggut.
__ADS_1
"Ngga tau juga. Tapi Reno sudah nyuruh orang untuj nguntit Nadia. Pengawalnya pun ada yang berjaga di rumah sakit buat mencegah Nadia masuk."
"Diblack list, ya."
"Gitulah. Tapi harapan gue agar Nadia ngga melaksanakan ancamannya. Tau sendiri gimana seramnya kalo berurusan dengan Reno," ujar Alva sambil mematap jauh ke depan.
Reno adalah orang paling nekad yang mereka kenal. Geln pun paham.
"Mungkin setelah bokap Rain keluar dari rumah sakit, barulah Reno akan melamar secara resmi," sambung Alva lagi setelah keduanya sama terdiam.
"Rain jugq belum lulus, kan," sela Glen.
"Iya, sama kayak Dinda."
"Si Regan udah senbuh belum, ya?" kekeh Glen karena teringat teriakan kesakitam Regan waktu mereka sengaja mengintip di rumah sakit.
Ngga kelihatan, sih. Suara de*s*ahan mereka juga ngga kedengaran. Saat mereka mau pulang karena merasa sia sia saja, mereka jadi kahet dan langsung ngakak karena terdengar jeritan Regan yang kesakitan.
Pastilah tuh anak nekat dan memaksa sehingga melupakan lukanya. Kalo Dinda ngga mungkin aneh aneh. Itulah asumsi mereka.
"Arga kapan jadinya nikahin Qoni?" tanya Alva setelah puas tertawa.
Padahal katamya sudah foto prewed. Tapi undangannya belum nyampe juga ke tangannya.
"Lo belum tau?" tanya Glen heran. Dia mulai mode.serius lagi.
"Tau apa?" Alva balik bertanya saking penasarannya.
Apa mereka.ngga jadi nikah?" batin Alva menebak curiga.
"Qoni minta mundur gara gara ngelihat dalam dompet Arga masih ada foto Ayana," jelas Glen dengan nada kasian.
"Haaah? Foto jadul itu masih disimpan juga?" kaget Alva berdecih.
__ADS_1
Padahal dikira sudah move on.
"Ya susahlah saingan sama orang yang sudah tiada," dengus Glen.
"Kecintaan dia lagi," tambah Glen lagi.
Mau sampai kapan dia begitu, batinnya saat mengingat Arga .
"Tuh anak apa memang ngga niat mau nikah?" gedek Alva.
"Gue rasa di kamar Arga pun masih penuh dengan foto foto Ayana," sambung Glen juga ngga kalah kesal camput kasiannya.
Keduanya terdiam. Hening sesaat.
"Oh iya, mana oleh oleh dari Dubai?" tukas Glen setelah ingat tujuannya datang.
"Lagi dalam perjalanan. Lo ngira gue bakal mau bawa barang banyak banyak? Ogah lah. Gue bulan madu, coyyy," ketus Alva panjang lebar.
Glen tertawa mendengarnya
"Emang apa yang lo mau kasih?"
"Karpet persia."
"Oooh.... ya, ya."
"Nih, kalo mau coklat onta " ucap Alva sambil menyodorkan empat kotak coklat ke arah Glen.
"Boleh juga," kekeh Glen.
"Jangan ngomong ke yang lain. Itu khusus buat lo. Yang lain tunggu aja sampai ekspedisinya sampe."
"Oke oke, gue ngerti. By the way, thank you a alot," ucap Glen senang.
__ADS_1
Alva tesenyum tipis setelah menganggukkan kepalanya.