
Tamara hampir saja kesiangan. Tapi tubuhnya dibelit kuat oleh Alva yang masih nyenyak tidurnya.
Kilasan kejadian tadi malam membuatnya semakin berdebar dan malu.
Mereka melakukannya lagi.
Tamara kesal kenapa dia selalu patuh pada keinginan Alva.
Malam.tadi mereka melakukannya sampai tiga kali. Bahkan Tamara terkejut akan posisi posisi berbeda yang dilakukan Alva.
Bahkan Tamara pun jadi ngga tau malu saat melakukan posisi woman on top. Di Dubai dia pun melakukannya. Tapi kali ini sedikit berbeda.
Sisi perempuannya yang haus sentuhan berhasil dibangkitkan Alva.
Tamara masih ingat betapa Alva bisa mengendalikannya
Aarrghh... dia ngga nyangka bisa seagresif ini.
"Al, bangun. Sudah siang," panggil Tamara pelan
Tapi laki laki ini ngga menyahut. Saat Tamara berusaha melepaskan belitan Alva, laki laki ini malah tambah erat melakukannya. Entah dia sadar atau engga.
Huh, dengus Tamara kesal. Ingin rasanya menendang laki laki ini jika ngga ingat wanti wanti mamanya agar jadi istri yang ngga durhaka.
"Alva, aku nanti bisa telat," ucap Tamara agak kesal. Ini adalah hari pertamanya mashk kerja setelah cuti pernikahannya.
Alva yang sejatinya sudah bangun melonggarkan belitannya hingga Tamara bisa melepaskan dirinya.
Bibitnya tersenyum melihat tubuh polos itu yang bergerak ke kamar mandi.
Dengan gemas Alva memeluk gulingnya. Membayangkan lagi Tamara saat melakukannya di atas tubuhnya.
Ngga disangka Tamara begitu agresif saat mereka melakukannnya. Dia pun takluk. Belum ada perempuan yang seahli itu seperti Tamara. Padahal gadis itu masih virgin. Dia mendapat keuntungan berlipat lipat.
Ngga lama kemudian gadis itu sudah keluar dari kamar mandi dengan bathrope nya.
Tanpa kata Alva pun berjalan memasuki kamar mandi. Padahal ingin sekali dia menarik bathrope itu dan memaksa istrinya lagi. Tapi kesadaran muncul dalam hatinya. Siapa tau selama ini Tamara sedang menahan hasratnya untuk menendang juniornya.
Dia bersenandung dengan riang. Kembali takjub saat keluar dari kamar mandi, tempat tidur mereka sudah rapi. Sisa sisa pertarungan mereka sudah ngga tampak lagi, seakan ngga pernh terjadi apa apa di sana.
Sambil menempelkan pomselnya Alva mencoba mengancingkan bagian tangannya. Dia baru saja memakai kemeja dan celana panjangnya saat telpon dari salah satu kliennya memanggilnya.
Tamara mendekat, melihat Alva yang terlihat kesulitan.
Dia pun mengancingkan ujung kemeja di bagian tangan Alva.
Alva terus menatapnya sambil menelpon. Mereka berdiri cukup dekat. Istrinya saat ini sudah rapi.
"Oke, Pak, Ya, boleh saja."
Setelah mengancingkan kedua ujung tangan Alva, Tamara membantu mengancingkan kemeja Alva di bagian dada.
"Saya bentar lg on the way," kata Alva sambil menahan nafas.
Dengan telaten Tamara mengambilkan jas Alva dan membantu memakainya.
Untuk ini mamanya sudah mentatarnya habis habisan sehari sebelum mereka menikah.
Kemudian Tamara berjalan duluan keluar dari ruangan yang mulai dirasakan Tamara kadar oksigennya sangat tipis.
Alva pun menyusulnya setelah terlebih dahulu menyimpan ponselnya.
Saat keduanya sampai di meja makan, mami dan papi menyambutnya dengan senyum bahagia.
__ADS_1
"Halo sayang," sapa mami Alva sambil meraih tangan mantu kesayangannya dan mengajaknya duduk di dekatmya.
"Tadi malam kalian masak mi instan, ya?" tanya mami membuat keduanya salimg pandang.
Gara gara grogi tadi malam, Tamara lupa membersihkan sisa mi yang mereka makan.
Alva tanpa sadar menggaruk kepalanya.
"Aku lapar, mami sayang. Bi Rani juga udah tidur," kata Alva beralasan.
"Jadi Tamara yang masak?" tanya mami agak khawatir kemudian meraih jari jari Tamara dan mulai mengamatinya.
"Iya. Aku, kan, ngga bisa masak, mam," ucap Alva lagi.
"Ngga kena air panas, kan, Tamara?" tanyanya sambil melihat wajah Tamara cemas.
"Ngga, kok, mam. Cuma masak mi aja," jawab Tamara agak rikuh.
Kenapa mami Alva sangat khawatir. Padahal mamanya cuek aja saat dia memegang cangkul ketika akan menanam tanaman mangga di rumahnya.
"Gimana nanti sore kita ke salon. Tangan kamu harus d rawat Tamara sayang,."
Tamara memperhatikan jari jarinya. Rasanya ngga bulukan juga. Tamara paling malas ke salon hanya untuk meni pedi. Dia memang ke salon seminggu sekali, buat luluran dan perawatan rambut saja.
"Ikutin aja Tamara. Kuku kamu juga polos banget. Dilukis dikit biar lebih cantik," respon Alva setuju dengan memberikan usulan yang bikin Tamara meliriknya kesal.
"Kenapa?" tanya Alva ngga ngerti kenapa Tamara menjadi marah..Dia mengusulkan itu agar maminya ngga memperpanjang urusan ngga penting ini.
"Bos di kantor ngga bolehin kuku dlukis," jawab Tanara menjelaskan.
Dia bukan model. Dia ini pegawai instansi pemerintahan. Agaknya suaminya lupa.
"Betul. Mana ada pegawai pemerintah aneh aneh kukunya.. Bisa dapat peringatan nanti Tamara," bela Papi ikut tersenyum.
"Iya, mi. Alva udah lapar, nih," ucap Alva sambil melihat jam tangannya. Mana tadi sudah bohong sama klien kalo lagi on the way.
"Ya, iya," ucap mami sambil memberikan piring yang berisi roti bakar lapis keju ke arah Alva. Kemudian Tamara. Tanara agak sedih menatap sarapannya.
Nanti sarapan di kantin lagi, batin Tamara. Dia ngga biasa pagi pagi makan roti. Di rumah kalo sarapan, pasti ada menu nasi.
Walaupun sekarang udah ngga ikut tanding lagi, tetap.saja Tamara mengawasi para atlet betlatih. Dan kadang turun langsung memberikan contoh.
Apa maminya lupa kalo mantunya ini mantan atlet? Bukan model yang harus menjaga pola makannya.
"Kalian harus mengkonsumsi makanan sehat. Mami, papi dan orang tua Tamara ngga mau lama lama nunggu cucu," ucap mami lagi sambil memotong rotinya.
Aduh, Tamara jadi ngga merasa santai dengan pernikahannya. Kembali dia merasa apes karena menikahi anak tunggal.
"Alva, kamu upayakan agar Tamara cepat hamil," kata maminya enteng.
"Siap, mam," balas Alva cepat.
Itu so pasti, mam.
Tamara menutup mulutnya yang sempat ternganga karena omongan mertuanya yang blak blakan dan respon suaminya yang penuh semangat
Papi Alva tertawa kecil melihat betapa antusiasnya istrinya.
*
*
*
__ADS_1
"Putri saya kaget begitu tau anda sudah menikah," sambut Pak Arya sambil mengulurkan tangannya
Alva ngga menyahut, hanya balas menyambut jabat angan sahabat papinya dengan senyum lebarnya.
"Putri saya patah hati," gelak Pak Arya membahana.
"Masih banyak laki laki.yang lebih dari saya, Pak," kata Alva sok meremdah. Padahal dalam hati dia merasa bangga karena ada perempuan yang patah hati padanya. Kecuali Meti. Dia malah tertekan.
"Kalo Pak Alva mau, putri saya katanya mau jadi istri kedua," kata Pak Arya penuh maksud.
Alva hanya tertawa saja menanggapinya. Dia menganggapnya hanya sekedar becanda. Lagian kalo serius, apa dia sanggup menahan amukan Tamara?
Alva pastinya ngga mau membangunkan singa galak yang sedang tidur. Dia udah sangat senang bisa melihat Tamara yang jinak bagaikan kucing persia yang penurut dan menggemaskan.
"Alvaaa."
Suara manja itu membuat Alva berpaling.
Shina yang ditemuinya di Dubai melambaikan tangan padanya.
Matanya menoleh pada Pak Arya yang tersenyum penuh arti.
Shina anak Pak Arya? batin Alva merasa kecele.
Gadis seksi itu dengan manja menghampiri Alva dan bergayut di lengannya.
Topan sang asisten pura pura ngga melihat.
Dengan kaku Alva melepaskan pegangan Shina.
"Hai," sapanya garing.
"Kalian bisa membahasnya di ruang meeting. Maaf Pak Alva, saya tinggal dulu," kata Pak Arya sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi.
Alva menghela nafas..Yakin dia dijebak. Awalnya dia merasa heran dengan persentase keuntungan yang sangat besar untuknya. Ternyata ini maksud sebenarnya. Nantinya Shina yang akan menghandle proyek ini bersamanya.
Alva bukan laki laki kuat godaan seperti Kiano..Dia sama lemahnya dengan Glen dan Reno.
"Kenapa?" tanya Shiha heran ketika Alva melepas pegangan tangannya dan menghentikan langkahnya.
"Sorry, gue ngga bisa. Proyek ini gue batalin," kata Alva to.the point.
Dia baru saja menikah, tentunya dia ngga ingin membuat ulah. Alva yakin Tamara ngga akan memaafkannya jika dia khilaf.
"Jangan. Kalo perlu gue akan ngomong ke istri lo. Gue ngga apa apa jadi yang kedua. Papi sama mami udah setuju," kata Shina nekad.
Alva menggelengkan kepalanya. Dia.meralat ucapannya tadi. Ternyata Shina sama saja seperti Meti yang membuatnya tertekan.
Topan sampai speachless mendengarnya.
Bosnya menolak?
"Dulu kita melakukannya hanya sama sama suka. Tanpa komitmen. Aku juga melakukan hal itu dengan perempuan lainnya. Sorry," ucap Alva sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
"Alva, tapi aku ngga pernah melakukannya dengan yang lain," kata Shina lirih membuat langkah Alva terhenti.
Alva tau, dia juga mendapatkan kevirginan Shina. Dulu dia memang gila. Hot Player. Dirinya si brengsek yang sangat beruntung.
"Sorry, Shina. Gue ngga bisa," tolak Alva lagi sambil mempercepat langkahnya. Dia ngga mau sampai goyah.
Topan menatap Shina sesaat sebelum pergi mengikuti langkah bosnya.
Dia kasian melihat Shina yang hampir menangis, tapi juga dia salut dengan bosnya.
__ADS_1
Tumben ngga tergoda.