
"Aruna!"
"Dokter!"
"Uciiii!"
Kiano bergegas menghampiri Aruna yang kini sudah mendudukkan dirinya bersama Suster Uci.
"Suster Uci, kamu ngga apa apa?" tanya Aruna panik sambil memeriksa keadaan susternya tanpa mempedulikan keadaannya.
Tubuhnya masih gemetar, begitu juga tubuh suster Uci. Seandainya susternya ngga cepat menyelamatkannya, dia pasti sudah ditabrak ambulance yang ngebut kesetanan itu.
"Sa saya ngga pa pa, dokter. Syukurlah dokter juga ngga apa apa," serunya dengan bibir bergetar. Kemudian dia pun menangis karena kejadian tadi sangat menakutkan.
"Syukurlah kamu ngga apa apa," kata seorang perawat laki laki yang langsung meraih Suster Uci yang menangis dalam dekapannya. Nafas laki laki itu masih memburu saking kaget dan khawatir akibat kejadian barusan. Sedetik saja dia telat, semuanya akan berakhir ceceran darah.
Apalagi sepertinya supir ambulance itu sudah mengincar dokter Aruna sebagai targetnya. Bisa bisanya mereka membajak ambulance rumah sakit untuk berbuat kejahatan. Dan yang membuat sport jantungnya tambah parah adalah perawat yang sudah membuatnya patah hati juga ikut dalam bahaya karena nekat menolong dokternya.
"Januar?" kagetnya berbisik dengan air mata yang tumpah dengan deras membasahi pipinya. Matanya membesar menatap laki laki idamannya. Laki laki middle quality yang ingin dia jadikan imamnya. Ngga disangkanya laki laki itu ada di sini di saat dia membutuhkan sandaran dari keterkejutannya.
Mungkinkah Juna yang mendoring brankar? tebaknya membatin.
"Menangislah," kata perawat laki laki itu yang ternyata memang Januar dengan lembut. Januar langsung membiarkan Suster Uci menangis di dadanya. Sampai baju putihnya basah. Januar dapat merasakan ketakutan luar biasa dari gadis yang sulit dia dekati itu. Tubuh Sustri Uci terasa dingin dalam pelukannya. Bahkan gadis itu terlihat lemas, seolah tenaganya hilang lenyap akibat keterkejutannya tadi.
Kebetulan sekali Januar sedang berada di situ dan sedang membawa brankar setelah mengantar pasien ke mobil. Supir ambulance itu kaget dan langsung menekan rem dalam dalam dan membanting stir untuk menghindari brankar yang datang tiba tiba di depan mobil ambulance yang sedang dibawanya dalam kecepatan tinggi.
Aruna menatap penuh haru pada Suster Ucinya yang kini sedang dipeluk oleh seorang perawat laki laki yang cukup tampan.
Apakah itu Januar? batinnya menebak.
"Sayang."
Kiano langsung bersimpuh dan menarik Aruna dalam pelukan. Betapa takutnya dia tadi saat melihat mobil ambulance itu akan menabrak istrinya dengan dia yang ngga bisa melakukan apa apa.
Saat ini Kiano menyesali kebodohannya yang bimbamg untuk menabrakkan mobilnya ke ambulance. Kiano takut kalo di ambulance itu ada pasien kecelakaan yang membuat jalanan macet. Ternyata dugaannya salah. Mereka sudah berkomplot merencanakan hal ini dengan sangat matang.
"Terima kasih," katanya pada Januar, perawat yang membantu menghindarkan tabrakan mengerikan di depan matanya.
"Sama sama," kata Januar sambil menepuk nepuk pelan bahu Suster Uci yang masih saja menangis.
__ADS_1
"Kamu ngga apa apa? Ada yang sakit?" tanya Kiano khawatir. Dia melihat Aruna dan susternya jatuh terhempas sambil berpelukan. Kiano sangat berterimakasih pada kedua orang yang sednag berpelukan di depannya. Seandainya suster Uci telat mendorong Aruna, Kiano ngga bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Arunanya.
"Kakiku terkilir," bisik Aruna dengan suara masih bergetar. Dia hampir saja meninggal.
"Kiano, aku takut," bisik Aruna lirih sambil mengeratkan pelukannya. Rasanya nyawanya hampir lepas dari badannya.
"Maafkan aku yang jemput kamu terlambat," kata Kiano penuh sesal. Harusnya dia datang satu jam yang lalu, tapi rapat mendadak dengan Claudia membuatnya tertahan.
Untung Regan berhasil membuatnya pergi dari putri Herman Permana yang entah mengapa seolah sengaja tidak membiarkannya pergi.
Aruna menggelengkan kepalanya.
"Bukan salah kamu," bisik Aruna lagi. Suaranya masih bergetar karena pompaan jantungnya pun masih kencang memukul keras dadanya.
Saat ini Kiano dapat merasakan jantung Aruna yang berdetak sangat keras dan cepat. Kiano tau Aruna sangat terguncang. Kedua tangannya mengepal menahan marah.
Konspirasi siapa ini, batinnya geram.
Ternyata komplotan itu sudah menyiapkannya dengan sangat rapi. Cctv di rusak, padahal setengah jam sebelumnya masih baik baik saja.
Kiano menggendong Aruna dan menatap perawat laki laki yang menggendong asisten Aruna.
"Sama sama."
"Kalian mau ikut bersama kami?" tanya Kiano menawarkan.
"Tidak usah. Saya yang akan mengantarnya pulang," jawab Januar mantap.
"Oke."
Kiano pun membawa Aruna pergi lebih dulu. Sementara petugas sekuriti bahkan polisi sudah datang dan sedang memeriksa tempat tersebut untuk mencari bukti.
"Dokter Aruna, syukurlah anda baik baik saja," seru dokter Burhan yang baru saja tiba di lokasi kejadian. Beliau baru saja menyelesaikan operasi pasiennya. Dan sangat terkejut mendapat kabar dari perawatnya akan insiden yang dialami dokter Aruna di basemen.
Aruna hanya tersenyum dalam wajah pucatnya.
"Om, dua perawat itu yang berjasa menyelamatkan Aruna," kata Kiano memberitau.
Dokter Burhan menatap kedua perawatnya dengan tataapn penuh syukur.
__ADS_1
"Terimakasih Januar, Uci."
"Sama sama dokter," jawab Januar. Sedangkan suster Uci masih terisak dalam pelukan Januar.
"Antarkan Uci pulang, ya. Suster Uci bisa libur selama dua hari. Tapu lebih baik suster Uci diperiksa dulu, Janu, siapa tau dia terluka," putus Om Burhan tegas dan perhatian.
"Iya, dokter," sahut Arjuna patuh.
"Kami permisi, dokter," kata Kiano pamit.
"Periksalah keadaan Aruna lebih dahulu, Kiano," kata dokter Burhan khawatir.
"Ya, om, terimakasih. Tapi nanti saja, Aruna masih shock," tolak Kiano sopan.
"Om mengerti. Kamu hati hati, ya, pulangnya. Kejadian ini akan Om selidiki sampai tuntas. Om janji," ucap Om Burhan sambil memegang oundaknya.
Kiano menganggukkan kepalanya, kemudian membawa Aruna ke mobilnya. Karena dia tau saat ini Aruna ingin segera pergi dari tempat yang membuatnya trauma. Nanti dia akan memanggil dokter jika sudah sampai di resort. Baginya yang terpenting adalah kenyamanan Aruna.
Kiano mendudukkan Aruna hati hati di sebelahnya. Seorang sekuriti membantu menahan pintu mobil.
"Terimakasih," kata Kiano pada sekuriti itu.
"Sama sama, pak," sahut sekuriti itu sambil mundur karena Kiano akan menutup pintu mobilnya.
Setengah berlari Kiano memutar mobilnya dan masuk ke dalam. Kemudian menyetir pelan meninggalkan parkiran dan kerumunan.
Sebelah tangan Kiano terus menggenggam jemari Aruna yang masih terasa dingin. Aruna masih menatap mobil ambulance yang hampir menabraknya sampai menghilamg. Ngga disangka mobil yang membawa pasien akan menabrak dirinya.
Kiano membawa kepala Aruna agar bersandar di bahunya. Kiano membawa mobilnya senyaman mungkin agar Aruna bisa meredakan ketakutannnya.
Kiano akan mencari sendiri pelaku yang sudah membuat istrinya hampir celaka. Ngga akan dibiarkannya orang itu mengusik Arunanya lagi sedikitpun.
Hanya saja Kiano heran, siapa yang berani bermain main nyawa dengan istrinya. Istri Kiano Artha Mahendra.
Ngga bisa dibiarkan! geramnya dalam hati.
*
*
__ADS_1
*