
Arga tertawa menyambut kedatangan Regan yang juga mengembamgkan senyum lebarnya. Ada kepuasan tergambar jelas di wajahnya.
"Berhasil ya," selanya diantaa tawa gelaknya.
"YES!" sahut Regan mantap dalam kekehannya.
Dapat Regan rasakan tatapan menusuk Alva padanya tadi.
"Makanya kalo membenci jangan sampai keterlaluan," lanjut Arga lagi.mencela sifat Alva.
Regan hanya mengangguk dalam tawanya yang masih berderai derai.
"Seru ya," timbrung Glen yang barusan datang memghampiri kedua sahabatnya yang sedang tergelak.
Glen langsung menghentikan dansanya begitu melihat Regan berjalan menghampiri Arga. Glen pun dapat melihat dengan jelas reaksi kesal atau cemburu(?) Alva.
Memang sosok Regan sangat pantas dicemburui. Track recordnya cukup bersih dalam hal wanita. Sama seperti Kiano dan Arga. Kalo dirinya, Reno dan Alva sudah sangat sangat brengsek.
Ngga lama kemudian Reno datang menghampiri, juga sama dengan tawa yang berderai derai.
Sangat menyenangkan sekali melihat Alva yang kebakaran jenggot, seperti cacing kepanasan, atau apa pun istilah yang bersinonim dengan itu.
Sementara di pihak orang tua, papi Alva, papi Kiano, dady Reno, papa Regan dan papa Arga sama terkekeh.
Papa Tamara hanya tersenyum. Beliau menyadari kebenaran kata kata salah satu rekan bisnisnya.
Mungkin hal ini bagus juga, tadi Alva terlihat cemburu, batinnya menilai. Putrinya pun terlihat agak salah tingkah.
"Putri anda kerja di perusahaan?" tanya papa Regan setelah tawa mereka mereda.
"Dia altlet nasional karate," kata Papa Tamara bangga.
"Wow."
__ADS_1
"Keren ya."
"Jarang sekali perempuan secantik itu menekuni bidang karate. Apa lagi jadi atlet nasional."
"Betul betul hebat."
Pujian dan decakan kagum mengalir membuat papa Tamara bertambah bangga.
"Alva bisa dismackdown dengan mudah kalo berani macam macam dengan Tamara," gelak papa Alva membuat para rekan bisnisnya pun tertawa terbahak bahak. Termasuk papa Tamara. Mereka sama membayangkan bagaimana keadaan Alva jika saat itu benar benar terjadi. Dismackdown Tamara.
Papa Alva cukup puas dengan background Tamara yang atlet, sangat beda dengan perempuan perempuan yang biasa dikencani putra tunggalnya yang berprofesi sebagai model.
Beliau sangat berharap Tamara bisa merubah sikap seenak hatinya Alva.
Di lantai dansa, Tamara berkali kali menahan nafas karena posisi Alva yang sangat dekat dengannya. Dia berusaha menjauhkan wajah nya sejauh mungkin membuat senyum smirk Alva selalu terukir.
"Kamu ternyata pintar dansa juga," puji Alva tulus. Awalnya dia ngga percaya melihat gerak luwes Tamara mengikuti ritmenya, karena image kekar yang selalu Alva sematkan pada Tamara. Otomatis.yang tertanam di otaknya kalo gadis ini memiliki tulang tulang yang pasti sekaku batang pohon.
"Hem," jawab Tamara enggan. Engga ada yang tau kalo Tamara kecil sangat tersiksa dipaksa kakak kakaknya untuk les menari.
Itulah yang selalu kakak kakaknya ucapkan sampai telinganya rasanya ditumbuhi banyak jamur.
"Sanpai kapan kita begini. Aku udah capek," sambung Tamara lagi. Dia juga merasa rikuh dan debaran jantungnya semakin kurang ajar.
"Ya udah, kalo capek kamu nyandar aja di dada aku. Aku masih ingin dansa dengan kamu lebih lama lagi," jawab Alva dengan netra tajamnya yang terus menyorot Tamara.
Tamara menghela nafas kasar.
Kalo ngga ada orang tua mereka dan bukan acara resmi, ingin rasanya Tamara menginjak kaki Alva dengan heelsnya. Biar dia berteriak kesakitan, baru Tamara akan merasa puas.
Alva masih ingin terus menikmati dansanya bersama Tamara. Dia pun merasa bingung dan bodoh, kenapa harus secara norak meminta berdansa dengan Tamara di depan Regan. Hatinya jadi kesal ketika melihat para sahabatnya yang sudah berkumpul dan tergelak sambil menatapnya sesekali. Tentu saja dengan tatapan mengejek padanya.
Begitu juga dengan papinya dan papi sahabat sahabatnya. Mereka juga tertawa dan terlihat senang melihat kebodohan yang dia lakukan.
__ADS_1
Alva ingin menggusar rambutnya saking kesalnya. Tapi untunglah ngga sia sia dirinya bersikap konyol. Berdansa dengan Tamara juga cukup menyenangkan. Dan jantung sialannya terus berdebar keras tiada henti. Cukup memalukan.
"Kamu masih memikirkan kata kataku yang akan melepasmu untuk Regan?" tanya Alva penasaran akan reaksi Tamara.
"Nggak," jawab Tamara agak ketus
Alva menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah. Waktu itu aku terpaksa ngomong gitu karena keadaan kita sangat gawat," kata Alva berusaha menjelaskan.
"Hem," jawab Tamara males campur kesal karena diingatkan lagi hal yang ngga menyenangkan waktu itu.
"Kamu mau pulang? Akan aku antarkan," kata Alva menawarkan. Dia ingin menghindar dari sahabat sahabatnya. Paling engga selama seminggu, sampai mereka sudah melupakan kejadian memalukan ini. Jika tidak, dirinya pasti akan jadi bulan bulanan buliying para sahabatnya itu.
"Aku pulang dengan Aruna," tolak Tamara cepat. Tanpa bisa dicegah, Tamara menguap. Tamara pun reflek menutup mulutnya.
Rasanya ngantuk sekali, keluhnya.
Tapi Alva menjadi senang melihatnya.
"Kita pulang," tegas Alva sambil menarik tangan Tamara untuk meninggalkan lantai dansa.
"Alva, aku pulang sama Aruna," kesal Tamara yang tangannya terus saja ditarik tarik Alva hingga dia terpaksa mengikuti langkah laki laki itu.
"Biarkan Aruna bermesraan dengan Kiano. kita berdua nanti juga bisa bermesraan di mobilku," tukas Alva enteng.
"WHAT?!"
Tamara merasa telinganya salah mendengar.
Mana mungkin, bantahnya dalam hati.
Alva ngga menjawab, tapi malah melebarkan langkah kakinya membuat Tamara agak kesulitan menjejari langkahnya.
__ADS_1
Tamara menyesal telah memakai dres selutut dan heels yang cukup tinggi hingga agak sulit untuk bergerak cepat.