
Rain menolak saat Reno akan mengantarkannya pulang. Rain pun terpaksa berbohong pada Lilo kalo dia sudah pulang duluan dan naek taksi online.
Laki laki itu kedengaran agak panik saat menelpon dirinya karena ngga menjumpainya menunggu di sana.
Ngga mungkin Rain akan membuat Lilo curiga dengan wajahnya yang terlihat jelas habis menangis. Pasti dia akan banyak bertanya.
Sekarang Rain masih di sebuah kafe ngga jauh dari perusahaan Reno. Dia perlu menenangkan perasaannya.
Kata kata Reno dan test pack yang berada dalam tasnya sangat membuatnya ngga tenang. Dia deg degan menunggu esok hari.
Bisa saja dia nge test sekarang, tapi hasilnya ngga optimal berdasarkan info saat dia gugling. Reno juga berkata demikian.
Sepertinya dia sudah sering melakukan ini, geram Rain dalam hati.
Besok pagi adalah saat yang paling optimal. Saat dia bangun pagi.
Rain meneguk jus jeruknya.
Akhir akhir ini Rain lebih menyukai jus jeruk dari pada strawberi yang merupakan kesukaannya.
Dia pun memesan taksi online setelah jusnya tinggal separuh. Tetap saja Rain ngga merasa tenang.
Kalo dia ngga hamil, akan sangat melegakan. Tapi kalo hamil?
Rain menghela nafas panjang untuk menguramgi sesak dalam dadanya.
Laki laki itu pun sepertinya ketakutan sampai membelikannya lima alat test pack kehamilan.
Pasti dia takut aku hamil dan dia terpaksa bertanggung jawab, batin Rain sedih campur marah.
Kalo aku ngga hamil dia pasti merasa sangat lega dan bebas.
Dadanya mulai sesak lagi.
Nggak boleh nangis.
Katanya dalan hati terus menguatkan.
Dia menghabiskan jusnya saat ada pesan dari supir taksi onlime yang mendekat.
Masih dengan langkah gontai Rain memghampiri taksinya yang baru datang.
Tanpa dia tau, Reno mengikuti dirinya sejak tadi. Begitu pun saat taksi online itu bergerak pergi meninggalkan kafe itu.
*
*
*
Papi dan Alvian menahan nafas saat melihat cctv yang diputar di hadapan mereka.
Reno yang menarik paksa Rain dan membawanya ke parkiran CEO.
Keduanya melengak kaget melihat putri Pak Ruslan menampar Reno dan menangis dalam pelukan Reno.
__ADS_1
"Apa mereka ada hubungan?" tanya papi dengan lidah kelu saking kagetnya.
Setaunya Reno ngga pernah terlihat selembut ini dengan perempuan.
Bahkan dengan Nadia, Reno ngga pernah menunjukkan ekspresinya seperti ini.
Bahkan gadis ini berani menamparnya, batin Papi Reno tergelitik
Apalagi melihat reaksi Reno yang sepertinya menerima tamparan itu dengan perasaan ikhlas. Sangat aneh.
"Aku juga ngga tau, pap," jawab Alvian sama terkejutnya.
Tapi dalam hati dia senang melihat ada seorang perempuan yang berani menampar adik playernya itu.
"Bagaimana dengan Nadia, pap?" tanya Alvian lagi. Terimgat kalo adiknya sebentar lagi akan menikah tapi malah ada video seperti ini.
Papinya terdiam. Keluarga Nadia sangat mendukung hubungan Nadia dan Reno. Nadia pun sangat menyukai putra bungsunya.
Tapi gadis ini seperti ngga menginginkan putranya. Hanya saja kenapa putranya sepertinya menyukainya?
Papi Reno membuang nafasnya perlahan.
Putranya membiarkan gadis itu menangis di pelukannya. Bahkan memaksanya.
Apa yang telah terjadi diantara keduanya?
"Reno belum kembali?"
"Belum, pap."
Melihat wajah putri Pak Ruslan Dintara yang tertekan, papi tau, Reno dalam masalah besar.
"Suruh Reno temuin papi kalo dia sudah pulang," kata Papi Reno sebelum maauk ke ruangannya.
Alvian menaruh kedua tangannya di saku celananya. Pikirannya pun mulai ngga tenang.
Kamu buat ulah apa lagi?
*
*
*
Reno sekarang duduk di ruangannya dengan gelisah menunggu besok. Dia sengaja ngga pulang ke perusahaan papinya, tapi malah ke perusahaannya bersama teman temannya.
Reno ngga mempedulikan pintu yang dibuka. Kedua tangannya masih menangkupi wajahnya.
"Lo lagi pusing?" tanya Glen sambil duduk di depannya.
Reno ngga menjawab. Tapi dia menjauhkan kedua tangannya dan kini matanya memandang aneh pada Glen.
Wajah sahabatnya terlihat kusut seperti kurang tidur. Rambutnya pun ngga di sisir.
"Lo kenapa?"
__ADS_1
Glen menyeringai.
"Sama kayak lo."
Reno pun balas menyeringai.
"Masalah perempuan?" kekehnya perlahan.
"Yes!" Glen pun tergelak.
Keduanya pun tergelak gelak, saling mengetawai diri mereka sendiri.
Setengah Jam kemudian.
"Gue udah ngga mau minum alkohol lagi," kata Glen.
Saat ini mereka duduk santai di sofa.
"Karena penyakit lo?" tebak Reno. Dia tau Glen mengurangi alkohol atas saran Aruna.
Mengurangi, bukan ngga sama sekali.
"Salah satunya."
"Gue belum bisa. Sekarang malah gue butuh banget alkohol."
Glen kembali menyeringai.
Alkohol membuatnya hilang kendali. Hilang harga diri sebagai laki laki.
Dia merasa diremehkan ketika Meti dengan tenangnya menolak pertanggung jawabannya.
Meti malah melindunginya. Padahal harusnya dia yang melindungi Meti.
"Lo ada masalah apa?" tanya Glen ingin tau. Walaupun dia punya masalah berat, jiwa keponya akan hidup orang lain tetap jadi prioritasnya.
"Lo sendiri?" Reno balik bertanya. Glen pasti akan marah jika tau kebrengsekannya.
Glen membuang nafasnya kesal.
Cerita, enggak. Cerita enggak.
Tapi akhirnya dia putuskan Reno boleh tau.
"Gue, malam itu mabok."
Reno menatap wajah Glen serius tanpa maksud bertanya.
"Gue sama Meti."
"APA?!"
Reno benar benar kaget sampai bisa berseru sekencang itu. Glen sampai berjengkit mendengarmya.
Apa reaksi Alva bakalan sama kayak lo? Apa gue langsung ditonjok? Batin Glen agak ketar ketir.
__ADS_1