
Aruna ngga tau sudah berapa lama Kiano mencium mesra bibirnya. Bahkan Aruna juga membalas dan membuka sedikit biibrnya. Tapi Kiano ngga berbuat lebih, tidak sampai mengeksplor dengan lidahnya.
Ciuman Kiano begitu lembut. Aruna menikmatinya. Kedua tangannya merangkul erat leher Kiano. Sesekali Aruna mende*sah.
Akhirnya Kiano melepaskan tautan bibir mereka. Dia menatap mata sayu Aruna. Tangan Aruna masih melingkar di lehernya.
"Sampai kapan?" tanya Kiano sambil menatap Aruna lekat.
"Apah?" tanya Aruna bingung. Dia seakan masih belum sadar akan posisinya kini.
Matanya mengikiuti lirikan mata Kiano pada tangannya, seakan memberitahu apa yang sudah dokter yang selalu menolaknya itu lakukan
"Aahh," jerit Aruna yang kini sudah hampir seratus persen sadar dengan wajah sangat merah
Aruna reflek melepaskan rangkulannya dan berontak untuk turun. Tapi Kiano menahannya dengan kedua tangannya, karena Aruna hampir terjungkal dari atas tempat tidur.
"Bodoh, kamu bisa jatuh," marah Kiano sambil mendekap erat tubuh Aruna.
Aruna terdiam. Jantungnya masih berdebar keras. Dia pun masih dapat merasakan pukulan bertubi jantung Kiano di dadanya.
Pikiran Aruna masih belum sempurna. Ciuman Kiano sangat membuainya. Ciuman yang beda, tanpa naf*su kemarahan di sana. Aruna masih bertahan di dada Kiano sampai melihat aliran darah Kiano di selang infus.
"Kamu berdarah," ucapnya panik sambil berusaha melepaskan diri.
"Biarkan. Aku rela darahku habis asal bisa ciuman begini terus sama kamu," balas Kiano penuh arti.
Aruna terdiam. Kiano kini tambah mendekatkan bibirnya. Mata Aruna terpejam ketika merasa benda dingin itu menyentuh lagi bibirnya. Bahkan Kiano menyesapnya cukup kuat dengan mengeratkan pelukannya. Aruna pun kembali mengalungkan tangannya ke leher Kiano, bahkan menekan Kiano agar semakin dalam menciumannya.
*
*
*
Aruna membetulkan selang infus Kiano. Membersihkan noda darah di tangannya dengan lembut tanpa berani menatap Kiano yang terus menatapnya.
Hampir setengah jam mereka berciuman. Nafas Aruna sampai beberapa kali nyaris terhenti. Aruna masih belum berani menatap Kiano. Dia masih merasa sangat malu. Selama ini selalu menolak Kiano, selalu jutek, tapi saat dicium, dia menjadi lemah membiarkan Kaino berkuasa atas dirinya.
Perasaannya masih melayang. Apalagi ketika Kiano mengecup lembut lehernya membuat dia ngga tahan dan bergerak ke kanan dan ke kiri. Dan terlupa dengan bertukarnya isi selang infus yang sudah berganti dengan darah Kiano.
Kiano sudah sangat membuainya.
__ADS_1
Cinta yang dia pendam seakan meluap. Dia lemah. Aruna masih tetap cinta. Bibirnya ngga menolak juga hatinya. Tapi pikirannya masih takut Kiano mempermainkannya.
Kiano tersenyum memgamati Aruna yang terlihat salah tingkah. Bibirnya masih merasakan lembutnya bibir Aruna. Aruna sudah menerimanya walaupun di luarnya terlihat menolaknya. Tapi pelukan Aruna dengan dokter Farel membuatnya ragu dan kesal.
Walaupun suster cerewet itu mati matian mengatakan Aruna belum punya pacar dan menentang kata katanya waktu itu, Kiano tetap masih belum bisa percaya begitu saja. Dia butuh bukti.
Kiano teringat apa yang dikatakan Regan malam kemarin.
Menurut Regan mungkin itu gerak reflek karena telah berhasil memyelamatkan pasien dari operasi. Sekarang Regan lagi menunggu informasi dari Reno, untuk memastikan apakah saat itu Aruna dan dokter brengsek itu telah sukses menyelesaikan operasi. Kalo iya, berarti dokter brengsek itu sengaja memanfaatkan situasi, geram Kiano dalam hati.
Baru saja Kiano selesai memaki dalam hati, hp di kantong celananya bergetar.
Wajahnya menampilkan kekesalan yang amat sangat. Regan benar, Aruna membantu dokter brengsek itu melakukan operasi caesar salah satu pasiennya yang cukup mengancam keselamatan nyawa ibu dan sang bayi. Bahkan mereka hampir kehilangan mereka. Wajarlah Aruna ngga sadar kalo sang dokter memanfaatkan keadaan.
Tapi gadis lugu ini harus dia peringatkan agar ngga sembarang orang bisa menyentuhnya, apalagi sampai memeluknya, kecam Kiano sambil.menatap Aruna yang kini menyibukkan diri dengan menutup gorden kamar sebagian. Hanya sebagian. Itu pun dilakukannya berulang ulang membuat kekesalan Kiano menguap berganti dengan senyum jahil tersungging di bibirnya.
*
*
*
Suster Uci yang sedang menunggu perawat pria yang baru saja bekerja di rumah sakitnya terkejut ketika sebiah mobil sport mewah berhenti di depannya.
Saat kaca mobilnya diturunkan, seraut wajah tanpan yang tentu saja mengalahkan wajah sang perawat pria yang akan dikencaninya itu tersenyum menebarkan pesonanya yang tak terbantahkan.
"Mas Reno?" seru suster Uci saking senangnya.
"Mau jalan jalan? Aku sedang mencoba mobil baruku," undang Reno dengan nada lembut.
"Tentu saja mau," sambut suster Uci yang langsung saja masuk ke dalam mobil Reno. Saking girangnya dia lupa kalo janjian dengan perawat pria idola di rumah sakitnya. Januar.
Dalam pikiran suster Uci, kapan lagi naek mobil sport mewah keluaran terbaru. Milyaran pasti harganya. Disupiri laki laki super tampan lagi.
"Maaf mas Reno. Saya boleh numpang foto di mobilnya?" tanya suster Uci sambil mengeluarkan hpnya. Dia akan memasangnya di status semua akun sosmednya. Biar teman teman perawatnya iri akan keberuntingannya. Juga orang tuanya bakalan bangga kalo anaknya punya teman orang super kaya. Memang dekat dengan dokter Aruna menaikkan derajatnya sangat tinggi.
Waktu di pesta itu saja saat dia minta diajak dokter Aruna, dirinya sudah jadi trending topik di mana mana. Teman teman perawat menatap iri padanya. Dan orang tuanya menjadi sangat bangga karena mereka menjadi pembicaraan tetangga di kompleksnya.
"Boleh," kekeh Reno sambil melirik suster Uci sebentar. Reno sama sekali ngga keberatan. Beberapa kali wajah tampannya ikut dipotret selain selfi sang suster pada mobilnya. Bahkan suster Uci juga membuat video dengam durasi pendek perjalanannya dengan pemilik mobil yang sangat tampan dan kaya raya.
"Tadi kanu menunggu dokter Aruna?" tanya Reno setelah suster Uci mengupload semua yang di foto dan di videokan di sosmednya.
__ADS_1
""Astaga," kagetnya. Tangannya sampai menutup mulutnya yang mengeluarkan suara keras.
Baru dia teringat belum mengabari Januar kalo dia ngga jadi ikut pulang bareng.
Waduh.
Pasti Januar sekarang tau kenapa dia bisa hilang tanpa kabar. Apalagi semua upload tannya sudah tayang semua di sosmednya. Pasti sudah banyak yang melihat, dan akan mengabarinya jika Januar masih juga belum tau.
Tangkapannya bisa lolos begitu saja. Padahal dia susah bersusah payah selama ini menarik simpati Januar. Persaingan yang gila gilaan dengan para suster akan sia sia, bisa out nasibnya kalo Januar sampai sakit hati.
"Aruna ngga bakal marah," tukas Reno salah paham ketika melihat wajah pucat suster Uci.
"Semoga ya mas," harapnya, tapi tentu saja pengharapannya bukan untuk dokter Aruna, tapi buat Januar. Calon masa depannya. Tapi suster Uci ngga mungkin mengatakan alasan yang sejujur jujurnya pada mas Reno. Calon suami khayalannya. Bisa bisa mas Reno ilfeel dan ngga mengajaknya lagi jalan jalan dengan mobil mewahnya.
"Kamu sering bantu dokter Aruna dan dokter Farel ya?" todong Reno pada maksud dan tujuannya mengajak sang suster. Regan memintanya menggali informasi tentang Aruna untuk Kiano yang akhir akhir ini bersikap aneh.
"Iya, mas. Selalu menegangkan," cerita suster Uci penuh semangat.
"Apalagi ketika dokter Farel dan dokter Aruna bisa menyelamatkan ibu bayi yang koma. Baru aja sadar kemarin," sambung lagi dengan dada dipenuhi debaran.
"Dokter Farel sampai memeluk dokter Aruna saking gembiranya. Saya ngga lihat pas adegan itu mas, tapi teman teman perawat yang cerita. Sayang sekali saya ngga lihat. Pasti seru banget," lanjutnya lagi dengan nada riang.
"Oooh," ucap Reno dengan senyum miring.
Misi berhasil, batin Reno senang.
*
*
*
"Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Kiano membuat Aruna menoleh.
Aruna menatap manik mata Kiano sebelum menghela nafas.
"Tentu saja yang membuat bahagia," jawab Aruna kemudian tersenyunyum tipis.
"Sama," tandas Kiano sambil menganggukkan kepalanya.
Aku pasti akan membahagiakan kamu, janji Kiano dalam hati.
__ADS_1