
"Lo ngga mau nyumbang lagu?" ledek Regan di sela sela kekehannya sambil menyenggol pelan bahu Reno.
Reno ngga menggubris. Perasaannya masih terlalu senang melihat kelakuan Meti.
"Lagu patah hati misalnya?" timbrung Glen yang tiba tiba sudah ada di antara Reno dan Regan.
Regan ngga bisa meredakan kekehannya mendengar ucapan Glen. Dia semakin ngakak.
"Gue ngga patah hati," balas Reno ringan.
"Gimana kalo lagu minta maaf?" tanya Glen penuh makna. Tawanya sudah reda, dan tatapannya mulai serius.
Uhuk uhuk uhuk.
Reno spontan terbatuk batuk. Kata kata Glen langsung mengena di hatinya.
Glen dan Regan tersenyum lebar melihat penderitaan Reno. Terutama Regan, yang sudah tau apa yang sudah Reno lakukan pada Rain.
Batuk lo terus. Semoga tbc lo, sumpah Regan membatin ringan.
"Gadis yang nyanyi itu siapa?" tanya Nadia melihat pada Qonita dan Aruna.
Keduanya yang ngga tau hanya menggelengkan kepalanya.
"Fans fanatiknya mungkin," jawab Qonita menebak.
"Mungkin," balas Aruna menyahuti.
Kiano dan Arga hanya saling pandang dan sama sama tersenyum rahasia mendengar obrolan ketiga perempuan ini.
"Ren, lo dicariin tunangan lo tuh," seru Arga saat melihat kedatangan Reno, Regan dan Glen.
Uhuk uhuk uhuk.
"Lo kenapa? Bengek lo kambuh?" ejek Arga melihat Reno yang mendekat masih dengan batuknya.
"Nih, minum," ucap Nadia sambil memberikan segelas air putih dingin pada Reno yang langsung menyambutnya.
"Makasih," katanya setelah meneguk habis sebagian isi gelas dan nyeri di dadanya akibat batuk tadi dan sekarang mulai terasa berkurang.
Reno menatap teman temannya satu persatu tanpa sadar. Rain dan Lilo udah ngga ada.
"Rain sudah pulang," bisik Glen membuat Reno menoleh padanya.
"Siapa yang nyari dia," sangkal Reno juga balas berbisik. Padahal hatinya mulai kesal lagi membayangkan Lilo yang akan mengantar Rain.
"Lo mau jodohin Rain dengan Lilo, Kiano?" tanya Arga terus terang.
Kiano tersenyum sambil menatap Aruna yang juga tersenyum.
"Maunya, sih," jawabnya ringan.
Arga tertawa kecil. Regan hanya tersenyum tipis. Beda dengan Glen yang tertawa lepas
Reno hanya melirik Glen kesal.
Apa apaan, dia, sih, omel Reno dalam hati.
__ADS_1
"Kelihatannya serasi," cetus Qonita.
"Tapi jaman sekarang susah perjodohan yang berhasil," timpal Arga tanpa beban.
Maksudnya kita? sinis Qonita dalam hati sambil mendelikkan matanya pada Arga.
"Dulu Regan dijodohkan sama Tamara," jelas Arga melihat rona kesal di wajah Qonita.
Salah paham dia, batinnya meringis.
"Lho..., kok, sekarang Tamara menikah dengan Alva," tanya Nadia menimbrung heran.
"Ada sedikit insiden membuat keduanya menikah," sahut Glen kemudian tergelak lagi.
Nadia dan Qonita menatap Glen penasaran.
"Insiden?" tanya Qonita kemudian mengalihkan tatapannya pada Arga. Dia yakin, laki laki ini tau yang sebenarnya terjadi.
"Dulu Alva itu dijodohkan sama yang nyanyi barusan," Reno ikut menimpali tanpa memberikan jawaban yang jelas.
"Oooh."
Qonita dan Nadia mulai sedikit paham.
"Kenapa perjodohannya batal?" kejar Qonita menuntut segera jawaban.
"Gimana ya, jelasinnya. Agak panjang dan ribet," bingung Arga. Memang akan susah untuk dijelaskan karena ini menyangkut tipu tipu Alva yang malah memakan korban dirinya sendiri.
"Masa susah cuma jelasin gitu, doang," sungut Qonita kesal. Dia kecewa karena rasa penasarannya ngga tuntas.
"Bener. Tanya aja sama Aruna," elak Arga meminta tolong pada Aruna.
"Intinya, Alva yang ngga mau dijodohkan sama Meti lebih memilih Tamara. Dia berhutang nyawa sama Tamara," jelas Regan membantu Arga
"Oooh, gitu," sahut Nadia mulai mengerti.
"Kamu ngga naksir, Tamara?" tanya Qonita sambil menatap Regan heran.
Menurut penglihatan Qonita, Regan lebih terlihat anak baik baik di bandingkan Alva.
Tapi mengingat laki laki itu yang bersikap nurut pada Tamara waktu di kafe, membuat Qonita jadi tersenyum geli.
"Biasa aja. Tamara juga," sahut Regan santai.
"Oooh," kali ini Nadia dan Qonita berseru bareng.
"Pantasan gadis tadi marah berat," ucap Nadia prihatin.
Wajarlah dia sampai seperti itu. Laki laki yang nikah itu kan calonnya dia. Malah nikahnya sama orang lain, batin Nadia.
"Meti sudah dianggap adik oleh Alva. Mereka sama sama anak tunggal. Dari kecil sudah bersama," jelas Arga agar Qonita dan Nadia ngga terlalu menyalahkan Alva dan Tamara, karena sudah membuat seorang anak perempuan patah hati. Meti.
"Apa, sih, yang Tamara lakukan sampai Alva berubah arah gitu?" tanya Qonita sangat ingin tau.
Tapi kali ini ngga ada yang menjawab..Mereka malah mengembangkan senyum lebar. Hanya Aruna yang menatap kasian pada wajah Qonita yang kembali cemberut akan penjelasan Arga yang menggantung.
Arga mengusap rambut Qonita yang masih cemberut.
__ADS_1
"Sudah, jangan kepo," bisiknya dengan senyum lebar di wajahnya. Kemudian tangannya dirangkulkan ke pinggang Qonita yang masih tetap manyun.
Kiano pun merengkuh lembut bahu Aruna.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Kiano mengalihkan topik pembicaraan.
"Ngga lama lagi kayaknya," jawab Arga santai membuat Qonita terpana.
Dia serius mau nikah sama aku? batinnya ragu.
"Mantap. Setelah sekian lamanya," ucap Kiano sangat senang.
"Iya, dia mengakhiri kesetiaan semunya," kekeh Glen menimpali.
Qonita melirik Glen heran akan kata kata yang diucapkannya.
"Qonita, lo ngga akan nyesal milih dia," tambah Reno ikut bersuara setelah dari tadi lebih banyak diam saja.
"Abis ini lo nyusul?" sindir Regan halus.
"Mereka sudah tukar cincin," tambah Aruna ikut berkomentar.
"Tinggal Glen sama Regan yang jomblo," ledek Kiano.
"Kalo Regan udah terlihat hilalnya. Tapi Glen masih dijagain jodohnya, kali, sama orang lain," gelak Arga mengejek.
Glen hanya mesem mesem melihat sahabat sahabat lacnatnya mentertawakannya.
"Lo sama siapa, Gan?' tanya Kiano ingin tau. Dia belum tau cerita Regan.
Tumben sudah terlihat hilalnya batinnya.
"Sama mahasiswi di kampus gue, teman Rain," tukas Qonita memberitau.
"Oooh... Selamat kalo gitu. Ternyata lo pedofil, ya, ngincar anak kecil," ledek Kiano bercanda.
"Sembarangan. Dia anak kuliahan, bukan anak SMP," sanggah Regan terkekeh.
Reno setuju dengan pendapat Regan.
Enak aja pedofil, makinya dalam hati.
"Iya iya. Becanda gue," kekeh Kiano. Aruna tersenyum melihat wajah Kiano yang terlihat bahagia.
Walau di hatinya ada sedikit heran, kenapa Kiano sebahagia itu. Juga terhadap Arga.
"Kira kira aman ngga ya, Alva malam ini," ganti Reno mengalihkan topik.
"Emang kenapa?" tanya Nadia dengan kedua yang alis bertaut.
"Tamara atlet karate. Juara nasional dia," jelas Aruna menjawab.
Dia juga penasaran apa yang akan terjadi malam ini pada dua mempelai pengantin itu.
"Kalo dia atlet memangnya kenapa?" tanya Nadia masih belum mengerti.
"Iya, aku juga bingung. Emang ada hubungannya juara karate dengan aman apa engganya Alva malam ini?" tanbah Qonita sangat sangat ngga paham.
__ADS_1
Dan dia pun menjadi kesal lagi karena kali ini pun ngga ada yang menjawab pertanyaannya, hanya kekehan yang semakin kencang saja yang menguar dari mulut mereka.
Bahkan Aruna pun juga ikut tertawa.