
Reno menatap basemen perusahaan milik papa Rain. Tidak lebih luas dari basemen perusahaannya bersama teman temannya.
Dia pun berjalan menuju lift. Lilo sudah menginformasikan agar langsung saja menemui Rain di lantai sembilan. Lantai tertinggi di gedung ini.
Dia pun memasuki lift yang sudah berisi beberapa pegawai perempuan dan pria.
Reno pun membalas senyum ramah mereka terutama yang perempuan dan mereka terlihat tersipu.
Reno bersikap cuek saja. Para pegawai silih berganti memasuki dan keluar dari lift dan memperhatikannya. Terutama yang perempuan. Apalagi postu Reno yang tinggi kekar dan atletis. Dan jangan lupakan wajahnya yang sangat tampan.
Reno sibuk menatap ponselnya dan keningnya sedikit berkerut membaca pesan dari Rain yang sudah sejak tiga jam yang lalu dikirinkannya.
Ngga hamil?
Ada sedikit rasa kecewa menyelimuti dadanya. Dia pun langsung memaki sepupunya dalam hati.
Pantasan lo ngga hamil hamil. Vitamin penyubur kandungan lo ngga manjur, decihnya membatin.
Akhirnya sampai juga dia di lantai sembilan.
Saat memasuki lantai sembilan, Reno di sambut tatapan para pegawai Rain. Seperti tadi para laki laki mengangguk hormat, sedangkan yang perempuan tersenyum malu malu dan ada juga yang bersikap genit.
Reno berjalan seolah olah sudah terbiasa sambil mengamati suasana di lantai sembilan.
Masih kalah mewah dari perusahaannya bersama teman temannya. Apalagi dengan perusahaan papinya.
Menurut yang Reno ketahui baru baru ini perusahaan papa Rain diambang kebangkrutan akibat penipuan rekan bisnis.
Untung Kiano berhasil mengungkapkan penipuan itu dan memenjarakan rekan bisnisnya. Sehingga sebagian besar aset perusahaan bisa dikembalikan. Dan kini Rain sedang mengelolanya dibantu Lilo.
Untunglah Aruna memiliki hati seperti bidadari yang menolong Rain dan mamanya saat kesulitan membayar biaya operasi hingga Rain terhindar dari kehidupan yang gelap.
Segalanya sudah berjalan pada jalur yang semestinya. Lurus dan normal. Tapi dia datang dan merusaknya. Merusak Rain dengan sangat kejam.
Harusnya Rain bisa menikmati hidupnya yang mulai baik baik saja. Tapi karena dirinya, gadis itu terlihat sangat tertekan.
Mungkin sekarang waktunya untuk memperbaiki segalanya. Papimya sampai rela mempertaruhkan hubungan pertemanannya dengan papi Nadia karena dirinya.
Reno pun berhenti di depan meja sekertaris yang tersenyum ramah dan nampak grogi.
"Mau ketemu Ibu Rain, ya, mas, eh, pak?"
__ADS_1
Reno tersenyum
"Iya."
Wajah sekertaris nampak merah karena malu akibat salah ucapnya tadi.
"Bisa saya langsung ketemu?" tanya Reno dengan senyum memikatnya membuat sekertaris Rain terpesona hingga menganggukkan kepala.
Reno tersenyum lagi, kadang dia bersyukur wajah tampannya memberikannya banyak kemudahan.
Tanpa mengetuk pintu, Reno langsung memutar handle pintu.
"Ketuk dulu pintunya, Mona," ucap Rain tanpa mengalihkan perhatiannya pada berkas berkasnya.
Reno tersenyum dan dengan usil mengetok pintu. Tiga kali.
"Masuk," kata Rain tanpa melihat dan masih berkonsentrasi pada berkasnya.
Reno tersenyum lebar dan menahan tawanya yang hampir keluar.
Dia pun menutup pintu dan berjalan dengan perlahan mendekati Rain, kemudian sedikit membungkuk dan hampir menyentuh pipinya Rain.
"Serius banget," ucap Reno membuat Rain terkejut. Harum yang dia kenal begitu dekat menyapu indra penciumanya. Bahkan pipinya terasa hangat oleh nafas segar beraroma mint.
Jantungnya berdebar keras dan kehangatan mengalir deras dalam tubuhnya.
Benda kenyal itu pun bergerak mengecup Rain yang masih terdiam bagai patung. Menyesapnya pelan seakan sedang menikmati kopi manisnya.
Saat Reno menjauhkan dirinya, Rain masih diam terpaku.
Reno melambaikan tangannya di depan wajah Rain, kemudian mencubit ujung hidungnya.
"Hai."
Rain tersadar, berkas di tangannya terjatuh. Untung Reno dengan tangkas menangkap berkas itu.
"Kamu?" kaget Rain dengan wajah memanas. Malu mengingat apa yang sudah dilakukan Reno padanya barusan, dan dia pun menikmatinya.
Nggak boleh, batinnya menolak.
"Kalo kerja jangan sambil ngelamun. Untung aku yang nyium kamu, bukan sekuriti," ucap Reno santai, kemudian berjalan memutar dan duduk di kursi di depan Rain. Mereka terpisahkan meja kerja Rain.
__ADS_1
"Ngapain Kak Reno ke sini? Bukannya sudah aku kirim, ya, hasilnya?" ketus Rain judes menyembunyikan debaran jantungnya yang ngga seirama.
"Aku mau bawa kamu ke dokter kandungan biar lebih akurat," sahut Reno santai sambil nyengir.
Rain membesarkan kedua matanya, kesal.
"Apa kurang alat test pack yang kak Reno kasih?"
"Berapa alat test pack yang kamu pake?"
"Dua," jawab Rain ragu.
"Coba semuanya, Rain. Setelah itu baru kabari aku," ucap Reno gemas. Ada sedikit harapan di hatinya agar Rain hamil.
"Buat apa juga kakak repot repot mau tau. Kan mau nikah juga bentar lagi," sarkas Rain galak.
Reno tersenyum sambil memamerkan jari jari tangan kirinya di depan wajah Rain.
Rain menatapnya heran, ngga ngerti maksud yang tersirat.
"Jarinya kotor?"
Reno tergelak membuat Rain tambah heran sekaligus jengkel.
"Ya sudah kalo ngga ngerti," ucapnya setelah tawanya reda.
"Ada yang mau kak Reno bantu?" tanya Reno sambil mengambil satu map di meja Rain.
"Jangan dibaca. Rahasia," cegah Rain bermaksud menarik berkas itu dari tangan Reno. Tapi dengan gesit Reno menghindarnya.
"Ngga ada rahasia dengan calon suami," jawab Reno sambil menatap berkas di tangannya.
Jawaban Reno membuat jantung Rain tambah ngga seirama.
Apa, sih, maksudnya?
"Aku ngga mau jadi istri kedua," ketus Rain sambil membuka lagi berkas yang tadi dia baca.
Reno tersenyum sambil melirikmya tanpa menjawab. Tangannya menconteng klausul klausul yang tertera di sana.
"Siapa bilang jadi istri kedua. Istri pertama dan satu satunya kalo bisa," kekeh Reno membuat Rain menatapnya tajam.
__ADS_1
Dalam tawanya pun Reno menatapnya penuh arti.