Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Konspirasi?


__ADS_3

"Meli, besok aku akan memecat Miya," kata papa Regan pada istri ketiganya. Siang ini beliau langsung pulang ke rumah istri ketiganya setelah meeting dengan Regan dan papanya.


"Mengapa?" protes Meli. Padahal suaminya sudah menempatkan Miya, keponakan jauhnya menjadi sekertaris Regan.


Dirinya harus mengamankan aset suaminya buatnya dan putranya, kan.


Meli berusaha ngga marah saat tau kalo suaminya ngga memberikan sedikit pun saham perusahaan pada putra mereka.


Semuanya diberikan pada Regan. Bahkan saham mertua yang ngga pernah mengaggapmya ada pun diberikan seluruhnya untuk Regan.


Karena itu beliau merasa beruntung karena sudah menyusupkan Miya untuk mendekati Regan.


Tapi memang belum berhasil. Regan terlalu cuek dan dingin. Beda dengan suaminya yang selalu kegatalan jika melihat gadis seksi yang memakai rok pendek dan baju yang ketat.


Dulu Meli sangat mudah menggoda papanya Regan. Papa Regan sudah sangat mudah ditaklukkan. Kemudian dirinya berpikir akan mudah mengendalikannya.


Tapi sekarang hanya kekecewaan yang dia dapat. Dirinya kecele. Dirinya memang dinikahi. Tapi hanya untuk bertanggung jawab pada kehamilannya. Sama seperti istri keduanya, anak mereka lahir di luar pernikahan.


Bahkan anak dari istri kedua yang merupakan mantan kekasihnya saja, ngga bisa menggantikan posisi Regan dan Aira di hatinya.


Selain restu mertua yang ngga pernah dia dapat, satu persen saham pun juga lepas dari tangan mereka. Semuanya buat Regan.


Karena melihat Riko yang sekarang mendekam.di penjara hanya mendapatkan posisi direktur, Meli bergerak cepat saat tau Regan menjadi CEO.


Tetap harus bisa menguasai kekayaan grup Paramadya, beliau pun meminta suaminya agar mempekejakan keponakan jauhnya sebagai sekertaris


Keponakannya berdedikasi tinggi, pintar, menguasai empat bahasa. Selain itu cantik dan seksi karena pernah berprofesi sebagai model.


Tapi kata Miya, usahanya sia sia. Regan lebih suka menghadiri meeting bertiga dengannya dan asisten pribadinya yang laki laki. Ngga ada kesempatan untuk berduaan saja sehingga bisa menggodanya. Di perusahaan pun Regan mengacuhkannya. Kecantikan dan keseksiannya ngga bisa melumerkan pertahanan Regan walaupun sudah melakukan segalanya. Pakaiannya saja setiap hari selalu menggoda. Tapi Regan ngga berminat sama sekali. Dia terlalu serius bekerja.


"Regan akan segera menikah."


DARR!!


Bagai mendengar petir yang sangat dekat di telinganya, tubuh Meli sampai berjengkit. Mulutmya bahkan mengangga dan bola matamya membesar. Untuk beberapa saat dirinya masih gagal mencerna ucapan suaminya.


Ngga mungkin.


Ngga mungkin.


Batinnya membantah berkali kali.


"Ka kamu serius?" tanya Meli tergagap.


Papa Regan yang sedang melonggarkan dasinya meliriknya sebentar.


"Tentu saja."


"Ta tap dengan siapa?" masih gugup Meli bertanya. Hancur sudah impiannya menjadi penguasa Paramadya grup melalui Meli.


Papa Regan ngga menjawab. Dia malah menelpon pengawal pribadinya.


"Lakukan segera."


"Siap bos."


Papa Regan menutup sambungan ponselnya dan menyimpan kembali di saku celananya.

__ADS_1


"Siapa yang kamu telpon?" tanya Meli sudah mulai tenang.


"Besok surat pemecatan Miya akan diberikan HRD," katanya sambil pergi meninggalkan Meli yang bergeming mendengar kata katanya.


Beliau ngga menyesal menolak permintaan Regan untuk mengganti sekertarisnya. Beliau bertaruh dengan papanya kalo Regan ngga akan seperti dirinya. Walaupun jarang bersama, tapi papa Regan selalu mengamati keseharian Regan dan Aira tanpa keduanya ketahui.


Dirinya yakin Regan ngga akan mengikuti jejaknya. Dan ternyata benar, papanya kalah. Bahkan Regan lebih memilih perempuan yang menutup tubuhnya dengan sopan.


Pengawal terpecayanya yang dimintanya untuk memgawasi Regan, memberikan laporan akan sikap aneh Regan pada gadis berkerudung itu. Terakhir yang membuatnya yakin karena Regan meminta pemgawalnya yang pernah menguntit gadis itu memberitahukan alamat rumahnya.


Papa Regan hanya menjadi sutradara untuk melihat karyanya di belakang layar.


"Ja jangan. Kasian," cegah Meli menolak.


Tapi papa Regan ngga peduli, dia memilih untuk menjenguk balitanya yang sedang bermain di lantai dua.


Ngga bisa. Ngga bisa, batinnya berulamg kali. Meli ngga bisa terima. Walaupun suaminya sudah memberinya kemewahan, tapi tetap dirasakannya sangat kurang. Dia ingin menguasai Paramadya grup melalui Miya dan putra kecilnya.


*


*


*


"Kamu serius mengatakan ini?" tanya Wita, istri kedua papa Regan setelah menghembuskan rokoknya ke wajah Meli.


Uhuk uhuk uhuk....


Meli menatap kesal Wita sambil terbatuk batuk.


Kalo saja bukan demi saham Paramadya grup, ngga akan aku hubungi wanita sialan ini, umpatnya dalam hati.


Tadi siang saat wanita yang dibencinya ini menelpon, sama sekali ngga dipedulikan. Tapi karena ditelpon terus menerus membuatnya gerah.


Dirinya ingat langsung membentak.dengan kasar. Tapi pernyataan seluruh sahan suaminya diserahkan pada Regan membuat amarahnya naik.


Maka dia pun menuruti pertemuan di sore harinya.


"Bisa buang rokokmu dulu," kesal Meli dengan agak tersengal.


Wita tertawa mengejek, tapi menurut lagi dan menginjak rokok yang tinggal separuh.


"Aku lagi sibuk. Cepat katakan apa mau mu, atau aku akan pergi," ancam Wita galak.


Meli mendengus sinis.


Mau lihat anakmu yang dipenjara?


"Regan mewarisi semua saham Paramadya grup. Termasuk milik kakek tua itu," jelasnya membuat Wita menghentikan aktivas memainkan kotak rokok yang ada di tangannya.


Benar benar kurang ajar, batinnya geram.


"Regan juga mau menikah."


Hah! Berita baru ini, kagetnya. Karena dirinya belum pernah mendengar Regan dekat dengan perempuan atau pun membuat skandal.


"Dengan siapa? Apa perjodohan rekan bisnis?" tanyanya geram. Harusnya Riko yang mendapat jodoh dari rekan bisnis yang qualified.

__ADS_1


Anak bodoh! Makinya dalam hati. Riko lebih memilih membeberkan korupsi yang dia lakukan pada suaminya dan memilih tinggal di penjara dari pada terus merong romg keuangan Paramadya grup untuk dirinya. Mamanya yang melahirkannya dalam hidup dan mati. Yang memperjuangkan hidup mewah untuknya, sampai rela dicaci maki orang tua suaminya. Kini malah membiarkan mamanya hidup miskin dan dijauhi teman teman sosialitanya.


"Mas Dharma ngga mau kasih tau. Tapi aku sudah menyuruh orang untuk selalu mengikuti Regan."


Wita menatap Meli dengan tatapan mencemooh.


Apa dia ngga tau kalo suami mereka selalu menyuruh beberapa pengawal mengamankan putra putrinya?


Wita tau karena dulu Riko juga sempat diperlakukan begitu. Makanya mereka selalu selamat dari bahaya perampokan bahkan pembunuhan. Apalagi saingan di dunia bisnis sangat kejam


"Kamu pikir mas Dharma ngga akan tau?" decih Wita mengejek.


"Ya enggak lah," sahut Meli penuh percaya diri.


"Kita bertemu di sini pun, dia pasti tau. Untuk kamu ketahui, dia mengawasi seluruh anggota keluarganya," tandasnya sambil berdiri.


Sia sia dia berkomplot dengan wanita bodoh ini. Berhasil pasti belum, ketahuan sudah jelas. Bahkan bisa saja mereka akan di depak dari segala kemewahan ini.


Meli terpaku mendengarnya. Dia memaki dalam hati sambil melihat kepergian saingannya.


Jangan jangan yang diucapkan wanita itu benar, batinnya ngeri.


Mungkin suaminya itu juga sudah tau dengan niatnya yang membawa Miya masuk menjadi sekertaris Regan untuk menggodanya.


*Bodoh!


Bodoh*!


Otaknya memang ngga bisa dihandalkan. Selama ini pun dia hanya mengandalkan tubuh seksinya untuk menjerat suaminya.


Semoga putranya mewarisi kepintaran suaminya, harapnya dalam hati. Sudah terbukti pada Riko dan Regan yang berotak encer dan sukses.


*


*


*


"Mereka sudah bubar?" tanya Papa Regan langsung pada anak buahnya yang barusan menelponnya.


"Nyonya Wita sudah pergi, Pak Bos. Kang Asep sedang mengikutinya. Tapi sepertinya mau menemui tuan muda di perusahaan," lapor Dimas setelah melihat maps yang dilalui Asep.


"Biarkan saja. Regan pasti bisa mengatasinya," ucap papa Regan setelah terdiam sesaat.


"Oke, Pak Bos. Kita lagi ngawasi nyonya Meli."


"Awasi terus."


"Siap!."


Papa Regan pun mematikan sambungan telponnya.


Beliau yang tadi pura pura tidur bersama putra bungsunya, melihat kepergian istrinya.


Reaksi wanita itu telihat aneh dan ngga terima mendengar ucapannya tadi.


Kedua wanita ini memang ular, batinnya sinis.

__ADS_1


Dia pun menghela nafas panjang. Jika saja dirinya tetapi setia pada pernikahan pertamanya, segala keruwetan ini ngga akan terjadi.


__ADS_2