
"Lo sudah punya pacar?" tanya Qonita ngga bisa menahan lagi kekesalan dan rasa penasarannya.
"Bamyak," sahut Arga kalem. Kali ini dia menatap lurus ke dapan sambil menahan senyum. Tubuhnya berdiri memunggungi Qonita hingga sang dosen tidak bisa melihat wajahnya.
Qonita menatapnya kesal, ingin dibejek bejek sampai jadi naget laki laki sombong di depamnya ini.
Banyak katanya pacarnya? geram Qonita dalam hati.
"Kalo lo punya banyak pacar, kenapa ngga nolak aja perjodohan ini," marah Qonita udah ngga bisa ditahannya lagi. Bahkan dia sampai bangkit dari duduknya dan berdiri di belakang tubuh Arga dengan nafas mulai tersengal.
"Sama seperti lo. Lo aja yang nolak," balas Arga cuek.
"Gue ngga kayak lo ya. Pacar bertebaran dimana mana," kertak Qonita kini melangkah ke depan Arga dan menatap dengan pancaran netra sangat tajam dengan sebelah tangannya langsung menunjuk tepat ke dada Arga.
Arga hanya tertawa kecil melihat kemarahan Qonita. Dia memang lagi aneh, lagi senang menbuat orang orang terdekatnya marah. Pertama Glen, kedua Alva dan sekarang Qonita.
"Laki laki itu biasa punya pacar banyak. Tapi hatinya tetap hanya untuk satu orang," sahutnya tenang penuh makna.
Kini dua pasang mata saling bersitatap lekat. Yang satu penuh kemarahan yang berkobar kobar, yang satu lagi dalam dan lembut
*Lembut?
Nggak*! bantah Qonita dalam hati mengoreksi pilihan katanya tadi. Dia benci pada dirinya sendiri yang suka salah menafsirkan tatapan dan sikap laki laki sombong di depannya ini kepadanya.
Qonita pun memalingkan pandangannya ke arah lain.
Apa maksud ucapannya? Hatinya hanya untuk mantannya yang sudah meninggal itu? batin Qonita lagi mencelos. Ada yang sakit tiba tiba. Tapi ngga berdarah. Seperti kalimat kalimat sad dalam novel.
Ngga akan bisa dia bersaing dengan orang yang sudah tiada.
Qonita membalikkan tubuhnya dengan sedih. Dia pun heran kenapa harus merasa sesedih ini.
Apa karena itu bukan dia?
Qonita melangkah masuk ke dalam. Dia memilih menemui orang tuanya dan laki laki itu dari pada harus merasa sakit dan kesal sangat bersamanya.
__ADS_1
Arga hanya menatap datar pada punggung Qonita yang menjauh.
Kenapa bukan dia saja yang menolak perjodohan ini. Bukannya dia sudah punya pacar? decih Arga dalam hati dengan senyum miring tersungging di bibirnya.
Dia pun melangkah masuk mengikuti Qonita. Nggak mungkin, kan, Qonita masuk duluan sementara dia tetap berada di luar.
*
*
*
"Kak, kan, sudah aku katakan, kalo calon istri kakak itu perempuan ngga bener," tukas Meti langsung begitu melihat Alva yang kembali ke meja mereka setelah pamit untuk menelpon.
Malam ini Meti mengajaknya bertemu di kafe karena ada yang ingin dia katakan.
Sangat penting katanya, menyangkut calon istri Alva, Tamara. Karena itulah Alva mau menemuinya. Karena hatinya selalu terusik jika menyangkut Tamara akhir akhir ini.
Dari Meti lah Alva mendapatkan foto foto kedekatan Tamara dengan laki laki yang ngga tau kenapa membuat hatinya mendidih.
Karena itu Alva ijin menelpon sebentar. Tapi bukan pencerahan yang dia dapat dark Arga malah rasa dongkol yang amat sangat dalam.
Besok Alva akan memaki maki Arga, kalo perlu menonjoknya sampai otaknya kembali normal.
Alva pun menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya kuat kuat.
Dia berharap, segala kemarahannya langsung lenyap.
Alva mgga mau meluapkan segala kejengkelannya pada Meti.
"Meti, apa pun yang kamu lakukan, Kak Alva ngga bisa menghentikan pernikahan ini," jelas Alva lembut agar gadis ini mengerti dan segera melupakan impian bodohnya.
"Jadi kakak akan tetap menikahi perempuan yang sudah menduakan kakak?" seru Mati ngga percaya sekaligus kecewa.
Sia sia sudah kerjaan detektif profesional yang dia sewa demi mendapatkan sisi negatif perempuan yang sudah merebut Kak Alvanya.
__ADS_1
Padahal tadinya Meti sangat senang akan foto foto yang berhasil di dapat. Dia merasa yakin kalo Kak Alva akan marah dan langsung memutuskan perempuan pelakor itu.
Tapi nyatanya Kak Alva lebih memilih pelakor yang sudah jelas jelas mengkhianatinya. Pelakor ternyata berada di depan garis finishnya.
"Kenapa kakak jadi bodoh! Ini bukan seperti Kak Alva yang Meti kenal," marahnya ngga terkendali.
Alva menghela nafas panjang untuk menyabarkan dirinya dalam menghadapi kemarahan Meti.
Hatinya sempat panas dengan makian Meti yang menyebutnya bodoh. Baru kali ini ada yang memakinya begitu terang terangan di depannya.
"Kakak ngga mungkin membatalkan yang sudah disusun mami. Kamu tau, kan, gimana mami?" ucapnya sabar sambil mengingatkan Meti betapa perfeksionisnya maminya dalam merencanakan sesuatu.
"Tapi aku ngga mau kakak menikah dengannya. Menikahlah denganku, kak. Aku mohon," pintanya mulai terisak.
Alva menggaruk kepalanya yang ngga gatal. Sementara beberapa orang mulai memperhatikan mereka karena sikap Meti yang cukup frontal.
"Meti, kamu tetaplah adik kakak. Kakak ngga bisa mengubah rasa sayang ke kamu jadi cinta," bujuk Alva terus terang.
Memang itu kenyataannya. Mereka berdua anak tunggal dan menjadi dekat karena jadi merasa memiliki saudara.
Selama ini Alva sudah berperan sebagai kakak yang sangat baik untuk Meti. Begitupun sebaliknya. Hanya saja Alva ngga sadar kalo Meti mencintainya.
Meti malah tambah keras isakannya. Hatinya sangat sakit akibat mendengar kalimat penolakan Alva. Seakan ada ribuan jarum yang menusuk ke dalam hatinya.
Alva kembali menggaruk kepalanya.
"Meti jangan nangis, dong. Malu, kan, dilihatin orang," bujuk Alva sambil menatap sekelilingnya dengan perasaan ngga enak dan salah tingkah.
Seakan akan para pengunjung kafe sedang menjudgenya sebagai laki laki yang lari dari tanggung jawab.
"Biarin," seru Meti di tengah isakannya yang semakin kencang.
Akhirnya Alva hanya bisa membiarkan Meti menangis ber jam jam untuk meredakan kemarahannya. Tentunya dengan perasaan sangat malu.
Mimpi apa gue harus dilihatin banyak orang gini. Mana liatinnya pada kesal lagi, batin Alva pasrah
__ADS_1