Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Menaklukan dosen nakal


__ADS_3

"Lo belum pulang?" tanya Glen ketika memasuki ruangan Reno. Padahal sudah jam delapan malam.


Bahkan keempat sahabat mereka sudah pulang satu persatu.


Kiano dan Alva sejak sore, sedangkan Arga dan Regan sejam yang lalu. Glen yang ingin bareng dengan keduanya memutuskan menunda karena melihat Reno yang masih berkutat di laptop.


"Besok gue di sibuk.di kantor daddy, ada klien dari Belanda yang datang," jelasnya terus berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


"Lo pulang aja duluan," sambung Reno lagi.


"Gue nunggu lo di sini saja. Si Nova sudah gue suruh pulang dari tadi," kata Glen sambil mendudukkan bokongnya di sofa.


Nova sekretaris meraka di kantor. Walaupun Nova cantik dan seksi, mereka berenam sudah berjanji ngga akan pernah main main dengan sekretaris atau pegawai kantor. Itu udah prinsip, juga untuk tetap menjaga wibawa mereka.


"Sugar baby gimana tadi?" tanya Glen setelah cukup lama mereka sibuk dengan kegiatan masing masing.


Glen pun sengaja membawa laptopnya sambil memeriksa ulang kerjaannya.


"Biasa aja. Lo?"


"Sama. Walau maennya pro, tapi ngga ada greget."


Keduanya pun tersenyum lebar.


"Kadang gue jadi kepikiran juga mau nikah seperti Kiano dan Alva," cetus Reno dengan mata fokus ke laptop.


"Alva belum jelas."


"Dia juga bentar lagi akan nikah," bantah Glen masih dengan senyum lebarnya.


"Memang. Tapi sepertinya dia juga akan cepat bercerai," tawa Reno pecah membuat Glen juga ikut nyengir.


"Harusnya dia sama Meti. Gadis itu sangat menurut dengannya," ujar Glen.


"Juga gampamg dibohongi," lanjut Glen lagi dengan cengirannya yang tambah lebar.


Mengingat kejadian di rumah sakit, saat dia menyelamatkan Alva dari Meti yang ingin menjenguknya.


"Malah pilih yang sulit," cela Reno sambil menggeleng gelengkan kepala.


Kalo tanpa cinta mending sama Meti. Ngga pake ribet. Pasti juga ngga akan dismackdown kalo belah duren, batin Reno simple.


Kini Glen pun ngga dapat menahan tawanya.


"Kelakuan Meti hampir sama aja dengan gadis kampus yang kita ajak kencan. Padahal umurnya masih tuaan Meti setahun atau dua tahun," timpal Glen.


Mendadak Glen meraih ponselnya yang bergetar. Bibirnya tersenyun miring.


Rain


Bisa kita ketemu besok, kak Glen?

__ADS_1


"Siapa?" tanya Reno sambil melirik Glen yang sedang menyeringai sambil menatao ponselnya.


"Gadis di kampus."


"Oooh, dia minta lagi?" kekeh Reno juga dengan senyum miringnya penuh arti.


"Kelihatannya begitu," jawab Glen santai.


"Agresif. Boleh juga."


Glen ngga merespon perkataan Reno, juga ngga membalas pesan Rain.


"Baby lo ngga kepengen lagi?" Glen kembali memfokuskan pada laptopnya.


"Dia mungkin masih lelah," gelak Reno membuat Glen tersenyum lebar.


Glen tau Reno sudah berhasil mendapatkan yang dia mau. Sedangkan dirinya? Glen tersenyum miris.


Di saat saat akhir Glen menghentikannya karena tau Rain masih virgin. Dia memang brengsek, tapi dia ngga akan merusak gadis yang sepertinya baru mencoba coba menjadi nakal.


"Gadis tadi sangat pro. Lo boleh coba. Dia udah ngga virgin," ucap Reno santai.


"Kita bisa tukeran," usulnya lagi menambahkan sambil menatap Glen yang belum juga merespon.


"Jangan. Yang ini masih virgin."


"What?"


Mata Reno membulat. Padahal gadis yang bersama Glen terlihat lebih matang dari keduanya. Hilangkan yang berkerudung. Reno pun yakin kalo Regan ngga cukup gila bermain dengannya.


Arga menatap wajah cantik Qonita yang cemberut saat dia menjemputnya ke rumah.


Sengaja Arga membawa motornya, dia tiba tiba teringat dengan Alva.


Pasti sangat menyenangkan jika bagian yang lunak itu menyentuh punggungnya pikirnya ngeres.


Senyum masam tersungging di bibirnya. Dia heran, kenapa dia menjadi brengsek dan gila membayangkan fantasi aneh ini.


Dulu saat bersama Ayana, Arga selalu menjaganya dengan hati hati. Hanya sekedar mengecup bibir, kening dan pipinya sudah membuat dia senang. Arga ingin memiliki gadis itu secara utuh setelah mereka menikah. Tapi takdir berkata lain. Ayana meninggalkannya begitu cepat.


"Ganti rok pendekmu dengan celana panjang," titah Arga yang menatap penampilan seksi sang dosen.


Arga yakin, Qonita adalah dosen paling favorit mahasiswa di kampus. Mungkin saja dosen dosen muda mau pun tua mengidolakan dirinya.


"Ngga mau," tolak Qonita sebal karena mami dan daddynya mengijinkannya pergi bersama Arga. Padahal dia ingin menyetir sendiri. Karena itu dia selalu mengenakan rok. Jangan lupakan heels setinggi lima belas centi yang menambah keseksiannya.


Qonita suka dengan pandangan laki laki yang tertarik dengannya. Juga dia menyukai tatapan iri para mahasiswi dan rekan kerjanya yang wanita atas keseksiannya.


"Oke, silakan pamerkan pahamu pada orang di jalan," kata Arga sambil menghidupkan mesin motornya.


Qonita terdiam sesaat, tapi dengan tekat bulat, dia menaiki motor itu dan segera duduk menyamping.

__ADS_1


Arga menghela nafas panjang melihat tingkah berani dosen calon istrinya.


"Turun," titahnya galak membuat Qonita kaget dan tambah kesal.


"Apa, sih. Ayo berangkat. Gue ntar lagi telat," protes Qonita tetap ngga mau turun.


Pembangkang, decih Arga dalam hati.


Apa mamanya ngga salah kalo mengatakan Qonita gadis yang lembut dan patuh pada orang tua, batinnya lagi sambil melirik gemas pada paha putih yang sengaja dipamerkan untuk setiap orang yang pasti akan senang hati menikmatinya.


Arga menghela nafas lagi. Akhimya dia terpaksa menjadi nakal seperti Alva, Glen atau Reno untuk membuat gadis ini patuh dengannya.


Tangannya pun menyusup dengan cepat ke dalam rok Qonita membuat gadis ini terpekik dan langsung turun dari motornya. Hampir saja dia terjatuh akibat kurang menyeimbangkan tubuhnya dengan heelsnya. Untung Arga berhasil memegang lengannya.


BUG BUG BUG


"Aaaah!" jerit Qonita marah.


"Aduh! Lo apaan, sih," ringis Alva sambil melepaskan pegangannya.


Sambil menjerit Qonita memukul mukul bahu Arga dengan tas kecilnya berkali kali. Tentu saja sangat keras.


Tanpa kesulitan Arga merampas tas itu dan mengalungkan di lehernya sendiri.


"Kamu apaan, sih. Belum apa apa udah mesum!" marah Qonita frustasi. Baru kali ini ada yang menyentuh kulit terdalamnya. Dan rasanya itu membuat Qonita ingin lebih.


Nggaaakkk! serunya membatin menolak pikiran gila dalan hatinya. Wajahnya masih terasa panas dan pasti saat ini berwarna merah menyala.


Tanpa menjawab, Arga turun dari motornya dan melepas jasnya. Kemudian dengan cepat mengikat lengan jas itu di pinggang Qonita dengan bagian punggung jas menutupi pahanya.


"Sekarang naik," titahnya setelah lebih dulu menunggangi motor balap kesayangannya.


Dengan wajah cemberut, Qonita naik dan duduk menyamping seperti tadi.


"Tutup kaki lo dengan benar sama jas gue," perintahnya galak membuat Qonita dengan sangat terpaksa menurutinya. Dia ngga mau kejadian mesum tadi terulang lagi.


"Aaargh! Padahal nanti ada meeting penting," keluh Arga saat melihat jasnya dalam posisi sudah ngga rapi lagi menutupi kaki gadis di depannya.


"Ya, udah lepas aja," tantang Qonita berani membuat Arga mendelikkan matanya kesal.


Tanpa kata Arga melajukan motornya membuat Qonita kembali terpekik sambil memeluk erat pinggang Arga. Tubuhnya pun menempel erat di punggung laki laki mesum itu.


Eh, tas gue, batinnya ketika menyentuh tali tasnya. Dia lupa mengambil tasnya yang sekarang dijadikan kalung oleh Arga.


Sementara itu di balik jendela ruang tamu, mami dan daddynya tertawa kecil melihat kelakuan keduanya.


"Daddy yakin, Arga bisa menjadi suami yang baik buat Qoni," kata daddy Qonita.


"Ya, sayang," sahut mami Qonita setuju.


Melihat Arga yang lebih membiarkan jas mahalnya untuk menutupi kaki putrinya, membuat kedua orang tua Qonita semakin yakin untuk meneruskan perjodohan ini.

__ADS_1


__ADS_2