
"Cucuku yang nakal akhirnya ketemu jodohnya," kekeh kakek Suryo senang. Bahkan beliau sudah merasa sehat beberapa hari yang lalu karena rencana pernikahan Kiano yang akhirnya terwujud.
"Nanti kamu maennya yang halus, ya," pesan neneknya membuat wajah Kiano merah karena malu. Sementara papinya, papa Aruna, kakek Suryo, Attar dan cs Arjuna termasuk Lilo dan Aris tertawa tergelak gelak.
"Anak papa belum pengalaman," sela papa Aruna tambah membuat tawa semakin menggelegar.
"Biar Kiano yang ngajari, Om," sahut Alva mengompori.
"Aruna sibuk belajar sama ngobati orang, sih," tambah Glen.
"Kiano malah yang harus bersyukur, om," lanjut Reno sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda sahabatnya yang sepertinya sudah nnga sabar ingin pergi.. Halaman belakang semakin.heboh dengan suara tawa mereka.
Nenek dan mami juga ikut terkikik. Ingin rasanya Kiano segera pergi dari situ.
"Kami beruntung mendapatkan Aruna. Cantik, baik dan pintar lagi," kata kakek Suryo memuji dengan sorot mata sangat berterimakasih pada papa Aruna.
Papa Aruna hanya tersenyum kikuk. Arunanya juga beruntung mendapatkan keluarga baru yang sangat memperhatikan dan menyayamgi putri bungsunya.
Apalagi keluarga besar Kiano adalah keluarga konglomerat yang sangat diperhitungkan dalam dunia bisnis. Sedangkan dirinya hanyalah pegawai biasa. Seperti mantu pertamanya Attar yang juga anak konglomerat. Putri putrinya sangat beruntung. Para besannya pun sangat menghargainya dan istrinya.
"Mama ke tempat Aruna dulu," ucap mama Aruna pamit.
"Saya menyusul, mbak," balas mami Kiano yang mendapat anggukan dan senyuman dari mami Kiano.
"Almira sudah menunggu di dekat kamar Aruna," kata mama Aruna memberitahu sebelum pergi melangkah menjauh.
"Mami mau ambil sesuatu yang spesial," kata mami Kiano sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kiano yang langsung waspada. Dia yakin maminya punya rkejutan untuknya. Semoga menyenangkan, harap Kiano dengan jantung ngga henti hentinya berdebar.
Sesungguhnya dia ingin sekali pergi ke kamar menemui Aruna sekarang. Dia ingin meminta Aruna mengenakan salah satu lingerie yang sudah mereka beli. Pasti sangat seksi. Membayangkan keseksian Aruna membuat saraf sarafnya menegang.
"Sudah ngga sabar, ya?" bisik Attar yang berada di sebelahnya dengan senyum meledek.
"Apa kelihatan jelas, bang?" tanya Kiano reflek, juga balas berbisik.
"Sangat," kekeh Attar pelan. Kiano juga ikut terkekeh.
"Kiano ingat baik baik. Jangan berkata kasar pada Aruna. Jangan main tangan kalo lagi marah, dan terakhir jangan memberi harapan pada perempuan perempuan di luar sana. Sayangi dia karena dia adalah putri kesayangan mama, papa, dan kakaknya," kata kakek Suryo mulai memberikan nasihatnya.
"Iya, kek," sahut Kiano patuh.
Papa Aruna tersenyum mendengar jawaban Kiano.
Papi Kiano menepuk bahu besannya.
__ADS_1
"Percaya padaku. Jika Kiano menyakiti putrinu, aku sendiri yang akan menghajarnya," janji papi Kiano tegas.
Masih tersenyum, papa Aruna menganggukkan kepalanya
"Aku percaya. Aku pun yakin sebenarnya anak anak kita sudah saling suka," imbuhnya lagi.
Sejak SMA malah, om, sela Regan dalam hati. Ngga enak ikut menimbrung percakapan orang yang lebih tua. Takut dianggap ngga sopan.
"Kamu udah minta mami kamu kasih Aruna lingerie seksi?" bisik Glen lirih.
"Belum," jawab Kiano perlahan. Dalam hatinya dia menyesal karena lupa memberi pesan pada mami dan mama Aruna. Ada banyak pilihan lingerie yang sudah dibelinya.
Nanti saja saat bisa melarikan diri ke kamar, dia sendiri yang akan memakaikan lingerie pada Aruna.
Memikirkan ide kotor itu membuat bibirnya terulas senyum miring yang sangat tipis.
"Kek, cariin Lilo calon istri. Lilo juga mau nikah," kata Lilo tiba tiba membuat yang lain tergelak.
"Lo ntar aja. Lo harus nunggu kita kita nikah dulu," sambar Alva tergelak.
"Emang kapan lo semua pada nikah?" cibir Lilo sinis. Memang usianya lebih mudah dari mereka. Tapi ngga jauh jauh amat. Cuma beda dua tahun doang.
"Ngga lama lagi," jawab Alva diplomatis dan langsung ditoyor teman temannya.
Enak aja buat deadline sembarangan, kesal Reno. Dia masih ingin menjomblo lima tahun lagi.
"Nanti gue seleksi pegawai kantor," sahut Alva enteng. Dia pun makin ditoyor para sahabatnya dan diiringi dengan suara tawa yang berderai derai.
"Nanti kakek carikan," kata Kakek Suryo berjanji, ngga mempedulikan kehebohan teman teman cucunya. Sudah terlalu terbiasa melihat mereka bergulat dan berdebat.
"Horeee," sorak Lilo senang.
Dia ingin seperti sepupunya. Lelah memacari para perempuan di luar sana. Lebih baik menfapat jackpot seperti Kiano.
*
*
*
"Halo," sapa mami Kiano sambil membuka pintu kamar menbuat mereka yang sedang berdebat menoleh.
"Wow, mbak bawa lingerie juga?" seru mami Kiano surprise. Dia pun segera menutup pintu kamar dan menguncinya.
__ADS_1
Di depannya Aruna yang masih handukan dihadapkan pada pilihan dua lingerie yang sangat seksi.
Tamara memijat keningnya, pusing dan mumet mendengar perdebatan antar anggota keluarga itu sejak tadi.
"Iya, mbak. Mbak bawa apa?" tanya mama Aruna sambil melihat paper bag yang ditenteng mami Kiano.
"Lingerie juga," sahut mami Kiano sambil mengeluarkan lingerie yang ngga kaalah seksinya dari dua lingerie yang ada di depannya.
Aruna menatap Tamara dengan tatapan frustasi. Dua lingerie dari mama dan kakaknya saja belum lolos sensor dirinya, kini mertuanya membawa lingerie lainnya lagi yang ngga kalah seksinya.
Tamara mengangkat satu tangannya menyerah, ngga bisa menolong sahabatnya. Tamara merasa sangat kasian, tapi dia bisa apa. Ngga ada yang bisa dia lakukan selain membiarkan Aruna memakai salah satu lingerie itu. Mereka semua terlalu memaksa Aruna.
"Ayo, Aruna, dipilih. Kiano bentar lagi ke sini loh," kata mami Kiano sedikit mendesak.
DEG DEG DEG
Jantung Aruna ngga kalah hebohnya berdetak. Dia ngga sanggup memakai salah satu dari bahan yang sangat ngga layak dipakai itu. Kiano pasti tambah mengerikan nantinya.
"Ma, sebaiknya pake lingerie mami Kiano aja, lebih seksi dari punya kita," usul Almira setelah melihat lingerie yang dibawa mami Kiano.
Sejujurnya bagi Tamara itu adalah baju yang paling ngga sopan.
Warnanya seperti kulit Aruna. Jangan tanya lagi ketipisannya. Kulit lumpia aja kalah. Itu baru bagian depan. Sedngkan bagian punggungnya sangat terbuka polos sampai ke pinggul. Lebih sopan lagi Aruna yang handukan dari pada mengenakan pakaian yang sama sekali ngga pantas disebut pakaian. Karena ngga ada fungsi sama sekali, cuma untuk menaikkan gairah laki laki hidung belang, nista Tamara dalam hati.
Mama Aruna memperhatikan lingerie itu dengan seksama. Memang benar kata putrinya. Dari mana besannya bisa mendapatkan lingerie yang pastinya langsung bisa menyembuhkan laki laki impoten ini.
"Oke," sahut mama Aruna setuju.
"Mama," protes Aruna tapi ngga berdaya ketika ketiga wanita itu melepas handuknya dan memaksakan lingerie itu di tubuhnya.
Begitu selesai, keempatnya terpana.
"Kiano pasti ngga akn melepaskan kamu malam ini," kata mami Kiano penuh arti.
Tanara setuju, sahabatnya terlihat sangat cantik dan seksi sekali. Apalagi rambut panjangnya yang sepinggang dibuat tergerai.
"Kakak pun yakin begitu," puji Almira kagum.
"Ayo, sekarang kita tinggalkan Aruna," titah mami Kiano yang melangkah keluar kamar di ikuti mama, Almira dan Tanara.
"Sukses ya nak," kata mamanya sebelum menutup pintu.
Aruna masih spechless, menatap kepergian keempatnya.
__ADS_1
"Kiya tunggu di sini sampai Kiano datang," kata mama Aruna agak khawatir. Dia ingin memastikan kalo Kiano yang akan memasuki kamar putrinya.
"Yup," sahut mami Kiano setuju. Mereka harus memastikan keberhasilan tahap ini. Walaupun dia yakin ngga ada yang berani masuk, tapi demi membuang segala hal yang bisa menimbulka kegagalan, mereka akan menunggu sampai Kiano datang.