Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Melamar Dinda


__ADS_3

Setelah menemani pasangan yang telat dewasa itu, karena selalu saja berdebat sepanjang makan siang, Arga dan Regan pun mengantarkan Qonita pulang ke kampusnya. Karena masih banyak jadwal mengajarnya.


Ketika keduanya sampai di parkiran mobil mereka, Regan masih berdiri diam dan memainkan remote kunci mobilnya.


Pikirannya ngga fokus. Tadi saja Arga memaksanya menumpang mobilnya saat berangkat ke restoran.


"Lo ikut mobil gue aja lagi," kata Arga agak ngga tenang melihat Regan yang tingkahnya ngga seperti biasa.


"Gue mau ke tempat mama," tolakmya tapi masih belum membuka pintu mobil.


"Gue, kok, agak cemas lihat lo kayak gini. Lo beneran patah hati?" tebak Arga agak kaget.


Lo beneran suka sama Dinda?


Regan tertawa garing.


"Kelihatan, ya?"


"Banget."


Regan menatap jauh ke depan.


"Gue senpat punya pikiran kalo Dinda bakal jadi jodoh gue. Mama juga sempat ngomong gitu ke mamanya Dinda."


"Yang benar? Trus sekarang, kok, dia dijodohkan dengan laki laki yang katanya dari Mesir itu?" sergah Arga jadi penasaran.


"Mungkin ngga ada kejelasan dari gue. Gue waktu itu masih belum yakin."


Arga terdiam. Dia menatap Regam serius.


"Sekarang lo maunya gimana?" tanya Arga setelah terdiam beberapa saat.


"Ngga tau."


Arga menghela nafas jengkel.


Gampang banget nyerahnya.


"Kata Qonita, malam ini keluarga laki laki itu akan ke rumah. Buat mastiin, karena Dinda selalu menolak dengan alasan belum selesai kuliah."


Regan menatap Arga lekat, mencoba mencerna maksud ucapan Arga.


"Mungkin dulu itu alasannya. Tapi gue rasa sekarang bukan itu lagi," sambung Arga penuh makna


Regan masih diam. Tapi ada debaran aneh di dadanya.


"Qoni heran karena Dinda tadi malam menelponnya, kalo keluarga laki laki itu akan datang malam ini menagih keputusannya. Papanya juga memaksa. Kata Dinda dia akan memberi jawaban malam ini."


"Apa dia nunggu lo gerak ya? Secara Qonita, kan, tunangan gue. Pasti Qonita akan kasih tau ke gue, dan gue bakal nyampein ke lo."


"Ngayal lo ketinggian," ejek Regan tertawa geli.


"Bisa aja, kan, Reg?" ngotot Arga sangat yakin.


"Udah lah," tanggap Regan ngga percaya.


"Ada juga loh tipe perenpuan yang suka.mancing mancing. Nah, nurut gue, Dinda tipe beginian."


"Masa?" Regan speachless juga melihat keyakinan Arga


"Gimana kalo gue temenin lo ke rumahnya. Tapi gue ngga tau alamatnya. Coba gue nanya Qonita," kata Arga menggebu gebu sambil mengambil ponsel di saku celananya.


Siapa tau aja prediksinya benar. Kata papinya, instingnya sangat bagus dalam bisnis. Mungkin juga bagus dalam percintaan.

__ADS_1


Arga menahan tawanya akibat pikiran bodohnya.


Tapi dia berharap kali ini instingmya ngga meleset.


"Ngga usah. Gue tau alamat rumahnya."


"Lo.pernah antar dia pulang ke rumahnya?" Mata Arga menatapnya takjub.


Sudah sejauh apa hubungan lo dengan dia. Curiga gue, Arga membatin.


"Ngga pernah. Gue dikasih tau pengawal yang papi suruh ngawasin aktivitas gue. Dia pernah buntutin Dinda."


Arga tertegun mendengarnya.


"Papa lo tau ngga?"


"Mana gue tau," balas Regan langsung kesal. Hatinya agak sensitif kalo sudah menyentil papanya.


"Oke oke. Sekarang gini aja. Karena lo udah tau alamatnya, gue temenin lo ke rumah Dinda," tukas Arga memberikan usul briliannya.


"Ngapain?" tanya Regan seperti orang bodoh.


"Ngelamar dia lah. Gimana, sih, lo. Gitu aja ngga bisa mikir," kesal Arga.


Regan tersenyum lebar


"Kalo ngelamar tuh sama orang tualah," kilah Regan.


"Nanti aja orang tua orang tua an. Yang penting lo dulu. Lo laki, udah mapan, udah bisa lamar perempuan," tegas Arga mempengaruhi.


"Fungsi lo apa?" ejek Regan.


"Gue.sahabat lo. Yang akan bantu ngeyakinin bokapnya Dinda," kata Arga tegas. Wajahnya penuh semangat.


Regan hanya menggelengkan kepalanya.


"Penampilan kita juga sudah oke. Pake jas. Mertua mana yang bakal nolak lo," tambah Arga lagi terus menyemangati Regan.


Mumpung Regan lagi tertarik serius sama perempuan. Belum pernah dia kelihatan bodoh seperti ini mendengar teman perempuannya mau nikah.


Karena masalah orang tuanya, Regan takut berkomitmen.


Tapi kini ketakutan itu sepertinya ambyar. Regan malah sudah seperti laki laki normal yang takut ditinggal nilah. Mewek dan kehilangan gairah hidup.


Gilaaaa,,,, bisa bisanya dia jatuh cinta sama perempuan tertutup begitu, ejeknya dalam hati.


"Jangan terlalu banyak mikir," desak Arga ngga sabaran.


Regan menatap kunci mobilnya sebentar.


Ngga apa usaha dulu. Siapa tau berhasil, batinnya menguatkan. Ada hawa panas mengalir dalam darahnya membuatnya menjadi bersemangat.


BIP


"Oke," ucapnya sambil menekan tombol remote mobilnya.


"Gitu, dong, semangat," seru Arga ringan. Dia.pun mengikuti Regan memasuki mobil sportmya sendiri.


Tanpa kata lagi Regan memacu kencang mobilnya. Adrenalinnya mengalir deras.


Arga mengikuti Regan dengan bibir mengulum senyum.


Ngga lama kemudian keduanya berhenti di sebuah rumah yang sangat mewah.

__ADS_1


Seorang sekuriti menghampiri dan berbincang sebentar dengan Regan. Ngga lama kemudian keduanya diperbolehkan masuk.


Ada lebih dari lima mobil mewah terparkir di situ. Dan kelihatannya pemilik tumah ini sedang menerima tamu.


Regan jadi agak ragu untuk turun. Tapi ketokan dari Arga di kaca mobilnya membuatnya kembali menguatkan hatinya yang sedikit lumer.


Begitu pintu mobil tertutup, Regan menatap Arga sebentar.


"Apa itu keluarga calon suaminya?" tanya Regan berbisik.


"Mungkin," jawab Arga enteng.


"Ayo," serunya sambil melangkah mendahului Regan yang terlihat ragu. Banyak pertimbangan yang sedang dia pikirkan tentang tindakannya ini.


Di teras ada seorang perempuan seusia mamanya berdiri menyambutnya. Beliau kelihat sedang mengobrol dengan beberapa wanita sebayanya.


"Regan?" sambut Umi Salamah dengan raut wajah senang dan ngga percaya melihat kedatangannya.


"Iya, tante," balasnya sama seperti dulu, menangkupkan kedua tangannya di dada.


Arga pun mengikuti cara Regan.


Ini keluarga yang berbeda, ngga seperti yang biasa mereka temui.


Untung dia ngga mengajak Glen atau Reno. Pasti keduanya akan kepikiran di rukyah karena dalam tubuh mereka banyak mengandung setan.


"Arga Tante. Teman Regan."


"Oh iya," balas Umi Salamah-mama Dinda sangat ramah.


"Mau nyari Dinda?"


Regan terdiam lalu melirik Arga yang langsung memberimya kode keras.


"Emm... Kalo boleh saya mau ketemu, tante, om, dan Dinda," jawabnya berusaha tenang menutupi kegugupannya.


Apalagi wanita wanita temannya mama Dinda kini memperhatikan dia dan Arga dengan serius.


"Oh, baiklah. Mari," ucap mami Dinda kemudian mempersilakan Regan dan Arga masuk.


Tapi sebelumnya beliau berhenti di hadapan teman temannya.


"Sebentar, ya."


"Ngga pa pa, umi," sahut wanita wanita itu dengan senyum ramah.


Begitu masuk ke dalam rumah Dinda, jantung Regan rasanya mau lepas.


Dia melihat ada beberapa pria baik yang seusia dengannya maupun yang seusia papanya sedang mengobrol.


Umi Salamah menghampiri salah satu laki laki paruh bayaj yang berwajah sangat teduh.


"Abi, ada yang mau ketemu," ucapnya lembut.


Laki laki yang dipanggil Abi itu mengangguk pada tamu tamunya untuk ijin pamit menemui Regan dan Arga.


"Regan," ucap Regan sambil menyalim tangan laki laki itu. Juga Arga.


Abinya Dinda tersenyum hangat.


"Kita bicara di sana, ya," ucap beliau sambil.mengajak kedua tamunya menuju sofa yang terletak ngga jauh dari ruang tamu tadi. Tepatnya di ruangan yang memiliki jendela yang terbuka lebar menghadap taman yang terdiri atas bunga bunga mawar aneka warna.


"Umi panggilkan Dinda dulu," ucap Umi Salamah sambil meninggalkan ketiganya. Suaminya, Regan dan Arga yang sudah duduk saling berhadapan untuk memanggil Dinda.

__ADS_1


Regan merasa dadanya bergemuruh akibat detak jantungnya yang seperti kendang ditabuh sangat kencang.


__ADS_2