
"Ada apa Alva?" nada suara mama Tamara terdengar sangat ramah begitu mendengar suara Alva yang menelponnya.
"Emm... anu tan.... emm... saya mau ngajak Tamara makan siang, tante," ucap Alva agak malu dan gugup. Dia merutuk dalam hati.
Harusnya dia lebih tenang.
Camer, Al. Camer, batinnya lagi memprovokasi.
"Tante senang dengarnya. Tamara lagi di kantornya. Kamu udah janjian?"
"Belum, tante."
"Oke, tante akan kabari Tamara, ya," ucap mama Tamara sangat pengertian.
Mantu idamannya mengharapkan bantuannya, batinnya senang.
"Makasih, tante. Alva langsung ke sana, ya, jemput Tamara," balas Alva senang karena mama Tamara mempermudahnya mengajak si kekar yang selalu ketus itu.
Kalo begini Tamara ngga akan bisa menolaknya.
Bibirnya tersenyum miring.
"Sama sama. Hati hati, ya, Al."
Dengan pe-de tinggi, Alva melajukan motornya dengan sangat cepat ke kantor Tamara. Dia pun tersenyum di balik helm sportnya melihat sosok Tamara yang sedang berdiri di teras kantornya bersama teman temannya.
Gadis itu awalnya akan makan siang bersama teman temannya, tapi telpon dari mamanya membuat dia kesal karena ngga mungkin bisa menolak ajakan si player calon suaminya.
"Bentar lagi Alva akan datang ngajakin kamu makan siang, Tamara putri kecil mama," suara mamanya sangat heboh membuat Tamara sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya yang langsung berdenging.
"Ngga mungkinlah, ma. Dia, tuh, lagi banyak kerjaan," bantah Tamara ngga percaya.
Si player itu makan racun apa sampai niat banget makan siang dengannya? Bukannya banyak teman wanitanya yang bisa dia ajak? Tamara misuh misuh dalam hati.
"Itulah calon suami yang benar. Biar sibuk tetap nyediain waktu buat ngajak calon istrinya makan siang. Ngga kayak papa kamu itu, jarang banget ngajak mama makan siang," puji mamanya sekaligus curhat.
"Mama, kan, sibuk arisan," kata Tamara membela papanya.
Kenyataannya tiap papanya ngajak mamanya makan siang selalu kebentur dengan jadwal padat arisan sosialitanya. Ngga tau Tamara berapa belas arisan yang mamanya ikuti.
"Itu, kan, bisa bisanya alasan papa kamu aja," sangkal mamanya jadi kesal karena putri bungsunya selalu pro ke suaminya dari pada dirinya.
"Harusnya, kan, kalo hari ini ngga bisa, papa kamu bisa nawarkan mama besoknya. Ini ngga sama sekali," sambung mama lagi dengan suaranya yang bernada kesal.
Ho-oh, batin Tamara jamuran. Terlalu sering mama dan bahkan papanya saling curhat tentang beginian. Belum lagi kedua kakak perempuannya yang tiba tiba telpon atau ngajak ketemuan, tapi isinya juga curhat tentang kurangnya perhatian suami suami mereka.
Kenapa dulu ngebet banget mau nikah, batin Tamara sebal.
Malah sekarang semuanya mendukungnya untuk cepat cepat menikah dengan Alva yang sudah diketahui sebagai anak manja yang player.
__ADS_1
Seakan mereka melupakan masalah klasik pernikahan yang selalu mereka curhati dengannya yang belum nikah. PERHATIAN.
"Biar kamu ngerasa dek, apa yang kita alami setelah jadi istri," kata kakak pertamanya sambil tertawa
Sangat sangat menyebalkan.
"Mami senang, karena Alva beda sama papa kamu. Selian meluangkan waktu sibuknya, juga sangat sopan sekali ngajak kamu makan siang sampai ngomong dulu sama mamanya," puji mama Tamara lagi dengan nada suara yang sudah berubah bahagia. Kekesalannya tadi sudah lenyap entah kemana.
Tamara hanya bisa menghela nafas panjang. Padahal Tamara belum siap jika teman temannya tau kalo dia akan segera menikah. Pasti mereka akan sangat terkejut. Apalagi setau mereka Tamara jomblo selama ini.
"Kamu telponan sama siapa, Tamara? Tuh, mobil Gery lagi ke sini," tanya Disa sambil menunjuk mobil SUV Gery yang bergerak perlahan ke arah mereka.
"Mama."
"Oh, kirain pacar kamu," timbrung Mita dengan senyum lebarnya.
"Tamara punya pacar?" kaget Ongki menimpali.
"Sejak kapan?" tanya Disa juga kaget. Bahkan kini dia dan Wahyu pun menatap Tamara serius
"Apa? Jadi beneran?" Mita yang awalnya bercanda jadi kaget sendiri.
Nah, kan.
Ini yang Tamara ngga suka. Apalagi kalo mereka tau dia bentar lagi akan menikah.
Bersamaan dengan kata akhir Tamara, sebuah motor sport warna merah berhenti di depan mereka.
Mereka pun mengalihkan tatapan dari Tamara ke pengendara motor itu yang berhenti tepat di depan mobil Gery.
Alva membuka kaca helmnya. Dia pun memberikan Tamara helm sport pada Tamara tanpa turun dari motor.
Tamara menahan nafas saat menerima helm itu. Dia melirik teman temannya yang memandangnya terbelalak ngga percaya.
Ini sungguhan pacar Tamara? batin Disa.
Ngga mungkin, bantah Wahyu patah hati. Dia yang selalu mengulur ulur waktu untuk menembak Tamara jadi lemas. Selama ini Wahyu merasa aman aman saja karena setaunya Tamara belum punya pacar.
Keren, batin Mita sambil memfokuskan pada pengendara motor itu yang terlihat berbody atletis
Tanpa menunggu reaksi teman temannya, Tamara segera mengenakan helmnya dan menaiki motor Alva.
Untung pake celana panjang.
"Aku duluan," pamit Tamara begitu akan naik ke motor.
"Eh," kaget Tamara tersentak karena tanpa sepatah kata pun Alva melajukan motornya membuat Tamara melingkarkan dengan erat kedua tangannya di perut six pack laki laki itu.
"Ini sungguhan?" tanya Disa sambil mengucek matanya. Dia masih ngga percaya. Dalam hati dia iri, pacarnya ngga sekeren pacar Tamara.
__ADS_1
"Sejak kapam anak itu punya pacar?" Mita pun masih melongo menatap kepergian Tamara.
"Tamara diam diam menghanyutkan," kekeh Ongki.
Wahyu ngga berkomentar. Tapi ada yang luruh di hatinya.
"Makanya bro, harus cepat. Udah digondol, kan," bisik Gery yang sudah keluar dari mobilnya dan langsung mendekati Wahyu yang tampak lemas.
*
*
*
Regan membuang lagi rokoknya yang belum lama di sulutnya begitu melihat Arga berjalan santai ke arahnya.
Laki laki itu tampak tenang tanpa beban setelah membuat calon istrinya naek darah akan sikap fuckboynya.
"Apa kira kira akan berhasil?" cetus Regan setengah meledek sambil membuka pintu mobilnya.
"Mungkin," jawab Arga santai sambil mendudukkan dirinya di samping Arga.
Dia akan menunggu sampai bu dosen itu mengadu pada orang tuanya. Dan orang tuanya akan memutuskan perjodohan ini.
"Tapi nurut gue, calon lo yang dosen ini sangat berkualitas. Apa ngga rugi?" kekeh Regan sambil menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.
"Gue sedikit tertarik padanya," jujur Arga tergelak. Mengingat wajah marah yang ditampilkan Qonita terus menerus tanpa jeda membuatnya gemas. Untung saja dia bisa menahan dorongan hasrat untuk.mengecup bibir yang selalu cemberut itu.
"Dia pantas lo sukai,"ucap Regan sekenanya.
Memang sangat sulit menggantikan posisi Ayana, batin Regan.
Arga ngga menyahut, hanya tawanya saja sebagai respon.
"Kalo lo sama si kerudung tadi gimana? Cantik loh. Jangan di sia siakan," tukas Arga kepo setelah beberapa lamanya mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
"Gue belum niat serius..Cewe seperti itu pantasnya buat dinikahi. Di jamin masuk surga," komentar Regan ngga kalah santainya dan tersenyum miring.
"Pastilah masuk surga. Tiap masuk waktu shalat, lo pasti diingatin terus. Lo pun bakalan menjauh dari club dan alkohol," gelak Arga penuh semamgat.
Regan diam mengingat apa yang sudah dilakukannya tadi, bibirnya pun mengulas senyum miring.
"Waktu gue nyoba nyium tangannya, tuh cewe kaget dan langsung minta pulang."
"What?!"
"Apalagi kalo gue cium bibirnya. Pasti langsung digampar," sambungnya tergelak.
"Iya, pasti," respon Arga ngga kalah keras tawanya.
__ADS_1